Minggu, 26 April 2009

naskah drama "KUDETA"

Juara 3
Lomba Penulisan
Naskah Teater Remaja
Taman Budaya Jawa Timur
2006



Karena kekuasaan tidak gratis didapatkan.
Ia harus direbut dan diperjuangkan………sendiri!
KUDeTA









Sebuah Naskah Teater Remaja


Oleh:
JONED SURYATMOKO



PEMAIN
LINDA, siswi kelas II,
HELEN, siswi kelas II,
BUNGA, siswi kelas II,
RATNA, siswi kelas II,
NUNGKI, siswi kelas III, mantan Jagoan
MEYMEY, siswi kelas III, mantan Jagoan
KANDI, siswi kelas III, mantan Jagoan
BRIAN, siswa kelas III, idola kelas II dan III,
PAK ISWADI, guru pendamping OSIS, masih agak muda
KEPALA SEKOLAH, galak, hampir pensiun
IBU, ibu LINDA
Untuk adegan hiruk-pikuk bisa ditambahkan lebih banyak figuran, para siwa dan siswi yang lain

WAKTU
Sekarang

TEMPAT
SMA di Indonesia, halaman sekolah,
Kamar LINDA, Dalam hati LINDA
(selera lokal disesuaikan)


SINOPSIS KUDETA

Tahun ajaran baru sudah mulai. Murid kelas III yang baru akan segera menghadapi ujian nasional dan terlalu sibuk mengikuti bimbingan belajar. Kinilah saatnya bagi murid-murid kelas II yang baru untuk melakukan kudeta merebut kekuasaan jagoan sekolah mereka.
Empat murid kelas II, yakni LINDA, HELEN, BUNGA dan RATNA menyadari hal itu. Mereka tahu bahwa mereka harus segera menyusun rencana untuk segera menunjukkan bahwa merekalah jagoan murid perempuan di sekolah. Dengan demikian mereka bisa menguasai kantin, halaman sekolah dan juga toilet.
Masalah muncul ketika ternyata aksi kudeta mereka mengalami banyak halangan. Murid kelas III belum rela melepaskan jabatan jagoan mereka, Bunga dan Ratna sudah harus mengikuti bimbingan belajar sejak kelas II. Linda tertinggal sendiri ketika ternyata Helen juga sudah berhasil mendapatkan murid kelas III yang menjadi idola mereka.
Satu kesempatan tersedia ketika Linda ditawari menjadi Ketua OSIS, Namun tawaran itu ditolaknya. Baginya menjadi jagoan dengan jabatan hasil pemberian sekolah tidak akan membanggakan. Ia juga menyadari bahwa ia harus tetap siap mewujudkannya sendiri. Karena itulah kemenangan sebenarnya.
OPENING
Panggung dibiarkan lengang beberapa saat. Hanya ada beberapa kursi. IBU berdiri dengan tegak di ujung kanan panggung! Memandang ke arah entah!! Ingin berkata sesuatu dan selalu ingin berkata sesuatu. Lampu boleh terang boleh temaram. Tidak ada suara apapun! Pelan-pelan selembar demi selembar kertas putih jatuh dari langit-langit panggung. Selembar demi selembar! Penonton dibiarkan menikmati jatuhnya kertas-kertas tersebut dalam diam! Setelah beberapa saat.
OS. LINDA : (seperti bicara pada dirinya sendiri) Setiap kali aku menikmati liburan panjang dan bermalas-malasan, Ibu selalu mengingatkan aku. Dengan sedikit omelan tentu saja!
IBU : (tiba-tiba, melengking dari ujung kanan panggung) Beras sekarang mahal! Minyak semakin mahal. Sekolah juga mahal! Tidak ada yang murah sekarang! Jadi…kamu harus belajar dengan benar!!
OS. LINDA : Katanya, aku harus bersyukur karena masih bisa sekolah. Banyak orang yang ingin sekolah tapi tak bisa sekolah, sementara aku, kata ibu, menyia-nyiakan sekolah.
IBU : (tiba-tiba lagi, melengking dari ujung kanan panggung) Masa..sama anak sendiri ibu tega? Ibu tidak menyalahkanmu. Ibu tidak memaksamu! Kamu bebas berkegiatan apa saja! Tapi jangan lupa belajar!!!


Ketika IBU bicara, LINDA muncul dengan seragam sekolah dan tas, membawa buku hariannya, berjalan perlahan ke arah salah satu kursi. Kemudian duduk. Ia membuka bukunya, dan meneruskan menulis.
OS. LINDA : Ibu tidak tahu, bahwa liburan kali ini aku benar-benar menginginkan masuk sekolah kembali. Bukan karena aku ingin belajar lagi, tapi karena akan ada sesuatu yang berbeda.
IBU : (melengking lagi) Asal kamu tahu, Ibu percaya padamu!!!!
OS LINDA : Selama liburan aku membaca sejarah ini. Lebih dari sepuluh kali kudeta terjadi di Paraguay. Banyak pemimpin di Negara Amerika Selatan ini yang digulingkan dan digantikan dengan paksa. Tahun 1904 Juan Gaona melakukan kudeta dan menjadi presiden. Tahun 1905 Dr. Cecilio Baez melakukan kudeta. Emiliano Gonzales melakukan kudeta tahun 1908 dan Liberato Marcial Rojas melakukan kudeta tahun 1911. Sementara pada tahun 1912 kudeta dilakukan Dr. Pedro Pena. Kemudian, seperti kebiasaan kudeta berikutnya berkali-kali terjadi. Tahun 1921 Dr. Manuel Gondra dipaksa mengundurkan diri.
IBU : (tiba-tiba lagi) Jangan nakal! Jangan nakal!!
OS. LINDA : Pada tahun 1936 Kolonel Rafael Franco juga melakukan kudeta. Tahun 1937 Dr. Felix Paiva kudeta. Jendral Higinio Morinigo kudeta tahun 1940. Tahun 1948 Dr. Juan Natalico Gonzales dikudeta dan……
IBU : (tiba-tiba lagi) Jangan nakal! Jangan nakal!!Jangan!!
OS LINDA : tahun 1989 Jendral Adres Rodriguez melakukan kudeta.
IBU : (lebih pelan, hampir putus asa!!) Jangan!!

PAUSE!
IBU terdiam tertahan!! Mendesis-desis entah apa yang diucapkannya. Seperti ingin melarang seseorang. LINDA berhenti menulis dan melihat kertas-kertas yang masih jatuh. Tidak sesuatupun terjadi. Ia lalu menulis kembali.
OS. LINDA : Tahun ini aku sudah naik kelas II. Aku merasa sudah waktunya melakukan kudeta. Menggulingkan kekuasaan murid kelas III. Akan ada yang membuktikan siapa yang akan menjadi siswi jagoan di sekolah ini. Mereka harus turun!! Kelas III harus segera turun!!! Segera!!
IBU : Jangan nakal!!!!!!!!! Sudah Ibu bilang, Jangan nakal!!!

Lalu IBU berlari EXIT dengan cepat sambil terus berteriak!! Seperti tak ingin terlambat! LINDA melihat lembaran kertas terakhir jatuh.
Musik sepotong, tapi menyentak!!
Panggung menjadi terang!!

BAGIAN I
Halaman sekolah
1.
Sebelum kertas menyentuh lantai, muncul HELEN, BUNGA dan RATNA dengan teriakan-teriakan kegirangan. Suasana menjadi gaduh.
HELEN : (pamer pada LINDA) AKu tahu aku harus minta maaf! Karena aku tidak membawa oleh-oleh. Tapi asal kalian tahu, aku melewatkan liburan terindah kali ini! Tidak terceritakan, tidak terkatakan!
LINDA : Sayangnya, juga tidak ingin ditanyakan!
BUNGA : Memang kamu liburan dimana? Paling ke rumah nenek!

Disambut ketawa yang lainnya.
LINDA : Ini liburan! Kita bebas kemana saja kan!
BUNGA : Iya, nih! Susah kalau liburan! Kerjaanya makan terus! Kita jadi gendut semua nih! Lihat!

BUNGA menunjukkan badannya
RATNA : Itu sih memang sudah gendut sebelum liburan!

Yang lain ketawa. BUNGA juga. Lalu masing-masing saling memeriksa satu yang lainnya. Kulit mereka, pipi mereka, pinggul, kaki..sampai…
LINDA : (pada BUNGA) Wah,..kamu pakai tas baru ya!! He.. he… he… kaya anak SD saja, naik kelas pakai tas baru!!
BUNGA : Ih..ini hadiah!! Aku tidak minta dibelikan kok …!!!
HELEN : Tapi minta hadiah!!! Sama saja!!!
LINDA : kalian merasa berbeda?
HELEN : maksudnya?
BUNGA : ya, tentu saja!
LINDA : Aku merasa lebih.hm……apa ya…!
RATNA : Aku tidak merasa apa-apa!
LINDA : Kita sudah kelas II!
BUNGA : Lantas?
HELEN : aku tahu! Aku tahu! Kita jadi terasa lebih tua!
RATNA : memang kita tambah umur kan?
LINDA : Bukan itu! Kita merasa lebih tua karena di sekolah ini kita sekarang punya….
HELEN : adik kelas!

RATNA dan BUNGA menutup mulutnya!
RATNA : Benar juga!
BUNGA : Kita sekarang bukan yang paling bontot di sekolah ini.
LINDA : sekarang kita punya adik kelas. Kalian perhatiakan murid kelas I. Tahun lalu kita seperti itu! Dan, kalau kalian ingat….pengalamana buruk!
BUNGA : Ehm..aku tidak akan melupakan perlakukan kakak kelas tahun lalu!
Yang lain tertawa. Suasana ribut kembali!!

2.
Lalu tanpa mereka sadari muncul siswi-siswi kelas III. Mereka adalah NUNGKI, MEYMEY dan KANDIi. Masing-masing langsung diam.
NUNGKI : (menyindir LINDA) Wah, kayaknya ada yang tidak jadi dikeluarkan dari sekolah nih!
KANDI : Iya…atau jangan-jangan ibunya merengek-rengek ke Kepala Sekolah supaya dia tidak dikeluarkan….

NUNGKI, KANDI dan MEYMEY terbahak.
LINDA : Heh! Aku tidak mungkin dikeluarkan dari sekolah hanya karena pernah menjambak rambutmu dan memasukkanmu ke dalam bak mandi!!

Teman-teman LINDA tertawa. Juga LINDA. Wajah NUNGKI jadi semakin marah!
MEYMEY : Memang sih! Tapi emang enak jadi junior, jadi pecundang? Heh? Sudah menjadi peraturan tidak tertulis, kalian para adik kelas harus tunduk pada kakak kelas! Tidak ada tawar menawar. Kalian harus cium tangan pada kakak kelas. Ayo…..

MEYMEY mengulurkan punggung telapak tangannya seperti mempersilahkan mencium tangan. LINDA dan kawan-kawan tampak geram.
HELEN : Kalian memang kelewatan!! Kalian sudah tua! Sudah bau tanah!! Sebentar lagi juga keluar dari sekolah ini.

Teman-teman HELEN menyoraki!!!
KANDI : Sebentar lagi? Tidak salah tuh? Kami masih setahun di sini! Itu artinya, kami masih punya setahun untuk menindas kalian!! Tahu?
BUNGA : Ya..! tapi kalian harus menghadapi jam tambahan setiap hari. Kalian harus menghadapi ujian akhir!!
NUNGKI : Jangan salah! Kami masih cukup pintar untuk menghadapi ujian dan tetap menjadi jagoan!! Kalian? Hm…sepertinya masih harus banyak belajar?
BUNGA : Mungkin! Tapi bagaimana dengan ….?
NUNGKI : Pacar? Hm….murid-murid kelas III terlalu malas buat pacaran dengan adik kelas! Kalian kan manja! Anak kecil! Kolokan! Mereka lebih senang pacaran dengan kami!!

Pada saat berbicara seperti itu NUNGKI sudah yakin benar pada omongannya. Lalu BRIAN, idola anak-anak kelas III dan II muncul dengan langkahnya yang mantap. Ia menghampiri NUNGKI ingin mengucapkan sesuatu. Tapi NUNGKI menempelkan jari temunjukkanya di bibir BRIAN. Meminta pacaranya itu menahan pembicaraan.
BRIAN : Hm…….
NUNGKI : Brian, nanti saja ya!! Aku baru sibuk mengajari adik-adik kelas ini sopan-santun dan kepribadian. Nanti aku temui kamu! Ya?

BRIAN semula agak ragu-ragu, namun kemudian dia meninggalkan NUNGKI. BRIAN masih sempat melirik murid-murid kelas II, seperti ingin mengucapkan sesuatau tapi tak jadi. BRIAN lalu EXIT.
LINDA dan teman-temannya nampak geram dengan kecentilan musuhnya itu. Teman-teman NUNGKI nampak puas.
MEYMEY : Bagaimana? Kalian masih belum percaya kalau murid kelas III lebih suka pada kami?
RATNA : Tunggu saja saatnya!! Tapi bagaimanapun kalian sudah kelas III. Sudah saatnya kalian………….

Belum selesai RATNA mengucapkan kalimatnya, muncul KEPALA SEKOLAH yang berdiri dengan garang membawa pengeras suara! Pak ISWADI berdiri sampingnya seperti ajudan.
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!! Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

MUSIK menghentak.
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.

3.
LINDA dan kawan-kawan lebih lega setelah melihat murid-murid kelas III pergi. KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI mendekati LINDA dkk.
KEP.SEK : Kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

LINDA dkk mengangguk hormat. KEPALA SEKOLAH melangkah pergi dengan membawa pengeras suara dan terus meneriakkan ujian. PAK ISWADI mengikuti dari belakang. Namun ia kembali lagi, sementara KEPALA SEKOLAH keluar.
P. ISWADI : Ehm…..LINDA?
LINDA : Ya, Pak? Ada apa?
P. ISWADI : Bapak berharap tahun ini sekolah kita lebih banyak mendapatkan prestasi. Kelas III sudah akan mulai menyiapkan diri untuk Ujian Nasional. Jadi, tanggung jawab kalian kelas II untuk mewakili sekolah kita di banyak acara. Kamu paham?
LINDA : Paham Pak!
BUNGA : Apa sudah ada undangan untuk acara-acara dengan sekolah lain, Pak?
P. ISWADI : Belum! Tapi kita bisa memperkirakan kalau acara-acara rutin tahunan tetap akan berjalan. Untuk itu kalian juga harus membuat banyak persiapan.
LINDA : Tapi, tentu tidak hanya kami yang menyiapkan semua ini kan, Pak?
HELEN : Ya, Pak! Biasanya kami hanya terlbat di acara olah raga saja! Sesekali membantu anak-anak musik dan teater memeriahkan suasana! Kami hanya penggembira.
P. ISWADI : Benar begitu Linda?
LINDA : Ya, Pak!
P. ISWADI : Bapak tahu itu! Tapi saya mengatakan hal ini karena akan ada perubahan dengan itu. Saya mencalonkan Linda untuk menjadi Ketua OSIS periode mendatang. Dengan begitu, Linda akan banyak mengurusi hal-hal lain juga.
LINDA : Itu kalau saya terpilih.
P.ISWADI : Saya yakin kamu yang akan terpilih.
LINDA : Kalau begitu saya mengundurkan diri saja sebelum dicalonkan. Saya tidak bersedia.

PAUSE
PAK ISWADI membuang nafas panjang seperti tahu seperti apa jawaban LINDA. Ia hanya melihat LINDA dan teman-temannya. Lalu
P.ISWADI : Baiklah, saya tidak memaksa. Tapi kamu pikirkan lagi Linda! Kalau kamu berubah pikiran hubungi saya. Dan saya yakin, kamu akan berubah pikiran!
LINDA : Baik, Pak! Kita lihat nanti perkembangannya!

PAK ISWADI lalu hendak EXIT. Tapi ia teringat sesuatu lalu kembali lagi.
P. ISWADI : Kamu tidak ada masalah dengan kelas III kan?
LINDA : (kaget) Tidak Pak!
P. ISWADI : Baik!

PAK ISWADI lalu EXIT.

4.
LINDA dan kawan-kawan melihat kepergian P. ISWADI. Begitu guru mereka itu pergi,
HELEN : Kenapa?
LINDA : Apanya yang kenapa?
RATNA : kenapa kamu tolak tawaran tadi?
BUNGA : Tidak semua murid di sekolah ini ditawari Pak Iswadi menjadi Ketua OSIS!!
LINDA : kalian ingin tahu kenapa?

Ketiga temannya mengangguk
LINDA : Karena, kalau aku menerima tawaran menjadi ketua OSIS, aku tidak akan punya waktu untuk bertukar jajan dengan kalian waktu istirahat. Gak ada waktu untuk nonton DVD bareng kalian. Jadi, aku lebih memilih kalian!
HELEN : Tapi Lin, …
LINDA : Itu baru alasan pertama. Alasan kedua adalah, aku akan mengajak kalian untuk menghajar anak-anak kelas III.
BUNGA : wah, kamu cari mati!
RATNA : Mana bisa kita mengalahkan kelas III.
LINDA : Percaya deh!!! Kelas III sudah tidak punya gigi. Ini adalah saat yang tepat untuk menyingkirkan mereka. Heh…

Ketiga kawannya diam.

LINDA : Sekarang kalian pikir! APa kalian tidak risih melihat kelas III yang sok tua itu menguasai kantin! Makan sambil teriak-teriak seperti di rumah nenek mereka sendiri? Apa kalian mau setiap kali dapat giliran terakhir di toilet sampai antrian kelas III habis? Kalian mau, semua murid ganteng kelas III yang jago basket, jago main gitar, jago bikin film pendek dan, jago game online semua jadi pacar kelas III, dan menganggap kita hanya anak-anak lulusan SMP? He?

Ketiga kawanya diam. Masih diam.
LINDA : Aku tidak mau! Aku yakin sekarang saatnya menjatuhkan mereka. Ini waktu yang tepat. Kalian lihat tadi bagaimana sebentar lagi mereka bakalan kerepotan menghadapi ujian nasional? Ini saat yang tepat!
HELEN : Lantas apa rencanamu?
LINDA : Mulai besok, kita yang akan teriak-teriak di kantin. Kelas I tidak akan berani mengganggu kita karena mereka masih baru.
RATNA : tapi kelas III bakalan marah besar!
LINDA : Ya, tapi mereka tidak akan berani berbuat apa-apa.
BUNGA : Kenapa? Karena Kepala Sekolah sudah kasih peringatan supaya mereka siap-siap ujian nasional?
LINDA : Persis!!! Mereka tidak akan berani ambil resiko.

Linda melihat teman-temannya, memberi mereka waktu untuk berpikir. Muncul IBU menyeberang panggung sambil berteriak
IBU : Sudah Ibu bilang, jangan nakal!

IBU lalu EXIT. LINDA masih memberi waktu.
LINDA : Bagaimana?

Mereka tidak menjawab. Tapi wajah LINDA menangkap tanda bahwa ia mendapat dukungan mereka.
Lampu BLACK OUT. Musik menghentak.

BAGIAN II
Kamar LINDA
1.
LINDA nampak sedang membuka-buka tasnya. Mencari sesuatu. Ditemukannya buku harian. Dibuka, hendak menulis sesuatu. Lalu HP-nya berbunyi. Di ujung panggung yang lain sepotong cahaya untuk BRIAN yang sedang menelepon LINDA.
LINDA : Halo?
BRIAN : Halo, Linda!
LINDA : Siapa ya?
BRIAN : Apa penting kamu tahu siapa aku?
LINDA : Penting! Karena kamu menelepon aku!
BRIAN : Simpan nomerku. Ini aku, BRIAN!

LINDA menutup mulutnya. Lalu buru-buru merapikan diri.
BRIAN : Haloooo…Linda? Kamu masih di sana?
LINDA : Hm…hm….ya!
BRIAN : Tidak perlu gugup!
LINDA : Ak…aku…tt…idak….gu…gugup!!
BRIAN : Ok, AKu tahu kamu tidak gugup. Aku tahu dari suaramu.

PAUSE. LINDA mengambil nafas panjang dan membuangnya ke samping, menjauhi HP di dekat mulutnya.
BRIAN : Sedang apa kamu?
LINDA : Sedang nunggu teman.
BRIAN : Aku mengganggu ya?
LINDA : Hm…belum!
BRIAN : (tertawa) Kamu lucu! Dan..juga cantik!

LINDA hanya diam. Melihat gelagat aneh pada BRIAN!
BRIAN : Kamu besok malam ada acara?
LINDA : Hm…Dengar BRIAN! Aku …aku tidak bisa!

IBU muncul menghampiri LINDA yang sedang menelepon. Berdiri di pintu kamar LINDA.
IBU : Lin, teman-temanmu sudah datang!
LINDA : Sebentar, Bu!
IBU : Ibu suruh mereka masuk ya?
LINDA : (berpikir sebentar) YA!

IBU EXIT. LINDA meneruskan menelepon.
BRIAN : Siapa tadi?
LINDA : Ibuku! Temen-temanku sudah datang, katanya!
BRIAN : Apa yang mau kamu ucapkan tadi?
LINDA : yang mana?
BRIAN : sebelum Ibumu datang.
LINDA : …aku Cuma mau bilang kalau..aku tidak bisa!
BRIAN : kenapa?
LINDA : Pokoknya tidak bisa! Sudah ya!

LINDA menutup telepon! BRIAN di ujung pangung yang lain kaget. Ia membuang nafas panjang lalu EXIT.

2.
Dari arah panggung lain (arah dimana Ibu EXIT), IBU, HELEN dan BUNGA muncul.
IBU : Kalian pasti semakin banyak tugas sekolahnya ya?
HELEN : Memang, Tante! Tapi kalau dikerjakan bersama kan jadi mudah.

IBU tertawa senang.
IBU : Sering-seringlah main kemari. Ajak Linda belajar! Tuh, dia sudah menunggu kalian di dalam kamar! Tante tinggal dulu ya!
BUNGA : Baik, Tante!

IBU lalu EXIT. HELEN dan BUNGA masuk kamar LINDA.
LINDA : Lama banget?
HELEN : Hm..ada masalah!
LINDA : Masalah apa?

HELEN tidak menjawab! Hanya melihat ke arah BUNGA!
LINDA : (ke arah BUNGA) Masalah apa?
BUNGA : AKu harus mengikuti bimbingan belajar mulai tahun ini! Aku tidak bisa ikut rencana kalian untuk menghajar Kelas III. Aku tidak akan punya waktu lagi! Aku akan jadi sesibuk Ketua OSIS. Atau mungkin…lebih sibuk!
LINDA : Kamu tidak bisa menawar?
BUNGA : Menawar itu berarti melawan! Melawan berarti mencari mati!
HELEN : (pada LINDA) Lalu apa rencanamu?
LINDA : harus tetap dilakukan! Hanya Bunga yang tidak bisa! Kita masih bertiga!
BUNGA : Maaf ya Lin, Karena aku semua berantakan!
LINDA : Kalau boleh tahu kapan kamu tahu kalau kamu bakalan ikut bimbiungan belajar?
BUNGA : Sejak minggu terakhir liburan!
HELEN : Jadi sebenarnya kamu sudah tahu lama?

BUNGA mengangguk.
LINDA : kenapa baru bilang sekarang?
BUNGA : Aku mencoba menawar seperti usulmu tadi. Tapi yang sekarang ini sudah keputusan final. Aku tidak bisa menawar lagi.

PAUSE
HELEN : Sebenarnya kita kan bisa belajar kelompok.
BUNGA : Aku sudah katakan itu pada ayahku, tapi katanya belajar kelompok tidak menjamin aku dapat universitas bagus.
LINDA : memang kalau bimbingan tes kamu dapat jaminan?
BUNGA : tidak juga! Tapi kata ayah, peluangnya lebih besar!

PAUSE
BUNGA : Maaf ya! Aku tidak bisa ikut!
LINDA : Tapi kalau kita nongkrong di kantin kan kamu masih bisa ikut?
BUNGA : kayaknya tidak juga! Ayahku menitipkan aku ke sekolah! Aku memang masih bisa ke kantin. Tapi hanya untuk istirahat! Tidak untuk menyerang kelas III.

PAUSE
Suasana menjadi kaku. Masing-masing tidak tahu apa yang harus dilakukan.
BUNGA : Maaf, ya Lin!
LINDA : Tidak apa-apa! Kita masih ada bertiga!

RATNA muncul tiba-tiba.
RATNA : Aku juga tidak bisa!

Semua menoleh ke arah RATNA yang baru saja muncul!
LINDA : maksudmu?
RATNA : aku juga harus bimbingan belajar!
HELEN : tapi kita belum akan ujian nasional!
LINDA : Ujian kita masih tahun depan.

RATNA dan BUNGA diam. Lalu di ujung panggung yang lain, yang tadi digunakan oleh BRIAN muncul KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI.Sepotong cahaya untuk mereka berdua. KEPALA SEKOLAH berbicara dengan pengeras suara! LINDA dkk berbicara dalam ketakutan dan kepanikan!
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!!
BUNGA : (tiba-tiba, yang sudah merasa tertekan) Kepala Sekolah selalu mengingatkan kita!
LINDA : tapi itu untuk kelas III. Bukan untuk kita.
KEP.SEK :Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III.
HELEN : Ya, itu untuk kelas III.
KEP.SEK : Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!!
BUNGA : tapi kenapa ibu menyuruhku bimbingan belajar?
KEP.SEK : Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

LINDA, HELEN, BUNGA dan RATNA saling pandang. BUNGA dan RATNA sangat ketakutan. Mereka menyambar tasnya dan berlari keluar! LINDA memanggil. HELEN berlari menyusul. Pada saat itu KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI keluar.
Mereka EXIT. Semua EXIT! Hanya tinggal LINDA
MUSIK SEPOTONG tapi gaduh!

3.
LINDA melihat pada HP-nya. Lalu ia memencet dua kali! Memencet nomer BRIAN yang sudah tersimpan. Di ujung panggung yang lain BRIAN muncul dengan cahaya sepotong.
BRIAN : Sudah berubah pikiran?
LINDA : Besok kita ketemu! Istirahat kedua!
BLACK OUT
MUSIK! Meneruskan potongan sebelumnya!

BAGIAN III
Taman Sekolah. Pada sebuah bangku!
1.
BRIAN menunggu LINDA di sebuah bangku taman sekolah. Tampak tenang dan yakin kalau LINDA akan datang. HELEN muncul dengan canggung.
BRIAN : Hi!
HELEN : Hm…… Tunggu saja! Sebentar lagi dia juga ke sini!
BRIAN : Dia titip pesan apa?
HELEN : Tidak ada pesan apa-apa! Dia hanya bilang kamu tunggu saja di sini!
BRIAN : Hm..baik! Tidak masalah!

HELEN hampir EXIT. Tapi,
BRIAN : (berteriak) tapi dia pasti ke sini?
HELEN : (berteriak) Dia bilang dia bakalan ke sini! Tunggu sajaaaa…!

BRIAN sendirian di bangku taman. Sesekali masih melihat HELEN yang menghilang. Dari arah panggung lain muncul LINDA.
LINDA : Maaf, kamu harus menunggu!
BRIAN : Maaf juga, ….!
LINDA : Untuk apa?
BRIAN : Tidak untuk apa-apa! Hanya supaya kita impas!

LINDA tertawa. BRIAN juga. PAUSE
LINDA : Ada yang mau kamu katakan?
BRIAN : Bukannya kamu yang mengajak aku ketemu?
LINDA : Ya, tapi karena kemarin kamu mengajak kita ketemu!
BRIAN : Eh…..kalau aku ya karena hanya ingin ketemu.

LINDA terdiam.
LINDA : Aku khawatir, …ehm….
BRIAN : Aku sudah putus dengan Nungki.

LINDA mengerutkan kening dan menahan gembira. Seperti menemukan sesuatu yang diharapkan.
LINDA : kenapa?
BRIAN : Dia terlalu banyak belajar!
LINDA : kalian kan memang sudah kelas III. Kalian akan menghadapi ujian nasional.
BRIAN : Ya, tapi bukan itu kesepakatanku dengan Nungki dulu. Kami akan tetap jalan. Tapi yang sekarang terjadi, dia jadi tidak asyik lagi kalau diajak jalan.
LINDA : Aku juga tidak asyik kalau diajak jalan!
BRIAN : Tidak kalau dengan aku!
LINDA : Karena aku memang tidak bisa!
BRIAN : kenapa?
LINDA : Hm….aku juga tidak bisa jawab sekarang.
BRIAN : Bisa kita coba dulu?
LINDA menggeleng. BRIAN tidak memaksa. Dengan langkah agak lesu dia. meninggalkan LINDA sendiri.

2.
HELEN muncul dari arah yang lain.
HELEN : kenapa dia pergi? Kenapa tidak kamu teruskan?
LINDA : dia hanya akan menganggu rencana kita!
HELEN : tapi bukankah Nungki bakalan merasa kalah kalau Brian jalan sama kamu. Brian itu trophi pertarungan ini. Kenapa kamu biarkan lepas?
LINDA : Bukan Brian yang jadi trophi. Tapi kemauan Brian. Jadi kalau hanya untuk membuktikan Nungki telah kalah dalam pertarungan babak awal ini, cukuplah kalau Brian meninggalkan dia. Selebihnya kita tidak perlu mengurus Brian. Dia Cuma bakalan bawa perkara. Paham?
HELEN : Tapi…
LINDA : Sudahlah, lebih baik kita mencari cara untuk usaha yang lainnya. Seperti, bagaimana caranya mulai besok, kelas III tidak lagi nyaman di kantin.
HELEN : tapi kamu lihat sendiri, mereka sepertinya tidak peduli dengan ujian nasional. Mereka masih santai-santai saja!
LINDA : Siapa bilang? Nungki hanya berlagak dia tidak khwatir dengan ujian nasional! Padahal, dia sudah tidak punya waktu lagi jalan sama Brian. Itu sebabnya Brian car-cari yang lain.
HELEN : oh, ya? Kenapa tidak kamu terima?
LINDA : jangan dibahas lagi! Tidak penting!
HELEN : Hm..baik!
LINDA : Intinya, Brian memberi kita informasi penting! Kelas III kelabakan mempersiapkan ujian nasional. Mereka harus merasa bahwa mereka terlalu tua untuk bersantai-santai di kantin. Mereka harus terus membaca di kelas, sekalipun jam istirahat. Mereka harus ikut pelajaran tambahan sepulang sekolah. Mereka harus ikut bimbingan belajar. Mereka harus selalu ingat bahwa mereka akan menghadapi ujian nas…..

3.
Belum selesai LINDA mengucapkan kalimatnya, muncul KEPALA SEKOLAH yang berdiri dengan garang membawa pengeras suara! Pak ISWADI berdiri sampingnya seperti ajudan. (mengulang adegan sebelumnya di BAGIAN I)
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Kalian semua harus belajar lebih giat lagi, karena pada tahun ajaran ini kalian harus menghadapi ujian akhir. Persiapkan dengan sungguh-sungguh, supaya kelak kalian bisa diterima di perguruan tinggi yang bergengsi!! Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!!

Musik menghentak.
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI muncul tiba-tiba di sekeliling panggung dan langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.
LINDA dan HELEN saling memandang. Kelas III EXITi. KEPALA SEKOLAH dan PAK ISWADI mendekati LINDA dan HELEN..
KEP.SEK : Kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

LINDA dkk mengangguk hormat. KEPALA SEKOLAH melangkah pergi dengan membawa pengeras suara dan terus meneriakkan ujian. PAK ISWADI mengikuti dari belakang. Namun ia kembali lagi, sementara KEPALA SEKOLAH keluar.
P. ISWADI : Ehm…..LINDA?
LINDA : Ya, Pak? Ada apa?
P. ISWADI : Bapak berharap tahun ini Bapak berharap sekolah kita lebih banyak mendapatkan prestasi. Kelas III sudah akan mulai menyiapkan diri untuk Ujian Nasional. Jadi, tanggung jawab kalian kelas II untuk mewakili sekolah kita di banyak acara. Kamu paham?

LINDA mengangguk. PAK ISWADI EXIT.
IBU menyeberang panggung dengan cepat!
IBU : Kamu paham? Kamu paham? Kamu paham?
IBU EXIT!
BLACK OUT. MUSIK SEPOTONG

BAGIAN IV
Dalam hati LINDA
Cahaya sepotong pada LINDA
LINDA :Jika memang kudeta harus dilakukan, dengan cara bagaimana sebaiknya aku melakukannya? Bukankah kelas III memang sudah waktunya untuk tidak lagi membuat onar di kantin? Bayangkan bagaimana rasanya jika kita harus melihat murid-murid yang sudah hampir tiga tahun di sekolah ini masih terus-menerus menuntut perhatian dari seluruh sekolahan dengan tingkahnya yang aneh! Menyanyikan lagu ulang tahun di kantin, menyatakan cinta di kantin, membicarakan potongn rambut di kantin, bertukar foto di kantin! Pacaran juga di kantin! Bukankan mereka seharusnya memang sudah tidak perlu lagi di kantin! Istirahat kelas II di kantin! Istirahat kelas III di perpustakaan. Atau tinggal saja di kelas dan meneruskan belajar. Tidak bisa ditawar, kudeta harus dilakukan! Apapun caranya! Bagaimanapun caranya!

BAGIAN V
Kamar LINDA
1.
HELEN hanya memandang LINDA yang nampak serius.
LINDA : kenapa kamu tidak yakin?
HELEN : Bukannya tidak yakin, tapi menghitung semuanya dengan lebih hati-hati.
LINDA : Mempermalukan mereka di kantin adalah satu-satunya cara untuk mengusir mereka.
HELEN : Tapi kenapa di kantin?
LINDA : Kantin, adalah tempat paling strategis untuk menyebarkan kekuasaan! Lebih dari ruang kepala sekolah, ruang guru, kelas apalagi UKS! Itulah kantin! Kita harus merebutnya!
HELEN : Kamu yakin!
LINDA : Tidak pernah seyakin ini!
HELEN : meskipun kita hanya berdua?
LINDA : Bisa kita lakukan! Tergantung caranya!
HELEN : bagaimana?
LINDA : Kita gunakan yang sudah kita punya! BRIAN!
HELEN : katanya kamu tidak akan menerima anak itu?
LINDA : Aku hanya akan menggunakannya! Tidak akan pacaran dengannya! Tapi tentu saja dia harus tahu seolah-olah memang kami akan pacaran?
HELEN : Jadi?
LINDA : Besok aku akan ketemu Brian dan mengajaknya ke kantin! Melewati barisan kelas III. Mereka akan tahu dengan siapa BRIAN akan pacaran sekarang ini!
HELEN : bagaimana kalau Brian tidak mau?
LINDA : pasti mau! Kecuali sudah ada pengacau lain!
HELEN : Pengacau?
LINDA : ya, aku sengaja membuat jawabanku pada Brian masih mengambang! Jadi kalau selama masa mengambang itu dia sudah berubah haluan, dia pasti sedang dikacaukan oleh seseorang!

HELEN diam. LINDA juga diam.
LINDA : kenapa kamu?
HELEN : Hm….tidak apa-apa! Hanya memikirkan apakah lebih baik jika kita memikirkan cara lain. Cara cadangan kalau cara ini gagal!
LINDA : jangan takut! Aku punya banyak rencana cadangan! Bukan karena aku takut gagal. Tapi karena aku yakin dibutuhkan lebih banyak cara untuk menjatuhkan kelas III.
HELEN : (tiba-tiba) mungkin lebih baik aku pulang dulu. Sampai ketemu besok.

HELEN EXIT dengan sedikit berlari!

2.
Selepas HELEN EXIT, mata LINDA menangkap sebuah benda. HP HELEN ketinggalan. LINDA segera mengambilnya.
LINDA : LEN, HP-mu………………!

Tapi HELEN tidak mendengar. LINDA juga tidak mengejar. IBU muncul dengan kawatir.
IBU : Kenapa? Kalian bertengkar?
LINDA : Tidak, Bu! HP Helen ketinggalan! Aku panggil tapi mungkin dia tidak dengar. Tidak apa-apa, nanti juga pasti kembali!

PAUSE.
LINDA melihat IBU yang tidak segera pergi.
LINDA : Ada apa, Bu?
IBU : Boleh Ibu bicara?

LINDA tidak menjawab. IBU tidak bergerak dari tempatnya. Menganggap LINDA menjawab ya atas pertanyaannya.
IBU : Kamu sekarang sudah kelas II.
LINDA : terus?
IBU : Kamu pantas menjadi Ketua OSIS!
LINDA : Ibu, kenapa langsung membicarakan hal itu? Biasanya kalau seorang Ibu mau merayu anaknya, mereka bicara berputar-putar dulu. Kenapa Ibu langsung saja mengatakan hal itu?
IBU : Buat apa? Kamu terlalu pintar untuk diajak bicara putar-putar bukan?
LINDA : dari mana ibu tahu sekolah memintaku jadi ketua OSIS?
IBU : Pak ISWADI telepon.
LINDA : Apa dia bilang?
IBU : Seperti yang ibu ingin bicarakan sekarang.
LINDA : menurut Ibu kenapa aku tidak mau?
IBU : Karena kamu tidak ingin jadi ketua OSIS.
LINDA : Ibu tidak mempertanyakan itu?
IBU : Ibu yang melahirkan kamu. Ibu cukup tahu kalau kamu tidak ingin, memang kamu tidak ingin. Tidak perlu ada penjelasan. Tapi ini Ibu. Kamu harus menjelaskan kenapa kamu tidak mau. Mungkin orang lain harus tahu alasanmu.
LINDA : Aku sudah menjelaskan kepada mereka.
IBU : Apa alasanmu?
LINDA : Ya, karena aku tidak ingin. Itu sudah alasan kuat bagiku. Tidak perlu ada penjelasan.

IBU merasa perdebatan percuma. Ia hanya mengambil nafas panjang.
IBU : kamu tahu, apa yang penting bagi ibu?
LINDA : Belajar!
IBU : bagus, jangan lupakan itu!

IBU hendak EXIT tapi matanya menangkap sebuah benda. HP Helen.
IBU : Itu HP Helen?
Linda : Yap. Tidak apa-apa. Dia akan mengambilnya nanti!
IBU : Kalau sampai malam dia tidak mengambil, kamu telepon rumahnya! Siapa tahu dia mencari-cari!

LINDA memegang HP Helen dan menunjukkannya pada IBU. Tapi IBU tidak tertarik. IBU kemudian EXIT

3.
LINDA meletakkan kembali HP HELEN. Tapi HP berbunyi. Di ujung panggug yang lain sepotong cahaya untuk BRIAN yang sedang menelepon! LINDA mengangkat HP HELEN dan diam beberapa saat. Nada dering masih terdengar! LINDA tidak mengangkat! Nada dering berhenti.
BRIAN menelepon HELEN kembali. HP HELEN berbunyi. LINDA sekali lagi memandang HP HELEN dan diangkatnya.
BRIAN : Halo, Helen? Kenapa lama sekali?

LINDA tidak menjawab karena begitu yakin yang terdengar suara BRIAN! LINDA menutup telepon tanpa menjawab. LINDA meletakkan telepon. Di ujung panggung lain BRIAN nampak kaget. Dia diam sejenak dan penasaran.
HELEN muncul kembali.
HELEN : Lin, HP ku ketinggalan di sini ya?

LINDA hanya menunjuk dengan matanya. HELEN segera mengambil HP-nya tanpa mengira ada yang baru saja terjadi.
LINDA : kamu sedang menunggu telepon ya?
HELEN : Iya! Kok tahu?
LINDA : Dari siapa?
HELEN baru merasa ada yang salah! Dilihatnya LINDA yang terus menatapnya. Pada saat itu di ujung panggung yang lain BRIAN menelepon. HP HELEN berbunyi. LINDA dan HELEN saling pandang. HELEN sudah bersiap hendak berlari pergi.
BLACK OUT
MUSIK SEPOTONG!

BAGIAN VI
Dalam hati LINDA.
Cahaya sepotong. LINDA terduduk. Di belakangnya berdiri KEPALA SEKOLAH, IBU, PAK ISWADI, NUNGKI, BRIAN, dan HELEN. Semua memandang ke arah entah!
LINDA : Ada masalah? Apa kalian punya masalah dengan yang kulakukan ini sehingga selalu saja kalian membuat rencana ini sendiri? APA ADA MASALAH?
P. ISWADI : Sekolah kita harus tetap berprestasi! Saya ingin kamu yang menjadi ketua OSIS!
LINDA : Saya tidak mau!
KEP. SEK : Kalau begitu ikut saja ujian dengan kelas III supaya kamu segera lulus!
LINDA : Kelas III ujian, Pak! Saya tidak! Saya masih kelas II.
IBU : (melengking) Jangan nakal! Jangan nakal!
KEP. SEK : Tapi kamu tidak mau menjadi ketua OSIS
LINDA : Ketua OSIS dan ujian? Itu sama menakutkannya dengan perang nuklir!
BRIAN : kenapa tidak bisa jalan sama aku?
NUNGKI : kenapa kamu mengambil BRIAN!
HELEN : kenapa kamu menolak?
LINDA : Brian bukan trophinya! Tapi kemauan Brian meninggalkan Nungki, itulah pertanda kemenangannya! Kamu sedang menunggu telepon?
HELEN : dari mana kamu tahu?
IBU : Sudah ibu bilang….
KEP. SEK : Ujian!!!!!!!!!!!!!!!!
P. ISWADI : kalian tidak ada masalah dengan kelas III kan?
BRIAN : Bisa kita coba dulu! Dia terlalu banyak belajar!
LINDA : Kamu menunggu telepon?
IBU : Lin, teman-temanmu sudah datang!
Kep. Sek : jangan senang dulu! Tahun depan giliran……..
IBU : Kalian………………..Jangan nakal!
NUNGKI : Kenapa kamu mengambil BRIAN? Kenapa kamu?
HELEN : Bagaiamana caranya?

Dari arah berlawanan RATNA dan BUNGA muncul, masuk dalam potongan cahaya dengan paksa!! Beberapa yang tersenggol ambruk!!
BUNGA : Aku harus ikut bimbingan belajar!
RATNA : Aku juga!
LINDA : Ini sudah waktunya! SUDAH WAKTUNYA!
BLACK OUT
TANPA MUSIK. Hanya diam!

BAGIAN V
Halaman Sekolah
1.
LINDA sedang berbicara dengan KEPALA SEKOLAH. PAK ISWADI berada di samping KEPALA SEKOLAH sebagai ajudan. Seperti biasa!
KEP. SEK : Memang tidak ada yang mudah!
LINDA : Bagi saya bukan itu masalahnya!
KEP. SEK : secara organisasi itu yang akan menjadi masalah! Kalau kamu merasa belum mampu, akan ada pelatihan kepemimpinan. Kamu akan diajari banyak hal untuk menjadi ketua OSIS dan mengatur anak buahmu!
LINDA : Bagi saya masalahnya adalah kemauan! Saya merasa saya bukan orang yang tepat!
KEP. SEK : Kemauan bisa dipaksakan!
LINDA : Itulah masalahnya, saya tidak mau memaksa diri saya sendiri.
KEP. SEK : Dari laporan Pak ISWADI kamu sangat sukses menjadi koordinator bidang tahun lalu. Itulah sebanya, PAK ISWADI memberi rekomendasi supaya kamu masuk bursa calon ketua OSIS!
LINDA : Itu bukan perjuangan! Itu pemberian!
KEP. SEK : Tidak ada di dunia ini yang merupakan hasil perjuangan! Itu semua pemberian! Kalau orang merasa berhasil mendapatkan sesuatu karena perjuangan, itu pasti hanya perasaannya saja! Yang benar terjadi adalah itu pemberian. Hanya saja terjadi pada waktu yang bersamaan. Itulah sebabnya orang menyebutnya perjuangan!
LINDA : Setidaknya saya menginginkan yang perjuangan itu! Dalam arti apapun!
KEP. SEK : jadi apa yang kamu inginkan?
LINDA : Saya ingin menguasai kantin, toilet, halaman sekolah, lapangan parkir motor! Tambah satu bidang lagi, trotoir depan sekolah kita!
KEP. SEK : Tapi itu area pemberontak! Jangan-jangan….?

Terlambat. LINDA sudah mundur beberapa langkah! MUSIK FADE IN bersiap mengiringi adegan laga yang kemungkinan akan terjadi spekakuler.
LINDA : (berteriak mengomando peperangan) SERBU!!!!!!

Tapi hening!
LINDA mengulang sekali lagi
LINDA : SERBU!!!!!!!!!!

Tapi hening! Sepi!
LINDA mengulang sekali lagi
LINDA : SERBU!!!!!!!!!!

Tapi hening! Semakin sepi! LINDA mulai meragukan dirinya sendiri.
KEPALA SEKOLAH hanya tersenyum. PAK ISWADI juga tersenyum. IA memberikan pengeras suara kepada KEPALA SEKOLAH. (mengulang adegan sebelumnya di BAGIAN I)
KEP. SEK : PERHATIANNNNN!!! Perhatian semuanya!! Sebagai Kepala Sekolah saya mengingatkan pada kalian semua, khususnya murid-murid kelas III. Saya sebagai Kepala Sekolah, sekali lagi mengingatkan: UJIAN!!!!!!!!! UJIAN!!!!

MUSIK menghentak. Lebih bergemuruh dari sebelumnya!!
Murid-murid kelas III yakni NUNGKI, MEYMEY dan KANDI muncul tiba-tiba di sekeliling panggung dan langsung panik. Mereka berlarian. KEPALA SEKOLAH masih juga mengulangi kata-kata ujian.
KEP.SEK : Kelas II, kalian jangan senang dulu! Tahun depan giliran kalian!!

2.
MUSIK PAUSE
Panggung lebih sepi. Semua sudah EXIT. Kecuali LINDA dan NUNGKI. Mereka saling memandang beberapa saat!
LINDA hendak mendekat. NUNGKI mengangkat tangan menyuruh LINDA tetap menjauh.
NUNGKI : Bagus, anak kecil! Apa saja yang sudah kamu pelajari selama dua minggu menjadi anak kelas II?
LINDA : Apa pedulimu?
NUNGKI : Apa peduliku? Tentu saja aku peduli! Kamu sedang mempersiapkan diri untuk menjadi siswi jagoan sekolah ini kan? Dan itu artinya, kamu sedang ingin menyingkirkan aku! Tentu saja aku ingin tahu, sampai dimana usahamu!
LINDA : Berjalan baik! Tidak ada halangan!
NUNGKI : Tidak ada halangan? Yang benar saja? Lantas kenapa kamu sendirian? Dimana kawan-kawanmu yang lain?
LINDA : Mereka ada urusan lain! Jadi tidak ada waktu untuk berurusan dengan kamu!
NUNGKI : Betapa enaknya punya teman kamu! Masih melindungi teman yang mengkhianati! Kalau aku, lebih baik kuhajar teman seperti itu!
LINDA : Itulah bedanya kamu dan aku! Aku tidak pernah serendah itu dalam berteman!
NUNGKI : Benarkah? Masalahnya adalah, kalian tentu tidak akan berjalan sendiri-sendiri jika masih berteman.

LINDA terdiam. NUNGKI mengawasi dengan hati-hati!
NUNGKI : Heh..dengar baik-baik! Aku tidak akan mengaku kalah!
LINDA : tapi kamu akan kalah!
NUNGKI : (memotong dengan berteriak cepat) Dengar baik-baik!!

PAUSE
NUNGKI : Dengar baik-baik! Aku tidak akan mengaku kalah meskipun kamu nanti sudah menjadi jagoan di kantin, di tempat parkir sampai toilet! Kamu boleh kuasai semua itu tapi..aku tidak akan mengaku kalah! Kamu mengerti?
LINDA : Lalu?
NUNGKI : tapi aku akan mengaku kalah, kalau kamu sanggup melakukan yang dulu aku tidak mampu lakukan!
LINDA : Apa itu?
NUNGKI : tetap melakukan rencana ini! Kamu tahu, pada saat kita sepakat untuk bekerja sama dengan orang lain, sebenarnya pada saat itu juga kita harus siap ditinggalkan. Kita harus siap bekerja sendiri. Itu capaian tertinggi dari seorang jagoan! Jika kamu berhasil melakukan itu, aku baru akan mengaku kalah!

LINDA terdiam. Matanya masih terus melihat ke arah NUNGKI. NUNGKI juga masih memandang LINDA. Lalu pelan-pelan NUNGKI bergerak hendak meninggalkan.
OS. KEPSEK : UJIAN..UJIAN!!!!!!!!!!

NUNGKI hampir panik meninggalkan. Tapi sebelum EXIT dia melihat ke arah LINDA yang masih melihat ke arahnya. Lalu NUNGKI sedikit mendekat dan bersiap-siap mengucapkan sesuatu.
NUNGKI : Kita harus siap bekerja sendiri!!

Lalu tiba-tiba suara KEPALA SEKOLA terdengar lagi, suasana hiruk pikuk lagi dan musik kembali bergemuruh. Murid kelas III yang lain berlarian. Termasuk MEYMEY dan KANDI.
MUSIK FADE OUT
LINDA sempat memegang tangan NUNGKI yang berlarian di tengah hiruk pikuk. Mereka berpegangan.
LINDA : Kenapa kamu katakan ini kepadaku?
NUNGKI : Karena, aku tahu! Bagaimanapun aku tetap akan pergi dari sekolah ini!

LINDA nampak ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi pegangannya lepas. NUNGKI kembali berlarian! Musik bergemuruh kembali. Suara dan teriakan KEPALA SEKOLAH masih terdengar berteriak-teriak. Hiruk-pikuk kali ini paling ramai.
LALU semua FADE OUT!
MUSIK dan LAMPU FADE OUT!

ENDING
Cahaya sepotong untuk LINDA yang duduk di sebuah kursi. Sementara di ujung kanan panggung IBU tetap berdiri dan tetap menatap ke arah entah. Tetap ingin mengucapkan sesuatu!
LINDA : Mungkin benar apa yang diucapkan Kepala Sekolah! Tidak ada hasil perjuangan! Semuanya adalah pemberian! Kalaupun ada keberhasilan, pasti karena waktunya yang bersamaan dengan pemberian! Ini bukan perjuangan! Ini pemberian.
IBU : (melengking tinggi) Ini bukan perjuangan! Ini pemberian! Jangan nakal! Apa Ibu bilang?
LINDA : Mungkin juga benar kata Nungki, ia tidak akan terkalahkan! Karena aku juga tidak memperjuangkan sesuatu! Kemenangan ini hanya ada justru ketika aku terus melakukannya. Benar! Pada saat kita sepakat bekerja sama dengan orang lain, pada saat itu juga sebenarnya kita harus bersiap untuk bekerja sendiri. Kita harus siap ditinggalkan! Karena, bukankah di situlah artinya perjuangan!
IBU : (melengking tinggi) Kita harus siap ditinggalkan! Apa ibu bilang?

Selembar kertas putih jatuh.
LAMPU FADE IN, menjadi semakin terang! Selembar kertas lain jatuh lagi. Lalu seperti OPENING, selembar demi selembar kertas jatuh! LINDA masih memandangnya. Lalu pelan-pelan ia berdiri dan mencoba menangkap kertas-kerta yang sedang melayang jatuh itu. Satu persatu ditangkapnya. Dia kemudian menjadi bertambah sibuk menangkap lembaran kertas itu.
LINDA : (berkali-kali dan semakin yakin) Kita harus siap ditinggalkan! Kita harus siap bekerja sendiri!
IBU : (menyela, tidak melengking, suara keibuan) Lin, teman-temanmu sudah datang!
LINDA : Suruh saja masuk, Bu!
IBU : Ayo masuk! Sering-seringlah kemari! Ayo masuk! Ajak LINDA belajar bersama!

Tidak ada satu temanpun yang datang!
Tidak ada teman yang masuk!
IBU tetap menyambut! LINDA menangkap kertas sendirian!
BLACK OUT
MUSIK PENUTUP

SELESAI

YOGYAKARTA, April 2006

naskah drama "KONGGRES UNGGAS"

NASKAH TEATER REMAJA
“KONGRES UNGGAS”
KARYA : APRIS

PELAKU :
1. NY. ANGSA
2. NY. BABON
3. NONA BEBEK
4. NY. KUTILANG
5. NY. KASUARI
6. NY. BANGAU
7. NONA ITIK
8. NONA MERPATI
9. NONA ITIK
10. GAGAK
11. KAKAK TUA
12. SAWUNG JAGO
13. SWAN SONG
14. PELIKAN
15. JOKO PERKUTUT
16. NYI CENDRAWASIH
17. NYI KUNTIL

KONGRES UNGGAS

BABAK I
RUANG TAMU MEWAH SEBUAH BANGUNAN BESAR MILIK NY. BANGAU. DISINI AKAN DILANGSUNGKAN PERTEMUAN RUTIN PARA UNGGAS; ARISAN. YANG SUDAH TERLIHAT DATANG LEBIH DULU NY. KUTILANG, NY. BABON DAN NONA BEBEK. DITEMANI TUAN RUMAH, MEREKA SEDANG ASYIK NGRUMPI NONA ITIK, PUTRI NY. BANGAU, SIBUK MELAYANI PARA TAMU. NYI KUNTIL, PENGAWAL NY. KUTILANG, DUDUK MENYENDIRI DI SALAH SATU SUDUT RUANG ITU DENGAN ANGKERNYA, SAMBIL MELAHAP HIDANGAN YANG DISAJIKAN. TIDAK LAMA KEMUDIAN, MUNCUL NY. ANGSA BERSAMA NONA MERPATI PUTRINYA, DIIRINGI PENGAWAL SETIANYA JAKA PERKUTUT.
1. Angsa : Sedang membicarakan apa, kok kedengarannya meriah banget.
2. Babon : Itu lho Jeng Bebek aneh-aneh saja. Dia bilang jago-jago kita tambah gila saja. (TERTAWA). Padahal, sejak dulu yang namanya jago itu memang gila. Apalagi kalau melihat perempuan-perempuan muda, cantik dan agak menggoda. (TERTAWA)
3. Angsa : O, begitu
4. Babon : Iya, Jeng Bebek juga mengatakan, para jago kita tingkat kegilaannya sudah sangat tinggi. Mana ada gila kok tinggi. Lantas, cara mengukurnya bagaimana. (TERTAWA). Kata Jeng Bebek lagi, penjajahan dan kesewenang-wenangan para pejantan terhadap para betina sudah keterlaluan. (TERTAWA LAGI, SAMBIL TERSEDAK-SEDAK)
5. Kutilang : Lho, benarkan, Tante. Pejantan-pejantan kita tambah brutal dan tidak menghargai para betina sama sekali. Kalau punya pangkat, kedudukan dan uang, mereka akan kawin dimana-mana. Tidak peduli perasaan para betina yang dikawini. (BERHENTI SEJENAK). Kalau tidak punya pangkat, kedudukan atau uang, tapi merasa sedikit tampan, ya mengobral janji di mana-mana. Nah, kalau tidak punya semua itu, ya main perkosa.
6. Babon : Tapi tidak semua pejantan seperti itu. Buktinya suami saya, Mas Sawung Jago, biarpun punya derajat dan uang, tidak pernah ngobral nafsu dimana-mana.
7. Angsa : Saya kok setuju dengan Tante Babon. Tidak semua pejantan kita seperti itu. Masih banyak yang memiliki moral bersih.
8. Bebek : Ah, itu hanya menghibur diri.
9. Babon : Lho, menghibur diri bagaimana. Itu kan kenyataan. Buktinya, masih ada pejantan seperti suami saya, suami Jeng Kutilang, Jeng Bangau, Jeng Kasuari dan Jeng Angsa.
10. Bebek : Jumlah itu belum bisa dijadikan bukti. Nyatanya hampir setiap hari koran-koran, radio dan televisi menyajikan berita kebrutalan para pejantan kita.
11. Babon : Ah, itu kan memang kerjaan wartawan dan lahan penghidupan media massa. Kalau tidak menyajikan hal semacam itu, ya tidak akan ada yang beli koran, dengarkan radio atau nonton televisi.
12. Angsa : Ya, tidak begitu, Mbakyu. Apa yang dimuat koran, diberitakan di radio dan ditayangkan di televisi, pasti berdasarkan sebuah fakta. Mereka tidak mungkin berani menyiarkan berita kalau tidak benar.
13. Bebek : Mungkin saja. Siapa sih yang tidak tahu prinsip media massa. Yang penting kan laku dijual. Nggak peduli benar atau salah, merugikan atau menguntungkan orang lain, pokoknya bisa dijual. Lagi pula, masyarakat kita kan memang paling senang baca berita seperti itu.
14. Bangau : Waduh, ngobrolnya kok jadi serius begitu. Sudah. Ayo, dimakan lagi hidangannya. Kalau terlalu dingin, nanti nggak enak lho. (SEMUA DIAM UNTUK BEBERAPA SAAT. MEREKA ASYIK MENIKMATI HIDANGAN YANG DISODORKAN OLEH TUAN RUMAH. PEMBICARAAN MEREKA DIALIHKAN KE HAL-HAL YANG LAIN. RINGAN YANG PENTING NGRUMPI. DI SUDUT LAIN, JOKO PERKUTUT ASYIK MELADENI NONA MERPATI DAN NONA ITIK BERSENDA GURAU, YANG SESEKALI DILIRIK OLEH NY. ANGSA)
15. Kasuari : Kalau saya pikir-pikir, pendapat Jeng Bebek itu benar. Tapi ucapan Tante Babon juga betul.
16. Babon : Eeee, lha … gimana sih Jeng Kutilang ini. Mana mungkin mendukung saya, kok juga mendukung Jeng Bebek. Itu tidak tegas namanya. Plin-plan. Iya kan, Jeng. (TERTAWA SINIS SAMBIL MEMANDANG BERKELILING, MENCARI DUKUNGAN)
17. Bangau : Benar. Kita tidak boleh mendua. Dalam setiap persoalan, kita seharusnya hanya mendukung salah satu pihak. Tidak bisa keduanya. Bisa runyam nanti.
18. Kasuari : Yang saya maksudkan begini. Jeng Bebek benar karena semua media massa, baik cetak maupun elektronik, selalu menyajikan kebrutalan para pejantan kita. Sementara Tante Babon benar, karena memang tidak semua pejantan bermoral bejat.
19. Angsa : Saya setuju dengan pendapat terakhir. Kita memang tidak boleh seenaknya sendiri. Menyamaratakan, atau istilah ilmiahnya menggeneralisir setiap persoalan. Segala sesuatunya harus kita teliti dan kemudian kita analisis. Dus, kita tidak boleh mengungkapkan statement secara ngawur. Asal bicara.
20. Babon : Lha, benarkan apa yang saya katakan. Kita tidak bisa seenaknya sendiri, mengatakan semua pejantan kita sudah bejat moralnya, padahal yang melakukan hanya seekor pejantan. Wong suami saya tidak begitu, kok.
21. Angsa : Jeng Babon juga tidak bisa menyalahkan Nona Bebek, hanya karena suami Jeng tidak begitu. Berarti yang bejat hanya seekor dan yang baik juga hanya satu ekor. Tidak bisa dijadikan dasar analisis.
22. Babon : Jeng Angsa ini aneh. Saya dinilai salah, tapi juga benar. Jeng Bebek juga dinilai begitu. Lantas, yang terbaik bagaimana. Kan tidak mungkin salah semua atau benar semua. Pasti hanya satu yang salah dan satunya benar.
23. Angsa : Dalam dunia keilmuwan, hal itu bisa saja terjadi. Salah semua atau benar semua.
24. Babon : Wah, ini gimana, to. Saya kok jadi bingung. Malah jadi tidak nyambung. Benar semua atau salah semua. Ah, tidak tahu saya.
25. Bangau : Iya. Saya juga jadi bingung. Mungkin Jeng Angsa bisa menjelaskan, sehingga kami jadi mudheng.
26. Angsa : Begini lho Jeng. Pendapat atau ucapan yang disampaikan, tapi benar berdasar fakta atau penelitian, belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi, bisa benar atau salah semua. (SEMUA YANG HADIR MANGGUT-MANGGUT, MESKI ADA BEBERAPA YANG TIDAK MENGERTI SAMA SEKALI). Nah, untuk mengetahui apakah pendapat atau ucapan itu benar atau salah, maka harus diadakan penelitian. Dus, berarti butuh waktu yang cukup panjang dan dana yang agak besar.
27. Babon : Wah, kok jadinya malah ruwet. Masak hanya dari omong-omong harus begitu panjang dan lama penyelesaiannya. Kalau saya, tinggal setuju atau tidak.
28. Bebek : Ya ndak bisa hanya sesederhana itu kalau masalahnya menang luas dan besar. Apalagi menyangkut sekelompok kaum. Cara yang terbaik yang seperti yang dikemukakan Jeng Angsa. Harus lewat penelitian. Paling tidak ya harus lewat forum musyawarah nasional atau bahkan musyawarah internasional.
29. Bangau : Waduh, waduh. Kok jadi tambah ruwet begitu.
30. Babon : Iya. Pembicaraan sederhana kok tiba-tiba jadi ruwet begitu, sampai harus mengadakan penelitian dan musyawarah segala.
31. Angsa : Itu kalau nyonya-nyonya di sini mau menguji kebenaran dari apa yang sudah diperbincangkan tadi secara ilmiah. Kalau tidak, kita hanya bicara dan berdebat terus, tanpa tahu ujung pangkalnya dan tidak mengerti mana yang benar, mana yang salah. Apa kita mau disini seharian hanya untuk memperdebatkan hal yang tak kita ketahui.
32. Babon : Ya jelas tidak mau saya. Kami kan masih punya kegiatan lain. Paling tidak ya sebagai ibu rumah tangga dan istri.
33. Bangau : Kalau saya tidak jadi masalah. Kalau semuanya mau tinggal disini lebih lama dan berbincang-bincang, silahkan. Tapi seperti kata Tante Babon tadi, bagaimana dengan aktivitas kebabonan kita.
34. Kasuari : Saya setuju dengan pendapat Jeng Angsa. Kita harus melakukan penelitian untuk menjernihkan persoalan ini. Kalau Jeng Bebek bagaimana.
35. Kutilang : Melakukan penelitian, akan sia-sia saja. Di samping memakan waktu lama, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara, hasilnya sulit diyakini kebenarannya. Kalau saya lebih setuju mengumpulkan betina dari seluruh dunia dan mengadakan musyawarah untuk membuat resolusi.
36. Bangau : Wow, mengumpulkan betina dari seluruh dunia?
37. Babon : Ck … ck … ck, itu ide gila. Lalu biaya untuk menyelenggarakan acara itu cari di mana?
38. Bebek : Kita bebankan pada negara. Selama ini, kalau para pejantan mengadakan acara pasti membebankan seluruh biaya pada negara. Kalau sekali-kali kegiatan para babon dibiayai negara, kan tidak ada jeleknya.
39. Kasuari : Bagaimana nyonya-nyonya, apakah semuanya setuju dengan gagasan, Jeng Bebek. (TIDAK LANGSUNG TERDENGAR JAWABAN. MEREKA MASING-MASING SIBUK BERBICARA SENDIRI-SENDIRI). Bagaimana nyonya-nyonya setuju?
40. Koor : Setuju …………………………

BABAK II
SEBUAH RUANGAN BESAR ATAU LAPANGAN YANG CUKUP RINDANG. MASIH TAMPAK LENGANG. TAPI RUANGAN ITU SUDAH DITATA SEDEMIKIAN RUPA UNTUK KEPERLUAN MUSYAWARAH ATAU SEMINAR INTERNASIONAL. TAMPAK JOKO PERKUTUT, NYI CENDRAWASIH, NYI KUNTIL. DI BERANDA, TAMPAK TANTE BABON, DENGAN PAKAIAN YANG SERONOK, BERSAMA SAWUNG JAGO SUAMINYA.
41. Babon : Mas, sana ikut nimbrung, kumpul sama jago-jago teras kita. Jangan hanya menyendiri di belakang. Setidak-tidaknya kamu masih trah dalam. Masih dialiri darah biru. Masak kumpul sama jago kampung yang tidak berprestasi.
42. Sawung Jago : Habis, saya kan tidak terdaftar sebagai panitia. Dalam susunan yang kalian buat nama saya kan tidak ada. Lha kok saya disuruh kumpul sama jago-jago teras. Saya kan malu.
43. Babon : Meski kamu tidak tercantum dalam daftar panitia, saya kan termasuk panitia inti. Panitia yang ngurusi konsumsi.
44. Sawung Jago : Orang seksi konsumsi kok panitia inti.
45. Babon : Lho, apa acara ini nanti bisa berlangsung sehari penuh kalau tidak ada konsumsinya. Yang penting konsumsi.
46. Sawung Jago : Sudahlah. Tidak usah macem-macem. Pokoknya saya hadir. Ada dalam acara ini. Soal kumpul dengan siapa, ndak masalah.
(MUNCUL NY. KASUARI, NY. ANGSA, NY. BANGAU, NONA ITIK, NONA MERPATI DAN NONA BEBEK)
47. Kasuari : Jeng Babon sudah datang.
48. Babon : Lho, ya jelas dong.
49. Kasuari : Bagaimana konsumsinya, Jeng?
50. Babon : Pokoknya beres. Hanya saja, pencuci mulutnya belum terbayar.
51. Angsa : Lantas, yang kerja hari ini sudah disiapkan konsumsinya atau belum.
52. Babon : Lha, ya belum. Kan kemarin anggarannya tidak masuk ke anggaran saya. Mereka kan sudah mengajukan anggaran sendiri.
53. Nona Merpati : Saya dan Nona Itik sudah berembug dengan Mas Joko Perkutut. Kami yang ngurus konsumsinya. Untuk jago lainnya, diurusi Nyi Cendrawasih dan Nyi Kunti.
54. Nona Itik : Iya. Mas Joko Perkutut tidak senang kalau dibuatkan konsumsi seperti jago kebanyakan. Maklum, dia kan mahasiswa. Jadi segalanya harus serba spesial. Yang melayani juga harus spesial. Kami menyediakan diri sebagai sukarelawan.
55. Angsa : Kalian berdua ini memang lancang. Sejak dulu, Joko Perkutut kan jadi urusan saya. Ada-ada saja. (PERGI SAMBIL MARAH-MARAH. YANG TINGGAL HANYA SAWUNG JAGO).
56. Sawung Jago : Babon, dari dulu bisanya hanya petok-petok, dan Joko Perkutut, nasibmu baik benar. Waktu aku mengincar Angsa, kamu datang merebut. Kini, ketika aku sedang mengincar Merpati dan Itik, kamu lagi-lagi nimbrung. Masih muda mau seenaknya. Ya yang tua, ya yang muda. (TIBA-TIBA KAKAK TUA DAN GAGAK MASUK SEHINGGA MENGAGETKAN SAWUNG JAGO)
57. Kakak Tua : Kakang Sawung Jago malah sudah sampai disini. Saya yang dipilih jadi penerima tamu malah datang belakangan. Maaf, lho Mas.
58. Sawung Jago : Tidak apa-apa. Tadi sekalian mengantar istri saya, jadi ya agak pagi berangkatnya.
59. Kakak Tua : O, iya. Bagaimana kabarnya, Mas. Lama tidak bertemu, kan sehat-sehat saja?
60. Sawung Jago : Yah, lumayan meski tambah kurus.
61. Kakak Tua : Ah, kakang Sawung Jago ini ada-ada saja. Kok lama ndak kelihatan itu kemana saja, Kang?
62. Sawung Jago : Namanya juga usaha, jadi ya tidak sempat kemana-mana. Apalagi pada era globalisasi seperti sekarang ini, kita harus kerja makin keras.
63. Gagak : Memang benar. Saya juga lihat sendiri cara kerja Kakang Sawung Jago. Pakai kejar-kejaran segala. Apa pengusaha sekarang juga diajari perang-perangan, kok kakang kemarin sepertinya serius mengejar musuh. (SAWUNG JAGO TIDAK MENJAWAB. MATANYA MELOTOT MEMANDANG. MAKSUDNYA MAU MARAH, TAPI TIDAK JADI. SETELAH MENDENGUS KESAL, LANTAS PERGI MENINGGALKAN KAKAK TUA DAN GAGAK YANG TERSENYUM SINIS). Kakang Sawung Jago itu aneh. Sudah punya istri resmi dan beberapa simpanan, kok ya masih senang mengejar ayam-ayam dara. Kemarin Itik dan Merpati yang dapat giliran dikejar-kejar mau diperkosa. Untung keduanya cukup lincah dan gesit, sehingga tidak tertangkap oleh si tua bangka itu.
64. Kakak Tua : Yah, begitulah yang namanya jago. Lebih-lebih kalau masuk klasifikasi pejantan. Bedanya, ada yang bisa lebih menjaga diri. Melihat situasi dan kondisi. Tapi ada juga yang tidak mau menjaga diri. Ujas-ujus, grusa-grusu. Tidak angon situasi. Berbeda dengan kamu. Tidak usaha dikejar-kejar, para betina akan datang sendiri.
ACARA PERTEMUAN DIMULAI
65. Bebek : Saudara-saudara betina. Kita tahu bahwa para jago dimana-mana senang wayuh. Ini berarti mereka tidak menghormati para betina. Kenapa mereka tidak menghargai kita, karena salah kita sendiri. Yaitu mau menerima perlakuan sewenang-wenang mereka. Padahal kita bisa mencari makan sendiri. Bahkan mencarikan makan anak-anak kita. Tapi kenapa kita malah diperlakukan sewenang-wenang oleh para jago, yang tidak pernah mempedulikan anak-anaknya. Ini benar-benar keterlaluan. (TERDENGAR TEPUK TANGAN RIUH). Kita berbeda dengan yang namanya manusia wanita. Mereka kebanyakan tidak bisa cari makan sendiri, sehingga sangat tergantung pada manusia laki-laki. Maka wajar kalau manusia wanita rela disewenang-wenang manusia laki-laki. Apalagi di dunia manusia ada peribahasa: surga dan neraka ikut laki-laki. Tapi di dunia kita, tidak ada peribahasa semacam itu. (TERDENGAR TEPUK TANGAN LAGI). Agar mengetahui wewenang, dan para jago tahu yang namanya keadilan, maka para betina di seluruh dunia harus bersatu dalam sebuah wadah, yang nantinya akan menetapkan aturan main bersama penguasa, dan menyampaikan resolusi. (TEPUK TANGAN MERIAH LAGI. TIBA-TIBA NY. ANGSA TAMPIL BERBICARA)
66. Angsa : Saudara-saudara. Menyambung langsung apa yang baru saja disampaikan Nona Bebek, saya sampaikan beberapa catatan penting. Pertama, kita harus menyusun sebuah resolusi yang isinya antara lain: jago satu hanya boleh memiliki atau mengawini seekor betina, jago dan betina punya hak sama dalam perceriaan. Kedua, kita harus secara aktif mengadakan pendidikan, melakukan penyuluhan dan pelatihan tentang hak, tanggungjawab, wewenang, serta tugas para betina maupun jago dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ketiga, kita harus selalu mengkampanyekan bahwa betina bukan hanya sekedar pabrik telur yang bisa diperlakukan sewenang-wenang. Para betina punya harga diri yang patut diakui para jago. Dengan demikian, masing-masing bisa saling menghargai satu sama lain. Tidak perlu menang-menangan. (TEPUK RIUH)
67. Swan Song : Kami memahami betul apa yang disampaikan kedua betina terdahulu. Kami pun dulu tak terhindar dari keadaan dan situasi semacam itu. Tapi itu masa lalu. Kini kami mulai memasuki kehidupan yang sangat bebas. Maklum, kami dari negara yang sudah sangat modern. Perkawinan bukan lagi hal yang penting. Kami bebas melakukan hubungan. Betina bisa melayani selusin jago, begitu pula sebaliknya, tanpa harus memikirkan pernikahan. (TERDENGAR GERUTUAN DAN MAKIAN). Harap jangan berisik. Ingat, kami dari masyarakat modern. Jadi soal tata tertib, unggah-ungguh dan semacamnya adalah nonsens. Terlalu usang dan ketinggalan zaman. Kami justru punya usulan, membuat resolusi buat manusia yang memperlakukan bangsa kami dengan semena-mena. Sama sekali tidak hewani. Masak kaum betina kami selalu dikurung secara bergerombol dalam satu kandang dan tidak pernah diberi seekor pun jago, tapi setiap hari diharuskan bertelur. Hal itu terus berlangsung sampai kematian menjemput mereka. Ini benar-benar tidak adil dan harus dihentikan.
68. Pelikan : Saya setuju dengan Swan Song tadi. Bikin resolusi yang memprotes sistem manusia memelihara ayam. Soal wayuh, memang perlu dipertimbangkan kembali. Seandainya dalam sebuah kelompok ayam ternyata jumlah jagonya lebih banyak dibanding betinanya atau sebaliknya, bagaimana. Kita perlu mencontoh wayang. Drupadi itu suaminya lima, yaitu Pandawa. Karena dinegaranya memang kekurangan wanita dan terlalu banyak pria. Sementara Kresna istrinya tiga, karena di Drawati kekurangan pria dan terlalu banyak wanita. Usulan betina lokal baru bisa dijalankan kalau situasinya seperti di Madura dan Awangga, dimana jumlah wanita dan pria seimbang. Dengan kata lain, wayuh hanya diperbolehkan bukan karena kebutuhan seks semata, seperti yang dianut ayam ras, tapi karena keadaan yang memaksa.
69. Kasuari : Untuk menyatukan para betina di seluruh dunia, disepakati berdirinya perkumpulan betina se dunia yang diberi nama KONGRES UNGGAS SE DUNIA, yang disepakati : 1. Jago tidak boleh wayuh, 2. Betina tidak boleh wayuh, 3. Jago boleh menceraikan betina, 4. Betina bisa menceraikan jago, 5. Manusia dilarang membudidayakan ayam seenaknya sendiri, 6. Betina yang dipelihara oleh manusia untuk tujuan penghasil telur, harus tetap diberi jago yang jumlahnya sama banyak dengan jumlah betina. Begitu pula yang dipelihara untuk diambil keturunannya. Bagaimana pada semua yang hadir, apakah pembentukan wadah dan isi resolusi disetujui. (TERDENGAR JAWABAN KOOR SETUJU).
BLACK OUT

BABAK III
FADE IN
TERAS SEBUAH RUMAH, MALAM BULAN PURNAMA, NY. KUTILANG DUDUK TERMENUNG SEORANG DIRI. TIBA-TIBA DATANG JENG BABON. MEREKA BERDUA NGOBROL. TAMPAK ASYIK. SEMENTARA SUASANA TAMPAK LENGANG DAN SEPI.
70. Babon : Ngalamun, ya Jeng?
71. Kasuari : (AGAK TERKEJUT). Ah, enggak kok. Mari Mbakyu, silahkan duduk. Dari mana, kok jam sekian masih di luar. Malah sampai disini.
72. Babon : Tidak dari mana-mana. Saya memang sengaja kemari untuk ngobrol. Di rumah sepi sekali.
73. Kasuari : Sama, Mbakyu. Rumah saya sekarang juga sering sepi. Apa Sawung Jago sering pergi?
74. Babon : Yah, begitulah, Jeng. Maklum, namanya saja wiraswasta. Jadi ya sering pergi. Katanya untuk meningkatkan usaha.
75. Kasuari : Dan Mbakyu mempercayainya.
76. Babon : Ya jelas, dong. Sejak adanya Perkumpulan Betina Mardika dan resolusi yang dihasilkan beberapa waktu lalu, buat apa tidak mempercayai suami yang terus keluar rumah untuk mengembangkan usaha. Lagi pula, sejak sebelum musyawarah yang baru lalu dilaksanakan, suami saya merupakan tipe jago yang setia. Dia tidak pernah menyeleweng, meski pergi dari rumah sampai berhari-hari.
77. Kasuari : Saya juga dulu punya pandangan yang sama dengan Mbakyu. Kalau suami saya pamit keluar rumah sampai menginap, kadang beberapa hari, saya tidak pernah menaruh curiga. Paling-paling untuk meningkatkan karier. Tapi setelah musyawarah besar beberapa waktu lalu, saya jadi sering mikir. Jangan-jangan suami saya sudah kelurahan penyakitnya manusia. Bilangnya nglembur, ndak tahunya kencan dengan betina lain.
78. Babon : Weh … weh … weh, Jeng Kasuari kok jadi begitu. Jangan-jangan malah sampeyan yang sudah ketularan penyakit manusia perempuan. Curigaan saja kerjanya. Tidak pernah percaya sama manusia lain. Termasuk pada suaminya sendiri. Amit-amit, Jeng. Mbok ya yang semeleh, gitu. Jangan terlalu curiga. Kalau suami kita beri kepercayaan penuh, tidak-tidaknya kalau mereka nyeleweng.
79. Kasuari : E … namanya jago kok diumbar. Ya entek omah, entek ngalas, Mbakyu. Para jago itu ndak bisa dilair-batini. Dikasih kesempatan, ya nglonjak.
80. Babon : Ah, apa seburuk itu namanya jago, Jeng?
81. Kasuari : Ya bukan hanya para jago yang punya watak buruk seperti itu. Para betina juga banyak yang senang bermuka dua.
82. Babon : Walah, istilah apalagi itu. Bermuka dua.
83. Kasuari : Artinya, di muka orang banyak sangat berapi-api membela dan memperjuangkan hak kaumnya. Tapi di belakang, selingkuh.
84. Babon : Masak ada betinayang punya watak seperti itu. Jeng Kasuari ini kok ada-ada saja. Senangnya kok guyon.
85. Kasuari : Tidak, Mbakyu. Saya tidak guyon. Ini serius. Dan betina seperti itulah yang sering ngrusak tatanan. Merekalah yang sering memancang para jago untuk nyleweng.
86. Babon : Jangan-jangan … (AGAK GELISAH, TAPI KEMUDIAN MENGHIBUR DIRI SENDIRI). TAPI SAYA PERCAYA SAMA KESETIAAN SUAMI SAYA, KOK. JAGO LAIN BISA SAJA MUDAH DIGODA, TAPI SUAMI SAYA TIDAK. (NY. KASUARI TERSENYUM KECUT. TIBA-TIBA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH DATANG DENGAN SIKAP TAK MENENTU. MARAH, GELISAH, KECEWA CAMPUR JADI SATU. SEPERTI TAK MENGETAHUI KEBERADAAN KASUARI DAN BABON).
87. Nyi Kuntil : Wah, gawat. Kacau. Tidak berperi kebinatangan.
88. Nyi Cendrawasih : Ya. Merusak tatanan. Gajah midak rapak.
89. Kasuari : E … e … e, ini ada apa. Datang-datang kok kayak orang ayan. Bengak-bengok ndak karu-karuan. Kalian ini ada apa. (NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH TERKEJUT, WAS-WAS DAN TAKUT).
90. Nyi Kuntil : Eh … oh … ah, nggak ada apa-apa kok Nyonya. Cuma anu … e … anu …
91. Kasuari : Cuma apa. Anu apa. Ayo ngomong yang benar.
92. Babon : Iya. Mbok kalau bicara itu yang jelas, tegas. Tidak plinthat-plinthut seperti itu. Ada apa, ayo.
93. Nyi Cendrawasih : Wong cuma anu, kok. Apa itu, anu dheng … ah, bingung aku. Mbok kamu saja yang menjelaskan.
94. Kasuari : Sudah, ayo. Salah satu dari kalian harus bicara terus terang dan yang sebenarnya.
95. Nyi Kuntil : (SETELAH BERUSAHA SEKUAT TENAGA, AKHIRNYA BISA JUGA BICARA). Begini, Nyonya. Kami berdua kebetulan sedang jalan-jalan. Ketika sampai di taman kota, kami lihat pemandangan yang nganeh-anehi.
96. Babon : Nganeh-anehi bagaimana. Mbok bicara to the point saja, gitu lho.
97. Nyi Kuntil : Kami melihat suami Nyonya berdua bersama Nona Bebek dan Nona Merpati, di tempat remang-remang, di taman kota.
98. Kasuari : Itu kan biasa. Mereka mungkin sedang jalan-jalan sekeluarga. Menikmati malam terang bulan yang indah ini.
99. Babon : Iya. Begitu saja kok didramatisir. Senangnya kok bikin dheg-dhegan.
100. Nyi Cendrawasih : Tapi mereka berkelompok secara terpisah-pisah.
101. Kasuari : Lho, yang namanya keluarga itu kan ya berkelompok-kelompok. Biasakan.
102. Nyi Kuntil : Bukan begitu, Nyonya. Mereka berkelompok dua-dua. Berpasangan!
103. Kasuari : Apa …! Mereka berpasangan di taman kota?
104. Nyi Kuntil + Nyi Cendrawasih : I … I … ya …
105. Kasuari : Wah, gawat. Kita harus menyelidikinya ke sana, Mbakyu.
106. Babon : Iya, benar.
107. Kasuari : Ayo. Nyi Kuntil dan Nyi Cendrawasih, tunjukkan tempatnya.
108. Nyi Kuntil + Nyi Cendrawasih : Baik, Nyonya. (MEREKA BERGEGAS PERGI KE TAMAN KOTA UNTUK MENYELIDIKI KEBENARAN UCAPAN NYI KUNTI DAN NYI CENDRAWASIH).
BLACK OUT – FADE IN LCD

TAMAN KOTA MALAM HARI TERANG BULAN. SUASANANYA REMANG-REMANG. DI ANTARA RERIMBUNAN TANAMAN TAMAN, TAMPAK ENAM PASANG AYAM SECARA SILUET SEDANG BERCUMBU RAYU. SAWUNG JAGO BERPASANGAN DENGAN NONA BEBEK, GAGAK DENGAN NONA ITIK, JOKO PERKETUT DENGAN ANGSA, NAGATUMURUN DENGAN NONA ITIK DAN KAKAK TUA DENGAN BANGAU. DARI KEJAUHAN, TAMPAK
NY. KASUARI, NY. BABON, NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH BERINDAP-INDAP MENDEKATI YANG SEDANG PACARAN. MENELITI TIAP-TIAP PASANGAN DENGAN TELITI DAN CERMAT. SETELAH MENGETAHUI KEBENARAN DARI KATA-KATA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH,
NY. KASUARI SERTA NY. BABON BERTERIAK HISTERIS LALU JATUH PINGSAN. SEMUA PASANGAN YANG SEDANG PACARAN TERKEJUT, BINGUNG DAN LARI BERSERABUTAN. ADA YANG SAMPAI BERTABRAKAN DENGAN PASANGAN ASLINYA. SITUASI BENAR-BENAR KACAU. SUARA TERKEJUT BERBAUR DENGAN JERIT KESAKITAN. SEKEJAP KEMUDIAN PANGGUNG KOSONG. TINGGAL NY. KASUARI DAN NY. BABON YANG PINGSAN, SERTA NYI KUNTIL DAN NYI CENDRAWASIH YANG BERDIRI BENGONG. KEDUANYA NAMPAK GEDHAG-GEDHEG TIDAK HABIS PIKIR.
109. Nyi Kuntil : Begitulah ayam. Sama persis dengan manusia. Senang main cinta belakang, suka melanggar ketentuan dan kesepakatan yang sudah dicanangkan.
110. Nyi Cendrawasih : Mereka senang bikin resolusi, mengkampanyekan hak azasi dan mempropagandakan disiplin rasional, tapi kemudian mereka langgar.
111. Nyi Kuntil : Memang mengherankan. Beribu peraturan dikeluarkan dan ratusan kesepakatan disetujui, tetap saja terjadi penyelewengan, pelanggaran dan semacamnya. Memang aneh yang namanya ayam dan manusia itu.
T A M A T

naskah drama "JERAT"

Naskah EGO: JERAT (Naskah oleh: Aris setia Wardani – Ego)

BABAK I
Deni duduk sendiri di kursi sambil menghisap rokoknya, tak lama kemudian datanglah
orang wanita.
Deni : (bangkit) Ah…. Mbak Sandy! Akhirnya datang juga!
Sandy : Selamat malam Mas Deni! Sesuai janji saya, saya bawakan 2 gadis ini untuk Mas Deni.
Varren : Ah… VArren (tersenyum pada Varren) kita bertemu lagi.
Deni : Hallo Mas!
Sandy : Dan kenalkan ini Nia!
Deni mengulurkan tangannya dan dijabat mesra oleh Nia.
Deni : (tersenyum jail) wah, ini yang baru ya? Cantik juga.
Sandy : Dia ini anak didikku yang paling muda Mas, masih fresh loh! Tapi saya jamin, Nia tidak kalah hot sama yang lain, Nah, sekarang Mas Deni mau yang mana? (tersenyum menggoda) atau mau kedua-duanya sekaligus?!
Deni : Ah, Mbak Sandy ini bisa saja. Saya sekarang ini lagi gak serakah kok Mbah, dan pengin yang pasti-pasti saja. (sambil mengamit mesra tangan Varren) saya butuh yang mantap malam ini.
Sabdy : (mengeluarkan rokok, menyulut dan menghisap rokoknya) mau booking berapa ama? Satu Jam? Dua Jam?
Deni : Lagi pengin all night Mbak, gak puas dong satu-dua jam saja! (mengambil cek yang ditandatanganinya dan menyerah kepada Sandy)
Sandy : wah (tersenyum melihat cek), rupanya Mas Deni sedang banyak rijeki ya?! Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat bersenang-senang! Ayo Nia!
Sandy dan Nia pergi.
Deni : Varren (menarik Varren mendekat)
Varrren : (menolak dengan manja) Mas, jangan disini dong, Kan gak enak kalau ada yang ngintip.
Deni : Baiklah, kamu ingin dimana?
Varren : Lho, kok Varren yang nentuin? Mask an yang bayar…
Deni : Malam ini kamu ratunya!
Varren : Mas ingin yang konvensional atau yang sensasional?
Deni : (mengajak Varren ke dalam) dua-duanya sayang!
Varren : Ah, mas ini!
Keduanya lenyap
Lampu mati

BABAK II
DengAn pakaiAn kusut dan tubuh berkeringat, Deni duduk di kursi dan menghisap
rokoknya. Varren (sambil menghisap rokok) datang dengan mengenakan kimono mandi,
mengamati Deni yang setengah melamun dan memeluk leher Deni dari belakang.
Varren : Ada apa Mas? Kok melamun?
Deni : Duduklah! (menarik tangan Varren untuk duduk di sampingnya)
Varren : Sudah berkali-kali kita berrtemu dan melewatkan malam seperti ini, tapi sampai sekarang aku belum mengenalmu sedikitpun…
Varren : (tertegun) mengenalku??? Hahaha…(tertawa) aku dibayar untuk tubuhmu, Mas, bukan untuk mengenal. Mengenal bisa dilakukan tiap orang. (seperti teringat sesuatu tiba-tiba) ah, tapi bukankah Mas Deni dan saya sudah berkenalan? (menghisap rokok)
Deni : Maksudku, mengenal satu sama lain.
Varren : Hmm… (tersenyum) Mas seorang eksekutif muda, tampan, bujang, sedangkan aku adalah call girl yang dibayar untuk memuaskan Mas…
Deni : (menghisap rokoknya) bukan itu, tyapi masa lalumu. Bagaimana kamu sampai bisa seperti sekarang.
Varren : Pelacur maksud Mas?! (mematikan dan membuang rokoknya di asbak) wa…aku hamper tidak pernah cerita ke orang lain. Boleh saja, selama tips-nya pantas.
Deni : Berapapun yang kau minta. (membuang rokoknya di asbak)
Lampu mati.

BABAK III
Yuk Darmi bersih-bersih di ruang tengah. Rahman dengan wajah lelah masuk lalu duduk
dan meletakkan tasnya.
Darmi : Selamat malam, Den!
Rahman : (membuka jasnya) Malam! Ibu sudah pulang?
Darmi : Belum, Den. Aden mau mandi? Air panasnya sudah siap.
Rahman : Ah, iya, nanti saja. Mana Varren?
Darmi : Ada Den. Sore tadi baru pulang dari sekolah. Ah, itu dia Non Varren.
Varren : (muncul) Yuk, makan malamnya mana? Aku sudah lapar.
Darmi : Ah, sebentar lagi siap. Permisi dulu. (pergi)
Varren : (duduk di samping Rahman) Sepertinya ibu bakal pulang cepat, Pak.
Rahman : Bagaimana kau tahu?
Varren : Tadi ditelpon ibu, ibu sendiri yang bilang. Bapak kangen ya??
Rahman : (tersenyum) ah, kamu ini!
Irma : (muncul) Assalamu’alaikum!
R & V : Waalaikumsalam!
Rahman : (bangkit) Ah, Irma. Kamu makan malam di rumah kan hari ini? (tersenyum senang)
Irma : Tidak, aku tidak sempat Mas! Varren kamu sudah mengepak baju dan keperluan ibu di koper?
Varren : (bangkit) Sudah. Tapi kok ibu buru-buru? Ibu tidak akan pergi hari ini kan?
Irma hanya diam dan meletakkan tasnya, lalu Rahman menghampiri.
Rahman : pergi? (kaget) pergi ke mana? (memegang bahu Irma dari belakang) Irma….
Irma : maaf mas, ini mendadak. Aku harus pergi keluar kota. Ini tidak lama hanya seminggu.
Rahman : (setengah histeris) seminggu?! (membalikkan badan Irma menghadap dirinya) seminggu tidak sebentar. Dan kau bilang hanya seminggu??!!
Irma : Varren, ambil koper ibu, sekarang!
Varren segera pergi
Rahman : (meletakkkan kepalanya di pundak Irma) Irma, aku kangen, kamu selalu pulang larut. Kini kau pulang lebih awal, namun tiba-tiba akan pergi lagi. Aku harus bagaimana?! Aku kesepian. Aku butuh cintamu, kehangatanmu…
Varrren datang membawa koper.
Irma langsung mundur menghindari belaian Rahman, Rahman tersentak.
Irma : Maaf, Mas Rahman…. Aku harus pergi. Titip anakku.
Varren mengecup punggung tangan ibunya, lalu tanpa memandang Rahman Irma pergi begitu saja.
Lampu mati.

BABAK IV
Rahman datang dengan baju kerja yang lusuh dan ada noda basah. Jalannya sempoyongan karena mabuk. Tasnya dilemparkan begitu saja dan langsung ambruk di kursi. Varren muncul dengan mata setengah terpenjam karena kantuk. Dalam balutan gaun tidurnya, ia menghampiri Rahman.
Varren : Bapak kok baru pulang sih jam segini? Aduh…bau apa sih ini?nyengat sekali…bapak dari mana aja sih? (duduk di samping Rahman, membantu melepaskjan jas)
Rahman : (memandang Varren, lalu tiba-tibna tersenyum) ah….Irma, kau sudah pulang ya? Aku sangat kangen sekali…(melingkarkan lengan di pundak Varren)
Varren : (tertegun) bapak mabuk ya? Ini Varren! Ya ampun, Bapak gak pernah seperti ini (melepas sepatu dan dasi Rahman)
Rahman : Irma..Irma… (menghentikan tangan Varren) akku senang, kau tak pernah melayaniku seperti ini…
Varren : (agak sebal) bapak buka mata lebar-lebar dong. Aku ini Varren, bukan ibu. Ibu masih 2 hari lagi pulangnya. Makanya jangan mabuk…
Rahman : (mencoba memeluk Varren) kau Irma…Irmaku…
Varren : bukan…(tangannya menahan Rahman di dad) aku Varren, kumohon…(ketakutan)…aku Varren pak…
Rahman : (tidak prduli) tidak! Kau Irma..(memaksakan kekuatannya sampai Varren setengah terpojok) Irmaku tersayang…
Varren : tidak…(takut dan mulai terisak) tolong.. sadarlah! (mencoba melawan)
Rahman : Irma…Irma...(mendekat)
Rahman terus meracau sambil menahan tangan dan kaki Varren yang mencoba memberontak.
Varren : Tidak…aku bukan ibu… aku bukan Irma. Tidak..tolong Bapak…
Tidak…jangaaaaaaannnnn….
Lampu mati.

BABAK V
Rahman yang sudah sadar membenahi celananya. Dilihatnya Varren gemetar, gaunnya tersingkap hingga paha, tubuhnya bermandikan keringat sementara dia sendiri bermandikan keringat. Setelah itu ia memejamkan matanya, tak sanggup melihat mata Varren yang shock dan terluka. Mulutnya tidak mengeluarkan kata apapun, kecuali suara isakan. Dan Rahaman sendiri tidak mampu bicara. Sementara itu mereka tidak melihat Irma yang tiba-tiba datang dengan kopernya.
Iram : wah belum tidur ya? (Rahman mendongak kaget, Varren menoleh perlahan) aku sudah pulang. Varren, tolong Bantu ibu meltakkan kjkoper ini di kamar (meletakkan koper dibawah)
Rahman: Ir..Ir..Irma?
Irma : kau ini kenapa mas?tentu saja ini aku. Pekerjaanku selesai lebih cepat dan mengingat kata-katamu terakhir kali sebelum aku pergi, jadi kupikir.. aku pulang saja. Ini (mengacungkan bungkkusan yag dibawanay) aku bawa oleh-oleh. Tidak reaksi dari Varren dan Rahman yang sejak tadi hanya memandanginya,Irma heran. Diperhatikannya keadaan anak dan suaminya itu yang baru disadarinya ternyata aneh. Tiba-tiba Irma menjatuhkan bunkusan dari tangannya.
Irma : Varren..gaunmu.. kenapa wajahmu? Mas Rahman, kau juga… kenap? Ada apa ini? (menghampiri dan duduk diantara Varren dan Rahman) a…apa yang sedang terjadi? (cemas, takut)
Rahman hanya menunduk tak menjawab, lalu Irma memandang wajah putrinya yang
pucat dan terisak.
Varren : hik…(ter
Isak) ibu..(menghambur ke pelukan Irma) ibu..
Rahman: maafkan aku Irma…aku khilaf.
Serta merta Irma melepskan pelukan Varren dan menoleh kepada Rahman.
Irma : apa? Apa kau bilang? Khilaf? (menoleh sambil mengamati Varren dari rambut hingga ujung kaki) khilaf…(perlahan mengerti dan agak histeris)khilaf?? KAU BILANG KHILAF? (mulai menangis) kau apakan Varren? (menoleh ke Rahman dan merenggut kemeja depannya) kau apakan anakku? Apa yang sudah kaulakukan? Kenapa kau tega? (menampar Rahman lalu memukul-mukul dadan Rahman sedangkan Rahman hanya pasrah menerima) aku sudah bilang, aku nitip dia…tolong jaga!
Rahman: aku tidak sadar tadi…(bangkit dan mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi)
Irma : (berang) tidak sadar? TIDAK SADAR? (bangkit) dia anakku! Lahir dari rahimku! Walaupun buka anak kandungmu, bukan berarti kau boleh menyentuh dia seperti ini! Harusnya kau menganggap dia juga sebagai anakmu, karena kau menikahi ibunya. Dasar busuk! Bajingan keparat! Kukira kau menganggap dia juga sebagai anakmu…(mulai menurun) dia…Varren…dia….anakku…
Tiba-tiba Irma pingsan dan langsung ditangkap Rahman.
Rahman: Iram…Irma…
Varren: ibu….ibu…
Lampu mati

BABAK VI
Setting kembali ke ruang tamu kamar motel. Asbak dipenuhi puntung-puntung rokok beserta abunya. Wajah Varren tampak dingin. Air mata yang jatuh segera diusapnya sambil menghindari tatapan Deni.
Deni : lalu bagaimana selanjutnya? (penasaran)
Varren:L Mas boleh berasumsi sendiri. Yang kuceritakan ini sudah lebih dari cukup. Sampai saat ini baru Mas Deni saja yang tahu detail ceritaku. Mbak Sandy saja hanya tahu garis besarnya, karena ini bukan cerita yang patut untuk dibanggakan.
Deni : Ng.. lalu, apakah kamu berpikir untuk meninggalkan dunia yang sedang kamu jalani sekarang?
Varren: (tersenyum) pernah sih.
Deni : lalu?
Varren: lalu…bagaimana dengan Mas? Apakah Mas pernah berpikir untuk meninggalkan gaya hidup Mas yang seperti selama ini?
Deni hanya terdiam.
Varren: tidaka bisa kan??
Deni : baiklah… hari sudah mulai beranjak pagi (membelai rambut dan leher Varren) aku tunggu kamu di ranjang, aku ingin ditemani berbaring. (bangkit dan beranjak pergi)
Varren: (sebelum Deni benar-benar lengyap) aku mencintai mereka… aku mencintai mereka… (Deni menghilang)
Hening sesaat.
Varren: hidup ini adalah jerat. Dan perasaan ini pun akan menjeratku. (menghembuskan asap dari rokok terakhir)
Lampu mati.
SELESAI

cerpen kota berduri

Kota Berduri

Cerpen Narudin Silakan Simak!
Dimuat di Sinar Harapan Silakan Kunjungi Situsnya! 04/18/2009 Telah Disimak 41 kali

Aku tak mau menyimpan terlalu lama duri dalam tubuhku. Disimpan terlalu lama hanya membuat tubuhku terasa sakit. Barangkali rasa sakit itu bukan benar-benar dalam dagingku, tapi dalam suatu tempat lain yang tak mampu kudefinisikan. Seperti kedip lampu-lampu ibu kota atau suara-suara TV di pagi hari, bagiku, adalah duri pada waktu itu. Seperti ibuku yang hendak memperkenalkanku kepada suasana ibu kota atau seperti keinginanku yang kuat untuk melihat-lihat gedung-gedung pencakar langit atau hanya sekadar untuk menonton film kartun dan film kungfu di TV berwarna saudaraku, sangat menggelisahkan. Tapi kini aku bebas berkeliaran di bawah lampu-lampu yang seperti bintang-bintang tersangkut benang-benang udara itu dan aku kini tidak lagi terlalu asyik saat menonton film kartun atau film kungfu terheboh sekali pun.

“Wah, banyak mobil bagus ya, Bu?”

“Iya, ini namanya Jakarta, Jang. Dulu saat kamu masih berumur tiga tahun pernah Ibu bawa ke sini,” kata Ibuku sambil menarik tanganku, berjalan melewati gang-gang becek. Sampah plastik dan bungkus makanan mengambang di atas genangan air kotor. Lalat-lalat hijau, gemuk-gemuk, beterbangan. Kebiasaan ibuku mengajarkan sopan santun kepadaku, aku praktikkan pada saat itu. Aku tersenyum dan membungkukkan badanku kepada orang-orang yang duduk di beranda rumah. Barangkali mereka nongkrong di depan toko atau warung. Tapi mereka hanya mencibir, memasang raut wajah yang lempang seolah angin lalu baru lewat.

“Ujang nanti bisa nonton film kungfu ya, Bu?”

“Kamu bisa nonton apa saja, Jang. Sudah jangan banyak ngomong dulu. Lihat, banyak mobil dan bus kota. Nanti kalau tidak hati-hati, kita bisa terlindas bannya yang gede-gede itu, lho.”

Ibuku mengelus rambutku sebelum menyeberang perempatan jalan Slipi yang dipadati kerumunan kendaraan roda empat dan roda dua. Aku tidak gentar sedikit pun dengan suara-suara kendaraan yang memekak telinga sebab entahlah barangkali yang mengemudikannya hanya mematuhi lampu merah tanpa menghargai pejalan kaki yang kepalanya kepanasan oleh terik matahari ibu kota. Aku menekan ujung kebaya ibuku yang kumal pada hidungku. Sukar rasanya menghela napas di jalan ibu kota. Sepotong lagu, ingat-ingat lupa, keluar dari mulutku:

Nih si Doel anak betawi asli, kerjaannye sembahyang mengaji.

“Bu, kalau si Doel rumahnya di mana? Apa dia masih hidup?”

“Mana ibu tahu. Sudah jangan banyak nanya. Sebentar lagi kita sampai.”

Rambut ibuku yang hitam kemerah-merahan masih tetap tidak memudarkan rona kecantikan yang melekat di wajahnya. Rambutnya terurai di pelipisnya, tertiup angin, menantang terik matahari. Ia melihat kaca-kaca mobil, bukan melihat para penumpang yang sedang memperhatikannya. Kaca-kaca mobil itu seperti berada di ujung langit. (Sedangkan aku sejak tadi melihat gumpalan awan yang tercerai-berai, melayang secara sederhana, seperti kapas ditusuk-tusuk paku, melalui kaca salah satu spion mobil yang terjebak. Macet.) Ia seakan hilang dan tak mengenal dirinya sebab terlalu jauh ia memandang. Di balik kebayanya yang lusuh, terselip kejujuran, seperti daun-daun kering yang terjepit celah-celah jendela warteg di pojok sana. Tangan kirinya menenteng setengah karung beras dari desa. Ia memikul sebundel pakaian di punggungnya. Wajahnya meringis, menahan beban.

Berkali-kali ia mencubit pipiku sebab aku hendak berlari, berteriak keras untuk memberi tahu langit ibu kota bahwa aku tengah berada di Jakarta. Melihat beban di punggung ibuku, aku teringat salah satu tetanggaku di desa, bernama Mbok Warti. Ia berjualan sayur-mayur, keliling desa. Sejak sinar matahari menerpa bumi, ia memulai mencari sesuap nasi, menjemput rezeki melalui kangkung, kacang panjang, mentimun, labu, dan daun singkong. Karena aku suka makan sayur, ibuku selalu membeli sayurannya dua atau tiga hari sekali.

“Berapa harga daun singkong ini satu ikat, Mbok?”

“Seribu empat ikat.”

“Kok, murah sekali, Mbok? Jual saja seribu dua ikat, biar Mbok dapat uang untuk makan.”

“Ah, kemarin juga Mbok jual dengan harga seribu tiga ikat, orang-orang enggak mau lagi beli, Neng Ratih.”

“Tapi Mbok menjualnya sampai habis, ‘kan?”

“Ya … kadang habis, kadang enggak. Tergantung mujur enggaknya nasib Mbok dari Tuhan.”

“Tapi makan Mbok bagaimana?”

“Ya … soal makan sih sama saja.”

Sisa-sisa nasi kuning masih melekat dalam sela-sela gigi Mbok Warti. Saat tertawa ia selalu membuka mulutnya lebar-lebar sehingga aku dapat melihat gigi-gigi gerahamnya kuning kecokelatan. Wajahnya terlihat ceria dalam kesendiriannya. Dalam kesepiannya. Sebab anak-cucunya telah tidak lagi menghiraukannya. Kerut-kerut kulit kepalanya yang tampak di antara beberapa helai uban tua tampak rapuh, berbintik putih. Semacam ketombe yang tidak mengenal langir. Kaki kanannya yang terbalut kain samping, sedikit di bawah lututnya, bengkok ke dalam. Ia menyeret kaki kanannya saat berjalan. Terus berjualan. Terus keliling desa.

Sebelum kami berangkat ke Jakarta, Mang Dora, salah seorang tetanggaku, yang rumahnya terletak seratus tujuh puluh langkah pendek dari rumahku, mampir ke rumahku. Ia masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam terlebih dahulu. Bola matanya jelalatan, menatap setengah karung beras dan sebundel pakaian yang bertengger di atas meja papan johar, yang posisinya agak miring empat puluh lima derajat dari sisi meja. Jumbai-jumbai karung yang diikat tali plastik menutupi bundel pakaian. Sudut bibirnya yang tertutup kumis tebal berdenyut setiap kali ia mulai berbicara. Kedua matanya yang menyala selalu tidak menatap mata orang yang sedang ia ajak berbicara. Ia lebih senang menatap jari-jari kakiku yang ujung kuku-kukunya penuh kotoran tanah atau membuang wajah ke samping sambil menyelipkan kata “puiiiiiiih”.

“Jadi, kau dan si Ujang jadi pergi ke Mamih Noni? Aku sudah bilang padanya bahwa kau dan si Ujang bersedia menjadi pembantu di sana. Ya … hitung-hitung kau balas budi setelah kematian suamimu setahun yang lalu saat tertimpa besi tulang rusuknya. Kau tahu, pada waktu itu aku sedang bekerja sebagai kuli bangunan bersama suamimu di apartemen barunya. Dia orang kaya. Tidak seperti kita-kita. Mau kau kasih makan apa si Ujang? Apa si Ujang enggak akan disekolahkan? Berapa umur kamu, Jang?” tanya Mang Dora sambil menepuk-nepuk daun pintu. Ujung jari kakinya dihentak-hentakkan ke atas ubin yang retak.

“Delapan tahun, Mang.”

“Kami akan berangkat sekarang, Mang. Sebab mau makan apa lagi kalau tidak usaha? Jadi buruh tani cuma capeknya saja. Hasilnya nol. Aku sudah tak tahan dihimpit hutang, Mang. Setelah Kang Barja meninggal, tak ada lagi yang membiayai kebutuhan sehari-hari kami,” kata ibuku dengan suara berat seperti berbicara dalam ember kosong yang terinjak sepatu.

“Ya … sudah. Tunggu apa lagi. Berangkat sana. ini ambil untuk menambah ongkos,” kata Mang Dora sambil menyodorkan tiga lembar uang sepuluh ribuan pada telapak tangan ibuku yang bergetar tak beraturan. Setelah itu, ia pergi tanpa sepatah kata sebagai tanda berakhirnya sebuah obrolan. Tangan kirinya meluruskan kaos dalamnya yang terpilin di atas pusarnya yang menonjol, sedikit berbulu. Sambil berjalan ia menyibakkan rambut keriting gondrongnya berkali-kali. Ia tersenyum masam kepada kami lalu lenyap, berubah menjadi batang pohon mangga besar dalam pandangan hampa mataku di balik pintu.

***

Sebuah rumah besar, seperti sebuah istana bagiku, menghadap sebuah taman hijau yang luas. Kolam ikan dengan air mancur yang keluar dari sebuah teko yang digenggam oleh kedua tangan patung wanita berambut panjang sangat menyejukkan. Aneka bunga berwarna ungu, merah, kuning, dan biru muda terlihat tabah, menemani ketenangan pancuran air kolam yang di dasarnya bergerak bebas ikan-ikan hias. Beberapa pohon cemara berdiri tegak di sudut teras rumah yang berkeramik gading tua. Jalan berkelok-kelok di taman itu menambah suasana terkesan artistik. Pintu rumah itu terbuat dari kayu jati, penuh ukiran Jepara. Awan di atas rumah tampak putih. Seolah terlalu suci untuk dinodai. Beberapa burung berkelebat di dekat kabel telepon yang sedikit terkelupas. Kami berdiri mematung di depan rumah besar itu - setelah pintu gerbang dibuka oleh seorang lelaki muda - saat pintu rumah dibuka oleh seorang wanita berumur empat puluhan. Ia mengenakan gaun sutera biru tua dengan renda pita merah melingkar pada bagian pinggang dan bahunya. Dua kalung emas, sebesar jari kelingking, melingkar di lehernya. Sepatunya berhak tinggi sehingga cara ia berjalan kurang alami. Rambutnya ikal, mengembang. Harum, menyengat. Di tengah pipi kirinya yang kuning terdapat tahi lalat sebesar biji kacang hijau. Tatapan matanya keras.

“Oh, kamu, Ratih. Aku nitip pesan ke si Dora agar kamu mau jadi pembantu di sini. Aku ingin kamu mengenal hidup sejati di kota. Hidup senanglah seperti orang lain … iya, ‘kan?”

Seorang anak laki-laki, putih-gemuk, berumur empat tahun, berlari dari belakang pintu yang terbuka sekitar satu meter. Ia melemparkan sebuah mobil-mobilan ke dadaku sambil tertawa, mengejek.

“Oh, Ratih, ini anakku yang bungsu. Jang, kamu bisa ajak main Bobi, ‘kan? Cepat ajak Bobi main sana. Anak kamu, si Ujang, sudah gede rupanya. Dulu waktu kamu dan si Barja masih hidup, kamu sempat ke sini, si Ujang baru berumur, ah … ah … aduh, berapa … tiga tahun, ya? Oh, ya sudah, kamu pergi ke dapur. Ingat, Rat, banyak kerja itu sama dengan banyak uang! Kamu ke Jakarta untuk cari duit, bukan?”

“Ba-ba-ba-ik, Mamih Noni,” kata ibuku ragu, seolah ada satu rahasia yang tertutup di antara mereka berdua —- untuk sementara. ***

Bandung, 31 Januari 2008

cerpen senyum-senyum di tepi jalan

Senyum-senyum di Tepi Jalan

Cerpen Agung Mayogi Silakan Simak!
Dimuat di Batam Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 55 kali

Malam meninggalkan jejaknya pada embun, embun yang tercampur hangat asap knalpot, tak terhindarkan masuk hidung.
Tepi jalan semarak, dipagari senyum– senyum. Janji-janji, slogan. Titel. Titel. Titel. Ada juga tanpa titel. Ada paket C: God! Konon ada yang palsu! Begini kiranya calon pemimpinku kelak.

Selayaknya senyum, ia seharusnya dapat menyenangkan hati, menenangkan hati, menyemangatkan, tapi bagiku ini tidak. Melihatnya hanya lelah yang kurasa, menambah rasa lelah sisa semalam yang membonceng di jok belakang.
Dan Lily, selalu ada di hati, di kepala, tak jarang merusak konsentrasi. Betapapun mengingatnya masih lebih baik ketimbang menatap tepi jalan bertabur senyum. Meski akhir – akhir ini ia gencar menuntut, mendesak kapan akad dilangsungkan. Usia memang sering kali menjadi teror bagi wanita.

Tapi pernah kudengar, entah dimana dari siapa, bahwa rata–rata wanita di Singapura menikah pada usia 32. Ia bahkan hingga musim Pemilu berikutnya pun belum lagi menginjak tigapuluh.

Sebetulnya, bukan aku tak siap berumah tangga. Tapi keadaanku masih begini, pekerjaan belum jelas, masa depan belum jelas. Bukankah yang dilihat dari seorang pria adalah masa depannya? Dan wanita: masa lalunya. Mungkin tak persis begitu.
Hm… Apakah kiranya yang bisa menjamin masa depan?

Klakson sebuah bus karyawan memusatkan lagi konsentrasiku. Aku meminggirkan posisi sepeda motorku ditengah badan jalan agar berjalan lebih ketepi.
*

“Udah punya gambaran nyontreng nanti Bib?”, Mas Pur membuka pembicaraan saat break pagi. Lagi, Lily menerobos masuk kekepala, seperti telah lama mengantri, tak rela tempatnya dikepalaku di rampas pekerjaan.
Kutunda hasrat untuk melamunkan Lily.

Tak biasanya Mas Pur punya perhatian pada perkara politik, dan tak mungkin rasanya ia jadi tim sukses partai. Ogah-ogahan, kujawab juga Mas Pur.

“Belum Mas, mungkin aku ngga nyontreng, tapi ya lihat moodku nantilah.”

“Tadinya aku juga mau golput Bob, tapi kemarin aku ditawari seratus ribu!” Mas Pur meneruskan. Wajah gembulnya tampak semangat. Rezeki nomplok, tentu begitu pikirnya. Belakangan overtime berkurang. Beberapa perusahaan melafalkan Zero OT. Kalaupun ada, ya beginilah, dijatah. Orang berebut lembur. Kerja lebih, bukan untuk meningkatkan taraf hidup, bukan demi kebutuhan tertier, cuma biar hidup pas sebulan, agar tak kurang, agar tak berhutang. Semua orang tahu, gaji basic bukan angka yang masuk akal untuk menghidupi keluarga dengan satu anak sekalipun.

‘Nggak usah ngasih KTP, cuma dicatet nama,” masih semangat ia meneruskan. “Nanti kira-kira tiga harian lah sebelum hari H, uangnya udh dikasih. Kalau belum dikasih uangnya, ngga mau nyontreng aku.”
“Wah, aku juga mau Bang..” Pardede yang duduk seberang meja panjang ini langsung tak ragu menunjukkan ketertarikannya.

“Lha iya, daripada kita ngga dapet apa-apa. Urusan nanti dibilik suara kita mau nyontreng siapa, ya terserah kita aja. Aku rasa kalo gitu ngga dosa kita.” Nada suara Mas Pur kali ini seperti menuntut pembenaran, mungkin untuk menghalalkan uang yang akan diterimanya nanti. Aku tak mengangguk, meski kurasa kata-katanya tak salah.
Demi melihatku seperti hilang gairah bicara, Mas Pur mengalihkan bicaranya ke Pardede. Dan aku merasa lebih leluasa melamun

Percakapan telefon ku dengan Lily tadi malam jelas tak memuaskan batinnya, kalau tak bisa dibilang mengecewakan. Mungkin ia merasa sedang berbicara dengan laki-laki pengecut, laki-laki yang ia inginkan jadi pendamping hidupnya. Dan laki-laki itu aku.
Kenapa aku jadi begini takut?

Takut pada sesuatu yang tak tampak, yang akan datang, mungkin takkan pernah datang. Masa depan. Ya, bagiku ketakutan sering datang dari masa depan.
‘Tak ada yang perlu ditakutkan, selama kita terus berusaha, bekerja keras, jujur, pasti kita bahagia, paling tidak nanti di akhir hidup kita'. Terngiang Lily melontarkan kata-katanya, sederhana, klise. Juga beratus kata-kata sejenis yang mengalun lambat. Aku agak tak suka, tapi kudengarkan juga.

‘Zaman sekarang nyari yang haram aja susah Mas.” Terdengar sekilas Pardede menanggapi omongan Mas Pur -yang tak kudengar sebelumnya- sambil sedikit memajukan bibir bawahnya. Kaleidoskop di pikiranku berganti Lily lagi.
Wanita itu bisa dibilang cukup bagiku, tak begitu cantik memang, tapi kan dalam sebuah lagunya Alicia Keys bilang physical thing means nothing. Jadi persetan dengan wanita yang lebih cantik, toh diatas langit ada langit, dan cepat atau lambat jelas aku harus berhenti pada satu titik. Satu wanita.

Tak ada yang aku ragukan padanya, hanya pada diriku sendiri.
Setiap pria bertanggung jawab pada kelangsungan hidup keluarga.

Berapa gaji? Nanti kontrak rumah, biaya melahirkan, susu bayi, kalau sakit, nanti anak sekolah… Tak terbayangkan ia hidup dalam kemelaratan, lebih-lebih lagi: kebodohan.

Terbayang jurkam-jurkam dengan penuh semangat berkoar membentang harapan, hidup lebih yg baik,gembar -gembor yang itu-itu juga. Dan sebagian rakyat yang hidup dirundung kesulitan seperti terhibur, tersihir - mungkin seperti sensasi nonton sinetron. Terlupa akan pahitnya kenyataan.

Tak perduli sudah berapa Pemilu mereka tertipu. Tak peduli kapasitas calon pemimpinnya, rekam jejaknya, visi juga misi.
Gontok-gontokan demi calon pemimpinnya itu pun mereka rela. Sebab telah digenggamkan harapan pada mereka. Siapa yang rela harapannya diusik? Mimpinya diganggu.

Mengapa begitu mudah kita dibujuk. Mengapa begitu cara mereka membujuk. Dengan stiker, kalender, sesuatu yang minim guna, bagi-bagi sembako, kepura-puraan yang terang, sandiwara sosial.

Sedikitpun aku tak mau menggantungkan harapanku pada orang-orang yang tak jelas begitu. Tidak. Aku akan membangun harapan ku sendiri, membangun masa depanku sendiri. Tentu takkan mudah. Butuh jatuh bangun, banting tulang, nangis darah. Semua butuh keberanian, dan aku harus memulai.
*

Bell tanda usai break pagi berbunyi.
Kalau untuk menggelar sebuah resepsi sederhana, kiranya tabunganku cukup untuk itu. Resepsi yang sangat sederhana kiraku. Tak apalah, Lily pun tentu setuju.

Masih kudengar Pardede mengerutu sambil bangkit dari duduknya. ‘Politik itu kotor'. Nada bicaranya dalam. Aku tatap wajahnya, tak jelas mengekspresikan apa.
“Politik adalah cara, hanya cara untuk mencapai tujuan. Dan cara juga tujuan, bisa kotor bisa tidak.” Tak kukatakan itu padanya. Hanya bunyi di dalam hati.

*

Aku pulang saat terang sisa sedikit. Lelah tlah bertumpuk lagi. Seakan tak bisa di elak, kulirik juga warna-warni temaram di tepi jalan. Handphone di saku kiriku terasa bergetar, suaranya tak terdengar. Mungkin Lily pikirku. Tunggu Lily, tak bagus bertelefon genggam sambil berkendara begini. Jika perkara tadi malam itu juga yang kau tanya, ya, baiklah Lily, aku pinang kau! Aku pinang kau! Takkan lama lagi, janji takkan lama. Mungkin sebelum umbul-umbul ini, baliho-baliho ini, senyum-senyum ini, enyah dari tepi jalan.
*

...every power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely… ***


cerpen pulau asap


Pulau Asap

Cerpen Jefri al Malay Silakan Simak!
Dimuat di Riau Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 55 kali

Setelah merasa tidak memiliki apa-apa selain kata-kata, akhirnya kuputuskan saja menulis surat ini padamu, Alifya. Hanya ini yang kubisa. Sedikit banyak, ianya mampu mengobati kerinduan yang tertancap di hati. Serupa pancang yang terpacak menjulang bertahun-tahun di tepian jambat, hanya berteman gelombang pasang surut, arus, terpaan angin, juga kebat tali sampan atau pompong yang melingkarinya. Sesekali singgah juga burung raja udang sekedar menjengah mangsanya kemudian terbang lagi, senyap lagi. Aku risau Alifya, takut kalau-kalau kerinduan itu menjadi usang, lapuk dan rapuh disebabkan terlalu lama meniti waktu yang tak pasti.

Tapi kau tahu, kenangan yang tak bisa kuungkai dalam pikiran ini kadangkala menjelma impian, seringkali membuat aku menginginkan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski kutahu itu bisa saja hanya menjadi sesuatu yang disebut mustahil.

Begitulah, akhirnya yang lebih berharga di sini, di keterasingan ini, kesepian ini, hanya kata-kata. Barangkali juga ianya tidak mampu merubah apa-apa, selain hanya serak dan remah yang kian lama tertimbun membusuk. Tapi sudah mutlak benarkah bahwa kata-kata tidak ada gunanya dan hanya sia-sia disebabkan terlalu banyak orang yang cuma bisa berkata-kata? Kemudian siapakah yang sudi mendengarkan dan mempercayainya? Siapakah yang peduli?

Entahlah. Setahuku, di dunia yang pernah kita ciptakan berdua dari untaian sajak-sajak cinta, dari kejujuran yang bersemayam di ceruk jiwa terdalam, roh kasih mencuat ke permukaan menjelma bahasa-bahasa kalbu, aku masih yakin, setidak-tidaknya engkau masih setia mendengarkan kata-kata serta mampu mengucapkannya sekaligus memahami maknanya. Bukankah itu lebih penting ketimbang terlalu banyak yang berkata-kata tanpa peduli dengan apa yang diucapkannya. Dan kau juga pernah berkata terlalu banyak kepedulian yang hanya sebatas ucapan ketimbang dilakukan. Aku setuju itu, mungkin ini jugalah alasan salah satunya kenapa kutuliskan surat ini untukmu, Alifya. Karena hanya engkau yang mungkin bisa percaya.

Akan kulanjutkan isi surat ini dengan menyebutkan kepadamu bahwa aku telah pun menemukan tujuan dari perjalananku selama ini. Perjalanan yang mengakibatkan cinta kita harus kandas sebatas cerita-cerita asmara di bawah batang getah, di dalam kebun ubi, atau di celah-celah kayu bakau di pantai. Tapi seperti yang telah kukatakan padamu perpisahan hanya butuh waktu untuk mengobatinya, percayalah.

Tetapi kalau sekiranya diperkenankan aku kembali bisa mengulang waktu, maka aku memilih menanti daripada pergi dengan memikul beban cinta dan setia. Apalagi kepergian yang tidak ada kepastian kapan bisa pulang membangun keping-keping rindu untuk utuh kembali menjadi cinta yang berujung kepada dermaga kebahagiaan. Dalam perjalan inilah kusadari satu hal. Dengan janji yang terlanjur terucap, aku telah mempertaruhkan “kebebasanku” sebagai seorang lelaki lajang untuk menutup rapat-rapat bilik asmara yang sejatinya pasti dimiliki oleh setiap manusia. Adakalanya hal tersebut mengganggu keseimbanganku, Alifya.

Tapi kau harus percaya. Itu tidak lagi menjadi persoalan. Lagi-lagi kukatakan hanya butuh waktu untuk membiasakannya. Jika kita ikhlas dan sabar menjalani hidup dan persoalan yang ada, tanpa disadari sebenarnya waktulah yang mampu mengobati segalanya.

Baiklah, akan kuceritakan bagaimana akhirnya aku mampu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, suatu tujuan yang jelas meskipun kedengarannya mustahil tapi tekadku telah bulat. Barangkali saja inilah tujuan terakhirku hingga sesudahnya bisa kutemui dirimu, dengan kesiapan yang mantap untuk bisa menerima apapun yang berlaku atas dirimu dan cinta yang sekian lama kutitipkan. Setidaknya kita bisa bertemu, bukan?

Sore itu aku duduk santai di sebuah jambat reot yang terdapat tidak jauh dari tempatku bekerja. Jambat yang senantiasa setia menerima keberadaanku untuk menumpahkan segala kisah dalam kesendirian ini. Di situlah aku mengungkai segala kenangan sambil menggoreskan bahasa kerinduan. Di jambat yang batang sungainya bermuara entah sampai di mana, yang airnya keruh, kuning kecoklatan, budak-budak yang menceburkan tubuh ke dalamnya, membasuh hari-hari mereka menjadi gelak dan tawa. Kadang aku larut bersamanya, seolah-olah ikut dalam ritual alam tersebut. Tentu saja aku juga menyaksikan orang-orang mendayung sampan, menumpangi harapan dari wajah-wajah mereka yang lelah. Tetapi air sungai itu, meski keruh dan berlinyang tetap saja sejuk sekaligus memberiku harapan ketika kususupkan kaki ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba saja aku melihat seseorang. Lelaki paruh baya yang setiap hari menghalakan sampannya ke arah timur, ke arah matahari terbit. Ya, setiap hari pula ia melambaikan tangannya kepadaku seraya menunjukan satu arah dengan memberikan isyarat dari telunjuknya itu. Selama ini memang tidak pernah kugubris tetapi hari itu saat dimana gerimis jatuh dari langit aku membalas lambaianya. Entah kenapa itu kulakukan, yang jelas lelaki itu kemudian mendayungkan sampannya ke arahku. Air sungai ketika itu naik pasang, sehingga dengan mudah ia merapatkan sampannya. Setelah bersalaman ia langsung mengambil tempat duduk disebelahku.

“Setiap hari aku melihat engkau duduk di sini, Nak?” ia memulai bicara.

“Mhhm...” anggukku singkat.

“Kerja di mana, Nak?” ia bertanya dengan ramah.

“Di pelabuhan itu, Pak...” sambil mengarahkan telunjukku ke pelabuhan satu-satunya yang memunggah penumpang di kota ini. “Sebagai cleaning service,” tambahku pula.

Ia hanya mengangguk beberapa kali. Kemudian dengan nada yang agak berat ia melanjutkan. “Di kota mencari kerja tidak mudah, apalagi bagi orang-orang yang tidak memiliki saudara atau kenalan yang mempunyai pengaruh atau jabatan. Skill dan ijazah saja tidak menjamin untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Tetapi pasti engkau juga mengetahuinya Nak, setiap hari selalu saja ramai orang datang ke kota walau hanya dengan modal nekat, mereka datang untuk memburu sesuatu, entah itu impian, cita-cita atau apa sajalah yang ada dalam pikiran mereka. Dan kita tentu memakluminya itu sebagai perjuangan.” Lalu ia tertawa kecil. “Itulah hidup, harus diperjuangkan Nak...”

Gerimis masih berjatuhan menciptakan riak kecil di air sungai serupa jarum-jarum halus yang turun dari langit. Alifya kekasihku, akhirnya seperti yang telah kuduga sebelumnya, ia menceritakan banyak hal kepadaku. Meski menurutku tidak ada satupun yang menarik, tetap saja aku menjadi pendengar yang setia. Ia terus sibuk bercerita dan tak menghiraukan sekeliling, hingga sampailah akhirnya ia menceritakan sebuah pulau yang terbungkus kabut asap. Pulau itu sudah ada sejak dahulu kala, katanya. Meski tak terdeteksi abad ke berapa ianya mulai dihuni namun tak pernah terjamah oleh manusia kebanyakan kecuali orang-orang pilihan.
“Pulau yang terbungkus kabut asap?” aku memotong ceritanya. “Bagaimana bisa?”

“Apa yang tidak bisa di alam yang luas terbentang ini, Nak? Khayalan yang ada dalam pikiranmu bisa saja menjadi kenyataan di lain tempat atau di lain waktu, siapa yang tahu? Pernahkah suatu saat kau ingin melarikan diri dari berbagai persoalan yang dihadapi. Lari ke suatu tempat, di dalamnya terdapat kehidupan serupa taman. Dengan bunga yang dipinang cinta dan kejujuran, bangku-bangku, meja dan pot bunga serta pohon-pohon rindang yang ditata dalam kesetaraan. Orang-orang saling berbincang dalam kesopanan, berkata sambil menghayati kata-katanya, peduli dan segera melakukan apa yang diucapkan, kemudian ada banyak waktu untuk meresapi wajah mentari dan rembulan di balik tahta kerajaan alam, pernahkah Nak?”

Aku hanya melongo sambil melihat wajah lelaki itu. Ada energi aneh yang menarikku sehingga seolah-olah aku masuk ke dalam tatapannya. Tatapan kebahagian yang mengatasi keduniawian. Samar-samar aku seperti dapat melihat sebuah pulau yang terbungkus kabut asap. Dari jauh ia berbentuk seperti gumpalan-gumpalan awan sementara disekelilingnya adalah samudera maha luas. Benarkah itu sebuah pulau?

Sayangnya aku tidak dapat melihat lebih banyak lagi Alifya. Lelaki itu buru-buru berkata dan tiba-tiba saja penglihatanku itu lenyap dalam sekejap. “Itulah pulau yang disebut sebagai Pulau Asap.”

Tapi kau jangan berpikiran asap yang mengelilingi pulau itu seperti kabut asap yang ada di tempat kita, Alifya. Ianya bukan asap yang ditimbulkan dari pembakaran hutan. Bukan kabut asap yang dapat menyebabkan kita terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bukan pula kabut asap yang datang selayaknya musim panas atau musim hujan yang menjadi ritual tahunan di negeri kita ini, tidak Alifya.

Menurut lelaki itu, asap yang menyelubungi pulau tersebut hanya serupa gumpalan asap namun tidak memiliki resiko apa-apa bagi yang menghirup udara di sana. Bahkan konon asap tersebut menjadi perisai agar sesuatu yang buruk, baik itu manusia dan niatnya maupun hal-hal yang tidak baik tidak bisa dan tak akan pernah sampai ke sana.

“Ini aneh, jika pulau itu memang ada, bagaimana mungkin tidak banyak orang tahu tentang pulau asap itu?” tanyaku penuh curiga, jangan-jangan lelaki paruh baya ini hanya bersenda-gurau atau malah mau mempermainkanku.

Ia diam sejenak, menatapku dan sepertinya ingin meluruskan keraguanku. “Hanya orang-orang pilihan yang bakal tahu sebab aku tahu dengan siapa saja boleh kuberitakan hal itu, dan aku adalah juru kunci menuju pulau asap, akulah yang mengangkut para penumpang yang benar-benar siap berangkat menuju ke sana, tentunya dengan beberapa syarat, bijak dan jujur, ingat itu!” ia segera turun ke sampan dan meraih dayung, memutar haluan lalu berkayuh.

Aku ditinggalkannya dengan sejuta tanya di kepala, tapi kemudian kudengar ia berseru, “Kalau Anak hendak ke sana, siap-siaplah jam dua belas malam ini, aku jemput engkau di jambatmu itu,” lalu ia menolehku sambil tersenyum penuh misteri. Kemudian ia melaju dalam kayuhnya, menghilang ditelan rintik gerimis yang belum jua berhenti.

Alifya, seperti kataku tadi, tekadku telah bulat. Aku akan berkemas dan segera berangkat menuju ke Pulau Asap. Sebuah pulau di mana kata-kata tidak hanya jadi slogan, tidak hanya sebatas semboyan dan janji-janji belaka. Di mana kata-kata diucapkan untuk segera dilakukan, tidak terbiar begitu saja menjadi baliho-baliho usang, spanduk-spanduk lapuk dan undang-undang yang berkarat seperti di negeri kita ini.

Selamat tinggal Alifya. Ingat selalu padaku. Berilah doa restu. Jika kelak aku kembali, pasti kuceritakan perihal negeri asap itu dan jika ada kesempatan mungkin saja aku akan membawamu ke sana. Ke pulau impian seperti yang pernah kita bayangkan, sebuah negeri yang tidak hanya dimabukkan dengan sebatas kata-kata belaka. ***

Pekanbaru, 9 April 2009
Tuan Junjunganmu, Wahidin