Minggu, 26 April 2009

Apa Penyebab Utama Pemanasan Global

Apa Penyebab Utama Pemanasan Global

by: Chindy Tan

Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi (18%), jumlah ini melebihi gabungan
dari seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 % karbondioksida dan 37 % gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO2). Selain itu, kotoran ternak menyumbang 65 % nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO2), serta
64 % amonia penyebab hujan asam

www.pemanasanglobal .net

Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Kutub merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).

Ada 400 miliar ton gas Metana di dasar laut Kutub yang dapat memusnahkan kehidupan
di Bumi

Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.

Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa "jangan makan daging" berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock's Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif 18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).

Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang "terbuang" untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?

Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida) , 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya "Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization" (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.

Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter "Meat The Truth" menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedi e.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin ("Diet, Energy and Global Warming") merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.

Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.

Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.

naskah drama "OPERASI"

OPERASI KARYA : PUTU WIJAYA NASKAH DIADAPTASI UNTUK PEMENTASAN TEATER PELANGI UM
ADEGAN I
Sebuah ruang tunggu di tempat dokter praktek. Sepi. Lalu muncul seseorang. Mulanya dia ragu untuk masuk karena melihat di dalam masih sepi. Tapi ia memberanikan diri karena ia sedang butuh dokter.
Ia duduk. Menunggu. Mulai gelkisah ketika sepi tidak mengamati seluruh ruangan. Lalu muncul orang yang lain dengan karakter yang beda dan persoalan yang berbeda. Lalu muncul orang lagi. Ada interaksi antar orang. Semuanya berakhir ketika asisten dokter masuk. Ia lalu menyebutkan nama. Yang disebutkan masuk. Orang yang pertama datang merasa heran kenapa bukan namanya yang disebut. Tidak lama pasien yang masuk tadi keluar. Ada perubahan besar pada dirinya. Kondisi ia lebih baik dari ketika ia memasuki ruang tunggu. Asisten dokter muncul lagi. Kejadian serupa berulang. Orang yang pertama datang, makin heran. Ia berupaya untuk bertanya tapi asisten dokter keburu masuk. Lalu orang kedua yang masuk tadi keluar dengan kondisi yang lebih baik pula. Asisten dokter muncul dan menyebut nama. Kejadian serupa berulang. Orang yang datang pertama tak sabar. Asisten dokter dengan tenang hanya mengatakan, “Tenang, harap tunggu sesuai antrian”. Orang pertama merasa aneh. Dongkol. Begitu seterusnya sampai Ia sendirian di ruang itu. Sepi. Ia mulai lelah, sampai akhirnya ia tertidur. Lampu berubah.
ADEGAN II
Entah karena apa akhirnya yang tertidur itupun terbangun. Ia melihat sekeliling. Ia sudah berada di ruang praktek dokter. Terlihat berbagai alat atau hiasan yang sesuai dengan sebuah ruang dokter. Ruang itu sepi. Tidak ada apa-apa kecuali orang itu. Lalu orang itu beranjak. Ia mengamati benda-benda di ruangan itu. Ketika tengah keasyikan mengamati, dokter masuk.
DOKTER : Selamat sore!
PASIEN : (Terkejut) oh, maaf selamat sore!
DOKTER : Ada yang bisa saya Bantu?
PASIEN : Anda dokter yang praktek di sini?
DOKTER : Benar!
PASIEN : Syukurlah! Saya sudah lama menunggu anda!
DOKTER : O, (TERSENYUM MAKLUM) silahkan duduk!
PASIEN : Terima kasih (BERGEGAS DUDUK)
DOKTER : Nama anda siapa?
PASIEN : Nama? Oh, nama saya (MENYEBUT NAMA)
DOKTER : Hmm. Apa keluhan anda?
PASIEN : O, saya sedang butuh seorang dokter
DOKTER : Tentu saja, anda sudah datang kemari
PASIEN : Tetapiu saya tidak sedang menderita penyakit dokter!
DOKTER : Lantas?
PASIEN : Saya kemari juga tidak minta untuk diobati dok!
DOKTER : Ya, ya! Tapi coba ceritakan apa keluhan anda sebenarnya?
PASIEN : O, begini dokter, Muka saya ini terlalu umum dokter! Sama sekali tidak ada ciri yang khas dan istimewa. Coba amati muka saya… muka saya ini sama saja dengan berjuta-juta orang Indonesia lainnya. Mata saya tidak sipit seperti orang Jepang juga tidak lebar seperti orang Bule. Hidung saya ini dok, tidak mancung juga tidak dapat dikatakan pesek. Ah, kalau nama saya ini saya ganti yang aksi misalnay (MENYEBUT SATU ATAU DUA NAMA) juga tidak membuat saya berbeda dokter. Itulah yang membuat saya merasa hambar dan seperti berjalan di jalan datar yang panjang dan membosankan. Pantas saja kalau saya melamar jadi bintang film,tidak ada yang mau menerima.
DOKTER : O, jadi anda mau jadi bintang film?
PASIEN : Begitulah!
DOKTER : Jadi anda datang kemari mau dioperasi supaya bisa diterima jadi bintang film?
PASIEN : (MENGANGGUK)
DOKTER : Itu mudah, sebentar.
PASIEN : E…kenapa anda memandang seperti itu. Ada yang salah pada diri saya?
DOKTER : (tersenyum) jangan khawatir itu salah satu cara saya untuk mencari rumus dan kunci pada wajah anda. Sehingga nantinya saya mudah untuk melakukan operasi
PASIEN : Oh.
DOKTER : Ya. Saya sudah menemukannya. Anda mau dibuat cantik seperti siapa?
PASIEN : (TERPERANJAT) apa dokter bilang? Cantik? Jangan dokter, jangan bikin saya cantik?
DOKTER : Lantas?
PASIEN : Kedatangan saya kemari adalah ingin menjadi orang yang berwajah jelek, bahkan terjelek di seluruh muka bumi ini!
DOKTER : (TERTAWA) anda bercanda!
PASIEN : Saya tidak bercanda dan ini bukan lelucon. Ini serius dok! Saya benar-benar ingin menjadi orang yang paling jelek, jelek,
dan jelek sekali. Kalau bisa lebih jelek dari si (MENYEBUT SATU ATAU DUA NAMA) sudahlah siapa saja pokoknya
jelek.
DOKTER : Jadi anda benar-benar serius?
PASIEN : Ya. Buat wajah saya sejelek mungkin. Pesekkan hidung saya atau rusak mulut saya, ubah mata saya atau terserah dokter. Dokter kan tahu sendiri! Yang penting saya bisa komersil!
DOKTER : (TAMPAK KEBINGUNGAN)
PASIEN : Dokter kok kelihatannya bingung
DOKTER : Tentu saja saya bingung sebab selama ini belum ada yasng datang kemari yang minta supaya mukanya dirusak. Rata-rata
mereka minta supaya dibuat ganteng atau cantik. Lihat saja surat-surat pujian dan piagam penghargaan itu, atau lihat foto-
foto itu, itu adalah hasil kerja saya dan rata-rata mereka puas.
PASIEN : Tapi apa susahnya merusak? Merusak itu lebih mudah daripada membuat ganteng atau cantik!
DOKTER : Saya tahu,tapi…
PASIEN : Tapi apa dokter?
DOKTER : Saya tidak bisa menjamin nanti setelah operasi dan wajah anda rusak, anda bisa komersil!
PASIEN : Dokter tidak usah ragu-ragu, saya yakin, nanti kalau rusak pasti komersil!
DOKTER : Saya jadi berfikir sekarang apa perkembangan jaman sekarang sudah begitu majunya sehingga yang saya pelajari sudah terlambat dan tidak bisa mengikutinya. Seingat saya, saya tidak pernah diajari ilmu rusak-merusak seperti yang diminta sekarang!
PASIEN : Jangan takut dokter. Bukankah ini yang peretama kalinya. Dokter pasti akan tambah terkenal dan saya juga ikut terkenal nantinya
DOKTER : (BERFIKIR KERAS)
PASIEN : Ayolah dokter. Tidak usah banyak fikir, sebaiknya cepat saja kita lakukan operasi
DOKTER : Tidak bisa.
PASIEN : Oh. Bagaimana kalau ongkosnya saya bayar dua kali lipat?
DOKTER : (TIDAK MENJAWAB)
PASIEN : Saya naikkan tiga kali lipat
DOKTER : Ini bukan soal uang.
PASIEN : Ah, atau saya buat surat pernyataan di kertas segel bahwa saya tidak menuntut dokter kalau wajah saya di rusak bahkan tidak komersil sekalipun !
DOKTER : (DOKTER MEMANGGIL ASISTENNYA DAN BERUNDING)
ASDOK I :Tidak apa-apa dokter. Sebagai seseorang yang professional saya berpendapat, bagaimana kalau permintaan pasien itu kita penuhi saja. Soalnya ini menyangkut orientasi keuntungan dan prestasi institusi kita. Kalau ini bergasil, kita akan dibicarakan banyak kalangan, media massa akan meliiput kita, akan banyak seminar-seminar yang membicarakan prestasi kita.
ASDOK II : Betul dokter. Kita layani saja masalahnya sebagai dokter kita tidak boleh mengecewakan pasien. Apalagi dia mau bayar lebih tanpa menuntut lagi. Ini peluang dokter. Peluang besar.
DOKTER : Bukan itu masalahnya. Tetapi hal itu bertentangan dengan jabatan dan sumpah saya sebagai dokter.
ASDOKI : Idealis itu perlu, tapi ini jaman krisis dokter, krisis. Orang sudah tidak malu lagi jika berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keahlian dan jabatan sekalipun. Konstitusi Negara saja sudah diabaikan orang apalagi Cuma sumpah jabatan sebagai seorang dokter.
DOKTER : Tapi dokter itu menyembuhkan orang sakit. Tidak membuat orang menjadi sakit.
PASIEN : Tapi saya merasa sakit jika wajah saya tidak dirusak dokter.
DOKTER : Itu jelas-jelas tidak sakit tapi mencari penyakit.
ASDOKI : Dokter!
DOKTER : Kalian masuk saja dulu, akan aku panggil lagi jika kubutuhkan. Ini akan saya selesaikan sendiri.
ASDOKII : (SAMBIL BERJALAN KAKI) peluang. Ingat dokter. Peluang.
PASIEN : Bagaimana dokter?
DOKTER : Tetap tidak bisa saudara.
PASIEN : Baik. Permintaan akan saya perbaiki. Bagaimana kalau mata saya yang kiri ini diperkecil sedikit, Karena kalau berjalan sering kemasukan debu atu angina.
DOKTER : Mata anda normal-normal saja.
PASIEN : Kalau begitu cabut semua gigi saya sampai ompong
DOKTER : Tidak bisa!
PASIEN : Oke, buat lubang hidung saya menjadi tiga agar saya bisa bernapas dengan lega, karena sering pilek dan tersumbat!
DOKTER : Tidak bisa. Pokoknya tidak bisa. Saya ini memperbaiki yang rusak bukan merusak yang tidak rusak.
PASIEN : Jadi dokter hanya mau memperbaiki wajah orang yang rusak?
DOKTER : Betul!
PASIEN : Bukan merusak wajak yang tidak rusak?
DOKTER : Tepat!
PASIEN : Jadi seandainya muka saya rusak, dokter mau memperbaikinya?
DOKTER : Tentu!
PASIEN : Dokter berjanji?
DOKTER : Baik!
PASIEN : Oke. Kalau begitu saya pulang sekarang. Akan saya robek-robek muka saya dengan silet hingga muka saya benar-benar rusak. Setelah itu saya akan kemari lagi dan dokter harus mau mengoperasinya sesuai dengan janji dokter tadi. Baik saya pulang dulu. Selamat sore. (BERGEGAS KELUAR)
DOKTER : Hei Mbak! Tunggu dulu!
PASIEN : Apalagi dokter?
DOKTER : Cuma kasih saran!
PASIEN : Saya tahu dokter! Pasti anda menyarankan untuk pergi ke dokter jiwa. Apahal sebenarnya merekalah yang menyuruh saya agar datang kemari.
DOKTER : Bukan. Begini, kalau anda ingin membelli silet, belilah di depan took sana, karena disitu menyediakan silet yang baru, asli buatan luar negeri. Impor (TERSENYUM)
PASIEN : (PASIEN BERGEGAS PERGI MENINGGALKAN DOKTER DENGAN PIKIRAN ANEH)
DOKTER : (MEMANDANG PASIEN SAMPAI IA BENAR-BENAR KELUAR) ( MENGHELA NAPAS) Hah..ada ada saja. Hari yang benar-benar sibuk. Pulang dulu ah! (SETELAH BERKEMAS, IA BICARA DARI LUAR KEPADA ASISTENNYA YANG ADA DI DALAM) Hei, aku pulang dulu, nanti kalau pulang, jamgam lupa matikan lampunya! (EXIT)
Bersamaan dengan itu lampu mati dan musik penutup mul;ai berbunyi.
The end

naskah drama "MIMPI"

MIMPI (NASKAH OLEH: M. ZUHDI – EGO)

ADEGAN I
Suami : aku gagal (gelisah, jengkel, marah, istri masuk hanya mengamati). Aku kira aku ini orang sukses, nyatanya ketika ada pengakatan baru yang dipilih sebagai kepala bagian adalah orang lain. Aku marah sekali. Tapi setelah aku merenungkan, memang aku tidak memenuhi syarat sebgai kepala bagian. Aku sudah keliru menilai diriku. Itu Cuma mimpi. Ini memalukan bahkan tidak hanya pantas menjadi kepala bagian, memegang jabatanku sekarangpun rasanya sudah dikatrol., mungkin mereka kasihan saja. Aku malu, akhirnya aku mengambil keputusan, aku mengajukan permohonan berhenti.
Istri : Hah…!! (terkejut, memekik) kamu egois! Kamu semestinya mengajak kita berunding, sebelum memutuskan sesuatu. Sekarang, kita semua harus menjadi korban kegagahan kamu yang konyol itu.
Suami : Maafkan aku.
Istri : Aku paham, itu masalah harga diri seorang lelaki, tapi rumah tangga tidak cukup ditegakkan dengan harga diri.
Suami : Memang kelihatannya bodoh dan tolol ketika kita membicarakan masalah moral dan harga diri saat ini. Sementara orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan, memburu rejeki dan memperenak hidup. Tapi kalau kita tidak memulai sekarang, menegakkan harga diri kita, kita akan selamanya menjadi manusia tertindas. Apa gunanya kita berlimpah uang, kalau perasaan kita tidak tentram karena kita merasa melacurkan diri kita. Berhenti adalah jalan yang terbaik, daripada tersiksa.
Istri : Bekerja itu bukan penyiksaan! Itu salah! Itu tuduhan orang yang malas! Kamu mengaku saja terus terang, kamu sudah dipengaruhi oleh teman-teman kamu petualang-petualang yang tak tanggung jawab itu. Kamu sudah sesat. Tak bisa! Pokoknya kamu harus masuk kantor besok dan mencabut pernyataanmu yang konyol itu. Minta maaf kepada pak Direktur. Kalau kamu tidak mau, aku yang akan datang ke kantor dan meminta surat permohonan itu dibatalkan!
Suami : Tidak bisa. Mau ditaruh mana mukaku. Aku sudah membuat keputusan dan itu harus aku pertanggung jawaban. Tidak mungkin aku menjilat ludahku sendiri.
Istri : Ini bukan masalah ludah, keluarga memerlukan biaya kebutuhan hidup yang t erus menanjak dan ongkos pendidikan anak-anak.
Suami : Aku tahu. Tapi harga diriku juga penting. Bagaimana kalau teman-teman sekantor tahu, “eh pak Nadi yang telah mengajukan surat penguduran diri, kok sekarang dicabut lagi?” Betapa malunya aku dijadiklan junjingan orang sekantor.
Istri : Sekarang baru berfikir malu, apa kamu tidak berfikir ke depan. Bagaimana nanti kita mendapatkan uang. Kita tidak makan harga diri Mas…!
Suami : pokoknya aku tidak mau mencabut surat permohonan pengunduran diriku. (anak yang sudah mengamati masuk)
Anak : Bapak kurang bijaksana bapak kurang memikirkan akibatnya pada cita-cita kami. Kalau bapak berhenti bekerja otomatis pendidikan saya dan adik-adik akan terlantar. Bapak senang karena emosi sudah tersalurkan. Tapi kami menderita seumur hidup oleh keputusan yang sepihak itu. Apa sih motivasi bapak yang sebenarnya? Saya khawatir ini karena desakan pihak III. Apakah ada wanita lain pak!
Suami : Kamu jangan kurang ajar! Kamu tidak boleh bicara begitu pada ayah kamu! Aku sudah mencoba menegakkan harga diri kita. Kamu jangan berfikir macam-macam.
Istri : Apa artinya harga diri kalau kita tidak bisa makan?
Suami : Siapa bilang kita tidak bisa makan hanya karena aku berhenti kerja? Ingat Pak Wo yang berhenti bekerja hanya karena mau dagang gamping, sekarang ia jadi juragan gamping terkaya dikampungnya. Aku yakin dan berjanji segera cari pekerjaan baru, aku percaya setiap orang memiliki rejeki. Aku tahu langkah yang berani itu menimbulkan resiko yang berat. Itu normal. Aku bisa tukar pekerjaan. Dengan pengalaman itu aku akan mendapatkan tempat kerja yang lebih mentolerir haraga dirikuy. Harga diri kita semua. Kita tidak perlu ikuti memikul dosa konglomerat.
Anak : memikul dosa bagaimana pak?
Suami : yang paling menyebabkan aku ingin berhenti, adalah karena kantorku orang-orangnya sudah bobrok, bukan hanya merampok uang masyarakat tapi juga uang Negara. Aku tak mau keluarga bergantung hidup dari perusahaan yang penuh dosa. Daripada jadi kaki tangan koruptor lebih baik aku tidak makan kalau perlu mati kelaparan. Aku berhenti karena panggilan hati nurani untuk menyelamatkan kehormatan keluarga.
Istri : Tapi kenapa harus mas yang berhenti, toh bukan mas yang korupsi?
Suami : Karena aku cinta kalian. Aku tidak mau melacurkan diriku berlarut-larut di kantor yang penuh keserakahan dan penindasan. Lebih baik tetap jadi orang kecil daripada seumur hidup dosa.
Istri : Aku tetap tidak mengerti jalan berfikirmu, mas
Suami : Keputusanku sudah bulat aku berhenti.
Istri : Tidak bisa! Kamu tidak boleh berhenti. (marah, membanting kursi lalu masuk kedalam kamar. Mulai terdengar isak tangis)
Diikuti dengan anak masuk kedalam tanpa peduli sama bapak, suami diam sejenak lalu keluar rumah. Suasana sunyi musik sedih.


ADEGAN II
Istri masuk kedalam ruangan diam, membetulkan kursi yang berantakan, duduk terdiam. Suami masuk mendekati Istri.
Suami : Aku minta maaf, sebenarnya aku tidak pernah mengajukan surat berhenti. Aku dipecat.
Istri : Aku tahu mas,…aku tahu. (sambil mengengam tangan suami)
SELESAI

naskah drama "MENCARI KEADILAN"

MENCARI KEADILAN KARYA BERTOLT BRECHT
TERJEMAHAN W.S RENDRA
Tokoh-Tokoh:
Hakim A
Inspektur
Jaksa
Pengawal
Babu
Hakim B

Bulan Januari yang berkabut. Nampak dari jendela suasana udara pagi yang murung. Lampu gas yang bundar masih menyala. Hakim A memakai jubahnya. Pintu diketuk orang
Hakim A : Ya, masuk (inspektur polisi masuk)
Inspektur : Selamat pgi, Yang Mulia
Hakim A : Selamat pagi Herr Tallinger. Saya minta anda dating karena saya ingin menanyakan soal Gold Schimt, Kellner dan Gaunitser. Saya mengaku bahwa persoalan ini tidak jelas bagi saya. (isnpektur tidak menjawab) menilik gawatnya persoalan dan huru-hara yang timbul akibat peristiwa ini maka tentunya pihak S.A telah mengadakan penyelidikan bukan? (inspektur mengangkat bahu) Inspektur Tallinger, saya akan merasa berterima kasih seandainya anda mau memberikan kesimpulan mengenai peristiwa ini sebelum pengadilan saya buka. Itu bias anda lakukan bukan?
Inspektur : (berbicara seperti mesin) Pada tahun yang lalu, pada tanggal 2 Desember pada jam 08.15 di waktu pagi hari, tiga orang anggota S.A, Schimt, Kellner dan Gaunitser, menyerang masuk kedalam toko perhiasan Khun di jalan Fredrik, bertukar jawab beberapa kata, dan melukai Khun, yang berumur lima puluh empat tahun, di bagian belakang kepalanya. Peristiwa ini juga bencana materiil seharga kira-kira 11.000 Mark. Penyelidikan polisis yang dikerjakan pada tanggal 7 Desember, pada tahun yang lalu membuktikan bahwa….
Hakim A : Tallinger yang terhormat, semua itu telah tertulis dalam laporan ini. (dengan jengkel ia menunjukkan pada laporan yang Cuma terdiri dari selembar kertsa folio). Seumur hidup saya belum pernah melihat laporan yang sesingkat dan seceroboh ini. Dan tidak lagi ada embel-embel lagi yang diajukan kepada saya ini. Baiklah, jadi semuanya sudah tertulis disitu. Saya harap bahwa anda rela menjelaskan latar belakang dari persoalan ini.
Inspektur : Tentu saja Yang Mulia
Hakim A : Nah?
Inspektur : Latar belakangnya tidak ada Yang Mulia
Hakim A : Tallinger, apakah anda akan menegaskan bahwa masalah ini tampak komplek?
Inspektur : Tentu saja komplek Yang Mulia
Hakim A : Dikatakan disini bahwa beberapa perhiasan telah lengyap selama insiden itu. Apakah semuanya telah diketemukan kembali?
Inspektur : Setahu saya belum (Hakim A melotot, memandang inspektur) Saya punya keluarga Yang Mulia
Hakim A : Saya juga punya Tallinger
Inspektur : Ya (pause sebentar) Yang Mulia tahu, Khun adalah seorang Yahudi
Hakim A : Sebagai Nampak dari namanya
Inspektur : Benar. Dan ada desas-desus tersebar di daerah itu. Mengenai seseorang yang terlibat didalamnya
Hakim A : Aha, siapa tersangkut dalam masalah ini?
Inspektur : Anak perempuan Khun 19 tahun kabarnya cantik
Hakim A : Apakah masalah ini sudah dibereskan secara damai?
Inspektur : BOleh dikatakan tidak. Desas-desus itu kemudian hilang lagi
Hakim A : Lalu siapa biang keladi desas-desus itu?
Inspektur : Pemilik gedung. Seorang yang bernama Herr Von Niel
Hakim A : Ia ingin Yahudi itu keluar dari gedungnya? Memindahkan tokonya?
Inspektur : Begitulah tafsiran kami. Tetapi kemudian nyatanya ia tetap nongkrong disitu
Hakim A : Tetapi bagamanapun ini menjelaskan pertanyaan kenapa anda semacam antipasti terhadap Khun di daerah itu bukan? Dan ketiga anak muda itu bertindak semata-mata gairah patriotisme
Inspektur : (ia menjawab dengan tegas) Saya kira tidak begitu Yang Mulia
Hakim A : Tidak bagaimana?
Inspektur : Saya kira Schmit, Kellner dan Gaunitser tidak akan menghebohkan soal kecemasan ras itu.
Hakim A : Kenapa tidak?
Inspektur : Nama orang Aria yang terlibat tidak pernah disebutkan dalam laporan, siapa orangnya yang bias tahu? Ia bias saja ambil setiap orang Aria bukan? Dan dimana bias ditemukan, di dalam lautan atau di atas langit yang kosong? Dengan pendek S.A tidak mau membicarakan peristiwa itu.
Hakim A : (kesal) Jadi kenapa anda ceritakan semua ini padaku?
Inspektur : Sebab anda tadi berkata bahwa anda punya keluarga. Jadi janganlah anda membicarakan hal yang tidak bias dibicarakan itu lagi. Bagamana pun beberapa saksi sudah disiapkan
Hakim A : Saya tahu, tetapi di luar itu saya tidak tahu apa-apa
Inspektur : Yang Mulia, antara kita berdua, makin sedikit anda tahu makin baik bagi anda
Hakim A : Enak saja ngomong. Tapi sayalah orangnya yang harus menyusun keputusan. Nah ya, kemungkinan lain yang tinggal ialah bahwa Khun-lah yang memulai memancing pertengkaran dengan tiga orang S.A itu. Lain dari ini tidak ada lagi cara untuk menerangkan insiden itu
Inspektur : Begitulah juga isi pikiran saya Yang Mulia
Hakim A : Dalam hal ini bagaimana caranya. Khun memancing pertengkaran?
Inspektur : Menurut keterangan mereka sendiri, mereka dipancing bertengkar oleh Khun dan seorang penggangur yang menyusup untuk Khun. Rupa-rupanya ketiga orang itu sedang berangkat untuk minum ke Bar ketika melewati tokonya Khun. Tiba-tiba Wagner, penggangur itu dan Khun sendiri mulai mengejar mereka
Hakim A : Tetapi tentu saja saksinya tidak ada
Inspektur : Ada. Pemilik gedung. Yang namanya Herr Von Niel itu, menyatakan bahwa ia melihat Wagner memancing-mancing pertengkaran dengan orang-orang S.A itu. Ia melihat lewat jendela. Dan partnernya Khun namanya Herr Stau mengunjungi markas S.A pada siang itu juga. Dan dimuka Schmit, Kellner dan Gaunitser mengakui bahwa Khun selalu ngomong jijik tentang S.A
Hakim A : Jadi Khun mempunyai seorang partner orang Aria?
Inspektur : Jelas. Apakah anda sangka ia akan memilih seorang Yahudi untuk partnernya?
Hakim A : Maka partnernya tidak akan mungkin membuat pernyataan yang merugikan bukan?
Inspektur : (dengan licik) Belum tentu
Hakim A : (jengkel) Aku kurang mengerti. Sudah jelas toko itu tidak akan bias menuntut kerugian apabila terbukti bahwa Khun memancing pertengkaran terhadap Schmit, Kellner dan Gaunitser
Inspektur : Bagaimana anda, kalau Stau partnernya tertarik untuk minta ganti kerugian?
Hakim A : Aku tidak mengerti. Bukannya ia partnernya?
Inspektur : Jelas. (Hakim A pusing) Kami sudah mengetahui bahwa Stau bias keluar masuk markas besar S.A tidak secara resmi dan terbuka, maksud saya, tetapi dari pintu belakang dan mungkin karena itu pula sebabnya maka Khun memilihnya sebagai partner. Pada suatu kali Stau pernah terlibat pada suatu affair yang aneh. Pasukan S.A pernah menculik seseorang yang kemudian keliru. Maksud saya salah orangnya, dan agak sulit membereskan persoalan itu. Tentu saja maksud saya bukan untuk gegabah, menyatakan Stau sendiri di dalam masalah ini akan juga… Bagaimanapun Yang Mulia harus berhati-hati terhadapnya. Yang Mulia baru saja mengatakan bahwa Yang Mulia punya keluarga, jadi saya percaya Yang Mulia bias merahasiakan notabene ini.
Hakim A : (geleng kepala) Apa yang tidak bias saya lihat dengan jelas ini, bagaimana Herr Stau bias meras beruntung apabila toko itu kehilangan 11.000 Mark?
Inspektur : Ya, perhiasan-perhiasan itu sudah terang tidak bias kembali lagi. Hilang. Maksud saya kita tidak bias menemukannya pada Schmit, Kellner dan Gaunitser. Dan mereka juga tidak pernah kedapatan menjual barang-barang itu.
Hakim A : Oo, begitu.
Inspektur : Tentu saja Stau tidak bias diharapkan untuk tetap menjadikan Khun sebagai partnernya setelah ternyat Khun bersalah memancing pertengkaran terhadap anggota S.A, sedangkan tentang kerugian karena telah ada barang yang hilang sebagai akibat peringatan tersebut, maka Khun harus mempertanggungjawabkan kepada Stau. Apakah sekarang jelas?
Hakim A : Tentu saja semuanya sudah jelas sekarang (dengan penuh pikiran ia memandang inspektur, sesaat inspektur langsung memandang ke depan, resmi tanpa ekspresi) Ya, dan dari kesimpulannya akan menjadi begini: Khun memancing keributan terhadap anggota enggg.. Ketiga anggota S.A. nyatalah ia tidak disukai dimana-mana. Engkau sendiri telah mengatakan kepada saya bagaimana ia membuat perasaan pemilik gedung menjadi kikuk karena skandal yang telah terjadi sebagai akibat perbuatan anak perempuannya. Ya, ya saya tahu affair ini tidak pantas untuk dibicarakan tetapi sudah jelas bahwa pemilik gedung itu tentu akan gembira kalau melihat bahwa sebentar lagi aka nada orang yang akan pindah dari gedungnya. Banyak terima kasih Tallinger, anda telah banyak membantu saya (Hakim A menyalami inspektur, inspektur pergi, keluar. Di ambang pintu ia berpapasan dengan Jaksa yang baru saja masuk kedalam ruangan itu)
Jaksa : (kepada Hakim A) Bolehkah saya bicara sebentar?
Hakim A : (sambil makan apel) Anda, boleh
Jaksa : Mengenai soal Schmit, Killner dan Gaunitser
Hakim A : (sebentar mengunyah) Ya
Jaksa : Perkara ini kelihatannya lurus tanpa kompleks, tetapi…
Hakim A : Ya terus terang saja saya tidak mengerti kenapa kantor anda mengadakn pemeriksaan pendahuluan
Jaksa : Apa salahnya? Perkara ini menghebohkan orang-orang bayak. Bahkan anggota-anggota partai membuat agar diadakan penyelidikan
Hakim A : Saya melihatnya tidak lebih sebagai tindakan lancing dari seorang Yahudi. Lain tidak
Jaksa : Nonsene Yang Mulia. Kesimpulan tuduhan kami mungkin kedengarannya terlalu dramatis, tetapi percayalah, bahwa perhatian yang serius pantas diberikan. Janganlah anda naïf. Anda harus belajar berpandangan yang jauh. Dan hati-hatilah jangan membuat kesalahan atau tiba-tiba saja dengan tidak terduga anda bias dibuang menjadi koki di distrik yang terpencil
Hakim A : (kaget, agak lemes, dan berhenti makan apel) Saya tidak mengerti. Anda toh mungkin berminat meloloskan Khun si Yahudi itu dari hukuman
Jaksa : (dengan harga diri) Bagaimana kalau saya memang bermaksud begitu? Tidak benar bahwa Khun telah memancing pertengkaran. Apakah anda berpendapat bahwa Khun tidak mungkin mendapatkan keadilan didalam pemerintahan Reich ke-III semata-mata hanya ia seorang Yahudi? Aneh sekali rencana pemikiran itu
Hakim A : (jengkel) Saya tidak punya pikiran apa-apa, saya semata-mata hanya berpendapat bahwa Schmit, Killner dan Gaunitser melakukan perbuatan itu karena memang dipancing?
Jaksa : Mereka bukannya dipancing Khun, tetapi oleh penggangur yang bernama…Wagner
Hakim A : Spitz! Didalam laporan tuduhan anda tidak ada hal itu disebutkan
Jaksa : Tentu saja tidak. Apa yang kami dengar hanyalah orang S.A menyerang Khun dan lalu kami mengakhiri persoalan itu, karena itu tugas kami. Tetapi bila seandainya saksi Von Niel berkata didalam pengadilan nanti bahwa Khun tidak memancing pertengakaran, bahwa tidak selama keributan itu, tapi sebaliknya justru si penganggur inilah, si Wagner yang agresif melancarkan makian, maka mau tidak mau kita harus mempertanggungjawabkan hal itu.
Hakim A : Jadi Von Niel akan membuat pernyataan semacam itu? Tetapi bukankah ia pemilik gedung. Dan ia ingin kita membuat pernyataan yang menguntungkan Khun
Jaksa : Astaga kenapa anda berfikir seperti itu terhadap Von Niel? Bukankah ia harus mengatakan kebenaran dibawah sumpah. Mungkin anda tidak tahu bahwa Von Niel adalah intelijen dari S.A kecuali itu mempunyai koneksi yang besar artinya didalam kementerian kehakiman. Aku nasehatkan pada Yang Mulia supaya lebih menghargai Herr Von Niel. Ia mungkin tidak bersalah
Hakim A : Say kira saya cukup menghargainya. Dewasa ini orang juga tetap menghargai orang yang menolak orang Yahudi untuk tinggal didalam gedungnya
Jaksa : Saya kira asal Khun masih tetap membayar uang sewa…
Hakim A : Baru saja saya diberitahu bahwa suatu kali Herr Von Niel member informasi yang tidak baik tentang diri Khun dan putrinya ialah…
Jaksa : Jadi Yang Mulia sudah tahu akan hal itu. Tetapi bukankah anda keliru kalau menyangka bahwa Von Niel ingin mengusr Khun dari gedungnya? Sebab ternyata kemudian ia mencabut kembali informasinya itu. Bukankah lebih tepat bila kita menyangka bahwa akhirnya akhirnya mereka telah menemukan kata sepakat yang paling menguntungkan? Yang Mulia jangnlah begitu naifi
Hakim A : (betul-betul jengkel) Herr Spitz! Persoalan ini tidak gampang, partnernya sendiri yang semula kuduga akan melindunginya malah akan menuntutnya. Dan pemilik gedung itu yang semula kuduga akan mennuntutnya malah melindunginya. Ini tidak gampang, tapi toh kita harus sampai pada satu kesimpulan
Jaksa : Untuk itulah kita digaji
Hakim A : Konyol! Suka Havana? (jaksa mengambil Havana dan keduanya merokok, termenung-menung, akhirnya Hakim meneruskan perkataannya dengan pelan) Tetapi seandainya Khun dibebaskan dari segala kesalahan dimata pengadilan nanti akan segera ia bias menuntut ganti kerugian kepada pasukn S.A
Jaksa : Tidak mungkin orang berani menuntut S.A Paling-paling ia nanti akan menuntut Schmit, Kelliner dan Gaunitser yang tidak mempunyai uang sepeser pun. Nah itu si em…siapa namanya? Wagner! (dengan tekanan) setiap orang harus berfikir dua kali sebelum menuntut S.A
Hakim A : Dimana Khun dewasa ini?
Jaksa : Di Rumah Sakit
Hakim A : Dan wagner?
Jaksa : Di Kamp Konsentrasi
Hakim A : (sedikit agak lega) Yah, yah. Menilik keadaannya benar juga bahwa Khun tidak berani menuntut S.A. dan Wagner tidak akan banyak cerewet untuk membela namanya. Tapi orang-orang S.A pasti tidak akan merasa puas apabila mereka melihat ada orang Yahudi yang bias lolos dari hukuman pengadilan
Jaksa : Tetapi pengadilan harus menegaskan bahwa ketiga orang S.A itu telah dipancing untuk bertengkar. Tidak begitu penting bagi mereka, apakah si pemancing itu adalah orang Yahudi atau Komunis
Hakim A : (masih ragu-ragu) Ah itu tidak benar. Betapapun selama pertengkaran antara Wagner dengan orang-orang S.A toko perhiasan itu rusak dan beberapa intan telah hilang. jadi banyak sedikitnya S.A terlibat dalam masalah ini
Jaksa : Yah, anda toh tidak bias memuaskan segala pihak. Tetapi saya percaya bahwa perasaan patriotic anda pasti bias member bimbingan siapa yang harus dibela haknya. Dan saya menekankan satu hal, saya dinasehatkan dan nasehat ini dating dari kalangan tinggi didalam S.A bahwa dewasa ini Negara lebih membutuhkan dukungan para hakim
Hakim A : (menarik napas panjang, mengeluh) Saya bingung. Sangat sukar untuk tahu dengan pasti mana keadilan yang dikehendaki, bukan Splitz? Anda harus mengetahui hal ini.
Jaksa : Tentu saja. Tetapi, Menteri Kehakiman kita telah mengutarakan satu ucapan yang brilian yang barangkali bias dipakai sebagai pedoman. “Apa saja yang bergema bagi rakyat Jerman itulah yang disebut keadilan”
Hakim A : (Tanpa perasaan) Ya, tentu saja
Jaksa : Ucapkanlah ittu dengan sedikit gembira Tuan Hakim (ia berdiri) Wah, sekarang anda tahu latar belakangnya. Seharusnya sekarang tidak ada kesulitan apa-apa lagi. Sampai ketemu Yang Mulia. (ia meninggalkan kamar. Hakim A merasa gelisah. Ia berdiri sejenak dimuka jendela, menghisap cerutu lalu pergi ke meja, membolak-balik laporan-laporan dengan pikiran yang melayang ke soal yang lain. Akhirnya ia membunyikan bel. Seorang pengawal masuk)
Hakim A : Panggilkan Inspektur Tallinger. Ia berada di kamar saksi. Jagalah jangan sampai menarik perhatian orang. (pengawal pergi, kemudian inspektur masuk) Tallinger, untung saja tidak meneruskan nasehatmu sebagai provokasi dari pihak Khun. Saya dengar bahwa Herr Von Niel bersedia memberikan kesaksian dibawah sumpah bahwa Wagnerlah yag melakukan provokasi bukannya Khun
Inspektur : (Seperti batu) Memang betul Yang Mulia
Hakim A : “memang betul” Nah apa sekarang maksudmu?
Inspektur : Bahwa memang Wagnerlah yang melakukan provokasi
Hakim A : Jadi begitulah kebenarannya?
Inspektur : Yang Mulia, kebenaran atau bukan kita tidak bisa
Hakim A : (dengan pasti) Dengarkan, Bung. Anda berdiri didalam pengadilan Jerman. Apakah Wagner mengaku salah atau tidak?
Inspektur : Yang Mulia, terus terang saja, saya tidak dating ke Kamp Konsentrasi untuk bertemu sendiri dengan Wagner. Tetapi didalam laporan Tanya jawab yang resmi dimana disebutkan bahwa Wagner sedang sakit ginjal, disstu disebutkan bahwa ia telah mengaku bersalah, hanya saja…
Hakim A : Baiklah ia mengaku bersalah, tetapi apa maksudmu dengan “hanya saja” itu?
Inspektur : Wagner adalah veteran perang dunia I. ia menderita cacat karena tembakan di kepalanya dan menurut Herr Stau -ialah partner Khun- ia tidak bias bersuara keras. Maka sebenarnya tidak mungkin bahwa Von Niel yang waktu itu berada di tingkat ke II bias mendengar ia memaki-maki orang S.A itu, sebab tidak…
Hakim A : Ah, ya tentu saja satu provokasi tidak perlu dilakukan dengan suara keras. Satu gerakan tangn saja bias menimbulakan satu provokasi. Saya mendapatkan kesan bahwa pihak Kejaksanaan ingin memberikan lubang bagi S.A. ya memang begitulah tepatnya keinginan mereka.
Inspektur : Demikianlah Yang Mulia
Hakim A : Apa kata Khun
Inspektur : Khun mengatakan bahwa sama sekali ia tidak berada di toko itu dan ia luka di bagian kepalanya karena ia jatuh dari tangga. Itu saja yang bias dikatakan
Hakim A : Orang itu mungkin benar-benar tidak bersalah, tetapi secara sial terlibat dalam perkara ini
Inspektur : Yang Mulia
Hakim A : Janganlah seperti orang gial. Berhentilah berkata “Yang Mulia”!!
Inspektur : Yang Mulia
Hakim A : Apalagi maksudmu! Janganlah engkau salah tafsir Tallinger. Engkau harus sadar bahwa saya agak gelisah. Saya yakin kau cukup bias dipegang kata-katanya, tetapi etika kau member nasehat itu kepadaku, apa sebenarnya maksudmu?
Inspektur : Apak anda tidak pernah berfikir bahwa mungkin jaksa itu menginginkan jabatan anda sekarang? Dan karenanya ia member jalan yang keliru kepada anda, hal semacam itu sudah biasa di jaman sekarang. Yahudi itu tidak bersalah. Bahwa ia tidak pernah memberikan provokasi untuk bertengkar, bahkan waktu itu ia tidak berada di tempat pertengkarn itu. Dan mendapatkan luka dikepalanya lantaran tidak sengaja. Maka lalu ia kemudian kembali ketokonya. Herr Stau tidak bias menghalang-halangi dan toko itu sudah menderita kerugian 11.000 Mark. Sekarang Herr Stau, sebagai partnernya, karena tidak bias menuntut kalau ia harus ikut menanggung kerugian itu, maka Stau akhirnya nanti menuntut ganti kerugian kepada S.A. ya, ia akan berbuat begitu karena saya tahu betul sifat orang ini. Tentu saja ia tidak akan berhadapan dengan orang-orang S.A seorang diri secara pribadi sebab ia sudah menjadi partner seorang Yahudi, ialah yang menuntut istilah sekarang “ia telah menjadi begundal oarng Yahudi” ….Lalu ia akan meminjam tangan, lalu akan disebutkan nanti bahwa orang-orang S.A di dalam antusiasme patriotiknya telah menyita intan-intan seharga 11.000 Mark. Nah bias anga bayangkan nanti bagaimana orang-orang S.A akan menerima akibat keputusan anda nanti. Khayalak ramai juga tidak bias menerima keputusan seperti itu. Sebab di dalam Reight III, bagaimana mungkin seorang Yahudi menyalahkan S.A (terdengar huru-hara di belakang panggung, makin lama makin keras)
Hakim A : Kenapa gaduh itu? Nanti dulu Tallinger (mengebel pengawal, pengawal masuk) Apa artinya kegaduhan itu?
Pengawal : Ruang pengadilan penuh sesak. Orang-orang berdesak-desakan sehingga tidak ada jalan masuk lagi. Tapi tiba-tiba datanglah orang-orang S.A, mereka mendesak minta jalan masuk. Mereka bilang, mereka diperintahkan pemimpinnya untuk hadir dalam siding pengadilan ini. (pengawal pergi, Hakim A kelihatan ketakutan)
Inspektur : Hati-hatilah sekarng. Nampaknya tekanan dari pihak S.A terhadap anda cukup nyata. Dengan sangat saya nasehatkan pada anda, titik beratkanlah semuanya pada Khun. Janganlah berani mengusik-usik S.A
Hakim A : (tertunduk, putus asa, ia pegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ia ampak lelah) Baiklah Tallinger semuanya akan saya pikirkan
Inspektur : Benar, pikirkanlah baik-baik Yang Mulia (ia pergi keluar, hakim A dengan susah payah berdiri dan membunyikan bel dengan gaduh, pengawal masuk) Panggilkan Hakim Basserman. Dengan hiormat saya mengharapkan kedatangannya sebentar saja. (pengawal keluar, Babu masuk membawa kantong makanan siang)
Babu I : Jangan jadi linglung Yang Mulia. Sungguh kelewatan, lihatlah, apa yang tuan lupakan hari ini. Tuan lupa membawa makan siang tuan, lalu nanti tuan harus membeli asal roti saja dan akhirnya tuan akan sakit perut lagi seperti seminggu yang lalu. Ini menunjukkan bahwa anda kurang memelihara diri
Hakim A : Baik, baik Flora
Babu I : Say hampir-hampir tidak bias masuk. Seluruh gedung penuh dengan orang-orang S.A yang akan menyaksikan perkara ini. Tetapi sekarang orang-orang S.A yang sombong itu akan mendapatkan ganjarannya, bukan? Orang-orang itu galak dan tidak punya perikemanusiaan. Sungguh orang-orang S.A akan menginjak Jerman. Di toko-toko daging orang-orang berkat “ untunglah masih ada keadilan didunia” Sungguh tidak bias dibenarkan bahwa mereka memukul seorang pedagang seenaknyasaja, dan beramai-ramai pula. Biarpun seorang Yahudi tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dan bayangkanlah cara mereka merampok perhiasan-perhiasan itu. Seenaknya saja. Seakan-akan semuanya itu barang-barang mereka sendiri. Seluruh orang tahu bahwa separuh anggota S.A adalah anggota bekas criminal, seandainya tidak ada hakim dan pengadilan lagi, bahkan cathedral pasti akan mereka rampok
Babu II : Barangkali memukuli orang sekedar untuk merampok perhiasan. Salah satu dari mereka yang bernama Schmit dan kawin dengan seorang gadis yang enam bulan yang lalu berkeliaran di jalan menawarkan dirinya. Dan mereka juga menyerang Wagner, pekerja kasar itu, selagi ia menyekop salju di jalan. Semua orang melihatnya. Merak terang-terangan mengerjakannya. Seluruh distrik telah diteror oleh mereka. Dan apabila seseorang berani mengatakan sesuatu, maka ia dipukuli oleh mereka, ia pasti tidak akan bias bangun kembali untuk selama-lamanya
Hakim A : Baiklah, Flora, baiklah. Sekarang pergilah
Babu V : Ditoko daging tadi, dihadapan orang banyak saya telah berkata “Hakim Richter akan member perhitungan pada mereka, mereka akan tahu betul watak tuanku. Dengan seluruh jiwa raganya ia mengabdi undang-undang. Bukankah benar kata-kata saya, Yang Mulia? Semua orang yang terhormat di pihak anda. Janganlah khawatir apapun. Hanya ingatlah, jangan makan terlalu cepat, kunyahlah pelan-pelan. Itu baik untuk kesehatan anda. Sekarang saya harus pergi. Saya tidak akan mengganggu anda, tuan. Tuan akan segera akan menghadapi perkara sulit, tapi janganlah kehilangan kesabran dan tetap harus makan pelan-pelan. Palin-paling toh hanya akan memakan waktu dua atau tiga menit, dan itu tidak akan membuat perbedaan apa-apa. Tetapi sekali-sekali janganlah makan dengan urat syaraf gelisah. Nah jaglah diri baik-baik! Kesehatan adalah pangkal kebahagiaan. Sekarang saya pergi. Saya lihat tuan sudah gelisah untuk segera membuat pernyataan dengan orang-orang S.A itu dan saya harus segera berbelanja (babu pergi, Hakim B yang lebih tua dari Hakim A masuk)
Hakim B : Ada apa Richter?
Hakim A : Basserman, saya ingin bicara sebentar denganmu. Sebentar saja, siang ini saya menhadapi satu perkara yang gawat
Hakim B : (duduk) Ya, perkara dengan S.A
Hakim A : (kaget) Siapa yang menceritakan padamu?
Hakim B : Masalah itu dibacarakan dengan hangat di kementrian Kehakiman. Memang gawat (Hakim A mulai berjalan hilir mudik)
Hakim A : Apa kata mereka disana?
Hakim B : Mereka kasihan padamu (menyelaam menyelidik) Apa yang akan kau lakukan sekarang?
Hakim A : Saya tidak tahu. Tambahan pula saya tidak menyangka bahwa perkara ini menjadi perhatian umum
Hakim B : (merasa aneh) Oh, ya?
Hakim A : Ada orang mengatakan Herr Stau -partner Khun itu- agak berbahaya
Hakim B : Memang benar. Tetapi Von Niel, pemilik gedung itu juga bukan orang pengalah
Hakim A : Apa saja yang diketahui tentang dia?
Hakim B : Cukup banyak. Ia punya relasi-relasi penting (keterangan yang tegang)
Hakim A : Relasi penting dikalangan tinggi?
Hakim B : Dikalangan tinggi (pause tegang lagi) (dengan taktis) Apabila kau bebaskan Yahudi itu dank au bebaskan pula Schmit, Kelliner dan Gaunitser dengan alas an mereka dipancing bertengkar dengan Wagner, bukankah orang-orang S.A akan cukup puas? Batapapun juga Yahudi itu tidak akan berani menuntut kerugian kepada S.A untuk barang-barangnya yang hilang
Hakim A : (tegang) Engkau lupa bahwa Yahudi itu punya partner. Ia akan berani menuntut S.A dan lalu akhirnya nanti seluruh pimpinan markas akan menerkam pundakku
Hakim B : (argumentasi itu agak membuat ia terdiam dan berfikir sejenak) Dan apabila kau hanya membebaskan Yahudi itu semata-mata tanpa memberinya hak untuk menuntut ganti kerugian, Von Niel pasti marah-marah. Mungkin kau tidak tahu betapa banyaknya utang Von Niel di bank? Yahudi itulah satu-satunya orang yang bias menolongnya
Hakim A : (kaget) Utang di bank? (ada ketokan dipintu)
Hakim B : Masuk!
Pengawal : (masuk) Yang Mulia, saya betul-betul terdesak keadaan. Semua kursi sudah ditempati. Tiba-tiba Jaksa Agung dan Presiden Pengadilan daerah dating, mereka harus mendapat tempat duduk. Bagaimana akan mengatasinya? (Hakim A pusing)
Hakim B : (bertindak dingin) Sediakan 2 kursi. Tutup mulutmu dan jangan ganggu. Keluar! (pengawal pergi)
Hakim A : Itulah kartu S.A terakhir
Hakim B : Von Nier takkan mungkin membiarkan Khun hancur. Ia sangat membutuhkannya
Hakim A : Untuk dijadikan sapi perahan?
Hakim B : Say tidak berkata begitu. Janganlah engkau menyangka yang tidak-tidak tentang saya. Kata-kata semacam itu terlampau keras untuk diucapkan Herr Von Niel. Ini penting, saya tidak mau disaangka pernah mengucapkan kata-kata jijik tentang Von Niel. Sungguh tidak enak untuk secara langsung menuduh Von Niel perlu sapi perahan
Hakim A : Janganlah main gampang tersinggung. Ingatlah akan hhubungan kita
Hakim B : Apa yang kau maksud dengan “hubungan kita”? saya tidak bias mencampuri perkaramu. Apakah engkau akan memihak Menteri Kehakiman atau orang-orang S.A. itu urusanmu sendiri. Di jaman sekarang ini orang harus mengurusi diri sendiri
Hakim A : Kau piker apa yang tengah kita bicarakan? Aku tengah mengurus diriku sendiri. Tapi aku tidak tahu jalan mana yang harus ku tempuh (suara hiruk pikuk dari luar, hakim mendengar dengan tertegun)
Hakim B : Nasib sial!
Hakim A : Ya, Tuhan. Kau harus mengerti Basserman, aku mau berbuat apa saja. Katakanlah apa yang harus ku perbuat? Nampaknya engkau telah jauh sekali berubah. Aku akan berbuat apa saja yang mereka kehendaki, tetapi aku mesti di beri tahu apa sebenarnya yang mereka mau? Kalau begini keadaannya, ini artinya tak ada lagi keadilan.
Hakim B : Kalau saya jadi kamu, saya akan berteriak tak ada lagi keadilan.
Hakim A : Ya, Tuhan. Saya salah lidah. Bukan itu maksud saya, saya bermaksud untuk mengatakan bahwa…….apabila ada kontradiksi semacam ini……
Hakim B : Kita harus menganggap diri kita “saudara sesama manusia”
Hakim A : Ya, tentu saja. Saya tidak pernah mengatakan sesuatu yang berbeda tentang itu. Saya harap janganlah terlalu mempertimbangkan setiap perkataan yang saya ucapkan.
Hakim B : Mengapa tidak? Saya seorang hakim.
Hakim A : (Berkeringat) Sahabatku Basserman, apabila kita harus mempertimbangkan setiap ucapan dari seorang hakim, maka…… Saya bersedia memeriksa perkara ini dengan sungguh-sungguh dan teliti dan keras, tetapi saya harus di beri tahu keputusan yang manakah yang dikehendaki oleh pihak kalangan tinggi. Apabila saya biarkan Yahudi itu bebas, maka pemilik gedung akan marah….ah, bukan pemilik gedung, maksud saya partnernya….. Aduh saya benar-benar pusing dan bingung. Dan apabila pekerja kasar ittu menjadi sebab provokasi, maka pemilik gedung itu – siapa namanya? Von Niel tentu ingin…. Saya tak mau kehilangan jabatan saya yang sekarang, saya tak mau dipindah ke desa kecil. Jantung saya lemah sekali. Dan saya tak ingin bermusuhan dengan orang-orang S.A. ingatlah saya punya keluarga, sangat gampang bagi istri saya untuk menasehatkan agar supaya saya secara jujur mengadili perkara, tapi tahu-tahu saya nanti ada di rumah sakit. Haruskah sekalian ini saya menekankan pada pertengkaran atau provokasi? Apakah sebenarnya yang mereka inginkan dari saya? tentu saja saya tidaka akan menjatuhkan kesalahan-kesalahan pada orang S.A, tetapi harus kupilih apakah Yahudi itu, ataukah pekerja kasar itu? Yang mana? Bagaimana saya bias memilih antara pekerja kasar itu dan orang Yahudi itu? Bagaimanapun saya tidak mau dipindahkan ke sebuah distrik kecil. Ini tidak bias dipersoalkan lagi. Saya lebih suka di Kamp Konsentrasi. Janganlah memandang saya bersedia melakukan nasehat apapun juga asal jelas..
Hakim B : Sekedar bersedia saja tidak cukup sobat (ia berdiri)
Hakim A : Lantas bagaimana yang seharusnya?
Hakim B : Pad umumnya hati nurani hakim akan membimbingnya, ingatlah itu. Selamat tinggal
Hakim A : Ya, tentu saja! “keputusan diambil berdasarkan pengetahuannya dan hati nuraninya” Tetapi soalnya sekarang apa yang harus kupilih? Apa Basserman? Katakanlah! Apa? (sementara itu Hakim B meninggalkan ruang. Hakim A menurutkannya dengan pandangan matanya, diam, termangu, telpon bordering, mengangkat telpon) Ya, Emi? Mereka tidak bias dating kesana? Kepesta ulang tahun- Siapa yang meneleponmu? –Jaksa Senior? Dari mana dia tahu? Apa maksud saya? 0-aku harus memutuskan suatu perkara (telpon diletakkan dengan menddak. Pengawal masuk. Suara hiruk pikuk terdengar diluar)
Pengawal ; Schmit, Killner dan Gaunitser telah tiba Yang Mulia
Hakim A : (mengumpulkan kertas-kertasnya) Aku pun siap
Pengawal : Kursi wartawan telah penuh, Jaksa Senior berkata “ Kursi Hakim harus tetap kosong, jangan sampai salah ditempat penonton, supaya hakim tidak terpaksa harus mengadili dengan berdiri di lantai” :
Hakim A : Betapapun aku tidak akan menghinakan diri semacam itu
Pengawal : Marilah Yang Mulia. Dimana map Yang Mulia tadi?
Hakim A : (sangat bingung) Ya, itulah yang saya mau. Tanpa laporan-laporan itu saya bias keliru nanti. Siapa sebenarnya yang tertuduh. Betul-betul ini suatu banyolan. Bagaimana nanti sikap kita kepada Jaksa Senior?
Pengawal : Astaga! Yang Mulia keliru, itu bundel majalah, bukan map laporan. Nah inilah map laporan itu (ia menitipkan map laporan itu keketiak Hakim A) (dengan pikiran melayang dan menyeka keringat dari dahinya, Hakim A pergi ke kamar)
WIS MARI TENAN
***SELESAI***

naskah drama "MATAHARI 1/2 MATI"

MATAHARI 1/2 MATI
KARYA A. REGO SUBAGYO
(KOMUNITS SENI ILALANG INDONESIA/KSII)

Tokoh:
Mbok, Ibu dari lima anak
Kardi, anak pertama
Parto, anak kedua
Warti, anak ketiga
Suwaji, anak keempat
Narko, anak kelima
Hardjo, tetangga

Di sebuah desa yang sangat terpencil dan terpinggirkan dari deru dan hiruk pikuknya pembangunan, seperti terasing. Ada keluarga sederhana, keluarga petani sahaja, tidak pernah neko-neko. Tentram, damai pokoknya nyaman. Tetapi suatu ketika muncul permasalahan-permasalahan di keluarga tersebut yang mengakibatkan hubungan antar anggota keluarga menjadi tidak harmonis lagi.

SEMACAM BABAK I
Di serambi rumah
Alunan musik gambaran pedesaan lembut menyapa
Lampu mulai padam
Pulang dari sawah
Parto : Kok masih sepi, pada kemana ya? Apa belum pulang?(seperti bertanya pada diri sendiri). Sudah seminggu lebih aku sendirian menggarap sawah, akhir-akhir ini Kang Kardi jadi pemalas, pekerjaannya hanya termenung, melmun, merenung, bahkan tidak pernah bisa diajak bicara apalagi bercengkeraman. KANG Kardi selalu membisu, tak pernah mau ngomong, tak pernah mau bicara, tak pernah berkata-kata, bisu, seakan kelu dalam otaknya (terdiam). Apakah selamanya akan seperti ini bisu dan beku, mati. Aku sendiri semakin bingung, panenan yang jeblok, sedang harga untuk obat selangit apalagi untuk pupuk sudah tak masuk di akal (diam keluarkan bungkusan dari kantong, melinting tembakau lalu menyulutnya)
Narko pulang sekolah, tergopoh-gopoh menutupi mukanya
Parto : Hei Ko, Narko kesini!
Narko : Ya, Kang
Parto : Kenapa wajahmu?
Narko : E, eh tidak apa-apa Kang. Cuma aku tadi terjatuh
Parto : Terjatuh, dimana?
Narko : Di dekat pasar, Kang
Parto : Kok bisa, coba kulihat!
Narko : Iya Kang
Parto : Tapi kalau seperti ini, terjatuh ya tidak mungkin
Narko : Iya Kang (spontan)
Parto : Apa? Iya. Jadi kamu tidak jatuh, tapi dipukuli orang begitu!
Narko : Tidak kok Kang. Tidak apa-apa
Parto : Tidak, tidak apa-apa! Tidak apa-apa, kok bisa bengep kayak abis dipukuli. Kamu berantem, ya?
Narko : Eendak kok Kang
Parto : Endak apa enggak!
Narko : Enggak
Parto : Endak apa enggak!
Narko : Enggak
Parto : Endak apa enggak!
Narko : Enggak
Parto : Endak apa enggak!
Narko : Tidak kok, tidak, tapi….
Parto : Tapi, apa?
Narko : Tidak apa-apa
Parto : Sudahlah, jangan bohong, kamu kan sudah diajari tentang kejujuran, dan kamu tahu pasti apa, arti, dan maknanya. Jujur saja, tadi berantem kan?
Narko : Ya Kang habis aku tidak tahan. Aku diolok-olok, diejek, aku dibilang adiknya orang gila, adiknya orang sinting, edan. Ya, langsung tak kasih ini (menunjukkan kepalan tangan). Terus aku dikeroyok lima orang, permainannya jadi tak imbang, ya aku kalah Kang
Parto : Apa? Permainan, berkelahi kamu bilang permainan (diam berfikir). Ya ini yang sering menyebabkan kerusuhan, kekacauan, keributan dan perang disana-sini. Ya gara-gara segelintir orang yang tidak dapat menahan dan mengendalikan emosi dan nafsunya. Kamu mengerti kan!(diam). Sudah-sudah, begitu kok mau bohong. Itu, mukamu yang besem-besem biru, diapai gitu supaya tidak kentara, biar simbok tidak kaget dan tidak mikir yang macem-macem. Sudah, masuk sana, ganti baju tuh kotor semua
Narko : Ya Kang, terima kasih (keluar)
Parto : Hei, Ko…sekalian ambilkan aku air, haus nih! Satu belum kelar, belum tuntas, satu lagi menyusul bikin tambah puyeng saja (geleng-geleng kepala)
Setelah beberapa saat kemudian Kardi masuk nembang, tanpa menghiraukan adiknya.
Parto melihat seperti tidak percaya

(Wirangrong, Centhini)
Ya taw au sira nuli
Sung branta lampahnya alon
Ngambah jurang sengkang siluk-siluk
Yen tinon atrebis
Marga rumpil arampal
Pun arang kambah ing janmi

(Surajiwandana)
Sadangune, ngupaya gunung-gunung
Alas-alas, kawur sru ngongkrah-angkreh
Asayah ka, saputing dalu magyuh
Rikang tyas mepu denya ngulati we

(Maduretno)
Samarga-marga, prameswari Mandraka
Asambat-sambat, dhuh Gustiningsun aja
Atinggal munggah, maring aribawana
Entenana ing bukur pangarib-arib

Parto : Kang, apa yang sebenarnya Kang Kardi pikirkan, berhari-hari hanya diam saja. Kalau hanya diam kami, aku, simbok, dan adek-adekmu yang lainnya. Ya, tidak tahu apa yang dipikirkan Kakang. Kalau seperti itu semua juga bingung, kalau Kang Kardi bingung, jangan bikin yang lain juga bingung (diam). Mungkin Kang Kardi memikirkan hasil panen kemarin yang jeblok dan ajur-ajuran. Atau mungkin mikir simbok yang sering sakit-sakitan. A..pa Kankang memikirkan Warti yang mulai jadi seperti orang tidak waras. Seperti orang tidak waras, jadi stress, gila, edan. Tidak, Warti tidak gila (seperti tidak percaya). Warti tidak gila. Warti tidak stress, Warti tidak edan, tidak!!, Tidak!! Dia waras (merenung). Atau Kang Kardi ingin kawin, mau menikah maksudku. Menikah dengan apa, Kang. Eh, dengan apa, menikah dengan siapa maksudku, mungkin nanti kita bisa bareng-bareng ke sana untuk melamarkannya. Tapi siapa Kang. Ngomong dong (jengkel, marah, semakin tidak sabar menghadapi Kardi) Kang Kardi, ngomong dong, kalau begini terus semua akan jadi (suara meninggi, menghardik)
Narko masuk, bingung melihat apa yang sedang terjadi
Parto : Hei Kardi kau, kau…!? (emosinya memuncak, suaranya terhenti, mendatangi Kardi hendak memukul, Narto melerai)
Narko : Kang, Kang Parto eling Kang, sadar.
Parto : Heeh!!
Narko : Sudahlah Kang, itu Kang Kardi, dia kan Kakang kita. Minum dulu
Parto : Ya, aku tahu!!
Kardi meninggalkan panggung tetap dengan acuh dan membisu. Narto dan Parto tetap bingung. dan timbul pertanyaanya di benaknya ada apa dengan Kakangnya itu.
Narko : Ah!? Setan mana yang tadi dating? (bertanya pada diri sendiri)
Parto : Setan, setan gundulmu. Ada orang marah dibawa-bawa. Kamu ini!
Narko : Kang Parto tadi kan hamper terbujuk rayuan setan
Parto : Setan, setan, kamu ini seperti da’I saja. Setannya tadi lho diam saja, dia tidak berbuat apa-apa. Manusia yang berantem, setan yang jadi kambing hitam dan harus bertanggungjawab. Kasihan, kasihan kau setan.
Narko : Ya. Tapi setan tak kan pernah berhenti untuk menggoda dan membujuk manusia kan, Kang
Parto : Ya, ya (diam). Narko, Narko sekarang ini, setan itu sudah tidak ada, yang ada sekarang ya manusia itu sendiri. Manusia kan gabungan sifat baik dan sifat buruk. Sifat baik itu malaikat sedang sifat buruk itu ya setan itu tadi. Jadi jangan selalu minta pertanggungjawaban setan dari apa yang telah diperbuat manusia. Setan itu tidak ada, yang ada malaikat penguji iman. Perlu kamu ketahui bahwa manusia itu adalah gabungan malaikat dan setan. Ya sifat baik dan buruk. Seperti kamu tadi berantem, yang salah siapa? Kamu sendiri kan! Kalau bukan kamu! Siapa? Setan. Ko, kamu tahu cerita Adam dan Hawa, ketika mereka dibuang dari surga, siapa penghuni setia surge yang selalu menemani mereka ke bumi. Siapa, setan kan. Bahkan sampai sekarang dia tetap menemani manusia. Itu kalau setan masih ada seperti yang kamu katakana tadi.
Narko : Iya, ya (nyengir, malu) Kang, Kang??... Eh, Kang Parto!
Parto : Ya, ada apa?
Narko : Kang Parto tadak lapar.
Parto : Ya, lapar, Kenapa?
Narko : Aku juga lapar
Parto : Ooo itu, ayo makan!
Parto dan Narko meninggalkan panggung

BABAK II
Di dalam rumah, setelah isya’
Musik, suara-suara binatang malam
Lampu menyala

Sukardi masuk, nembang, kemudian terdiam tanpa kata-kata, merenung. Mondar-mandi
kemudian duduk di pojok
parjo dan Pak Harjo pulang dari kenduri
Hardjo : Assalamualaikum
Parto : Waalaikum salam waroh matullahi wabarokatuh, monggoh silakan masuk, Pak Hardjo. Silakan duduk
Hardjo : Eh, Nak Kardi
Sukardi menoleh, menghampiri dan menyalami tetapi tetap diam membisu. Dan kembali ke tempat semula

Parto : Pak Hardjo jangan kaget. Dia sudah seminggu lebih seperti itu. Puasa tidak ngomong. Entahlah Pak, apa yang dia pikirkan. Mungkin dia sekarang lagi berandai-andai
Hardjo : Puasa tidak ngomong?
Parto : Ya, Puasa tidak ngomong. Entahlah Pak, apa yang dia pikirkan. Mungkin dia sekarang lagi berandai-andai
Hardjo : Berandai-andai??
Parto : Ya
Hardjo : Tentang apa
Parto : Tak tahulah, Pak
Hardjo : Sepertinya masalah yang dipikirkannya berat
Parto : Ya, (jeda) mungkin
Hardjo : Ehm, iya ya
Parto : Aku sendiri bingung menghadapinya. Diajak ngomong diam, noleh sebentar terus pergi. Cuma begitu tiap hari
Hardjo : Mungkin dia sekarang lagi mikir
Parto : Mungkin Pak. Mungkin dia sekarang sedang membayangkan sedang jadi presiden. Yang sedang memikirkan bangsa dan Negara yang gonjang-ganjing ini, mau diapakan Negara ini. Dibawa ke masa depan yang semakin bubrah, atau dibawa ke masa 2000 tahun yang lalu, damai, tentram, aman tidak seperti sekarang ini, atau (diam), tidak tahulah Pak, semuanya serba tertutup dan tidak jelas
Mbok Suminah masuk, membawa baki dan minuman

Mbok : Selamat malam Pak Hardjo
Hardjo : Malam, ngomong-ngomong Warti mana?
Mbok : Ada pak, di dapur, tadi membantu bikin kopi
Hardjo : Bagaimana keadaannya
Mbok : Ya, begitulah Pak (menunduk, malu)
Hardjo : Sepertinya aku lama sekali tidak ketemu Warti.
Mbok : Saya panggilkan (keluar)
Hardjo : Nak Parto
Parto : Ya, Pak
Hardjo : Apa besok Nak Parto bisa membantu saya?
Parto : Ada apa, Pak
Hardjo : Itu, bikin bedengan untuk persiapan nanem cabai. Bibitnya sudah waktunya dipindah
Mbok Suminah dan Suwarti masuk

Hardjo : Warti sini-sini nduk, sini (mengambil sesuatu dari saku dan diberikan kepada Warti)
Warti : He-eh
Suwarti senang dan dimain-mainkan pemberian dari Pak Hardjo
Parto : Pak Hardjo
Hardjo : Eh ya
Parto : Besok, sendiri atau butuh tenaga lagi
Hardjo : Sebenarnya butuh lagi, tapi tidak ada yang nganggur
Parto : Kalau masih perlu, mungkin Suwaji bisa Pak
Hardjo : Apa dia tidak di proyek
Parto : Tidak, Pak. Sudah dua hari di rumah
Hardjo : Memangnya kenapa
Parto : Katanya, bahan-bahan bangunannya telat
Hardjo : Kebetulan sekali
Parto : Kalau begitu saya Tanya dulu. Ji, Waji!
Suwaji keluar

Suwaji : Dalem! Ada apa KAng
Parto : Besok pagi bias nggak ikut kerja di Pak Hardjo
Suwaji : Besok pagi?
Parto : Ya
Suwaji : Bisa, Kang
Hardjo : Bisa
Parto : Bisa, bias Pak. Di sawah yang mana Pak?
Hardjo : Di sebelah utara sawahnya Pak Khamid. Langsung ke sana saja, besok
Parto : Ya, Pak
Hardjo : Kalau begitu, bapak pamit dulu. Warti aku pulang dulu. Jangan bikin bingung lagi
Mbok : Terima kasih, telah singgah di gubuk kami
Hardjo : Wassalamualaikum (keluar)
Semua yang ada di panggung kompak menjawab (waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh), kecuali Kardi dan Warti. Kardi tetap acuh, keluar

Mbok : Sudah malam, istirahat
Mbok Suminah dan Suwarti keluar

Parto : Ji, besok bangunkan aku
Suwaji : Ya, Kang. Eh Kang Parto, pintunya dikunci aku tidur di suraunya Pak Haji Khamid (keluar)
Pparto : Ya, hati-hati (keluar)
Lampu redup

BABAK III
Di dalam rumah, pagi hari
Music mengalun
Lampu menyala, terang
Warti masuk, cenggar-cenggir sendiri, bicara sendiri, asyik dalam dunianya sendiri, menyanyi dan menari,
menangis, tertawa, dan menggerutu sendiri
Mbok Suminah masuk

Mbok : Ti, sudah sarapan
Warti : Eeh
Mbok : Nduk ambilkan keranjang
Warti : He, apa Mbok
Mbok : Keranjang sampah
Warti : Sampah, heeh (keluar)
Mboh : Mengapa, mengapa, semua berubah begitu cepat. Warti anak perempuanku satu-satunya sudah waktunya menikah malahan jadi seperti ini. Aku ingin cepat nggendong putu, tapi….dosa apa yang telah aku perbuat, duh Gusti ampuni segala kesalahan dan dosa keluarga ini
Warti masuk

Warti : Aku maafkan, aku ampuni segala kesalahan yang telah kau perbuat wahai manusia. Akan aku hapus segala dosa-dosamu. Hi…hi…hi…
Mbok : Hei, Nduk, Ti, mana keranjangnya?
Warti : Heh (menunjuk)
Mbok : mana!
Warti : Dibelakang
Mbok : Aduh Ti, Ti. Ayo Nduk ambil
Warti keluar, Narko masuk

Mbok : Kowe tho, Ko
Narko : Ya Mbok
Mbok : Ini kan masih pagi, kok sudah pulang. Kamu bolos
Narko : Ya
Mbok : Kenapa?
Narko : Males
Mbok : Lho kok malah malas. Piye tho! Apa kamu ndak mikir
Narko : Mikir gimanaMbok
Mbok : Malah nanya
Narko : Kalau aku ndak nanya terus aku mikir apa, Mbok
Mbok : Pertama, kamu itu disekolahkan biar pinter, ngerti. Kedua, supaya kamu tidak seperti Kakang-kakangmu, tidak kerja kasaran. Lagian Kakangmu sudah susah-susah cari duit untuk nyekolahin kamu. Nati kalau Kang Parto tahu kamu akan dimarahi
Narko : Ya, jangan dikasih tahu biar tidak marah
Mbok : Yang ketiga…
Narko : Apa?
Mboh : Hah, kok malah seperti itu, Ko Kakangmu itu biasanya tahu dengan sendirinya , jadi kamu harus rajin, sregep sekolah. Jangan suka bolos. Sudah masuk sana. Makan dulu nanti kalau sudah, bersihkan kebun belakang. Bibit rambutan dan nangka di samping sumur itu ditanam sekalian, ditata yang baik. Sudah sana
Narko : Ya Mbok
Narko keluar

Warti : Mbok!
Mbok : Apa, Ti
Warti : Anu, e, itu, hi, he, anu
Mbok : Apa sih Nduk, kalau ngomong yang jelas
Warti : Itu genteng, itu lho
Mbok : Genteng, genteng apa. Kamu ini bikin bingung saja
Warti : Iya, itu…genteng. Pecah, jatuh satu-satu, banyak
Mbok : Genteng satu-satu, banyak ah apa sih Ti, kenapa gentengnya, pecah (diam). Maksudmu jatuh
Warti : Iya, jatuh ambruk pisang, heeh
Mbok : Oh Pisangnya ambruk, timpa genteng
Warti : Heeh
Mbok : Sudah, mbok ke belakang dulu
Warti marah, merajuk tidak karuan, menangis

Warti : Mbok, mboke…(keluar)
Lampu redup

BABAK IV
Didalam rumah, sore hari
Lampu menyala, music mengalun
Kardi masuk, nembang/uro-uro
Parto dan Narko masuk, mendengarkan dan memperhatikan Kardi

(gambuh, ISKS. PB IV)
Aja nganti kabanjur
Sabarang polah kang nora jujur
Yen kabanjur sayekti kojur tan becik
Becik ngupaya iku
Pitutur ingkang sayektos

Pitutur bener iku,
Sayektine apantes tiniru
Nadyan metu saka wong sudra papeki
Lamun becik nggone muruk,
Iku pantes siro anggo

Ana pocapanipun
Adiguna adigang adigung
Pan adigang kidang adigung pan esthi
Adiguna ula iku
Telu pisan mati sampyoh

Si kidang umbagipun
Angandelaken kebat lumpatipun
Pan si gajah ngandelaken geng ainggil
Ula ngandelaken iku
Mandine kalamun nyakot

Kardi diam asyik dengan tengwe

Narko : Kang, apa yang terjadi
Parto : Tak tahulah, Ko
Narko : Apa Kang, apa akan selamanya seperti ini
Parto ; Ko, jangan ngawur kamu, hati-hati kalau ngomong, jaga mulutmu
Narko : Habis kalau tidak, apa…apa Kang. Ini begini, itu begitu, ujung-ujungnya tidak tahu.
Parto : Ko, kita perlu berfikir, memang seharusnya belum jelas, serba samar-samar
Narko : Makanya Kang
Parto : Iya, ya (keduanya terdiam, sejenak)
Narko : Kang, Kang Parto!
Parto : Heh, apa? (Kardi mulai nembang lagi)
Narko : Kang Kardi mulai nembang lagi
Parto : Iya (asyik dengan rokoknya. Kedua kakak beradik itu berusaha mendengarkan Kardi nembang)
Kardi nembang lagi

(sinom)
Wewangsalan roning kamal
Pra anom den ngati-ati
Wrekso kang epindha janma
Golek kawruh kang sejati
Kholik prya upami
Anganggoa reh kang tuhu
Kalpika pasren karna
Gegelang munggwing dariji
Away tinggal miwah lali pariwara
(Kinanthi)
Kebo bang sungune tanggung
Aja sira ngapirani
Kekonang abyoning tawang
Kalintang rasaning ati
Peksi tuhu wadonira
Mring kmudu-kudu tilik
(Sinom, A. Rego Subagyo, 7-3-2002)
Anggoning rasa kang lara
Kudu netepi ing ati
Atma kang rumongso jaya
Pati ora bakal nganti
Ning pati mring Gusti
Manungso kudu mituhu
Ana luput ing ndonya
Abakal digowo mati
Atma palihlah marang Maha Kuwasa
Selesai nembang Kardi pergi dan tidak pernah tahu ada orang yang mendengarkan dia nembang tadi

Narko : Lho itu Kang Kardi mau kemana
Parto : Mungkin ke rumah Bapak
Narko : Ke rumah Bapak. Bapak siapa?
Parto : Ya Bapak kita. bapakmu
Narko : Bapak kan sudah meninggal
Parto : Ya, aku tahu
Narko : Terus, maksudnya rumah yang mana?
Parto : Rumah yang sekarang
Narko : Kuburan?
Parto : Iya
Narko : Kuburan kok rumah, Kang?
Parto : Ko, Narko (geleng-geleng)
Narko : Habis Kang Parto ngomongnya membingungkan
Parto : Yang membingungkan yang mana
Narko : Itu tadi
Parto : Ko, kuburan itu juga rumahnya orang yang sudah mati, dengan kata lain bisa disebut makam, kata jamaknya mukim yang maknanya tinggal tinggal dan tempat tinggal kan sama dengan rumah
Narko : Ooo, ya, ya aku ngerti sekarang (diam sejenak) Tadi Kang Kardi sedang.. (bingung tak tahu apa yang dimaksudkan)
Parto : Nembang, maksudmu
Narko : Ya, nembang tadi suara Kang Kardi ternyata enak juga. Tapi aku tidak mengerti dengan kata-katanya
Parto : Ya, terang saja. Karena bahasa yang digunakan dalam tembang macapat, sebagian besar adalah bahasa jawa kuno. Dan sekarang bahasa itu sudah seperti dilupakan. Sekolah sekarang sudak tidak mengajarkan lagi. Akhirnya kamu dan yang seusia kamu jarang sekali yang mengerti dengan apa yang dimaksudkan. Itu yang dinamakan dengan pembangunan, membangun sana-sini akhirnya lupa dengan diri sendiri
Narko : Tapi (terdiam)
Parto : Tapi apanya!
Narko : Apa yang dimaksud oleh segala omongan Kang Kardi tadi
Parto : Aku juga bingung sebenarnya apa yang terjadi pada Kang Kardi. Tapi yang pasti kita harus prihatin dan hati-hati sekarang, makanya jangan neko-neko
Narko : Aku semakin lama semakin suntuk, bingung
Parto : Apa kamu piker, kamu saja yang bingung
Narko : Ya, aku tahu (ketus)
Parto : Ko!
Narko : Apaan sih, Kang (berdiri mau pergi)
Parto : Mau kemana!
Narko : Pergi
Parto : Pergi kemana
Narko : Tak tahu (negeloyor pergi)
Parto : Hei, Ko, Ko. Ke mana!
Narko : Ngelayap! keluar
Parto : Ngelayap, ngelayap (diam)Apa sebenarnya terjadi. Apa yang salah dirumah ini. Siapa yang salah? Apa aku yang salah? (bertanya, terdiam). Payah, payah semua kacau (keluar)
Lampu meredup

BABAK V
Di dalam rumah, sore hari

Music senja mengalun
Parto pulang dari surau mengambil radio, mencari gelombang dan mendengarkannya. Menikmati music yang
terdengar dari radio sambil menghisap tembakau. Kemudian Mbok masuk membawa bak minuman

Mbok : Le, kopinya
Parto : Ya, Mboh makasih
Mbok : Tadi siang Pak Hardjo mencarimu
Parto : O, ya tadi aku sudah bertemu di Toko Mak Jum. Mbok?
Mbok : Ada apa
Parto : Suwaji belum pulang
Mbok : Belum
Parto : Narko!
Mbok : belum (diam, khawatir)
Kardi masuk dengan tetap santainya, cuek

Parto : Setiap kali aku melihat Kang Kardi seperti itu, aku jadi pusing. Jadi ingin ngamuk
Mbok : Sabar To, nanti kan berubah sendiri
Suwaji masuk tergesa-gesa

Parto : To ada apa,, duduk dulu
Suwaji : Anu Kang, Narko!
Parto : Memang Narko kenapa?
Suwaji : Narko di rumah sakit
Parto dan Si Mbok serempak Apa!!

Parto : Mengapa, apa yang terjadi dengan Narko
Suwaji : Tidak tahu Kang. Aku belum sempat bertanya
Mbok : To ini bagaimana?
Parto : Ini semua gara-gara presiden satu ini, bisanya hanya diam. He, Kardi kalau sudah begini, apa kamu sudah puas. Apa kau akan tetap seperti itu, diam tak mau berbuat apapun. Bisu seperti patung, berhala. Bajingan kau Kardi
Mbok : Sabar, To, sabar. Mengapa kamu ngurusin Kakangmu, Narko adikmu di rumah sakit, To.
Parto : Iya, aku tahu!!
Mbok : Ini Mbokmu To
Parto : Ma’af Mbok
Kardi pergi meninggalkan mereka yang lagi bingung

Parto :Hei, bajingan! Mau kemana, enak saja kau. Hei kembali kau, jangan lari dari tanggungjawab. Kurang ajar. Ku hajar kau (mengejar Kardi dan kedubrak-kedubrik, berantem)
Mbok : Sudah-sudah (menangis), kalian ini malah berantem, aduh Parto? Kardi hentikan (keluar mengejar anak-anaknya)
Suwaji : Ach!! Apa yang harus kulakukan! (keluar)
Fade out
SELESAI

naskah drama "LENA TAK PULANG"

Lena Tak Pulang
Karya : Muram Batubara
(JUARA 1)
SATU

Lampu menyala.
Dalam sebuah rumah. Sofa besar menghadap tv. Meja makan. Kulkas. Pintu kamar mandi. Pintu dapur. Pintu kamar tidur. Pintu keluar masuk rumah. Pak Lena duduk memandang tv. Bu Lena keluar dari kamar mandi.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah tiga hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Sudah tiga hari
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Ya, tapi belum juga pulang, padahal sudah tiga hari. Dia itu kan perempuan.
Pak Lena
(Tetap memandang tv) Anak kita
Bu Lena
Iya, anak kita, tapi ia perempuan dan belum pulang tiga hari.



Pak Lena
Nanti juga pulang sendiri ketika bekalnya lari telah habis.
Bu Lena
Tidak segampang itu, Pak, ia itu perempuan!
Pak Lena
Jika memang ia perempuan, ia akan pulang.
Bu Lena
Tapi belum…(Menghentikan kalimat, memperhatikan pintu keluar rumah)
Ada yang datang, sepertinya itu Lena, anak kita, pulang juga ia setelah tiga hari tidak pulang.
Pak Lena
Bukan, pasti temannya datang mencari.
Bu Lena
Pasti Lena
Pak Lena
Berani taruhan
Bu Lena
Taruhan apa?
Pak Lena
Jika bukan Lena, lebaran tahun ini kita pulang ke rumah orang tuaku.
Bu Lena
Tapi tahun kemarin sudah
Pak Lena
Itu karena kau kalah taruhan
Bu Lena
Ya tidak bisa, bayangkan dalam lima tahun ini kita tidak pernah pulang ke rumah orang tuaku.
Pak Lena
Berani taruhan tidak?




Bu Lena
(Bingung) Ehm…
Pak Lena
Dengar langkah itu sudah semakin dekat.
Bu Lena
Baik

TERDENGAR KETUKAN PINTU. BU LENA MEMBUKA PINTU. KECEWA.

Tamu I
Permisi Tante, Lenanya ada?
Bu Lena
Oh tidak ada, dia belum pulang.
Tamu I
Belum pulang? Pergi ke mana ya Tante?
Bu Lena
Tante juga tidak tahu tuh, kamu tahu tidak?
Tamu I
Ya, kalau tahu saya tidak datang Tante.
Bu Lena
Iya juga ya. Hm, kamu teman sekolahnya ya?
Tamu I
Bukan Tante, saya teman…
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Om, saya harus kembali pulang.
Pak Lena
Kenapa buru-buru?




Tamu I
Ada yang harus buru-buru saya lakukan
Bu Lena
Jika buru-buru, kenapa mencari Lena?
Tamu I
Ya itu dia, Tante. Karena Lenalah saya harus buru-buru?
Pak Lena
Masuk dulu jangan buru-buru
Bu Lena
Iya masuk dulu
Tamu I
Maaf tidak bisa, saya permisi dulu.

Bu Lena menutup pintu. Duduk di ruang tv.

Pak Lena
Siapa namanya?
Bu Lena
Siapa?
Pak Lena
Yang tadi?
Bu Lena
Teman Lena
Pak Lena
Iya, teman Lena tadi namanya siapa?
Bu Lena
Berarti tahun ini kita pulang ke rumah orang tuamu lagi?
Pak Lena
Jelas! Siapa nama teman Lena tadi!


Bu Lena
Sudahlah ke rumah orang tuaku saja. Kasihan ibu sudah semakin tua, dia ingin melihat kita sekeluarga kan?
Pak Lena
Tidak bisa! Kesepakatan telah tercipta, tidak bisa dirubah. Jika terus dirubah, bagaimana menjalankan kesepakatan itu dan untuk apa membuat kesepakatan jika tidak ada kepastian untuk dilakukan. Siapa nama teman Lena tadi?
Bu Lena
Nggak tahu.
Pak Lena
Loh
Bu Lena
Kok loh
Pak Lena
Ya, loh, bagaimana mungkin kamu tidak menanyakannya?
Bu Lena
Kenapa bukan kamu?
Pak Lena
Aku kan sedang nonton tv dan aku tidak sedang berhadapan langsung dengannya.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena
Ada yang ketuk pintu, bukahlah.
Bu Lena
Bagaimana jika Lena?
Pak Lena
Ya tetap dibuka pintu kan?




TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena
Bukan itu, jika bukan Lena, perjanjian tadi batal.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Pak Lena
Bukalah pintu itu, kasihan tamunya.
Bu Lena
Buat satu kesepakatan baru dulu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU.

Bu Lena
(Teriak ke arah pintu) sebentar ya, lagi menunggu kesepakan nih, sabar ya.
Pak Lena
Ya sudah, buka sana.
Bu Lena
Kesepakatan?
Pak Lena
Yah!

Pintu terbuka. Bu Lena puas. Perbincangan di depan pintu masuk rumah.

Tamu II
Kesepakatan apa Tante?





Bu Lena
Ah, tidak. Kamu siapa dan ada apa?
Tamu II
Saya temannya Lena, Tante, kebetulan saya sedang main di daerah sini.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, terus saya mampir. Karena kebetulan saya sedang main di daerah sini, jadi saya mampir ke sini, Tante.
Bu Lena
Terus
Tamu II
Ya, karena itu Tante, hm, Lenanya ada?
Bu Lena
Jadi karena kebetulan main di daerah sini, kamu mampir dan mencari Lena?
Tamu II
Benar itu Tante.
Bu Lena
Karena kebetulan?
Tamu II
Sebenarnya tidak Tante.
Bu Lena
Yang benar yang mana?
Tamu II
Saya memang mencari Lena, Tante.
Bu Lena
Karena main di daerah sini?
Tamu II
Tidak Tante, saya memang sengaja kemari untuk mencari Lena. Sumpah, Tante.
Pak Lena
(Memotong) Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.


Tamu II masuk dan duduk di ruang tv. Bu Lena masuk dapur.

Tamu II
Nonton berita ya, Om?
Pak Lena
Tidak, cuma sedang melihat tanggapan wakil rakyat tentang bencana yang tidak berkesudahan.
Tamu II
Itukan berita namanya, Om.
Pak Lena
Itu bukan berita, itu opini. Opini itu pendapat, kebenarannya masih belum bisa diandalkan. Namanya berita harus mengutamakan kebenaran, kenyataan.
Tamu II
Tapi itukan acara berita, Om.
Pak Lena
Memang, beritanya, wakil rakyat sedang memberikan opini.
Tamu II
Berarti sedang nonton berita, Om.
Pak Lena
Tidak, saya sedang melihat opini. Ingat, opini!
Tamu II
Bedanya apa, Om?
Pak Lena
Opini itu tidak murni kenyataan, namanya juga pendapat, sedang berita itu nyata, kenyataan tadi. Begini, kucing ditabrak mobil, itu berita.
Tamu II
Kalau opini?
Pak Lena
Mengapa kucing itu mau ditabrak?




Tamu II
Mungkin saja ia tidak melihat mobil yang laju, tiba-tiba saja ia sudah bersimbah darah.
Pak Lena
Itu dia opini.
Tamu II
Opini?
Pak Lena
Ya, opini kamu. Lihat omongan wakil rakyat itu, semuanya serba mungkin kan?
Tamu II
Jadi yang serba mungkin itu bukan berita?
Pak Lena
Mungkin kok berita. Mungkin itu kan belum jelas sedang berita adalah yang jelas dan pasti.
Tamu II
Tapi apa yang pasti di jaman sekarang, Om?
Pak Lena
Ya, opini.

Bu Lena keluar dapur membawa teh dalam gelas menuju kulkas. Membukanya.

Tamu II
Tidak usah yang dingin, Tante, lagi batuk.
Bu Lena
Mau puding?
Tamu II
Boleh, Tante.
Bu Lena
Tapi dingin?



Tamu II
Tidak apa-apa, Tante, kan cuma puding.

Bu Lena ke ruang tv dan meletakkan sajian kemudian kembali menuju dapur.
Pak Lena
Kamu temannya Lena?
Tamu II
Benar itu, Om.
Pak Lena
Teman dari mana?
Tamu II
Ya teman saja, Om, tidak dari mana-mana.
Pak Lena
Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, atau malah dari kelas mengaji?
Tamu II
Untuk yang terakhir tampaknya bukan, Om.
Pak Lena
Mengapa? Apa karena sudah pintar mengaji?
Tamu II
Tidak Om, saya non muslim.
Pak Lena
Oh begitu, terus dari mana?
Tamu II
Saya teman Lena dari tempat nongkrong, Om.
Pak Lena
Seingat saya Lena tidak mengambil les nongkrong.
Tamu II
Om, lucu juga. Tempat nongkrong itu tempat kita kumpul-kumpul, ya, istilah kerennya berbincang atau berdiskusi.



Pak Lena
Oh begitu, tapi yang nongkrong itu kan tentunya berasal dari tempat tertentu. Nah, kamu itu selain teman nongkrong Lena, teman di mana?
Tamu II
Ya tidak ada, Om. Saya cuma teman Lena di tempat nongkrong.
Pak Lena
Terlalu tipis, pertemanan itu belum begitu kuat. Hm, lalu maksud kamu mencari Lena?
Tamu II
Ya itu dia Om, saya ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan Lena. Sudah tiga hari ia tidak muncul, Om.
Pak Lena
Memangnya kenapa kalau ia tidak muncul dalam tiga hari?
Tamu II
Ya itu dia, Om.
Pak Lena
Apa?
Tamu II
Ehm, dia bawa sesuatu yang penting, Om. Sesuatu yang sangat saya banggakan.
Pak Lena
Oh begitu. Penting sekali?
Tamu II
Sangat penting malah, Om.
Pak Lena
Lena mengambilnya dari kamu?
Tamu II
Begitulah Om, saya malah tidak tahu bagaimana bersikap jika tidak ada kabar dari Lena.



Pak Lena
Banyakkah?
Tamu II
Ya kalau besar itu dianggap banyak, ya, banyak Om.
Pak Lena
Begini saja, kamu pulang dulu, besok kamu kembali lagi. Yang kamu punya itu pasti akan kembali.
Tamu II
Tapi Lenanya bagaimana Om?
Pak Lena
Itu urusan saya.
Tamu II
Kalau memang begitu, tentunya dengan ada kepastian dari Om, saya menjadi yakin untuk datang besok.
Pak Lena
Ya, ya, pulanglah.

Tamu II pergi, Bu Lena masuk.

Pak Lena
Anakmu membawa lari uang temannya?
Bu Lena
Bagaimana bisa?
Pak Lena
Temannya yang datang tadi, yang terlalu banyak bicara itu, melaporkan apa yang telah dilakukan anakmu.
Bu Lena
Anak kita




Pak Lena
Ya, anak kita. Pencuri.
Bu Lena
Belum tentu benar, jangan terlalu banyak percaya dengan orang yang terlalu banyak bicara.
Pak Lena
Tapi bagaimana bisa kita percaya dengan orang yang sedikit bicara, dari mana kita tahu isi kepalanya jika tidak dikeluarkannya.
Bu Lena
Terlalu banyak bicara malah menghilangkan kata-kata kunci, kata yang seharusnya bisa menjadi andalan.
Pak Lena
Tanpa bicara, kata kunci itu malah tidak keluar, bagaimana bisa ia tampak?
Bu Lena
Tetapi mengapa kau begitu percaya dengan anak ingusan yang terlalu banyak bicara itu?
Pak Lena
Karena tampaknya benar, sudah tiga hari Lena pun tidak muncul di tempat biasa mereka bertemu.
Bu Lena
Bagaimana jika benar?
Pak Lena
Kita harus menggantinya, tidak bisa tidak, Lena kan anak kita.
Bu Lena
Jika tidak benar?
Pak Lena
Mau taruhan?

LAMPU PADAM




DUA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. PAK LENA DUDUK MEMANDANG TV. BU LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Bu Lena
Lena sudah pulang, Pak?
Pak Lena
Belum
Bu Lena
(Duduk di kursi meja makan) Bagaimana ini? Sudah empat hari ia tidak pulang.
Pak Lena
Nanti juga pulang
Bu Lena
Kemarin kau jawab seperti itu juga, tidak kemarin saja, kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi juga.
Pak Lena
Terus harus bagaimana? Berteriak, mengabarkan pada semua orang bahwa anak kita yang perempuan tidak pulang dalam empat hari ini. Bagaimana kata dunia? Apa kata mereka pada kita? Orang tua yang tidak bertanggung jawab?
Bu Lena
Tampaknya kita memang tidak bertanggung jawab.
Pak Lena
Kok bisa?
Bu Lena
Lihatlah sendiri! Apa yang kita lakukan pada anak kita? Empat hari, bayangkan empat hari anak kita tidak pulang, tidak ada usaha kita untuk mencarinya.
Pak Lena
Menunggu juga mencari.


Bu Lena
Menunggu itu pasrah
Pak Lena
Tidak sama, pasrah itu tanpa berbuat. Mununggu itu kan berbuat, sama seperti berdoa.
Bu Lena
Apa yang dilakukan dalam menunggu? Diam memandang tv atau sibuk berbincang tanpa tujuan?
Pak Lena
Jika kita ke kantor polisi dan melaporkan kehilangan anak, terus apa yang kita lakukan? Menunggu kan? Menunggu kabar dari pak polisi itu. Dan dalam menunggu kabar dari pak polisi, kita juga menonton tv atau berbincang kemana suka kan? Sama saja.
Bu Lena
Beda
Pak Lena
Apanya yang beda? Jika kita memasang iklan tentang kehilangan, sama juga seperti melapor ke polisi. Jika kita mencari sendiri, sama juga dengan menunggu kabar kan? Kita mencari itu tanpa tujuan, kita tidak tahu di mana anak kita berada, jadi sama juga dengan nol. Kita tetap juga menunggu. Daripada kita memutari kota, tentunya habis energi, toh lebih baik kita di rumah. Semuanya itu berarti menunggu, mencari itu juga menunggu. Menunggu juga mencari. Jelas!
Bu Lena
Pusing aku. Jika kita tahu di mana Lena berada kan gampang, bisa kita jemput.
Pak Lena
Itu dia kata yang tepat. Menjemput. Menjemput itu jelas beda dengan mencari atau juga menunggu.
Bu Lena
Tapi kita tidak tahu di mana Lena berada?



Pak Lena
Yah harus dicari
Bu Lena
Dengan?
Pak Lena
Ya menunggu.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Bagaimana ini, ini pasti teman Lena yang banyak bicara kemarin itu.
Bu Lena
Yang uangnya Lena curi itu?
Pak Lena
Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan.
Bu Lena
Kita bayar saja
Pak Lena
Tapi kita belum ketemu Lena, bisa saja berita ini tidak benar.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Bu Lena
Jika belum benar, jangan dibayar dulu
Pak Lena
Tapi kita belum tahu mana yang benar. Kenapa Lena belum pulang juga.





TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Bagaimana jika dia datang dengan polisi.

TERDENGAR KETUKAN PINTU
Pak Lena
Bukahlah pintu
Bu Lena
Kau saja
Pak Lena
Kau kan perempuan
Bu Lena
Kau kan laki-laki
Pak Lena
Perempuan duluan, atas nama kesopanan.

Terdengar ketukan pintu

Bu Lena
(Teriak ke arah pintu masuk) Sebentar ya.
Pak Lena
Bukalah pintunya (Berlari kecil menuju depan tv, seakan-akan tak terjadi sesuatu)

Pintu Terbuka. Bu Lena bingung.

Tamu I
Maaf Tante, Lenanya sudah pulang? Belum ya? Ya sudahlah, nanti saya datang lagi. Terima kasih Tante. Tolong nanti kalau Lena pulang, katakan saja saya mencari dan akan kembali lagi. Permisi Tante. (Pergi menghilang)



Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Sudah pulang (menutup pintu dan berjalan menuju ruang tv) tamunya sudah pulang.
Pak Lena
Tukang pos?
Bu Lena
Bukan, temannya Lena?
Pak Lena
Yang kemarin?
Bu Lena
Ya
Pak Lena
Terus dia menagih uangnya? Apa yang kau bilang hingga dia langsung pulang.
Bu Lena
Aku tidak bilang apa-apa dan dia bukan yang uangnya dicuri Lena.
Pak Lena
Jadi teman yang mana?
Bu Lena
Yang pertama datang, yang lupa kutanyakan namanya.
Pak Lena
Sudah tahu kau namanya?
Bu Lena
Belum, dia terlalu buru-buru. Belum sempat aku bicara dia sudah pergi.
Pak Lena
Tampaknya dia memang selalu buru-buru. Tunggu dulu, siapa nama teman Lena yang banyak bicara itu?





Bu Lena
Kenapa kau tanyakan aku, bukankah kau yang banyak bicara dengannya? Seharusnya kau tanyakan namanya.
Pak Lena
Itu dia, dia terlalu berlama-lama sampai aku lupa menanyakan, padahal aku sudah berhadapan langsung dengannya.
Bu Lena
Sudahlah. Setidaknya bukan dia yang datang jadi kita tidak perlu risau lagi.
Pak Lena
Untuk sementara
Bu Lena
Walau sementara, setidaknya tidak risau.





LAMPU PADAM

























TIGA

LAMPU MENYALA. DALAM SEBUAH RUMAH. SOFA BESAR MENGHADAP TV. MEJA MAKAN. KULKAS. PINTU KAMAR MANDI. PINTU DAPUR. PINTU KAMAR TIDUR. PINTU KELUAR MASUK RUMAH. BU LENA DUDUK MEMANDANG TV. PAK LENA KELUAR DARI KAMAR MANDI.

Pak Lena
Sudah hampir sore, hari keempat sejak tidak pulang, apakah Lena tidak akan pulang lagi?
Bu Lena
Belum lima hari
Pak Lena
Hampir lima hari, lihatlah sudah mendekati senja. Jika matahari terbenam dan terbit lagi, tepat lima hari Lena tidak pulang. Apakah bekal larinya masih cukup?
Bu Lena
Mengapa kau kuatir?
Pak Lena
(Menuju pintu keluar masuk rumah, membukanya, menegok keluar dan menutupnya kembali) Belum pulang juga.

Terdengar ketukan pintu. Pak Lena langsung membuka. Tersenyum senang.

Pak Lena
Pulang juga rupanya kau Lena
Lena
Lapar (Berjalan menuju dapur, keluar lagi sambil membawa piring makanan, makan di meja makan.)



Bu Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Makanlah yang banyak, tentunya kau lapar.
Pak Lena
(Mendekat dan langsung duduk di samping Lena) Dari mana saja?
Bu Lena
Jangan ditanyakan dulu, biarkan dia makan dengan tenang. Sudah hampir lima hari dia berada di luar, rindu dengan rumah ini tentunya.
Pak Lena
Banyak temanmu yang datang.
Bu Lena
Jangan dikatakan dulu, biar dia makan dengan nyaman, sudah lima hari dia di luar, banyak bertemu orang tentunya, lebih banyak dari kawannya yang datang. (Berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan botol air dingin, menuangkan ke gelas Lena) Dari mana saja kau Lena?
Pak Lena
Kenapa kau tanyakan?
Lena
Dari rumah teman (Terus makan)
Pak Lena
Temanmu yang mana? Yang dari sekolahan, les biola, les balet, renang, kelas mengaji, atau malah teman nongkrong?
Bu Lena
Ya, yang mana?
Lena
Teman lain
Pak Lena
Masih ada temanmu yang lain rupanya.
Bu Lena
Teman yang mana?



Lena
Kenapa terlalu mengurusi sih? Bukannya selama ini aku bebas, seperti yang kalian inginkan. Mengapa kalian bertanya ketika aku menghilang, mengapa tidak mencari? Lalu, apakah kalian pernah menanyakan aku sekolah apa tidak? Dan, untuk apa les yang mahal-mahal itu, bukan untukku kan? Untuk kalian yang gila gengsi tanpa memikirkan kebutuhanku kan? (Berdiri, membawa makanan, duduk di depan tv sambil terus makan.)
Pak Lena
(Berbisik) Bagaimana ini?
Bu Lena
(Berbisik pula) Bagaimana apanya?
Pak Lena
Dia terlalu tertutup, kita harus bisa membukanya. Mengapa kita yang disalahkan? Kita kan hanya menanyakan temannya saja.(Mendekati Lena) Enak makannya?
Lena
Biasa saja
Bu Lena
(Mendekati Lena) Tentunya enak, Ibu sengaja masak untuk kamu.
Lena
Sejak kapan masak khusus? (Berjalan menuju dapur, masuk ke dalamnya)
Bu Lena
(Berbisik) Tidak berhasil. Tampaknya dia memang marah pada kita.
Pak Lena
(Berbisik pula) Kita harus lebih berusaha lagi.

Lena keluar dari dapur tanpa membawa sebarang pun. Bu Lena dan Pak Lena mendekat, persisi menghalangi jalan Lena yang masih berada di depan pintu.




Pak Lena
Sudah selesai makannya?
Bu Lena
Enak kan? Pasti kenyang.
Lena
(Menghindar dan berjalan menuju kamar tidur) Mau tidur
Pak Lena
(Mengejar hingga depan pintu kamar tidur) Belum malam
Bu Lena
(Ikut mengejar) Iya, belum malam, mari kita berbincang dulu.

Lena masuk kamar. Pintu tertutup. Bu Lena dan Pak Lena duduk di kursi meja makan.

Bu Lena
Apa sebab dia begitu dingin
Pak Lena
Mungkin kita terlalu kaku
Bu Lena
Kau yang kaku
Pak Lena
Mungkin kau juga.

TERDENGAR KETUKAN PINTU

Pak Lena
Pasti temannya yang banyak bicara itu, yang uangnya dicuri Lena, bagaimana ini? Kita belum bicara tentang itu dengan Lena.
Bu Lena
Mungkin temannya yang lain.



TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Kau saja yang buka, terserah itu melangkahi kesopanan.
Pak Lena
(Malas membuka pintu, hingga sampai depan pintu, menoleh ke Bu Lena dengan bingung) Sebaiknya kau saja.

Terdengar ketukan pintu. Pak Lena terkejut dan langsung membuka pintu. Tambah terkejut melihat tamu yang datang.

Tamu II
Terkejut, Om.
Pak Lena
(Gagap) Tidak, tidak. Ayo masuklah.

Bu Lena menyingkir ke dapur. Pak Lena dan Tamu II duduk menghadap tv.

Tamu II
Saya tidak kebetulan main ke daerah sini, Om. Saya khusus datang seperti permintaan, Om, kemarin itu. Jadi rasanya tidak perlu basa-basi lagi…
Pak Lena
(Memotong) Basa-basi itu terkadang perlu. Ayolah berbasa- basi.
Bu Lena
(Muncul membawa segelas minuman hangat) Iya, kenapa harus langsung jika kita bisa berbasa-basi terlebih dahulu.
Tamu II
Wah, tampaknya akan ada lampu hijau nih.
Pak Lena
Tidak hanya boleh langsung jalan, ini jalan tol jadi bisa sekencang apa juga.



Tamu II
Boleh ngebut?
Pak Lena
Oh tentu, asal pakai pengaman biar tidak kecelakaan.
Tamu II
(Tertawa) Ini dia calon mertua yang paling hebat.
Bu Lena
Mertua?
Pak Lena
Ada apa dengan mertua?
Tamu II
(Bingung) Katanya boleh langsung ngebut?
Pak Lena
(Bingung juga) Tunggu dulu. Begini saja, kita buang dulu basa-basi. Apa maksudnya ini? Mertua dan ngebut, hubungannya apa?
Tamu II
Loh, bukankah sudah jelas Om, ini soal sesuatu yang saya miliki itu, yang dibawa Lena.
Bu Lena
Ya terus.
Tamu II
Bukankah hari ini akan saya temukan lagi, seperti janji Om kemarin.
Bu Lena
Uang kan?
Pak Lena
Ya, berapa yang dicuri dari kamu?
Bu Lena
Masalah besarnya tidak perlu risau, kami akan bayarkan semuanya, bagaimanapun Lena itu anak kami, jadi tidak mungkin kami membiarkannya mencuri uang kamu.



Pak Lena
Ya benar itu.
Bu Lena
Tunggu dulu, biar semuanya jelas (Berjalan menuju kamar Lena) Lena! Keluar kamu, Nak.
Tamu II
Tunggu dulu, Tante…
Bu Lena
Tenang, biar jelas saja.
Tamu II
Tapi…
Pak Lena
Tenang saja
Bu Lena
Lena!
Lena
(Keluar dengan muka suntuk, bertambah suntuk begitu melihat Tamu II) Ada apa?
Bu Lena
Ayo, ada yang harus kita selesaikan. (Menggiring Lena ke depan tv)
Tamu II
(Tersenyum manis) Hai Len.
Lena
(Senyum masam) Ada apa?
Pak Lena
Tenang, santai semuanya. Begini, sebaiknya kita cari tahu yang sebenarnya. Bu, kau saja yang bicara.
Bu Lena
Lena, teman kamu ini kemarin sudah datang, tapi karena kamu belum pulang, kami suruh dia datang sekarang. Nah, dia ini datang untuk meminta sesuatu yang kamu bawa, begitulah.


Pak Lena
Ya, dengan kata lain ia datang untuk menagih sesuatu yang telah kau curi. Nah, berapa jumlahnya, Nak, berapa yang kau ambil darinya.
Tamu II
(Panik) Tunggu dulu…
Pak Lena
Sudah kamu jangan bicara dulu. Berapa Lena?
Lena
(Bingung) Lena tidak mencuri apa-apa. Hey (Menunjuk Tamu II) kamu jangan sembarangan menuduh aku pencuri ya! Sampai datang ke rumah lagi!
Bu Lena
Sabar Nak, tenang. Katakan saja jumlahnya, biar kita ganti. Jangan takut kami marah. Sungguh kami tidak akan marah.
Pak Lena
Ya katakan saja, biar semuanya jelas.
Lena
AHK, BAGAIMANA INI! LENA TIDAK MENCURI, SUMPAH. TANYAKAN SAJA SAMA DIA. (DUDUK DENGAN SEWOT)
Tamu II
Waduh, bagaimana ini, kenapa bisa kacau. Begini saja, Om, saya permisi, anggap saja tidak terjadi apa-apa. (Bergerak pergi)
Pak Lena
(Menahan) Bagaimana kamu ini, bukannya kamu ingin mengambil yang telah dicuri Lena?
Tamu II
Sudahlah Om, tidak apa-apa, biarkan saja.
Bu Lena
Tidak bisa begitu. Begini saja, berapa yang dicuri Lena?
Lena
Ya berapa yang kucuri! Cepat bilang!



Tamu II
(Takut) Tidak ada…
Pak Lena
Apa!
Tamu II
Lena tidak mencuri uang, Om. Sejak tadi dan malah kemarin saya sudah ingin jelaskan tapi Om tidak mau mendengar. Saya pikir Om sudah mengerti dengan yang saya maksud.
Pak Lena
Kok malah menyalahkan.
Tamu II
Benar, Om. Saya sudah coba jelaskan. Lena tidak mencuri uang tapi…
Bu Lena
Tapi apa? HP, perhiasan, atau apa?
Tamu II
Bukan itu Tante.
Bu Lena
Jadi apa? Bicara yang jelas!
Tamu II
(Malu) Lena mencuri hati saya, Tante. Dengan kata lain, saya itu senang sama Lena tapi Lenanya belum memberikan jawaban.

Terdengar ketukan pintu. Semuanya terkejut.

Pak Lena
Siapa lagi itu, bukalah pintunya, Lena kamu yang buka.

Pintu terbuka. Lena tertawa.
Lena
Aku baru saja pulang, kamu bolak-balik ya mencari aku?



Tamu I
Kurang ajar, kalau utang cepat bayar dong!
Lena
Ala, gitu aja sewot.
Pak Lena
Suruh duduk dulu, hanya tukang pos yang diterima di depan pintu.
Bu Lena
Siapa Len?
Lena
Teman
Bu Lena
Bawa temanmu ke dalam, tidak baik terus di depan pintu.
Tamu I
Terima kasih Tante, di sini saja.
Pak Lena
Masuklah, biar saling bertemu semuanya.
Lena
Ayolah masuk
Tamu I
Bayar dulu utangmu, ini urusan kita berdua.
Lena
Iya, nanti di dalam.
Tamu I
Tapi…
Lena
Tidak ada alasan (menggandeng Tamu I)

SEMUANYA BERKUMPUL DI DEPAN TV








Bu Lena
Oh, rupanya kamu. Len, temanmu ini bolak-balik mencari kamu.
Tamu I
Maaf Tante, merepotkan.
Pak Lena
Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa terlihat begitu penting, ada apa ini?
Tamu I
Tidak ada apa-apa, Om, cuma sekedar mampir.
Pak Lena
Kalau cuma sekedar berarti tidak berulang, benar tidak?
Tamu II
Kalau begitu saya pulang lebih dulu saja, Om.
Pak Lena
Kamu di sini dulu, masalah yang tadi belum selesai.
Lena
Masalah apa lagi?
Bu Lena
Lena, kamu kan belum mengembalikan uang yang kamu curi dari dia.
Tamu I
Kamu mencuri uang, Len?
Tamu II
Tidak… tidak, wah serba salah semuanya.
Pak Lena
Sudahlah, mari kita selesaikan. Lena, katakan saja berapa yang kau ambil dari dia?
Lena
(Marah) Kenapa nggak ada yang percaya! Lena tidak pernah mencuri uangnya!
Tamu II
Iya, Om. Lena tidak mencuri uang saya.



Lena
Dengar itu! Lena tidak pernah mencuri! Lena cuma meminjam uang.
Tamu II
Kapan?
Lena
Bukan kamu!
Tamu I
Tidak, Om. Tidak, Tante. Lena tidak pernah meminjam uang.
Lena
Hey!
Pak Lena
Tunggu dulu, ada apa ini?
Bu Lena
Ya, yang benar yang mana? Mencuri atau meminjam, lalu uang siapa yang dicuri atau dipinjam?
Tamu I
Bukan uang saya.
Lena
Hey!
Tamu II
Sudah jelas, saya tidak ada hubungan dengan uang. Seperti yang sudah terkatakan tadi, hati saya yang dicuri.
Bu Lena
Berarti uang kamu? Berapa?
Tamu I
Tidak ada, Tante.
Lena
Hey! Jangan bohong kamu. Aku pinjam uang kamu beberapa hari yang lalu sebagai bekal lari dari rumah. Dan, bukankah kamu datang kemari untuk menagihnya?




Bu Lena
Bekal lari?
Pak Lena
Lari dari mana, Nak?
Lena
Lihat, lihatlah orang tuaku ini kawan-kawan. Aku lari dari rumah pun mereka tidak tahu. Yang mereka pikirkan semua baik-baik saja. Aku benci! (marah mendekati menangis)
Tamu I
Aku tidak tahu, aku pinjami kamu uang bukan untuk itu. Kalau aku tahu kamu pinjam uang untuk lari, aku tidak beri tentunya.
Tamu II
Kamu lari dari rumah? Kenapa tidak bilang padaku, Len. Aku, ah…
Tamu I
Kenapa, kamu mau membantunya lari kan!
Lena
Diam kalian! Kalian (memandang orang tua) lihatlah anak kalian ini! Apakah kalian hafal setiap tahi lalatnya? Apa kalian tahu yang diinginkannya? Pandang aku melalui mataku jangan pandang aku dengan mata kalian!
Bu Lena
Kenapa kamu harus lari, Nak. Bukankah hidup di luar itu lebih berbahaya.
Pak Lena
Jika memang ingin lari, kamu kan bisa permisi dulu, tidak perlu kamu pinjam uang kawan.
Lena
Ini bukan piknik…(menangis)

Bu Lena dan Pak Lena langsung mendekati Lena.



Tamu I
(Menarik Tamu II ke sudut lain) Urusan keluarga, sebaiknya kita menyingkir.
Tamu II
Kita harus permisi dulu
Tamu I
Kalau keadaannya seperti ini, sebaiknya tidak perlu.
Tamu II
Uangmu…
Tamu I
Sudahlah…

Tamu I dan Tamu II pergi dengan cepat. Tangis Lena semakin menjadi.

Pak Lena
Diamlah, jangan menangis. Uang yang kamu pinjam akan kita ganti. (Menyadari Tamu I dan Tamu II telah hilang) Bagaimana ini, mereka telah hilang. Uangnya belum kita ganti.
Lena
(Sambil menangis) Bukan uang…
Pak Lena
Jika begitu mengapa menangis?
Bu Lena
Diamlah, jangan menangis terus. Kami bingung, Len. Ceritalah, Nak.
Lena
Lena tidak pulang selama ini karena Lena merasa tidak punya rumah.
Bu Lena
Tidak punya rumah?



Lena
Ya, rumah ini segalanya dihitung dengan uang, tidak ada pembicaraan yang menyenangkan. Kalian sibuk dan Lena pun sibuk sendiri. Tidak ada yang perhatikan. Lena benci. Lena butuh rumah yang benar-benar rumah!
Bu Lena
(Menangis) Maaf ya, Nak. Mungkin selama ini kami tidak memperhatikan kamu, semuanya selalu dihitung dengan uang. Rumah ini rumah kamu, rumah yang kami bebaskan untukmu, kami tidak ingin mengekang, kami rasa itu yang baik.
Pak Lena
Membebaskan kamu bukan berarti tidak perhatian. Dulu kami dikekang orang tua kami dan kami tidak suka, maka kami ingin kamu tidak seperti kami.
Lena
(Lari masuk kamar) Seharusnya kalian jadi orang tua yang benar-benar orang tua!
MUSIK PERLAHAN, SAHYDU BEGITU TERASA. BU LENA TERUS MENANGIS.
Bu Lena
Kita salah mendidiknya…
Pak Lena
Sebenarnya kita bermaksud baik, tapi salah juga…
Bu Lena
Kita harus bagaimana? Membebaskannya salah, mengekangnya juga bisa salah…
TERDENGAR KETUKAN PINTU
Bu Lena
Siapa lagi?
TERDENGAR KETUKAN PINTU. PAK LENA MENUJU PINTU DAN MEMBUKANYA.
Bu Lena
Siapa lagi?

Selesai
Yogyakarta maret-april 2006