Minggu, 26 April 2009

cerpen kepala

Kepala

Cerpen Damiri Mahmud Silakan Simak!
Dimuat di Lampung post Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 55 kali

SANG Empu dikelilingi beberapa muridnya. Langit sedikit gelap. Tak ada angin. Burung-burung masih hinggap di pepohonan, bersahut-sahutan, mungkin memberitakan ziarahnya hari itu dan perolehan rezeki dari padang ke padang.

"Maukah kamu mendengarkan sebuah kisah, Muridku?"

"Tentu Guru," murid menjawab takzim. "Kami akan menelaahnya baik-baik."

"Terima kasih, Anak..." menggenang pelupuk matanya. "Kisah anak manusia di negeri yang jauh, tapi sangat mirip dengan kita, baik tubuh dan tingkah lakunya."

"Barangkali kisah kita sendiri, Guru?"

"Dengar sajalah, Muridku."

"Ya, Guru..."

"Tolooongng..." itu bukan jeritan. Berasal dari seseorang, entah siapa. Yang pasti salah seorang penduduk negeri itu. Hanya semacam keluhan. Tentang suatu hal yang ia sangat riskan memikirkannya. Mungkin pula dia mengeluh pada seseorang di hadapannya atau sekelompok orang atau semua yang ada di sana. Mungkin juga kepada kita. Atau hanya pada diri sendiri. Itu tidak penting benar, Anakku. Dengarlah seterusnya...

"Tolong beri tahu tentang sebuah kepala. Kepala berserakan di mana-mana. Bertimbun di mana-mana. Menggunung di mana-mana."

"Aduh, Guru. Apakah mereka sedang berperang?"

"Mereka baik-baik saja. Sekarang aku teruskan."

"Hamba, Guru...."

"Sekarang ada tender satu triliun satu kepala!" cetus suara itu lagi.

"Maaf, Guru. Apa artinya kata-kata itu?"

"Dia menyatakan keheranannya atas penawaran atau harga kepala itu yang luar biasa besar, yang engkau dan keluargamu makan-minun selama seribu tahun dan engkau bangunkan rumah berpuluh-puluh ribu banyaknya, jumlah uang itu masih belum habis juga sebagai pembayarnya. Sudahlah! Engkau tak akan pernah paham kalaupun kusebutkan berulang-ulang."

"Baik, Guru. Tapi..." murid itu takut-takut. "Ada apa tentang kepala itu?"

"Inilah yang mau kukisahkan. Dengarlah!"

"Ampun, Guru."

Seorang kere menemukan sebuah kepala. Dibolak-baliknya. Masih utuh, gumamnya. Biasanya ia tidak tertarik. Diangkatnya dekat ke hidungnya. Belum bau, gumamnya lagi. Malah ada aroma harum yang menyegarkan kerongkongannya. Kuambil sajalah, putusnya.

Karena temuan yang satu ini dirasanya unik, tak dimasukkan goni plastik tempat barang butut yang biasa diperolehnya. Dicantolkannya saja di ikat pinggangnya yang dibuatnya asal-asalan dari tali plastik. Lalu dia jalan ke mana-mana dengan goni dan cantolannya mencari timbunan dan barang bekas lain untuk penambah penghasilannya. Dalam hatinya, kepala temuannya itu mau digantungkannya saja di dinding kardus gubugnya sebagai hiasan. Jelek-jelek juga dia kan manusia. Perlu hiburan.

"Kejam sekali, Guru," ujar seorang murid lagi. "Sepertinya bukan kisah tentang manusia."

"Ah, Muridku!" Sang Empu menarik napas. "Engkau belum bertemu dengan sebuah keadaan sehingga makhluk itu sama saja nilainya. Belajarlah dulu, nanti akan tahu!"

"Maaf, Guru...."

Ia mendengar suara klakson, ah biasalah, setiap hari ngelampah di jalan raya. Tapi yang sekali ini berkepanjangan, ttttttteeeeetttttttttt, tttttttuuuuuueeeeeettttttt, sehingga dia menyumpah-serapah. Sialan! Sok! Eh, bukannya menjauh, mobil itu malah mendekat dan berhenti. Seorang lelaki berdasi, membuka daun pintu mobil dan tersenyum.

"Dijual, tu,..."

"Apanya...?!"

"Tuuu....! Kepala!"

Baru si kere tersadar kembali dan mendekap bawaannya.

"Ah, nggak, ah..! Sayang...."

Sesayang-sayangnya kere, kalau sudah disodori segepok kertas yang diidamkan dan dimimpikan itu, yang dibilangnya sayang itu pun segera berpindah tangan. Tapi, tidak sesederhana yang ia bayangkan sebagaimana mengilokan barang-barang bututnya sehari-hari kepada kulak.

"Apa itu segepok kertas, Guru?"

"Ya, uang. Duit, penukar barang. Sebagaimana engkau kusuruh membelikan terompahku."

"Dijualnya, Guru?"

"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, di negeri itu semuanya hanyalah barang? Benda, yang nilainya dapat dihitung dengan angka-angka."

"Ya, Guru. Hamba betul-betul bodoh. Ampun..."

Dia dibawa ikut naik mobil menuju rumah si lelaki berdasi. Di sana ia dirawat para pelayan. Dimandikan dalam kamar mandi yang harum, masuk bak dan pakai shower, eh, apa itu namanya, air yang muncrat dari saluran pipa yang ujungnya dilubangi halus-halus. Enak kali, ah! Tak pernah dibayangkannya, akan pernah menemukan satu hari, seorang gelandangan yang sudah imun dengan ejekan, gertakan dan tendangan sehingga pantatnya sudah kebal, kini diperlakukan bak raja-raja, hanya karena telah menemukan sebuah kepala.

Pakaiannya yang kumal dan bau dicampakkan dan dibakar, sebagai menghabisi masa lalunya, meskipun ada terasa sedih dan terhina juga ketika dia menatap sekilas kain dekil ysng berubah jadi asap dan abu itu. Setengik-tengiknya, bau itulah yang diendusnya setiap menit, telah menjadi bagian hidupnya, menjadi angan-angannya, kerinduannya, akan terasa ada yang hilang kalau dia kehilangan bau itu. Hanya sekilas lalu sirna bersama padamnya gundukan arang itu ketika dia didandani dengan pantalon dan kemeja apik dan resik lengkap dengan jas dan dasinya sekalian.

Bengong dia menatap dirinya di cermin. Betul-betul terpelongoh. Dia, kere, yang setiap hari terlunta-lunta di sepanjang jalanan kota, mirip binatang, yang mampir di setiap tong sampah dan mencakar-cakar isinya yang busuk dan bau, kini tak ada bekasnya lagi. Hanya tinggal sinar matanya yang dungu, dan itu lebih karena faktor keterkejutan belaka. Sebentar lagi akan lenyap juga. Sekarang, tampangnya tak beda dengan seorang manajer sebuah perusahaan ternama atau salah seorang wakil rakyat yang terhormat!

"Nah! Sudah ganteng, kau! Sudah smart!" kata lelaki berdasi berseru. "Kita sekarang ke sana!"

Kepala itu sendiri telah dikemas rapi dalam kotak yang artistik dan bening serta mengeluarkan aroma harum dan sakral. Gelembung-gelembung udaranya mengeluskan sesuatu yang hening. Di luar sirene mengaum meminggirkan semua mobil dan kendaraan lapis baja di jalan raya. Fantastis. Sekali kere kita, ah, siapa namanya yang pantas kita sebut sekarang? Melongok dari kaca jendela mobil yang melaju. Dia berteriak. Mobil dihentikan. Para pengawal segera mengamankan dan mengapitnya. Seluruh bagian kendaraan diperiksa dan dideteksi. Tapi aman-aman saja.

"Ada apa, Pak?" sopan dan ramah. Kere terhormat kita, hanya melongo. Teriakannya hanyalah gumam melihat gundukan tempat ditemukannya kepala. Sial! Gegabah betul dia. Tapi ia membawa pengalaman baru yang lain. Bapak? Aduh, aduh! Bapak aku sekarang. Bapak. Dijaga keselamatannya, diperhatikan apa yang dikehendakinya. Dia barang berharga betul. Mobil jalan.

Prosesi dan arak-arakan begitu meriah. Dia dielu-elukan dengan gegap-gempita. Lantai jalan masuk menuju ruang utama telah dihamparkan permadani merah. Bunyi-bunyian telah ditabuh orang. Serunai dan nafiri bersahut-sahutan. Dan para penari berlenggang lenggok di hadapannya, bahasa gerak menyambut dan mengelu-elukan selamat datang.

Dalam kerapatan lengkap dan luar-biasa atau kakaplu telah diputuskan dengan suara bulat bahwa kere kita ditabalkan dengan gelar Sang Aksalinsor, dengan segala kemuliaan yang melekat padanya dan segala kemudahan yang berhak dimilikinya, dengan syarat kepala itu diserahkan menjadi milik negara. Barang siapa yang melanggar dan menyimpang dari ketentuan ini, akan diancam hukuman kurungan dan denda menurut yang diatur dalam perundang-undangan.

"Luar biasa...."

"Penting sekali kepala itu, Guru?"

"Ah, engkau! Belum dapat engkau bayangkan dengan pikiranmu itu."

"Ya, Guru. Ampun sekali lagi."

Kepala temuan Sang Aksalinsor telah diteliti dan diselidiki dengan saksama, yang untuk itu telah dibentuk Dewan Khusus atau Desus yang telah melibatkan para resi dari seluruh padepokan, ternyata inilah dia jenis yang dicari-cari sejak lama.

Bahkan, telah diperdebatkan bertahun-tahun, diumumkan lomba dan sayembara dengan hadiah yang luar biasa, dibuatkan kriteria dan undang-undangnya, dilakukan studi banding ke manca negara, berbondong-bondong mencarinya ke delapan sudut dan penjuru dunia, ternyata dia berada di depan mata kita, telah ditemukan oleh Sang Aksalinsor tanpa mengharapkan hadiah apa-apa.

Negeri kita ini memang serba-aneh dan membingungkan. Begitu simpul mereka, para pengetua negeri itu. Dan kesimpulan ini diambil dalam waktu yang cukup lama, dibahas dalam berbagai sidang terbatas yang menguras dana luar biasa. Tak terumuskan. Cobalah pikir. Mereka hampir saja mau menjual tanah airnya ini, tapi karena istilah untuk melembutkan pindah milik itu tak juga mereka dapatkan, meskipun mereka telah mengumpulkan ahli bahasa, kehendak itu lama-lama menjadi urung.

"Ampun, Guru," seorang murid gemetar. "Hamba tak dapat menahan diri. Tapi mengapa mereka hampir bertindak gegabah seperti itu, Guru? Ampun, Guru...."

"Engkau wajar, murid. Berarti engkau memperhatikan benar kisahku."

"Terima kasih, Guru...."

"Mereka serbasalah. Mereka dihujat dari kiri dan kanan, bahkan oleh para suhu dari negeri-negeri seberang. Para pengetua itu dikatakan melakukan korupsi gergasi atas harta negara."

"Korupsi, apa artinya itu, Guru? Kalau gergasi hamba tahu, raksasa...."

"Oo, Muridku, Muridku! Kata-kata itu sangatlah terkenalnya di sana. Melebihi siapa pun juga. Kasihan engkau. Tapi ada bagusnya juga. Begini, anak! Kalau engkau kuberi uang dan kusuruh membelikan jubahku, apa yang engkau lakukan?"

"Hamba akan melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya, Guru, mudah-mudahan. Hamba pilihkan yang sebaik-baiknya. Durhaka hamba, kalau terbersit setitik niat yang menyimpang dari amanat Guru, ampun Guru...."

Dalam rekomendasi yang dibacakan Setia Usaha Desus, disebutkan, inilah dia temuan yang sedang dicari-cari sejak lama. Kepala ini sangat ideal. Memenuhi segala persyaratan tentang apa yang sangat dibutuhkan negeri ini. Telah diselidiki dengan saksama, sorot matanya begitu memancarkan kewibawaan. Seseorang yang terpantul sinarnya, semua partikel kejelekan yang ada dalam tubuhnya menjadi sirna. Orang itu langsung menjadi kreatif. Dapat berusaha sendiri tanpa setiap hari membawa map masuk kantor keluar kantor ngemis jadi pegawai negeri. Dengan begitu, sorot mata yang berwibawa itu telah dapat menciptakan lapangan kerja dan membasmi pengangguran.

Embusan napasnya setara dengan sejuta mata sinso yang langsung dapat mengiris pepohonan dalam sejuta hektare hutan belantara seketika. Ini sangat menguntungkan eksploitasi produksi kayu karena berapa devisa yang dapat dihemat, kalau harus mengoperasi puluhan ribu begu setiap hari? Kalau dia menghirup, sekali teguk, satu danau bisa kering, laut bisa dikuras, dengan begitu para nelayan dapat menangkap ikan begitu saja, tak perlu cemas menghadapi topan dan gelombang. Rawa-rawa menjadi delta, bisa ditanami berpuluh juta petani dengan bibit unggul yang membahagiakan anak negeri.

Belum lagi kemampuan program yang tersimpan dalam jaringan otaknya. Kalau Einstein, Edison, Newton atau Stephen Hawkings sekalipun, maksimal 5 persen bagian otaknya saja yang mampu bekerja, setelah diselidiki di lab. ternyata reputasi otak kepala temuan kita ini sungguh luar biasa. Dia mampu menghadapi 77 masalah berskala besar sekali gus secara simultan dengan derap antisipasi dan solusi cumlaude.

Tak lupa, dalam akhir rekumendasinya, Desus yang terhormat menyimpulkan pasangan yang cocok dan ideal untuk Sang Kepala ini adalah penemunya sendiri, yang kini telah mendapat gelar Aksalinsor itu. Mereka telah menelitinya dengan cermat dan mengobservasinya di laboratorium, bahwa organ-organ tubuhnya memang unggul dan memiliki reputasi luar biasa pula. Kakinya memiliki tulang dan otot yang kuat dan pejal. Ini sangatlah menguntungkan dalam kondisi negeri kita yang seluruh jalan raya di kota-kotanya sudah terjebak kemacetan. Dalam keadaan begitu, apabila sedang dinas, beliau siap berjalan dan berlari tanpa lelah sepanjang hari, apalagi dia pun telah berpengalaman dan mengenal lekuk-liku kota ini sampai ke gang dan lorongnya yang terpencil dan terbecek sekalipun.

Kedua lengan dan jari-jemarinya pula, begitu terampil bekerja dan menyortir benda-benda yang ada dalam genggamannya. Dia dapat meraba dan mengenal sesuatu barang yang paling kecil dan sepele sekalipun, tanpa harus mengesampingkan apalagi membuangnya begitu saja. Dia tak segan-segan mengerjakan apa saja, siang dan malam, sehingga apa yang ada di depannya tak akan bersisa.

Apalagi nanti kepala itu sudah dilekatkan pula kepada pasangannya. Akan luar biasa. Dia tinggal mengangkat kedua lengannya saja, maka mengalirlah segala air kehidupan dari sana. Tak ada lagi air mata. Borok-borok dan segala penyakit yang mewabah dan membudaya disembuhkannya. Semuanya akan sirna. Inilah saatnya kita menikmati gemah ripah loh jinawi tata tenterem kerta raharja sebagaimana yang kita nyanyikan bersama itu.

Dengan upacara yang sangat khidmat, kepala itu pun diserah-terimakan kepada Pengetua Lela, ditutup dengan doa-doa. Tak lupa Sang Pengetua yang baru dilantik itu menyerahkan nilai yang telah disetujui bersama. Tapi upacara yang satu ini di bawah meja.

"Satu triliun untuk satu kepala?" suara itu lagi. Kini seperti bernyanyi mengiringi prosesi. Sepertinya ada bunyi musik yang mendayu-dayu, menyinggahi setiap anak telinga yang kedua helai daunnya masih terbuka.

Tiba-tiba Sang Empu tak dapat menahan hatinya, menembang menutup kisahnya di hadapan murid-muridnya tercinta, tentang sebuah wiracarita ketika Resi Bhisma maju ke medan laga membela tanah airnya dan kehausan di padang Kurusetra; lalu Arjuna melepas busurnya tepat di tengah kerongkongan yang sedang mendambakan seteguk air itu.

"Terima kasih, cucuku. Inilah yang aku tunggu-tunggu."

Entah apa maksudnya.***


cerpen anak iblis

Anak Iblis

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas Silakan Simak!
Dimuat di Pikiran Rakyat Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 91 kali

AKU yakin, ayah tiriku bukan keturunan manusia. Ia hasil persetubuhan antara iblis dan kuntilanak di semak-semak pinggir kali beraroma tinja. Jiwanya yang untuk sementara dibiarkan bebas oleh Tuhan lalu menyusup ke tubuh manusia, sehingga manusia itu menjadi pencoleng, penjudi, dan pemabuk. Akhirnya ia mati tergilas kereta. Tapi ia sempat membuat ibu melahirkan makhluk aneh berkulit sangat gelap, berbadan bongsor, berkepala seperti gentong, dan rakus bagai babi yang seminggu tidak diberi makan. Adik tiriku itu hanya mau makan daging. Ia akan memukuli ibu bila tidak diberi makan daging. Bukan cuma itu, ia juga pernah membuang sayur dan tempe ke bak mandi karena hari itu ibu sama sekali tidak punya uang untuk membeli daging. Semenjak itu ibu selalu meletakkan makanan di dalam lemari yang terkunci. Sebenarnya, aku sangat malu memiliki saudara seperti dia. Ia selalu mengoceh, tapi kata-kata yang diucapkannya sangat tidak jelas. Mungkin cuma ibu yang mengerti maksudnya. Kerjanya hanya duduk di teras rumah sambil melempari orang-orang yang lewat dengan kerikil. Tak satu pun anak perempuan yang berani lewat rumah kami, karena adik tiriku akan mengejar dan menciuminya. Kasihan ibu, ia cuma bekerja sebagai tukang cuci dan setrika di rumah tetangga. Sebelum ia dinikahi iblis itu, ia hanya bekerja di satu rumah. Upah yang didapat cukup untuk kami makan berdua. Tapi kini ibu harus bekerja di dua rumah, karena aku sudah masuk SMP dan ibu setiap hari harus membeli daging untuk adik tiriku. Raut wajah ibu semakin hari kelihatan semakin suram. Setelah iblis itu tergilas kereta aku berharap ibu bisa mendapatkan seorang pengganti yang lebih baik agar ia tidak terlalu lelah bekerja dan ada biaya buatku untuk terus sekolah hingga SMA. Satu keinginanku yaitu kelak bisa menanggung hidup ibu, sehingga ia tak perlu lagi bekerja untuk orang lain. Entah bisa atau tidak, tapi ada perasaan kuat untuk itu. Sebenarnya ada seorang lelaki yang pernah menyukai ibu. Ia mengaku duda beranak dua dan bekerja sebagai sopir truk. Dari sikapnya yang sopan saat bertamu aku merasa simpati. Tapi ketika ia melihat adik tiriku mengejar anak perempuan yang kebetulan lewat rumah kami dan membuatnya menjerit ketakutan, lelaki itu tak pernah muncul lagi. Sejak saat itu aku merasa adik tiriku adalah sumber malapetaka. Ia warisan iblis yang akan terus mengusik hidup kami, menyiksa kami. Tak rela melihat hidupku bahagia bersama ibu. Aku semakin membencinya hingga ke ubun-ubun. Ibu pernah berkata, "Ragi, kamu adalah anak seorang jawara tampan yang suka pada kebenaran. Itulah mengapa ibu mau dinikahi ayahmu meskipun ia tidak memiliki apa-apa. Ibu bangga dengan keberaniannya. Ibu harap kamu juga demikian. Tapi kamu mewarisi sifat ayahmu yang kurang sabar. Ia ingin segala sesuatu cepat diselesaikan. Ketahuilah Ragi, semua ini adalah cobaan, supaya kita bisa naik kelas." Aku merasa dulu ibu sangat cantik. Tapi kini kecantikannya seolah memudar. Ia juga terlihat lebih kurus. Pipinya cekung. Rambutnya yang dulu hitam sekarang berwarna kecoklatan. Urat-urat di tangannya menonjol. Setahuku baru dua kali ia membeli baju baru. Kebanyakan baju yang dikenakannya adalah baju bekas pemberian para tetangga. Hari telah gelap ketika aku pulang sekolah. Perutku terasa sangat lapar. Kulihat ibu sedang menyiapkan makanan di lantai ruang tengah beralaskan tikar. Kami memang tak punya meja makan. "Ragi, hari ini kita cuma makan sayur asem dan tempe." "Tidak apa-apa, Ibu." Adik tiriku keluar kamar. Dia tidur bersama ibu. Di rumah kami hanya ada dua kamar tidur. Adik tiriku langsung duduk di dekat ibu. Melihat tidak ada daging, ia merengek pada ibu dengan bahasa yang sama sekali tidak kumengerti. Kulihat ibu mencoba membujuknya dengan mengatakan hari itu ia tidak punya uang. Besok pasti ibu akan memasak daging khusus untuknya. Tapi adik tiriku tidak mau mengerti. Ia mulai merengek dan memukuli badan ibu. Ibu berusaha memegang tangannya, tapi kelihatannya sulit karena tangannya lebih besar dari tangan ibu. Ibu terus membujuk. Bukannya diam, adik tiriku malah semakin menjadi-jadi. Suara rengekannya semakin keras, membuat telingaku sakit. Aku segera bangkit. Dengan sekuat tenaga kupegang tangan adik tiriku. Ia berontak. Meskipun badannya bongsor tapi tenagaku lebih kuat. Ia tak berdaya. Kudorong ia ke kamar ibu, lalu pintu kukunci dari luar. Ia memukul-mukul pintu kamar sambil menjerit. Aku tak peduli. Aku benci padanya. Anak iblis. Aku berpaling pada ibu. Matanya basah. Ibu kelihatan semakin tua. "Ragi, makanlah dulu. Ibu mau pergi." Ibu lalu bangkit dan menuju pintu depan. "Ibu mau kemana?" "Ibu mau mencari daging." "Sudah malam, Ibu." Ibu tak menjawab. Kulihat air matanya mulai menetes. Aku tak berani lagi mencegahnya. Aku seperti merasakan penderitaan ibu. Rasa laparku hilang. Aku menoleh ke makanan. Suara rengekan adik tiriku masih terdengar. Tapi pintu tak lagi dipukulnya. Aku segera memasukkan makanan ke dalam lemari. Setelah itu aku mandi dan masuk kamar. Beberapa jam kemudian aku mendengar ibu masuk. Suara di dapur berisik. Aku terus belajar. Entah beberapa jam kemudian aku mencium bau sangat harum. Aku keluar. Kulihat adik tiriku sedang makan daging dengan lahapnya. Aku menatap ibu yang duduk di sudut ruangan. Ia sepertinya tahu bahwa aku ingin juga mencicipi masakan itu. "Jangan Ragi. Ibu tak ingin kamu makan makanan itu." Mata ibu menitikkan air. ** AKU heran, ibu selalu memiliki daging untuk makan adik tiriku. Padahal kudengar harga daging sedang naik dan ibu bilang tidak punya uang sewaktu aku mengeluh sepatuku sudah sangat jelek. Anehnya lagi, ibu tidak pernah membolehkan aku mencicipi sedikit saja daging yang dimasaknya. Pernah suatu kali aku hendak mencuri sepotong daging semur yang dimasak ibu karena aromanya benar-benar menggugah selera. Belum sempat aku mengambilnya, ibu memergokiku. "Ragi!!! Sudah berapa kali ibu bilang. Daging itu untuk adikmu. Jangan kamu sentuh sedikit pun juga." Suara ibu menggelegar dan matanya melotot. Tak pernah kulihat ia semarah itu. Aku merasa ia sekarang lebih menyayangi anak iblis itu daripada diriku. Benciku tak tertahan lagi pada adik tiriku. Apalagi setelah ia bertingkah aneh. Ia kini bukan hanya melempari anak-anak yang lewat atau mengejar anak-anak perempuan untuk dicium, tapi juga suka mengeluarkan suara-suara seperti kucing. Kadang ia juga menggaruk-garuk tanah dengan kuku-kukunya yang hitam. Hari berlalu. Ketika aku pulang sekolah beberapa orang berkumpul dekat warung pak Dali yang menjual jajanan anak-anak. Sepintas kudengar mereka sedang membicarakan kucing-kucing peliharaan mereka yang tiba-tiba menghilang. Salah seorang mengatakan bahwa maling kucing telah masuk ke lingkungan ini. Beberapa kucing memang bukan kucing biasa yang harganya lumayan bila dijual. Aku tiba di rumah. Kulihat adik tiriku sedang berada di teras. Begitu melihatku ia mendesis seperti kucing hendak kawin. Aku tak gentar, kupelototi matanya dan kubentak. Tiba-tiba ia mengangkat kedua tangannya. Jari-jarinya melengkung seperti hendak mencakar. Aku sedikit kaget. Dengan cepat aku masuk rumah. Bau masakan ibu tercium. Setelah mengganti pakaian aku ke dapur. Aroma masakan ibu semakin terasa harum. Perutku menjerit minta diisi. "Ibu, tadi kudengar orang-orang berbicara tentang kucing-kucing mereka yang hilang." Ibu menoleh. "Ibu sudah tahu." "Kenapa kucing-kucing itu dicuri ya, Bu." "Mungkin harganya mahal." Aku mendekati ibu. Ia kini sedang memegang mangkuk yang berisi semur daging. Air liurku keluar, membasahi bibir. Ibu menatapku tajam. Lagi-lagi ia memperingatkanku agar jangan menyentuh makanan untuk adik tiriku sedikit pun. Meski kesal, aku menuruti saja perintah ibu. Seminggu kemudian, saat aku sedang mengerjakan PR, samar-samar terdengar suara tangisan ibu. Aku keluar kamar. Kuintip kamar ibu dari lubang kunci. Ia sedang membelai-belai kepala adik tiriku yang seperti gentong. Suara dengkur adik tiriku kini tak lagi terdengar seperti suara kucing. Suaranya mengingatkanku pada suara tikus. Tiba-tiba ibu bangkit. Aku cepat kembali masuk ke kamar. Tapi pintu tak kututup rapat. Kulihat ibu dengan gelisah mondar-mandir. Apa yang sedang ibu pikirkan? Tubuh ibu menghilang di dapur, namun dengan cepat muncul lagi sambil membawa sebatang bambu sepanjang sekitar satu meter dan sebuah senter. Kudengar suara pintu depan terbuka. Rasa ingin tahuku muncul. Ingin pergi kemana ibu? Aku berjinjit ke pintu depan. Kubuka pintu itu perlahan. Ibu sudah berada di jalan depan rumah. Aku keluar. Kuikuti kemana ibu melangkah di malam yang sepi dan dingin itu. Ternyata ibu menuju ke saluran air yang berada di belakang rumah-rumah besar tetangga kami. Tepat dikelokan aku berhenti. Aku bersembunyi di balik pagar. Mengintip. Kulihat ibu menyalakan senter yang diarahkan ke selokan. Lalu tiba-tiba ia mengayunkan bambu. Ibu terlihat membungkuk dan mengambil sesuatu dari selokan. Ia meletakkan benda itu di pinggir selokan. Ia berdiri lagi dan berjalan beberapa langkah. Senter kembali dinyalakan dan lagi-lagi terdengar suara ayunan bambu. Aku makin penasaran apa yang ibu lakukan, namun aku tak beranjak dari tempat persembunyianku. Beberapa saat kemudian ibu berjalan ke arahku. Kami berpapasan. "Ibu." "Ragi." Ibu sangat terkejut. "Kenapa kamu ada di sini?" Aku diam. Cahaya lampu yang menempel di langit-langit dari salah satu belakang rumah sedikit menerangi sekitar. Kulihat tangan kanan ibu menenteng dua ekor tikus got yang sangat besar. "Kenapa ibu menangkap tikus-tikus itu?" Ibu tak bergerak. Sesaat kemudian aku mendengar suara ibu menangis. Sangat pelan. "Karena sudah tidak ada lagi kucing-kucing yang bisa dicuri, Ragi." "Ibu." Suaraku gemetar. Rasanya aku ingin sekali memeluknya. "Ibu sangat sayang padamu. Itulah mengapa ibu tidak pernah membolehkanmu makan semur daging." Tubuhku menggigil. Wajah adik tiriku si anak iblis tiba-tiba muncul di kegelapan. Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu mencicit.***

Siapa yang Waras?

Cerpen Gunawan Amirbad Daiya Silakan Simak!
Dimuat di Seputar Indonesia Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 168 kali

Keributan di depan rumah memaksa mata belakangan ini terbuka.Bising suara terdengar,tapi tak jelas perkataan apa yang terlontar.Beberapa vokal di antaranya tak asing di pendengaran.

Kata telingaku, di situ ada suara Malasa—manusia yang dicap warga sekitar sebagai orang tidak waras. Ia terdengar menerangkan sesuatu, memperjelas hal yang dipertanyakan orang-orang yang berkerumun.Entah siapa di depannya, di sampingnya, di belakangnya, aku tak tahu pasti, sebab telinga ini sekedar bertugas untuk menyampaikan suara saja. Dipikir-pikir lebih baik aku keluar kamar.

Dari pintu tempat indekos, tepat berhadapan matahari pagi dari arah timur.Angin pagi di kota tak sesejuk di kampung asal kelahiranku. Di sini mata mentok pada bangunan kampus UMI. Dari belakang, penglihatan terbentur pada tembok Graha Fajar.Dari samping, Pantat Astra lebih tebal menutupi ruang gerak pandang.Tak ada yang lebih indah dari suasana kampung saat pagi menawarkan hamparan sawah menghijau, pepohonan pisang di antara rimbunnya tumbuhan kakao dan kelapa.

Maka,tak salah bila mata warga kota lebih cepat rabun ketimbang nenek dari ayahku yang berumur 78 tahun masih bisa memasukkan benang jahit ke lubang jarum. Berdiri di mulut pintu mengenakan celana kolor, angin pagi itu sudah menawarkan bau kecut asap kendaraan, sementara warung Bu Las dari jarak 3 meter tempatku melongo membiuskan aroma pengundang rasa lapar. Mungkin tumisan, adonan, jalangkote, bakwan, pisang goreng, atau bau tahi dari pembuangan rumah Pak Rudi.

Pembuangan itu memang sudah keterlaluan.Atau tempat indekosku yang tak tahu tempat. Pantat rumah Pak Rudi hanya terpisah oleh saluran pembuangan dengan jendela kamarku. Rumahnya menghadap ke utara pada gedung Universitas Muslim Indonesia, indekosku di belakangi bokong Graha Fajar berkiblat ke timur. Kedekatan jarak itu membuat kuping ini jadi penggosip. Kerap aku dengar cekcok mereka, tentang Pak Rudi yang beranak dua sampai kini belum menemukan kerjaan tetap.

Tentang anak-anaknya yang sebentar lagi memasuki sekolah. Dan tentang utang nasi di warung Bu Las yang belum terlunaskan. Dengan rasa penasaran, sekalipun bertelanjang dada aku dekati garis kerumunan di depan rumah Pak RT. Benar adanya, Malasa tengah didudukkan dalam lingkar sidang. Ia dikerumuni istri-istri dan suamisuami, anak-anak, serta cucu orang. Entah masalah apa? Tak terlihat kesedihan di wajah Malasa, bukan pula gembira, hanya saja sedikit tegang dan bingung.

Ya, seperti sedang mengolah kata, atau mencoba menyusun suatu kejadian, seperti kata orang bahwa Malasa sukar untuk mengingat sesuatu karena tidak waras. Aku tak begitu mengenal Malasa. Kata orang-orang sekitar, semenjak ditinggal pergi istrinya ia tak lagi stabil.Ia sering bertingkah aneh,kerap bicara sendiri,tak pernah mandi,bau badannya asem.Pakaiannya pun lusuh dan terkoyakkoyak di sana-sini. Rambutnya kurang lebih sembilan sentimeter tidak tertata rapi, kusut, kering, kemerah-merahan, beberapa lembar telah memutih.

Ringkasnya, ia memang pantas menyandang kata ”gila” dari orang-orang, termasuk aku bila saja tak pernah sebelumnya ia menawariku senyuman di suatu hari dan pagi yang lain. Pagi itu, aku jumpai dia duduk bersila di bawah sebuah pohon kenari yang rindang.Kedua tangannya bertaut di depan dada,tampak kayak seorang biksu di hadapan patung Buddha, khusyuk.

Kedua bibirnya selang seling menyambangi satu sama lain dalam tempo cepat dan bentuk kemonyongan yang berbeda-beda.Kuberanikan diri mendekatinya. Aku masih ingat kala itu awal Maret 2008— musim kemarau.Walaupun agak ragu, namun aku telah sampai di sampingnya. Begitu dekat, sehingga ia hanya membutuhkan jarum jahit untuk menusuk mataku.Biar dekat, tapi tak kutangkap sebiji kata pun keluar dari mulutnya. Berkomat-kamit tanpa suara.

Atau kata-katanya memang diperuntukkan buat Tuhan dan dirinya sendiri,bukan untuk orang lain termasuk aku, bukan pula diperdengarkan agar dikasihani. Jarak yang terlalu dekat itu membuat lubang hidung bangirku kempaskempis, agaknya kucari satu bau yang meyakinkanku menarik kesimpulan bahwa Malasa memang tak pernah mandi,seperti kehadiran kerumunan lalat yang berdengung memperjelas sudah.Dan kehadiranku ternyata mengganggu meditasinya.

”Aku telah gila. Untuk apa mandi,berdandan rapi,bila tak ada yang menciumi dan memperhatikan.Jamila pun pergi. Tahukah kau,ia hanya menitipkan lembar-lembar kenangan di malam- malam kesunyian. Tapi, aku tak sakit…” kata Malasa kala itu, sebagai awal kisah dan menumpahkan kepiluan hati selama lima jam bersama diriku seorang. Ya, aku ingat kejadian hari itu. Dan pagi ini awal Maret 2009,pada musim hujan yang menjengkelkan.

Malasa berada di tengah kerumunan tetangga.Di sana,Bu Lasmi yang bawel bertutur menggebugebu melontarkan beberapa kata umpatan pendek, tapi kerap diulang- ulang. ”Dasar gila.Tidak waras.Orang gila…” Pak RT juga di sana,duduk berdampingan dengan Malasa.Pak RT yang tidak kuketahui namanya, semenjak tinggal di kawasan ini tak sekalipun aku berurusan dengannya. Sesekali ia melepaskan tawa, seumpama kelakuan Malasa memang patut ditertawakan.

Tidak ketinggalan Pak Rudi hadir menjubel menggendong anaknya yang bungsu. Ia selalu mengiringi tawa Pak RT, tampak ia sebagai penjilat.Sudah lazim,sekalipun sekadar tawa, bila yang melakukannya orang berkedudukan maka sewajarnya warga ikut serta. Ya, sebagian dari pemikiranku itu mungkin benar.Dan Malasa pun kadang menyertai tawa orangorang, atau ia telah sadar jika perilakunya mengundang tawa. Namun tawa itu lekas lenyap berganti mimik muka yang kaget dan penasaran. Malasa membuka bungkusan dari plastik yang ada di tangannya.

Lalu diikuti muka mencengangkan dari para hadirin, setidaktidaknya mulut mereka pada menganga. Sementara orang-orang terhipnotis oleh cerita Malasa,dan lantas terburai ketika aku muncul dan mempertanyakan masalah. Dan dapat aku susun penuturan Pak Rudi seperti ini, ”Hanya Malasa yang biasa mondar-mandir di jalan ini bila jam malam telah larut. Kira-kira jam dua malam tadi, Malasa menemukan sebuah kantong plastik yang berisikan segepok uang dan satu buah handphone.

Pagi ini ia mendatangi rumah Pak RT dan menanyakan perihal tersebut.” ”Sepertinya ia tak benar-benar gila.Apa ia bias mengerti duit dan handphone? Barang yang ia temukan juga masih utuh. Padahal, ia gila,mungkin saja barang temuan itu ia buang kembali atau ia serahkan sama anak-anak muda di sekitar sini. Tapi, itu tidak ia lakukan,” begitulah kata Pak Rudi, sedikit sinis, dan pikirannya miripmirip mulut ibu-ibu tukang gosip. Aku mengerti.

Dan penuturan itu pula terdengar oleh Malasa. Ia memperhatikanku. Seakan ia meminta sesuatu tanggapan, sekurang- kurangnya membantunya melepaskan diri.Bila ia mengingat kejadian setahun lalu, tentu ia sedikit bisa mempercayaiku.Biarpun kala itu aku hanya bisa mendengar, dan siapa sangka setelah itu aku selalu mendapatkan senyuman darinya,mungkin juga doa. ”Di mana barang itu, Malasa?” tanyaku.

Sekalipun aku tahu barang itu adalah kantong plastik yang ada di pangkuannya.Ia memperlihatkan, dibukanya kantong itu. Pak RT, Pak Rudi, Bu Las, orangtua yang lain,anak-anak,ikut melongo ke dalam kantong plastik, padahal mereka sudah melihat sebelumnya. Aku lihat lima ikat uang pecahan seratus ribu rupiah dan sebuah handphone seukuran remote televisi.perak warnanya. ”Handphone-nya aktif?” tanyaku. Entah pada siapa aku lontaran pertanyaan itu,sebab si pemegang barang itu, orang yang dicap gila.

Aku putar pandang dari Pak RT di ujung kiri, ke Pak Rudi di ujung kanan kerumunan. ”Mungkin tidak…” suara dari tengah kerumunan,entah siapa. ”Aktifkan,tentu pemilik punya akal untuk menghubungi,”kataku sembari menunjuk handphone yang ada di genggaman Malasa. ”Malasa tidak mau menyerahkan barang itu. Dia mengira kita akan mengambilnya,” tukas Bu Lasmi. Aku angkat kening,Malasa menatapku lekat.Tatapan itu mungkin mengungkapkan sesuatu.

Sesaat lamanya, orang-orang makin penuh sesak di beranda rumah Pak RT.Memang benar,berita penemuan Malasa telah diketahui masyarakat sekitar. Mereka datang berbondong- bondong, seperti saja akan ada pembagian raskin dan bantuan langsung tunai. Hal itu aku sadari, ketika kerumunan mulai memanaskan suhu ruangan.Benar kata orang, makin banyak kepala, makin rumit dicapai kesepakatan. Pendapat keramaian bersilangan, pro dan kontra tercipta di antara orang-orang yang hadir.

Ada yang menginginkan agar pemiliknya dihubungi. Tunggu sampai dihubungi pemilik.Tidak usah dihubungi. Ambil saja.Ada pihak yang mengumpat, ”Ambil saja, dasar gila…” Ya,saat ini,hal yang tak sepatutnya dikompromikan lantas ditimbang- timbang. Sampai-sampai menghujat. Pak RT berhasil meyakinkan Malasa. Handphone pun aktif. Berselang detik, barang itu berdering.Tak ada nama penelepon tertera dalam display, hanya nomor saja.

Tak ada pula yang berinisiatif untuk mengangkat telepon. Namun,mereka tak juga diam, semua bersuara. ”Angkat saja,”katanya. ”Tidak usah,”kata yang lain. Suara itu berulang-ulang menimbulkan keributan tanpa ampun. Telepon berdering untuk ketiga kalinya.Malasa yang berinisiatif sendiri.Ia menerima telepon. ”Halo…”sapanya. Orang yang berkerumun pun langsung terbungkam menyaksikan si gila terima telepon.

Disusul hening seketika. Malasa tampak sedikit tegang. Bibir dan tangan yang bergetaran. Telinga Malasa semakin merapat ke telepon, lalu kemudian mengangguk-angguk dan berkata,”Benar,aku menemukannya.” Seiring percakapan Malasa, bisik-bisik pun terdengar.Ada yang mengecap Malasa gila karena telah berterus terang. Bahkan ada yang menawarkan kerja sama dengan membagi rata hasil temuan itu.

Sebaliknya menganggap Malasa normal saja, karena tahu mana salah dan mana benar. Ah, aku pusing juga. Aku tinggalkan baris kerumunan itu,sebab Malasa pun tinggal menunggu kedatangan si pemilik barang.Sambil berpikir dalam senyum geli.Apa yang terjadi dengan kehidupan ini? Moral dan kewarasan telah terselip di mana? Malasa yang dicap gila karena prilakunya tak bersesuaian dengan norma kehidupan pada umumnya.

Malasa yang berpakaian compang-camping, sekali mandi dalam setahun, dan bertingkah aneh. Sementara orang yang merasa waras,berpenampilan cakep,mandi tiga kali sehari dan bertingkah lazim, tapi masih ada saja terbodohkan oleh nafsu.

Lantas, kewarasan itu ditimbang dari mana? Malasa mampu membedakan salah dan benar,meskipun dikatakan orang gila. Sementara ada orang yang menganggap diri waras, tapi berhasrat memakan jatah orang. Masa Allah!!! ***

Kamar Mandi

Cerpen Yetti A KA Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 216 kali

Saya rebahkan badan di lantai kamar mandi, telentang menghadap pagu. Rambut saya terserak di lantai, mirip tumpukan kain pel. Saya rentangkan kedua lengan, membentuk garis horizontal, lalu dua kaki saya merapat, jadilah saya sebuah pesawat terbang mainan. Benda belaka. Tentu enak menjadi benda, ia tidak punya emosi. Ia mati. Namun saya benda yang tidak mati. Saya terlihat memprihatinkan, bukan? Saya...ah, entah. Saya kurang yakin apa motif saya. Yang saya tahu saya sedang kesal padanya dan saya lepas kendali.

Sejujurnya, saya berada di kamar mandi ini saja, sudah membuat saya ragu, apa memang sudah seharusnya saya berlari ke kamar mandi seakan ada yang memporandakan kehidupan saya, padahal yang terjadi tadi cuma soal remeh temeh, dan selama ini saya tidak terganggu sedemikian rupa, apalagi sampai membanting pintu segala seraya merutuk, “Brengsek!”, kecuali beberapa kali, dapat dihitung dengan jari, ketika saya sedang hamil besar, dan itu dapat saja dipahami sebagai luapan dari kondisi psikis yang sedikit terguncang karena saya yang senang jalan-jalan keluar kota menjadi tidak bisa ke mana-mana selain olah raga pagi dan mengikuti kelas prenatal di sebuah sanggar, berjarak seratus meter dari rumah. Kali itupun selalu kami akhiri dengan sangat romantis. Saya ingat betul, dia menggedor-gedor pintu kamar mandi dan memanggil nama saya berkali-kali. Ia cemaskan keadaan saya (atau bayi kami?). Selang beberapa waktu, saya pun membukakan pintu, dan ia langsung merenggut tubuh saya yang sudah basah, ia peluk saya erat sekali, dan berkata, “Sayangku, Sayangku.” Saya tidak kuasa menahan gejolak perasaan dari kejadian yang amat dramatis itu. Tubuh saya berdenyut-denyut. Saya mau pingsan, rasanya. Di kedua lengannya saya menumpangkan kehidupan saya saat itu. Saya percaya ia pasti menjaga saya, sebagaimana ia meyakinkan saya bahwa ia tidak pernah bisa melihat saya terluka.

Tempat saya sekarang ini, kamar mandi yang sama, tanpa ada yang berubah. Bahkan aroma sabun yang menguar dari kotak itu masih sama. Juga sabun cuci atau pembersih porselen. Semua bercampur, bau khas kamar mandi, segar. Karena itu saya suka tempat ini. Terlebih bila saya marah atau tersinggung atau kecewa. Bau itu membantu perasaan saya sedikit lebih tenang. Semacam aromaterapi yang mengendurkan pikiran. Kemudian yang saya harapkan tentu saja dia akan memanggil nama saya, berkali-kali, menunjukkan tingkat kecemasan di titik tertentu, sampai ia membukakan pintu, dan kami kembali mengulangi drama sepasang kekasih yang mengharukan. Kami berbaikan, lagi-lagi membuat janji sederhana bahwa kami akan saling menjaga, saling memberi tempat sebesar-besarnya satu sama lain supaya kami merasa tidak tersisih di antara sekian kesibukan. Terutama akhir pekan. Kami sepakat melewatinya tanpa diganggu urusan kerja sama sekali. Bahkan kami mematikan HP di hari libur itu. Berjaga-jaga dari gangguan tidak terduga.

Tapi kini ia belum juga mengetuk pintu dan memanggil nama saya, padahal saya masih yakin ia mencintai saya. Keyakinan yang sama persis saat kami kencan dan mulai membincangkan harapan-harapan ke depan, termasuk ingin punya tujuh anak dalam lima belas tahun perkawinan, lelaki semua. Tujuh anak lelaki. Bayangkan betapa penuhnya rumah kami. Mereka berlari kian kemari. Membuat berantakan ruang tamu dan memecahkan keramik kesayangan saya. Saya tidak peduli tentang keramik itu. Terserah mau pecah semua. Saya mau mereka menganggap rumah sebagai tempat bermain yang menyenangkan, bebas dari aturan-aturan yang membatasi ekspresi mereka.

“Kamu mencengangkan,” dia berkomentar.

“Karena aku sudah membayangkan jadi seorang ibu,” balas saya saat itu.

“Hanya itu?” kejarnya.

“Karena aku dicintai dan itu membuatku bisa berpikir berbeda,” tambah saya.

Dan mungkinkah ia berubah saat kami baru punya satu anak lelaki, dan saya tidak menyadarinya sama sekali. Ada perempuan lain? Gadis muda?

Jika sekadar itu saya dapat saja memaklumi. Kakek saya pernah selingkuh dengan tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Ayah saya juga pernah memajang foto perempuan lain di meja kerjanya, perempun yang tidak lebih cantik dari ibu tapi dapat membuat ayah menyingkirkan ibu beberapa waktu lamanya. Paman saya membawa lari seorang janda seksi beranak satu selama sebulan lebih. Di balik kejadian itu, nenek saya mampu bertahan dari gunjingan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga kakek yang menyalahkan nenek karena tidak pandai menjaga suami. Ibu saya, awalnya memang sering menangis, bermalam-malam, terpuruk, merasa tidak berharga, sangat marah karena merasa ia mendapat karma dari kesalahan seorang ayah, setelah itu ia biasa-biasa saja, malah bisa bangkit dari keadaan buruk itu. Bibi saya masih membukakan pintu ketika paman kembali padanya membawa lima kotak dodol garut dan setoples gula-gula, kebiasaan dalam keluarga besar kami bila seseorang baru pulang dari bepergian jauh, biasanya dari Jawa, tanpa permintaan maaf atau setidaknya menunjukkan rasa malu.

Benarkah ada perempuan lain dalam rumah saya. Uhh! Apa matanya sebagus mata kelinci. Sungguh manis. Sungguh lucu. Perempuan itu mungkin pernah datang ke rumah ketika saya sedang bermalam di rumah orang tua saya. Dia memakai kamar mandi saya, mencuci rambutnya yang ikal (saya tahu suami saya selalu suka perempuan berambut ikal). Bisa jadi ia juga menghabiskan shampo dan sabun mandi saya. Menggunakan gunting saya untuk memotong poni atau ujung rambutnya yang mulai bercabang. Memakai gunting kuku saya untuk membersihkan kuku kakinya. Atau juga memakai pisau cukur saya untuk merapikan alisnya. Lalu ia bercermin dan berdandan di depan lemari rias saya. Suami saya dan perempuan itu saling menatap lewat cermin. Suami saya memeluknya dari belakang dan mereka cekikikan sepanjang hari. Tawa mereka lalu merambat ke dinding-dinding yang dingin. Berhari-hari, sebelum menguap, menjadi bagian dari udara yang saya hirup ketika saya kembali ke rumah, masuk ke paru-paru saya, menggerogoti hidup saya, pelan-pelan.

Kurang ajar! Saya jengah memikirkan itu. Bukan karena cemburu, tapi sangat menyebalkan jika membayangkan seseorang lain, perempuan pula, memakai kamar mandi pribadi saya, sebab di sanalah satu-satunya tempat yang saya yakini bebas dari campur tangan orang lain, di mana seringkali saya bertanya tentang diri, tentang begitu banyak keinginan yang ingin saya raih di waktu yang akan datang atau sesekali tempat saya membayangkan sejumlah mantan pacar yang bahkan masih bisa saya rasakan napas mereka yang hangat di balik telinga. Saya menuntut pada bayangan mantan pacar itu untuk terus membiarkan saya berada dalam hidupnya. Saya tidak mau buru-buru disingkirkan atau dibuang lewat jendela pada tengah malam gulita disertai kata-kata melankolis, “Tolong, pergilah dari hidup saya!” Saya ingin di hati mereka. Selama mungkin. Dan saya merasa tidak berbuat jahat karena itu.

“Saya tidak bisa melakukan itu,” kata suami saya suatu pagi sambil mengunyah sekeping biskuit rasa kacang. Ia kurang bersemangat mendengar cerita soal mantan pacar saya. Wajah bulatnya sedikit merah dan terkesan lebih kencang, seperti menahan marah.

Saya tertawa nakal, “Kamu cemburu?”

Ia melotot sejenak, mengangkat bahu sambil memasukkan lagi satu gigitan biskuit ke mulutnya.

Tentu ia tidak terlalu berminat atas apa yang saya lakukan dalam cerita saya itu. Setidaknya bagi dia atau kebanyakan lelaki lebih baik mengajak kencan perempuan yang baru dikenalnya di taman saat lari pagi ketimbang mengingat-ingat sejumlah mantan pacar menjelang tidur malam. Saya berani bertaruh tentang itu.

Suami saya menyeringai. Sedikit menakutkan. Lalu ia berujar, Aku cinta padamu. Ungkapan yang terdengar posesif. Saya bilang, Kau kurang tulus kali ini. Aku rindu kau yang dulu.

Ia tercengang. Sejenak kami sama-sama kikuk. Ia menggigit lagi biskuit kegemarannya. Terdengar napasnya agak kacau. Dia meninggalkan saya. Katanya, ia ada urusan dengan teman. Kenapa mendadak, saya mencecarnya. Kau menyebalkan pagi ini, akhirnya ia mau terbuka. Saya balas, Kau juga sudah berubah. Kau sekarang bukan lagi lelaki humoris dan hangat. Dia berteriak, Terserah. Saya balas berteriak, Dasar penipu. Dia menutup pintu pagar keras-keras. Saya berlari ke kamar mandi. Beberapa menit lamanya. Setelah itu ia kembali. Mengeluarkan saya dan mengaku salah karena bersikap tidak menyenangkan pagi itu. Saya memberinya kesempatan. Kami tertawa. Melanjutkan sarapan yang sempat terganggu.

Benarkah kini kami telah begitu jauh meninggalkan diri kami yang dulu; hubungan yang sederhana, mengalir, selalu banyak tawa. Saling mengerti dan berusaha tidak saling menyakiti. Saya ingat ia amat manis, semua yang ada dalam dirinya.

Ah, sudah sepuluh menit saya di kamar mandi ini, entah kenapa, pelan-pelan saya rapuh dan merasa tidak lebih dari gelas tipis yang dibeli dari tawaran diskon besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan, gelas yang sangat mudah pecah! Lima belas menit, saya mulai dirayapi kesepian yang dalam. Dua puluh menit, saya mulai mengeluarkan kemarahan dengan kata-kata kurang senonoh dan untungnya cukup saya dengar sendiri. Dua puluh lima menit, tetap tidak ada yang mengetuk pintu dan bertanya, “Kau baik-baik saja, Sayangku?”

Saya tahu ia masih di sana, di ruang tengah tempat biasa kami berkumpul, hanya sepuluh langkah orang dewasa dari kamar mandi di mana saya sekarang berada. Ia bercengkerama, tentunya, dengan bayi kami yang berumur dua puluh empat bulan. Tawanya cempreng. Sekali dua kali. Saya bertanya-tanya, kenapa ia tidak buru-buru menyadari ada satu tempat kosong di sana, lalu ia segera ingat saya, dan mengeluarkan saya dari tubuh pesawat terbang mainan ini, kemudian kami memulai hubungan yang baru, lebih dalam dan lekat. Banyak orang mengatakan setelah pertengkaran merupakan momen paling bagus untuk membuat hubungan semakin hangat jika kita mampu mengambil peluang itu.

Hanya saja bukankah kami tidak benar-benar bertengkar. Tiba-tiba saya tidak enak hati dan mengurung diri di kamar mandi ini. Jangan-jangan ia sama sekali tidak menyadari kalau saya ada dalam kamar mandi dengan kondisi yang menyedihkan. Karena itu saya begitu yakin peluang itu tidak mungkin kami dapatkan. Terlepas begitu saja. Belakangan ia kurang sensitif, sedikit acuh, sibuk sendiri. Saya melemaskan tubuh saya. Entah kenapa saya mulai berpikir untuk melayang ke tempat lebih tinggi, seperti orang yang frustasi saya ingin melepaskan diri dari kengerian masa depan saya bersama lelaki itu.

Saya berdiri, keluar dari tubuh pesawat terbang mainan. Saya perhatikan gunting yang tergantung dekat tissue. Saya mengambilnya. Kemudian gunting itu saya arahkan ke rambut saya yang sepinggang. Tidak cukup satu menit, lebih dari setengah rambut saya sudah jatuh ke lantai. Mendadak tubuh saya lebih ringan. Setelah itu saya memotong rambut yang tersisa di kepala saya dengan cara membabi buta. Saya melihat diri saya lewat cermin. Dalam cermin itu saya melihat wajah saya yang dungu. Saya geram. Mata saya tertuju pada botol pembersih lantai merk tertentu. Saya mengambil botol itu dan membuka tutupnya. Aroma lavender segera menyengat hidung saya. Saya memejamkan mata. Lagi-lagi saya dengar dia tertawa. Mereka seakan asyik sekali. Bahagia. Sementara saya semakin sepi. Semakin merasa ditinggalkan.

Saya perhatikan lagi botol pembersih lantai itu lekat-lekat sembari membayangkan terbang di keharumannya yang damai. Dengan mata nyalang saya mengangkat botol itu hingga dalam sekejap seluruh isinya sudah berpindah ke perut saya. Setelah itu usus saya serasa terbakar dan berantakan.

Sampai kapan ia menyadari kalau ada tempat kosong di kehidupan mereka, lalu buru-buru ingat saya, mencari saya ke mana-mana, termasuk ke dalam kamar mandi sebelum saya benar-benar melayang ke tempat lebih tinggi. Atau ia betul-betul akan membiarkan saya pergi, menganggap saya sesuatu yang tidak berguna lagi dalam kehidupannya.

***

“Morin…”

“Aku di mana?”

“Kamu di rumah sakit.” Dia menempelkan tangan saya ke dadanya, “Jangan pergi dariku...” Lelaki itu menangis. Ia tampak terpukul.

“Aku mimpi buruk,” kata saya.

“Itu sudah berlalu.”

“Maafkan aku. Aku bingung sekali.”

Dia mengusap pipi saya, berkata, “Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.”

“Aku bahkan tidak tahu kenapa begitu kalut seolah-olah aku menjadi

orang lain dan aku tidak bisa mengendalikannya.”

“Sayangku, sungguh, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.” Dia mengecup pipi saya, dan berbisik, “Tidurlah. Aku akan menjagamu.” ***

Jalan Enam Mei, Oktober 2008

Infini

Cerpen J. Angin Silakan Simak!
Dimuat di Kompas Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 262 kali

Inilah Senin pertamaku benar-benar hidup sebagai pensiunan. Memang resmi bulan lalu aku gantung dasi, tetapi biasanya masih ada telepon berulang kali menanyakan ini-itu dari para mantan bawahan, atasan, dan penggantiku. Hari ini mereka sudah berhenti menghubungi. Ganjil rasanya; empat puluh tahun lebih, awal minggu selalu jadi hari tersibuk. Kukira memang sekarang masanya semua sungguh berlalu. Diam berebahan di pembaringan. Sendirian.

Di luar sudah gelap. Belum saatnya tidur, aku tidak mengantuk. Bangkit lagi sedikit limbung, entah berapa lama terpekur; bingung hendak melakukan apa. Akhirnya aku turun dari kasur, memakai sandal jepit, dan berjalan ke jendela. Pemutar audioku memainkan pita lagu lama, sekarang ini Smoke Gets In Your Eyes versi The Platters. Sudah mengayun suaranya, maklum kaset tua. Hampir selesai. Akan segera berganti ke tembang berikutnya.

”Gantilah dengan cakram padat, Yah. Jauh lebih jernih.” Anak pertamaku pernah komentar.

”Ini kubeli semasa muda dulu, Nak. Ada kenangan di dalamnya,” jawabku.

”Nanti akan kubelikan untuk Ayah. Sekaligus dengan pemutar digitalnya,” katanya sambil tertawa waktu itu, bertahun lalu.

Aku tersenyum. Ingin meneleponnya, tetapi entah nanti malah mengganggu atau tidak. Lagi pula jam begini setahuku biasanya dia belum pulang. Maklum, awal minggu.

”Ayah kok baru pulang?” tanyanya waktu seusia dengan cucuku—putranya sekarang.

”Tugas menumpuk, Nak,” jawabku waktu itu. Aku lupa saat itu tersenyum atau tidak. ”Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

Kalau kucoba telepon ke rumah, yang akan menerima mungkin menantuku. Bisa saja bertanya apa kabar, apa kabar anaknya; tetapi sungguh aku bukan orang yang senang basa-basi. Selain menyapa, aku tak tahu apa lagi yang ingin kubicarakan dengan mereka. Dengan anakku? Apa yang hendak kubicarakan? Cerita tentang hari ini? Tentang musik yang sedang kudengar dan kenapa aku jadi ingat dia? Tiba-tiba saja aku jadi terdengar seperti ibunya. Maka, kubatalkan niatku.

”Coba cari kegiatan apalah begitu?” Itu komentar istriku dulu tiap melihat aku begini. ”Jangan diam-diam saja....”

Lalu, aku berlalu ke rak buku. Seperti sekarang.

Kini sudah tak ada yang baru di sana. Kubuang waktu dengan membacai judul di deretan punggung-punggungnya, baru sadar ternyata sudah lama sekali aku tidak punya bacaan. Surat kabar kian hari kian tipis, tidak ada lagi yang menarik untuk disimak—itu juga aku sudah tak berlangganan lagi; mulai bulan ini. Bisa saja kutarik, kubuka, dan kupaksa ulang membaca salah satunya, tetapi aku tak tega. Tak tega kepada diriku sendiri. Akhirnya kurelakan. Lemari ini sudah tak bisa jadi penyelamat lagi.

Kulirik pesawat televisi yang teronggok diam di muka ranjang. Sejak benda itu dibeli, aku tidak pernah menyentuhnya.

”Apa saja kegiatanmu sepanjang hari? Nonton?” Sering kusindir ”mantan” istriku tiap kutemukan dia duduk terpaku di depan sini saat aku pulang kantor. Aku masih ingat betul, ia tak pernah menjawab. Beberapa kali istriku bahkan tidak menoleh seakan tak mendengar suaraku sama sekali. Masih ingat waktu-waktu seperti itu aku sangat marah. Bisa saja kutarik dan kusakiti dia. Tetapi, aku tak pernah sampai hati. Pada tahun-tahun terakhir, benda inilah yang sudah menyelingkuhi dia. Mungkin harusnya kubesituakan saja si satu mata tersebut, biar tak teringat lagi hari-hari dulu. Tetapi, entah kenapa belum juga aku lakukan. Di lemari pakaian, baju-baju lawas istriku sudah bersih terdonasikan pada fakir miskin, tetapi benda satu ini masih saja kubiarkan. Hingga hari ini masih kutatap layar gelas itu dengan pandangan benci. Aku bersumpah tidak akan menyentuhnya. Tidak juga malam ini, seberapa pun sepi.

”Ke mana televisinya, Yah?” Mungkin aku takut anakku yang kedua akan bertanya seperti itu saat berkunjung lebaran tahun depan.

Semasa kecilnya dulu, ia paling senang menonton di sini.

”Kamu sudah kerjakan PR belum?” Sering kutegur dia tiap kutemukan dirinya saat aku pulang kerja.

”Sudah dong, Yah,” jawabnya santai. Kadang tanpa menoleh sama sekali.

Mungkin karena itu juga foto pernikahanku masih kutinggalkan tergantung di dinding kamar ini. Kutatap gambarnya yang bisu. Di situ kami terlihat sangat muda. Sangat bahagia. Puluhan tahun lalu.

Sekali lagi aku tersenyum sendiri. Kali ini timbul keinginan menelepon anak bungsuku. Tetapi, untuk kedua kali kuingatkan diriku: Apa yang hendak dibicarakan? Belum lagi jika ternyata pembantu mereka atau menantuku yang nanti mengangkat; biaya telepon tidak murah. Kuingatkan diriku, mulai bulan ini harus ekstra hemat; mulai bulan ini aku bergantung hidup hanya pada simpanan yang jumlahnya tak seberapa.

Kupandang meja tulis yang ada di samping pintu, kukerling lacinya yang teratas; di mana buku tabunganku tersimpan rapi. Sudah hampir setahun tak kukeluarkan dari sana. Terus terang saja: aku takut melihat angkanya.

Puluhan tahun berkarier mencari keuntungan perusahaan, setahun terakhir aku baru ingat tak pernah mengkalkulasi keuangan sendiri. Ini bukan lagi permainan yang sama dengan yang kumasuki dahulu.

Saat mulai berkarier, tak pernah kubayangkan harga-harga akan setinggi sekarang. Sewaktu anak-anak masih kecil, harga obat dan ongkos rumah sakit rasanya selalu bisa kutanggung. Jika uang tak cukup, aku masih dapat berutang pada kantor. Tetapi, entah kenapa, saat aku menua dan istriku sakit-sakitan, semua jadi tak terjangkau lagi. Tak pernah kuduga satu dekade lalu program pensiun tiba-tiba lenyap. Andai aku masuk sepuluh tahun lebih awal, mungkin semua akan berbeda. Satu hal yang tak bisa kubanggakan, aku pensiun dengan sisa utang biaya pengobatan istriku akhirnya dihapus. Ingin kujual rumah ini untuk melunasi, tetapi atasanku mencegah. Ia tahu aku tak punya apa-apa lagi. Hanya itu penghargaan terakhir yang bisa diberikan perusahaan atas pengabdianku.

Setahun terakhir, baru kupikirkan: siapa yang akan menanggung sisa hidupku nanti?

Hingga hari ini, aku belum pernah minta bantuan anak-anak. Semoga tidak akan perlu. Tetapi, bagaimana andai aku seperti ibu mereka dulu? Mengobati sesuatu yang ternyata tak bisa disembuhkan?

Aku tak pernah menyalahkan ibu mereka. Tak ada yang mau sakit. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan. Manusia sakit bukan karena Tuhan.

Namun, apa yang harus kulakukan bila saja suatu hari nanti nasibku serupa? Siapa yang harus berutang untuk semua biayanya? Apakah anak-anakku juga harus merelakan simpanan mereka habis untuk melawan yang ternyata tak bisa dikalahkan?

Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Aku selalu berharap agar keluargaku dilimpahi kesejahteraan. Tetapi, bila ternyata mereka punya takdir berbeda, apa itu juga yang akan didoakan anak-anakku nanti? Berpuluh tahun mendatang?

Saat mereka mulai bekerja, tak pernah kubayangkan gaji pegawai akan seperti sekarang. Pada masaku dulu, semua cukup. Untuk makan kenyang tiga kali sehari, beli pakaian, sekolah anak, mengoleksi kaset musik dan buku favorit, kredit kendaraan, hingga akhirnya bisa membiayai rumah mungil ini. Ibu mereka cukup tinggal di rumah, tetapi kini anak-anakku dan pasangannya harus bersama cari nafkah hingga jauh malam; seperti halnya yang selama ini aku lakukan.

Dan bila ditanya oleh anak-anak mereka: kenapa baru pulang? Jawaban mereka pasti juga akan sama: ”Tugas menumpuk, Nak....”

Lantas, apa yang akan terjadi kepada putra-putriku puluhan tahun mendatang, pada hari Senin yang sama seperti hari ini untukku? Merenung seperti aku juga?

Lalu setelahnya tiba giliran anak-anak mereka? Cucu-cucuku?

Ini bukan jalan yang sama seperti yang kubayangkan akan mereka lalui saat mereka mulai bersekolah dulu.

Bagaimana bila puluhan tahun nanti harga dan biaya menjadi ratusan atau ribuan kali lipat dari sekarang? Dan bagaimana, jika pada masa depan, perusahaan tempat mereka bekerja sudah tak mau menghapus utang dan tagihan kesehatan saat pensiun nanti? Siapa yang akan menanggung itu semua?

Cucu-cucuku...?

Saat itu aku teringat kedua orangtuaku dulu.

Sampai di situ, aku tak kuat lagi. Kepalaku terasa sakit. Terhuyung aku kembali duduk di tepian kasur, memejamkan mata, mengurut kening yang seperti mau meletus. Untuk ketiga kalinya malam ini, timbul hasrat untuk menelepon anak-anakku. Ingin sekali kuutarakan semua yang terlintas di pikiranku barusan. Ingin sekali aku berteriak: selamatkan dirimu! Selamatkan anak-cucumu!

Tetapi, lantas aku jadi bertanya: siapa yang akan menyelamatkan aku pada sisa hidupku ini...?

Dan akhirnya, untuk kali ketiga pula, harus kuurungkan niatku....

Aku limbung. Kutarik napas-napas panjang, berusaha meredakan hantaman badai di dalam tengkorakku. Kulepaskan kedua sandal, dan berbaring menelentang, masih dengan mata terpejam erat.

Kembali terdengar alunan lembut suara Tony Williams: ”...Yet today my love has flown away.... I am without my love....”

Rupanya kaset C60-ku sudah berputar ke lagu semula. Apakah sudah selama itu...? Rasanya seperti baru sekejap saja...? Rupanya waktu telah berlalu tanpa terasa; hilang begitu saja entah ke mana....

”Coba cari kegiatan apalah begitu? Jangan diam-diam saja....” Terngiang kembali suara istriku.

Aku terdiam, rebah di pembaringan. Sendirian. Di luar semakin gelap, tetapi walau masih belum bisa membuka mata, aku belum mengantuk; belum saatnya tidur. Inilah hari pertamaku hidup benar-benar sebagai pensiunan. Apakah esok akan berbeda? ***

Menantu

Cerpen Endang Supriadi Silakan Simak!
Dimuat di Suara Pembaruan Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 218 kali

Awalnya saya pikir, setelah Nuri anak perempuan saya yang pertama mendapatkan jodohnya, beban saya akan berkurang. Tidak lagi apa-apa saya. Tentunya Seno, menantu saya itu sedikit banyaknya akan membantu kesulitan-kesulitan yang selama ini saya tanggung. Namun lacur. Semua hanya mimpi. Kehidupan saya tidak seperti pak Junet, yaitu tetangga saya yang juga sama-sama sudah punya menantu.

Menantunya itu begitu tanggap pada apa yang dibutuhkan keluarga pak Junet. Contohnya ketika Reza, adik Yanti, yaitu anak pak Junet yang sudah bersuami itu jatuh sakit, serta-merta suaminya Yanti, Wandar namanya, membawanya ke dokter ketika pak Junet tak ada di rumah. Tidak itu saja.

Ketika mertua perempuannya butuh diantar ke pasar saat pak Junet tak sempat, sang menantu bersedia menggunakan mobilnya mengantarkan mertua perempuannya itu ke pasar. Masih ada lagi yang bikin saya iri terhadap perilaku menantu pak Junet. Namun, tidak demikian dengan menantu saya yang tinggal di rumah saya sejak menikahi Nuri lima bulan lalu.

Kami memang sepakat Nuri dan suaminya untuk sementara tinggal serumah bersama kami karena masih ada kamar kosong yang tak ditempati sebelum mereka mendapat rumah tinggal baru.

Pada minggu-minggu awal tinggal bersama kami, saya pikir wajar kalau seandainya Seno masih kaku atau kurang paham dengan kebiasaan kami di rumah. Atau masih sungkan untuk bertindak bijak, atau berbuat yang membungakan hati kami sekeluarga. Sedang saya, sejak anak-anak sudah mulai berpikir dan bertanya, saya mulai ajarkan sifat menolong. Sifat membantu bagi siapa saja yang bisa dibantu, siapa saja yang bisa menolong dan ditolong.

Tanpa pamrih. Namun, saat masa perkawinan memasuki bulan kedua dan ketiga, banyak kejadian di rumah kami yang sepatutnya si Seno ini tanggap akan hal-hal yang membutuhkan uluran tangannya kala yang membutuhkan perhatiannya itu ada di dekatnya. Ini tidak. Tidak sama sekali! Bingung saya. Apa harus saya perintah? Apa harus saya beri contoh dulu? Ah, saya pikir tidak perlu karena dia sudah dewasa dan cukup berpendidikan bahkan saya pikir amat terdidik!

Padahal, kurang bagaimana saya terhadap menantu saya ini. Setelah saya pensiun, mobil milik saya banyak menganggurnya. Alias jarang dipakai. Makanya ketimbang mobil sedan saya banyak nongkrong di garasi, silakan saja dipakai kerja olehnya. Asal tangki bensin selalu terisi bila kembali ke rumah.

Tujuan saya adalah agar mobil itu selalu siap pakai jika ada keperluan mendadak keluar rumah. Sebulan berjalan mulus. Namun di bulan kedua, sewaktu mobil itu mau saya gunakan pergi ke arisan keluarga, tangki bensin kosong. Aki mobil soak!

"Tidak kamu kontrol dulu sebelum jalan kemarin, Sen?" tanya saya padanya mengenai aki mobil.

"Tidak sempat, Pak...," katanya singkat.

"Bensinnya tidak kamu isi?" tanya saya lagi. Kali ini Seno gagap.

"Anu, Pak. Hmm, pom bensin yang ada di ujung jalan bensinnya habis. Akhirnya mobil saya bawa pulang saja langsung, khawatir mogok di jalan."

Saya tak lagi menanggapi omongan menantu saya itu. Saya langsung ambil jeriken dan pergi cari bensin pakai sepeda motor. Sepulang beli bensin, tangki mobil langsung saya isi. Aki saya ganti dengan aki cadangan. Menantu saya hanya melihati saja. Tak peduli saya. Biar sekali-sekali saya bertindak seperti ini. Belajar tanggap di depan hidungnya! Biar dia tersinggung! Biar dia mikir!

Gumam saya dalam hati. Tapi dasar menantu sialan! "Beli bensinnya banyak, Pak?" hadangnya di depan pintu." Wah, kalau begitu sepulang Bapak dari arisan, saya mau pakai mobilnya ke Pancoran. Ada teman nawarin bisnis. Siapa tahu duitnya gede!"

Aku hanya menghela napas tanpa dia tahu.

Semalaman saya diskusikan sifat-sifat buruk menantu saya itu di kamar bersama istri.

"Ibu juga bingung Pak dengan kelakuan menantu kita itu. Dia juga kikir sama Nuri. Coba bayangkan, Nuri kan istrinya, masak Nuri minta dibelikan tas cangking saja sampai sekarang tidak dibeli-belikan juga. Gimana minta dibelikan rumah, barang murah saja susah!" tutur istri saya. "Kemarin Yoga, pinjam jaketnya barang sebentar tak diberi. Yoga kan adik iparnya, masak tidak melihat sih?" kata istri saya heran.

"Mestinya dia mikir," lanjut istri saya lagi, "Sudah untung tidak kita suruh mereka ngontrak rumah setelah mereka kawin karena Ibu kasihan dan tidak tega sama Nuri, masak anak kita harus ngontrak rumah segala. Rumah kita ini masih cukup besar walau misalnya mereka punya anak dua atau tiga!"

"Jadi kita harus bagaimana, Bu?"

"Tak tahulah, Pak..."

*

Ya, menantu saya ini sudah mulai menjengkelkan. Baru menginjak bulan kelima sudah banyak bikin masalah. Bagaimana satu tahun? Lalu punya anak? Tak terbayang oleh saya. Kehadirannya bukan membuat senang keluarga istri, eh malah bikin kesal semua orang yang ada di rumah!

Suatu hari mobil saya yang selalu dipakai Seno berangkat, ini kali tidak pulang bersama Senonya. Esoknya baru bisa diketahui bahwa ternyata mobil saya dibawa berburu bersama teman- teman Seno ke hutan di daerah Sukabumi. Mobil sedan yang tidak pantas masuk hutan itu, tampak banyak goresan di pintu mobil seperti terkena ranting dan rodanya penuh lumpur.

Saya mau marah, tak enak terhadap Nuri. Ada bekas luka gores juga di betis Seno, katanya kena ranting yang menghalangi jalannya. Tidak sekalian ranting itu nancap di pahanya! Gumam saya saking kesalnya terhadap menantu saya itu. Oh, maafkan bapakmu ini, Nuri. Bapak sudah menyumpahi suamimu, saya membatin. Akhirnya Seno hari itu tidak berangkat bekerja dengan alasannya capai dan kurang tidur.

Hasil buruannya cuma seekor anak rusa dan seekor tringgiling yang sudah mati. Konon, sang suami jika istrinya sedang hamil tidak boleh membunuh binatang? Apa Seno tahu itu? Ah, semoga saja tidak ada masalah dengan kehamilan Nuri, renung saya kemudian.

Siang itu saya guyur mobil yang penuh lumpur itu dengan air bekas cucian baju. Tak ada niat menyuruh Seno untuk membersihkannya. Kalau dia punya pikiran pasti dia sudah mencuci sendiri mobil saya sejak kembali pulang dari berburu dan menghilangkan semua kotoran yang melekat di mobil saya di mana bentuknya seperti habis terbenam di lumpur.

Dan nyatanya tidak. Sampai mobil itu kembali bersih, sampai goresan- goresan yang ada di kiri kanan pintu mobil itu hilang setelah saya olesi dempul khusus untuk bodi mobil. Seno, si menantu sontoloyo itu, tak tampak batang hidungnya untuk membersihkan mobil saya di garasi! Malahan siang itu saya mendapatkan Nuri menangis saat berpapasan dengan saya di dapur.

"Ada apa, Nur?" tanya saya ingin tahu.

"Mas Seno, Pak. Aku kan lagi ngidam rujak Betawi. Mas Seno nggak mau belikan aku asinan itu. Alasannya capai. Padahal dia tahu tempat mangkalnya!" rengek Nuri.

"Ya, sudah ndak usah nangis biar Bapak yang jalan, kasih tahu di mana mangkalnya?" kata saya sekadar meredakan kesedihan Nuri juga bermaksud agar Nuri mendapat apa yang sedang diidamkan. Demi calon cucu saya juga, kata saya dalam hati. Soal menghadapi perilaku menantuku, saya harus sabar. Seno menantu saya adalah anak saya juga, sebisa mungkin saya harus bisa menjaga kerukunan dan keharmonisan rumah tangga mereka.

Tapi masalah yang dimunculkan selalu saja ada. Dan ini membuat saya panas.

Saat Nuri minta diantar ke bidan oleh Seno untuk memeriksakan kandungannya yang baru berjalan tiga bulan. Seno tak bersedia mengantar dengan alasan ada temannya mau datang ke rumah. Akhirnya, ibunya yang mengantar Nuri ke bidan. Sedang Seno pergi dengan temannya yang datang menjemput ke rumah.

"Bapak harus tegur si Seno, Pak! Jangan diam terus. Nuri nggak mau diperlakukan seperti pembantu!" pinta Nuri pada saya tiba-tiba.

"Ada apa lagi, Nur?" tanya saya sedikit terkejut.

"Masak aku minta cuciin baju satu saja Mas Seno nggak mau, Pak! Katanya perempuan hamil muda tidak boleh kerja berat dulu, tidak bagus buat kandungannya. Tapi Mas Seno nggak peduli. Dia kayaknya nggak takut terjadi apa-apa pada kandunganku!"

"Kalau hanya satu baju kamu, kasih ke ibu. Biar ibu yang cuci," kata saya memberi saran.

"Tidak, Pak. Bapak sekali-kali harus kasih nasihat Mas Seno. Jangan didiamkan saja. Bisa-bisa ngelunjak nantinya!" kata Nuri mulai tampak kesal pada suaminya sendiri.

"Jangan Bapak, Nur. Nanti suamimu salah paham terhadap Bapak," potong istri saya yang muncul dari dapur. "Coba kamu omongin baik-baik dengan suamimu soal bagi-bagi tugas selama kamu hamil. Siapa tahu suamimu akan paham."

"Ah, bosan Bu. Sudah sering aku sampaikan, tapi Mas Seno tetap saja begitu, nggak mau mengerti keadaanku!"

Saya menghela napas lagi. Siapa yang salah dalam hal ini? Apa saya yang salah tidak memberi pengarahan sewaktu Seno datang menghadap saya di mana seminggu kemudian akan membawa orangtuanya untuk melamar Nuri anak saya? Atau Nuri yang kurang jeli memilih calon suami waktu itu? Ah, tak tahulah saya.

Kejadian yang sangat tidak terduga dan sangat membuat saya panas sekaligus menggigil adalah sewaktu saya secara kebetulan melihat mobil saya yang dibawa Seno sama-sama berhenti di lampu merah di mana saat itu saya sedang mengendarai sepeda motor dan baru keluar dari toko buku setelah membeli alat-alat lukis.

Yang membuat saya terperanjat adalah sosok perempuan yang duduk di sampingnya itu bukan Nuri. Perempuan lain yang tidak saya kenal. Dan tampak perempuan itu begitu manja saat berbicara pada Seno. Untuk tidak sampai keberadaan saya diketahui oleh menantu saya itu, motor saya mundurkan sedikit ke belakang. Dan ketika lampu merah menyala, saya biarkan mobil saya yang dibawa Seno itu melaju lebih dulu di depan dan saya membuntutinya dari belakang untuk mengikuti ke mana Seno pergi membawa perempuan yang tidak saya kenal itu.

Dari jalan protokol masuk ke jalan kecil lalu membelok ke kanan dan kemudian berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah rumah yang cukup besar bercat putih. Rumah perempuan itukah? Pikir saya saat melacak. Seno mengantar perempuan itu hanya sampai depan pintu gerbang rumah itu. Dia tak turun dari mobil.

Tapi yang membuat saya panas dingin waktu itu saat melihat perempuan itu hendak turun dari mobil. Perempuan itu memberi kecupan mesra kepada Seno menantu saya. Ah, siapa perempuan itu? Pikir saya. Ini pemandangan gila yang pernah saya lihat yang dilakukan menantu saya! Menantu edan! Umpat saya dalam hati. Pemandangan gila dari menantu gila! Umpat saya lagi. Apa yang harus saya lakukan setelah melihat kejadian tadi?

Saya ternyata tak bisa berbuat apa-apa sebagai mertuanya saat itu, sebagai bapak dari anak gadis yang dinikahi oleh lelaki yang memberi tontonan menjijikkan tadi itu. Handphone saya tak berkamera, saya tak bisa mengabadikan kejadian itu!

Saya lebih dulu tiba di rumah. Bayangan yang menjijikkan tadi masih melekat di pelupuk mata saya. Sepuluh menit kemudian saya mendengar suara mobil masuk ke dalam garasi. Itu pasti bajingan kuyuk yang saya lihat tadi baru pulang!

Umpat saya lagi. Seno masuk lalu duduk di sofa kemudian membuka sepatu, membuka dasi yang melilit di lehernya. Tampak seperti tak membawa dosa sama sekali. Nuri datang menyapa dengan senyum manis sambil membawa air minum di gelas. Nuri mencium tangan suaminya. Meletakkan sepatu Seno di rak sepatu. Menggantungkan dasi ke kapstok. Mata saya perih!

Bukti menantu bejat apakah harus saya ceritakan pada istriku? Apakah harus saya sampaikan ke Nuri anakku yang sedang mengandung anak dari suami yang bejat tadi? Oh, harus bagaimana saya ini? Sebentar lagi mereka akan memberi saya cucu? Saya pusing! ***

Kereta Bayi

Cerpen Ida Ahdiah Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 233 kali

Ayu memberitahu Danil, seharian ia akan bersama Sophie yang punya kereta bayi bermerek dan bermodel sama dengannya. Warnanya merah muda, kendati bayi Sophie laki-laki. Ayu dan Danil sempat berdebat soal warna itu. Tapi kemudian mereka berkesimpulan, keliru mereka berdua menganggap merah muda hanya untuk perempuan. Lihat, warna-warna kemeja, dasi, topi, sapu tangan untuk laki-laki ada juga yang pink!

Tiap hari Ayu dan Sophie mengelilingi taman kota. Sophie mendorong kereta Keyla, putrinya yang berusia 10 bulan. Sophie mendorong kereta Nathan, delapan bulan. Keduanya merasa itu olahraga terbaik, bergerak sambil menghirup udara segar, mengasuh anak, dan mengobrol.

Ayu bukan tergolong yang suka seharian berada di gym, mendayung sepeda statik sambil mendengarkan ipod dengan ear-phone di telinga. Di musim dingin pun ia lebih suka skating dan main ski dengan pelindung dingin yang memadai. Apalagi di musim semi seperti saat itu. Ia tak mau kehilangan pohon-pohon lilak berbunga yang menyebarkan harum tak berkesudahan, sepanjang hari dan malam hingga bunga-bunga layu, disiram matahari musim panas.

''Kau akan main dengan Madame Sophie yang memberimu keju tua, yang baunya... Sudah kau buang ke tong sampah?'' ujar Daniel.

Ayu tertawa. ''Pernah kubawakan dia keripik tempe Bandung. Katanya, enak.''

''Katamu dia mengadopsi bayi dari Haiti.''

Ayu mengangguk. ''Anak keduanya dari Haiti. Anak pertamanya adopsi dari Korea, yang terakhir Nathan dari Cina.''

''Sungguh pemurah dan penyayang.''

''Anak dengan berbagai warna kulit.''

''Dia tak punya anak sendiri?''

''Aku tidak tahu. Jangan lupa bekal makan siangmu. Tinggal buah yang belum kumasukkan ke kotak makan siangmu.''

''Terima kasih,'' Danil mencium dahi Ayu. Mencium pipi Keyla di gendongan Ayu.

''Selamat berolahraga, ya. Jangan keasyikan ngobrol sampai lupa memberi makan siang Keyla. Kapan-kapan, di akhir pekan, undang Sophie makan di rumah. Kita buatkan gado-gado.''

''Akan kutawarkan padanya,'' Ayu menutup pintu.

Ayu dan Sophie bertemu pertama di taman kota. Saat itu Ayu tengah membuka bekal makan siang, mie goreng sosis, dengan selada di tepi danau, di bawah pohon oak tua, yang pendek tambun, seusai berjalan keliling taman. Sejak musim semi, hampir tiap pagi ia keluar dan makan siang di udara terbuka. Bahkan kadang menghabiskan sebagian sore di sana. Membiarkan Keyla tidur sementara ia membaca. Ia kadang bosan menghabiskan setahun masa cuti hamilnya di rumah. Makanya, kata Mbak Win, ''Lebih baik di Indonesia cuti hamil cuma tiga bulan...''

Ayu punya daftar kegiatan untuk mengisi cutinya. Antara lain ia menulis, dengan bimbingan buku ia akan mengurus Keyla. Sesuai dengan usianya akan mengenalkan Keyla pada warna, suara, rasa, dan raba. Ia akan membaca novel-novel yang tak pernah sempat dibacanya. Juga ia akan belajar membuat masakan Indonesia lebih serius agar jika ada pot-luck dengan teman-temannya, ia bisa memamerkan lumpia dan bihun goreng, hasil olahannya. Bukan lagi makanan beku yang ia panaskan sebelum dihidangkan.

Ia iri pada teman-teman Italinya yang membuat lasagna dan saus tomat sendiri. Juga membuat tiramisu yang lezat di dapurnya. Dia tak pernah bercerita kalau di tanah air selalu ada mbak, emak, atau mpok, yang memasak di dapur. Namun rencana itu tak berjalan mulus. Ia sering lupa dan malas.

Dan, siang itu ia tak tahu kehadiran Sophie, hingga dia memarkir kereta bayi di sampingnya seraya berkata, ''Kita punya selera yang sama, lihatlah kereta bayi kita, merah muda! Yang membedakan keretamu ada boneka tawonnya.'' Sophie mengulurkan tangan, mengenalkan diri.

Seorang perempuan asing yang ramah, pikir Ayu, seraya mempersilakan duduk bersisihan di bangku taman. Lima menit kemudian mereka sudah terlibat pembicaraan tentang anak, buku, makanan, pemilihan presiden Amerika, dan tentang lubang-lubang di jalan raya yang belum mendapat perhatian pemerintah kota. Setelah itu, setiap hari mereka bersama, di taman.

Kemarin Ayu tersentuh mendengar Sophie bercerita tentang perjuangannya mendapatkan Nathan.

''Teman-teman kaget waktu saya bisa mengadopsi Nathan hanya dalam waktu enam bulan. Biasanya butuh waktu dua sampai tiga tahun.''

''Barangkali karena kau sudah pengalaman, mereka percaya.''

''Itu bukan ukuran. Tetap saja saya harus mengikuti aturan. Saya harus sehat lahir batin, punya pekerjaan, punya tempat tinggal, tabungan, dan dianggap mampu mengurus anak. Seseorang dari dinas sosial akan datang berkunjung dan memantau apakah saya layak mengadaopsi anak atau tidak.''

''Kau lulus semua itu bukan?''

Sophie mengangguk. ''Tapi menurut aturan normal tetap saja saya harus menunggu tahunan.''

''Lantas apa yang kau lakukan. Menculiknya atau menyogok pejabat-pejabat terkait?'' canda Ayu.

Sophie tertawa. ''Saya pernah mengunjungi panti asuhan di Cina. Ratusan ribu bayi menunggu untuk diadopsi. Tapi berapa banyak orang tua yang mampu. Bukan mau ya, tapi mampu mengadopsi. Keadaan mereka mengenaskan, tidur berjejer, bertumpuk lebih tepatnya, kurang gizi, dan kebersihan tidak terjaga. Banyak bayi yang rambutnya berkutu. Kasihan. Kupikir mereka tak keberatan jika kita menculiknya. Kau tertarik mengadopsi?''

Ayu menggeleng. ''Tak semua orang berbakat jadi orang tua asuh. Keyla sudah cukup membuat aku dan suami bahagia. Bertahun-tahun kami menunggu kehadirannya. Bertahun-tahun kami dalam pengawasan dokter. Akhirnya bidadariku lahir...'' Ayu menepuk-nepuk pipi Keyla.

''Bidadari yang supercantik.''

''Terima kasih. Oh, tentang Nathan, bagaimana kau mendapatkannya?''

''Sebuah agen memberi saran dan membuka rahasia bagaimana bisa mengadopsi bayi cepat, tapi berisiko.''

Ayu menatap Sophie, ''Kedengarannya seram betul.''

''Seperti juga pakaian ada juga bayi yang rejected...''

''Oh, ya.''

''Bayi-bayi itu biasanya punya cacat fisik. Jarinya tidak lengkap, bibirnya sumbing, kakinya kecil satu, telinganya tak sempurna. Bayi-bayi itu ditampung di panti asuhan khusus, karena nyaris tak ada orang mau mengadopsi. Itu sebab proses adopsiku cepat.''

Ayu menarik nafas. ''Apa yang terjadi pada Nathan?''

''Jari tangan kanannya tak lengkap. Tiga di antaranya lebih kecil. Perkembangan lainnya normal. Saya tidak keberatan. Saya mencintainya.''

Ayu ingin tahu, apa yang akan terjadi jika kelak bayi yang ia adopsi cacat mental. Tapi pertanyaan itu ia urungkan. ''Sungguh luhur hatimu. Beruntunglah Nathan memperoleh orang tua sepertimu.'' Ayu beranjak hendak membuka selimut Nathan. Namun, Sophie melihat jam tangan dan berteriak, ''Nyaris terlambat menjemput Marie.'' Ia mendorong Nathan berlari-lari kecil.

Marie duduk di kelas 1 SD. Kata Sophie, ia masih dalam daftar tunggu untuk masuk After School Program tempat Marie melanjutkan kegiatan setelah jam sekolah. Dengan itu Sophie bisa menjemputnya senja hari, sebelum pukul enam.

''Sampai besok,'' teriak Sophie.

Ayu berujar pada dirinya, Sophie pantas menjadi ibu dari tiga anak adopsi. Ia dilimpahi begitu banyak energi, kasih sayang, dan Ayu berupaya mencari kata yang tepat untuk menggambarkan keikhlasan memilih bayi yang jarinya tidak lengkap. Hal pertama yang ia tanyakan kepada dokter ketika Keyla lahir adalah, ''Apakah jari kaki dan tangannya lengkap?''

Nathan juga bayi yang baik. Ia lebih sering tidur pulas, tidak pernah rewel. Sementara Keyla menjerit-jerit kalau pampersnya basah atau lapar. Menurut Sophie, jam tidur Nathan panjang. Ia akan terbangun saat makan siang. Dua kali Ayu melihatnya terbangun dan menimangnya.

Hari ini Sophie berjanji akan tinggal lebih lama dan makan siang bersama Ayu di taman. Sejak kemarin Marie sudah masuk After School Program. Sophie tak perlu lagi menjemputnya sepulang sekolah. Ayu senang karena ia akan punya waktu lebih panjang bersamanya.

Kehadiran Sophie membantunya menghilangkan rasa kangen pada ibu, bapak, mbak Win, dan Mas Aryo. Mami dan papi mertuanya akan datang musim dingin, bulan November. Saat itu harga tiket murah dan akan naik lagi menjelang Natal dan Tahun Baru.

Ayu berencana membuat sandwich salmon untuk mereka berdua. Ikan kaleng itu ia campur dengan mayonaise, irisan seledri, daun bawang, lalu dibubuhi merica, garam, dan dua percik air jeruk. Lainnya ia membawa apel dan batang-batang wortel mentah. Ayu juga mengemas minuman dan makanan untuk Keyla.

Keyla tidur lelap ketika pukul 10 Ayu mendorongnya keluar apartemen. Matahari musim semi hangat menyapu kulit. Ayu mengenakkan sepatu joging, celana pendek, dan kaos tanpa kerah. Berat tubuhnya belum kembali ke asal, tapi menurut Daniel, itu berat tubuh idealnya. Tidak terlalu kurus dan gemuk. ''Berat tubuh seorang ibu,'' begitu istilahnya.

Mungkin Daniel hanya ingin menyenangkan hatinya. Di depan cermin Ayu melihat tubuhnya lebih berisi. Nomor celananya naik satu angka. Tapi ia suka dengan ''berat tubuh seorang ibu'' itu. Ia membungkuk mencium Keyla, menutupi wajah Keyla dengan tudung kereta bayi. Kasihan kalau ia terbangun karena silau matahari.

Sophie sudah menunggu di taman ketika Ayu tiba. ''Aku melihat ada bazar di taman sebelah sana. Kelihatannya banyak barang kerajinan dan makanan. Tertarik untuk melihat?''

''Ayo, sekalian cuci mata. Siapa tahu aku menemukan sesuatu buat Keyla.''

''Biasanya dijual sweater anak-anak. Katanya hasil rajutan nenek-nenek yang tinggal di gedung panti jompo itu,'' Sophie menunjuk gedung tinggi. ''Itu panti jompo semiprivat yang fasilitasnya seperti hotel bintang lima. Ketahuan kalau penghuninya punya pekerjaan bagus selagi muda.''

Sophie menyebut bazar itu sebagai ''old day'' bazaar. Sebagain besar barang-barang yang dijual adalah buatan orang tua, model tua, dan dijual oleh mereka juga. Rajutan taplak meja, sweater, sepatu musim dingin, dan sejenisnya bermodel abad silam. Kue yang dijual seperti bolu labu, pie apel, dan biskuit kismis. Buku-buku bekas yang dijual ada yang terbitan tahun 1910-an.

Ayu membeli selembar sweater hijau dan sepatu rajutan oranye. Juga dua buah bolu labu. Keyla yang terbangun dan menangis menjadi perhatian nenek-nenek, yang mengerubunginya dan ingin memangkunya. Sementara Nathan tampak tidur pulas kendati suasana ramai bukan main.

''Aku ingin ke kamar mandi dulu.'' Sophie menuju perpustakaan kota yang letaknya di tepi taman. ''Pernah ke situ?''

Ayu menggeleng.

''Koleksi buku dan DVD anak-anaknya bagus,'' sambung Sophie.

''Bagaimana jika hari ini kita mengisi waktu di sini,'' kata Ayu sambil mendorong pintu bangunan tua itu dengan punggungnya.

''Ide yang bagus.'' Sophie mengikuti langkah Ayu masuk ke perpustakaan yang senyap. Pengunjung terbenam dalam buku dan majalah yang mereka baca.

Sophie berhenti di depan kamar mandi. ''Setengah jam lagi Nathan bangun. Kalau bangun sebelum waktunya dia rewel.'' Ia menutup bibirnya dengan telunjuk.

''Oke,'' kata Ayu sambil memeriksa makan siang Keyla, tim ayam dan parutan wortel.

Sementara Keyla tampak gembira, menarik-narik tawon mainnya yang digantung di atas kepalanya dan menimbulkan bunyi zzzz.... Ayu mencium gemas pipinya.

''Kau mau ke kamar mandi juga?'' kata Sophie lima menit kemudian.

''Kita memberi makan siang Keyla dan Nathan di taman. Dilarang makan minum di sini,'' bisik Ayu seraya beranjak ke kamar mandi.

Sophie membuka selimut Nathan. ''Ia mulai menggeliat,'' bisiknya.

''Tolong awasi Keyla.''

Sophie membelai rambut Keyla. ''Kamu akan baik-baik bersama Sophie bukan, Cantik?''

Lima menit kemudian Ayu keluar. Ia kaget tak melihat kereta bayi Nathan.

''Tante Sophie membiarkanmu sendirian, sayang. Keterlalun...'' Dengan kesal Ayu menarik boneka tawon yang menggantung di samping kepala Keyla.

Ia menepuk-nepuk pipi Keyla, membungkuk hendak menciumnya. Namun jari tangannya menepuk benda keras, pipi boneka laki-laki, yang sedang tidur!

''Keyla...'' Ayu berteriak, berlari, meraung lantas jatuh tak sadarkan diri.***

Montreal - Jakarta 2008