| |
| SUATU ketika datang seorang prajurit yang ditugaskan di kampung kami. Prajurit Gidal namanya. Pada hari pertama tanpa ba bi bu ia mengumumkan, penduduk kampung harus mematuhi peraturan pemerintah. Selebaran-selebaran ia bagi-bagikan. Di selebaran terpampang kami tidak boleh main judi, sabung ayam, mabuk-mabukan, minum tuak, main hakim sendiri bila ada maling yang tertangkap. Kami tidak boleh lagi mengikat tangannya ke belakang dan melemparkan ke sungai. Tidak boleh ada pembunuhan tanpa alasan jelas. Tidak boleh ada pembakaran orang tak bersalah di lapangan. Tidak boleh bersikap sewenang-wenang kepada siapa pun. Semua orang harus dihormati sebagaimana martabat kemanusiaan. Petugas pemerintah harus diperhatikan dan dilindungi. Siapa yang menentang aturan akan ditindak tegas. Setelah mendengar pengumuman, keesokan pagi kemudian Ayah menemui Prajurit Gidal yang tinggal di rumah penduduk di tepi sungai. ‘’Kenapa kedatangan Ki Sanak tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan alias tidak melapor kepada kami?’’ ‘’Ha ha ha ha! Yang berhak memerintah dan bertanya mestinya saya. Sayalah petugas yang sah,’’ jawab Prajurit Gidal. Tanpa ba bi bu pula Prajurit Gidal yang sedang tiduran di amben teras rumah diseret Ayah tanpa perlawanan. Mungkin karena tubuh Ayah lebih besar dua kali lipat. Prajurit Gidal diseret ke lapangan kampung. Tangannya diringkus dan diikat ke belakang, tubuhnya diangkat ke bahu kanan, kakinya digenggam erat dengan tangan kiri, sambil jalan ke arah sungai. Tubuhnya dicampakkan di Sungai Kalimas pinggir kampung. Tak seorang pun berani melarang, bahkan mereka beramai-ramai mengikuti eksekusi dari belakang sambil menyanyi-nyanyi dan menari-nari kegirangan. Namun sore harinya Ayah didatangi tiga orang berjubah putih. Entah mengatakan apa, yang jelas Ayah manggut-manggut saja. Sementara itu tiga orang berjubah putih seolah malaikat yang sedang membimbing Ayah. Namun aku berlari ke arah tempat jemuran, aku pakai selendang Ibu sebagai jubah kebesaran dan aku menasihati kambing-kambingku yang diam memandangku, seolah ada setan yang sedang lewat. Jalan menuju kampung masih berpasir dan berkapur. Jalan berkelok tajam sebelum semenanjung adalah tanda memasuki wilayah kampung. Begitu memasuki kampung, anjing-anjing mulai menyambut dengan gonggongan, badannya kurus kering, matanya tajam mengancam lawan, giginya siap membetot daging mentah dan akan dikunyah dalam sekejap. Karena banyak anjing sering kampung kami juga disebut Kampung Anjing. Anjing-anjing kami adalah anjing penjaga yang baik dan berbudi luhur, hingga kampung aman dari segala maling yang datang dari luar. Namun kalau ada maling yang datang dari dalam dan memanfaatkan kesempatan, tak ada yang bisa menjamin pelakunya bisa tertangkap. Maling itu hapal dan lihai di daerah sendiri yang begitu dikenal dan akrabi saban hari. Lama kelamaan anjing-anjing kampung hilang dengan sendirinya, seolah ada yang mengusir. Padahal anjing-anjing itu juga tidak mati karena tak ada seekor pun yang terlihat bangkainya. Menurut penduduk itu semua karena kehadiran tiga orang berjubah putih. Orang-orang misterius dengan mata tajam yang bersinar. Di gerbang masuk tampak bangunan gapura menjulang berornamen buaya seolah berhala dari masa lalu. Entah kenapa buaya menjadi simbol kampung. Padahal di daerah kami tidak ada buaya. Mungkin diambil dari dongeng nenek moyang yang berkembang. Dipercaya orang-orang kampung berasal dari buaya. Dulu hamparan tanah kami yang membentang dari Semenanjung Perak Laut adalah rawa-rawa yang banyak dihuni para buaya, ikan suro dan burung cucak rawa. Kisah legenda buaya itu sendiri bermula ketika suatu hari ada seorang gadis cantik sedang mandi di tepi rawa. Sepak terjang gadis yang sedang mandi terlihat jelas oleh seorang perjaka yang sedang berburu buaya. Dengan perlahan dan pasti sang perjaka mulai mendekati gadis yang sedang mandi. Sampannya ia kayuh perlahan sekali sehingga air rawa tidak beriak dan angin enggan berbisik. Sejarak sepuluh kayuh dayung, gadis yang sedang mandi tersadar dari incaran mata perjaka tampan, menjerit-melolong minta tolong, saat itu juga muncul buaya putih yang mengadang gerak langkah sampan sang perjaka. Terjadilah perkelahian hebat. Karena buaya putih bukan buaya sembarangan dan sang perjaka juga bukan perjaka sembarangan, perkelahian memakan waktu tujuh hari tujuh malam. Tak seorang pun yang memenangkan, bahkan ketika sang perjaka telah dibantu oleh sahabat lamanya, seorang manusia yang menjelma menjadi ikan suro. Maka ketika sang perjaka istirahat, ikan suro menggantikan kedudukan sang perjaka melawan buaya putih. Perkelahian tak seimbang karena tenaga buaya putih terus terkuras sedang ikan suro dan sang perjaka saling bergantian menyerang. Terdesaklah buaya putih ke arah sungai di Semenanjung Galuh, perkelahian terus berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, antara ikan suro dan buaya putih. Maka muncul pendapat dari para ahli mitologi bahwa salah satu takdir kami adalah saling bertikai dan saling membunuh, hingga keturunan kami musnah. Adapun sang perjaka karena melihat musuh tidak lagi melindungi gadis cantik, secepat kilat dia terkam gadis itu di semak-semak sehingga sembilan bulan kemudian lahirlah jabang bayi. Jabang bayi itu ketika dewasa tak lain adalah Ayah. Pantas Ayah ketika melihat buaya sering memaki-maki. Begitu kisah itu dipercaya, namun aku merasa sang buaya, tak lain adalah si perjaka yang bermata jalang. Di pinggir pantai ada mercusuar yang dibangun penduduk untuk sinyal kapal, perahu yang akan melintas di wilayah perairan. Di tengah kampung dibangun pilar menjulang untuk dipasang jam dinding mahabesar, yang didatangkan langsung dari Swiss oleh Gubernur Distrik sebagai penunjuk waktu. Waktu memang akhirnya menjadi bukti bahwa segala yang hidup di dunia terbatasi, fana dan sebentar. Mungkin kalau waktu tak pernah ada dunia akan menjadi surga dan manusia akan bahagia. Setiap senja datang dan matahari membakar lautan di ufuk barat, seperti mata iblis yang dipercaya penduduk sedang berangkat tidur, tak seorang pun nelayan berani berlayar. Para nelayan akan segera pulang atau menghentikan menangkap ikan. Anak-anak berlarian di pinggir pantai menyaksikan mata iblis mengedip sambil melarungkan sesaji: kembang mawar, kenanga, kamboja, daun siwalan, tuak, ikan busuk, kemenyan —begitu yang kami percaya dalam imajinasi kanak-kanak, yang kami persembahkan buat iblis laut agar segera terlelap tidur, tidak murka dan membawa malapetaka. Pada saat itu para orangtua hanya duduk-duduk di beranda memandang kosong seakan ada yang hilang terbawa senja, mungkin masa lalu yang mereka sesali, wajahnya bersedih seolah tak mau beranjak tua yang sebentar lagi akan mati. Sungguh kasihan. Sesekali tangan kanannya menuangkan tuak ke gelas bambu. Tuak adalah kebanggaan minuman kami. Tak ada yang lebih terkenal dari arak tuak buatan kampung kami, tuak dari mancung pohon siwalan. Kampung kami memang sangat terasing dari dunia luar meski terletak di pinggir laut, tepatnya di sebuah semenanjung. Umumnya kampung-kampung di pinggir laut yang telah banyak mengalami perjumpaan dengan orang lain yang datang dan pergi. Sebagaimana biasanya kampung nelayan terbuka dan bersahabat. Namun kampung kami justru sebaliknya tertutup rapat seperti perempuan pinangan, hingga orang-orang dengan gampang bertindak kasar. Bila sedikit saja mendengar kasak-kusuk yang merugikan, tindakan brutal dan kejam saat itu juga akan terlaksana. Pernah suatu kali Ayah melabrak Tuan Cuak Kuak yang wajahnya mirip luak dikabarkan menjahili Ibu ketika Ibu berkunjung ke tempatnya. Waktu itu Ibu ingin pinjam panci, piring, sendok dan garpu untuk masak dan makan malam. Karena tiba-tiba entah hilang atau dicuri orang, panci, piring, sendok dan garpu di rumah lenyap semua seolah menguap. Oh, sungguh kejadian yang menakjubkan. Suatu ketika pernah terjadi sebuah rumah tiba-tiba muncul di kerumunan semak belukar dengan seluruh isi dan perabotannya. Tapi seminggu kemudian rumah itu lenyap pula tak berbekas. Kata orang rumah itu rumah hantu. Apa mungkin saat itu Ibu sempat masuk ke rumah hantu dan mengambil panci, piring, sendok dan garpu, yang akhirnya lenyap pula. Waktu aku tanyakan pada Ayah, apa benar barang-barang itu milik para hantu, karena suatu ketika aku lihat, panci, piring, sendok dan garpu saat malam hari terbang melayang-layang di kamar makan, gemerincing sendiri. Seakan memanggil tuan-tuannya agar segera makan malam, hidangan telah siap sedia. Ayah hanya melotot sambil menarik napas berat. Akhirnya aku tak berani menanyakan hal itu lagi. Apalagi pada Ibu. Cuma bisik-bisik tetangga mengatakan aku keturunan genderuwo, namun Ayah menyangkal dan marah besar ketika mendengar selentingan itu. Mana yang benar? Menurut Ibu saat akan meminjam peralatan, Tuan Cuak Kuak tinggal sendirian di rumah, rumah sepi, lalu merayu Ibu di dapur, mencoba menjahili Ibu, dengan nafsu gila yang meledak, hendak melepas seluruh baju Ibu, seolah menguliti pisang dan ingin menelannya bulat-bulat. Ibu memberontak-gertak dan menendang kemaluan Tuan Cuak Kuak. Lari keluar. Sampai di rumah Ibu menangis sambil menunjukkan baju robek di dekat pusar. Ayah gusar dan marah, keluar, menenteng parang, membuka baju, ototnya saling berpacu ingin meledak, berderit-derit seperti gelembung air mendidih. Sewaktu dicari di dalam rumah Tuan Cuak Kuak tidak ada, ditemukan sedang berak di kakus belakang, dua puluh langkah dari dapur. Tuan Cuak Kuak cuek saja atas permintaan Ayah agar cepat keluar. Ia berak. Dengan tenang Ayah mendekati kakus, dari belakang mengayunkan parang ke leher Tuan Cuak Kuak yang sedang asyik jongkok. Tuan Cuak Kuak terjerembab ke dalam liang kakus dan tak bangun lagi untuk selamanya. Selamat tinggal. Sampai jumpa di surga. Mayatnya berlepotan kotoran, seminggu dirubung belatung, kutis, dan kalajengking. Akhirnya dikubur di kakus karena pihak keluarga tak mau mengambil, bahkan untuk melihat pun tak berani, takut terkena imbas, mereka tahu sepak terjang si pembunuh. Ayah tak diberi sanksi apa pun. Ayah kepala kampung, punya kuasa, wilayah dan aturan. Orang kampung percaya, Ayah saat itu sedang mempertahankan martabat keluarga, harga diri, yang akan memengaruhi kelangsungan hidup selanjutnya. Kami percaya siapa yang makin kuat merekalah yang akan menang dan bertahan. Yang lemah lebih baik disingkirkan. Tak ada tempat bagi mereka, lebih baik tetap menegakkan hukum rimba. Siapa kalah tamat dan lewat. Namun malam ketujuh setelah kematian Tuan Cuak Kuak, Ayah bermimpi didatangi bayangan perempuan dan mempertanyakan kekejaman Ayah. Bayangan perempuan berpesan agar Ayah selalu mengedepankan hati nurani dalam bertindak. Saat itu pula Ayah curiga jangan-jangan yang mampir dalam mimpinya adalah Ibu Mertua, yang ketika masih hidup sering wanti-wanti agar Ayah selalu menjaga tingkah laku.*** | |
Selasa, 28 April 2009
cerpen kisah prajurit kidal dan cuak kuak
cerpen menjelang pertarungan terakhir
| |
| AKU telah menunggumu dengan susah-payah, Lawanku. Tapi aku masih berharap ini akan menjadi pertarungan terbaik kita, pertarungan habis-habisan. Tapi kenapa kau bimbang? Sebab yang kauhadapi adalah pendekar tua yang buntung tangan kirinya, dengan wajah separuh mayat setengah orang hidup? Oh, jangan sekali-kali kau remehkan aku. Demi Malaikat Maut yang terus mengincarku, aku tidak mau mati oleh racun sialan ini. Aku seorang pendekar, hanya akan mati dalam pertarungan yang selalu punya dua kemungkinan: aku atau lawanku yang mati. Namun, sebelum kita mulai baiklah kaudengarkan apa yang akan kukatakan. Pusatkan perhatianmu. Sebab ini cerita bukan sembarang cerita. Rawa Lingi Di musim yang berlimpahan matahari, dengan kelembaban yang hanya bisa dihayati bekicot dan katak pohon, kulanjutkan lagi perburuanku. Dari kepala turun ke pundak, dari bapak turun ke anak--memburumu. Kulayari lagi rawa itu. Sehamparan pualam hitam: padat seakan-akan, liat dalam tatapan, beriak oleh percikan ludahku. Sedang pepohon di tepinya, seperti para centeng tua yang kurang makan, merinding oleh hawa panas yang bangkit ke arah matahari. Dua puluh kayuhan lagi, mungkin lebih, rakitku bakal sampai ke seberang. Aku memejam, membayangkan sebuah pondok yang akan membuatku tertidur di bawah reruntuhan suara sikatan, keronyos minyak kelapa, harum gurame goreng, gelegak sayur asam, medoknya sambal terasi--Oi, nasi pulan pujaan kaum lapar sedunia. Tapi terbayangkan pula pertarungan itu: golok gerumpung, kepala yang jatuh ke lumpur, seorang anak yang akan menuntut balas. Tapi aku dikagetkan oleh jeritan tukang rakit, oleh kecipak ikan-ikan yang terus menguntit kami. Mereka yang mengasah gerigi dengan bayangan daging paha kambing muda, serentak mengganyang bayangan rakit kami. Maka kujulurkan tangan kiriku yang penuh rajah ke udara, kugoyang-goyangkan ia hingga seekor ular sanca dan seekor harimau biru tua menggeliat tanpa suara. Aduhai, para pemangsa itu alangkah girangnya! Para mangsa itu betapa angkuhnya! Tapi dari tepi rawa, di atas cadas, seorang perempuan berpayung geulis, dengan paras semurung batu kuburan, kontan menggusah mereka. Ia yang terancam oleh tangan dan mataku. Seakan aku malaikat maut--atau si bergajul?--yang akan menghanguskan pepucuk rengas dan membekukan air rawa. Aku merunduk dengan tudung bambu yang nyaris menyentuh air dan kutemukan bayangan tubuhnya tersula bebatang lingi. Tapi ikan-ikan maharakus itu, yang tak sempat lagi kunamai, tak berani menyantapnya sebab sang pemilik bayangan menjerit lebih keras lagi: "Ikan hanyalah ikan jika ia berinsang. Makan ayolah makan jika ingin kupindang." Maka aku melompat ke tepi sebelum bayanganku--seluruh tubuhku--rombeng, sebelum rakit itu sirna dan pengayuhnya geragapan di pematang. Aku berlari menginjak muntahan lingsang, tahi bebek, cangkang kijing, semak orang-aring. Lalu pematang yang lurus, menyerong, bersilangan, dengan rekahan menganga hitam seperti pernah menelan bola api, padang rumput yang mengusir tekukur dan lembu gering. Serentetan ratapan memutar arah pandang: "Saya mengintipmu dari sini, Junjungan. Tubuhmu yang gerumpung perlahan mengendap, dipandu sebongkah batu. Tak mungkin meminta talkin pengiring, tak bisa memilih makam terindah, kecuali bulan sebundar nyiru sekilau mata kucing. Sedang saya mengendap lebih rendah dari perdu ketika sosok di atas rakit itu seperti berkhotbah, 'Dari air balik ke air, dari tanah pulang ke tanah, ke mulut buaya dia punya rumah.' "Tapi bagaimana Tuan akan bangkit dan membalas dendam dengan tubuh yang melawan segala hukum keindahan, dengan kepala yang entah di mana--tak tahu lagi arah kabah dan tudung hidang. Bagaimana Tuan akan memaafkan sekaligus mencintai saya lagi dengan zakar yang kikuk di depan seekor gabus. Bagaimana saya harus mengatakan pada ular-ular itu bahwa yang menetes dari mata saya adalah butiran-butiran garam." Batu Bersurat Perempuan itu tugur. Lebih khusyuk dari zahid, lebih sabar dari anjing, lebih keras kepala dari arca singa. Sudah berapa lama? Hanya demi si mati? Kenapa ia berbaik hati kepadaku? Siapakah yang ia nanti sebenarnya? Aku tiduran dengan tanya tak berjawab, dengan bantal yang memerangkap harum akar wangi dan tanah basah--seleretan geluduk yang mencakari langit selatan. Aku memejam agar yang senantiasa membisu mengucapkan rahasia. Tapi yang tak bisa kucegah terjadi: gemersik dedaun bambu, kelepik jemuran, gedebam timba, derit engsel karat pada pintu dan jendela, madah girang katak bangkong, gericau angsa. Segalanya teraduk dan pecah: hujan termurni, basah paling memberahikan, hijau yang penuh harapan. Alam seperti tercipta dari perang besar yang baru usai.... Oi, seluruh yang lampau merasuki pikiranku seperti arwah penasaran. Segala yang berlayar ke muara serentak kembali ke hulu. Waktu memadat menjadi pecahan tembikar dan batu bersurat yang terjungkal di belakang pondok. Sedang segala yang pecah dan tersurat mengalirkan hawa dingin. Kuhirup ia hingga aku hidup dalam kesegarbugaran ingatan. Demi kuburan Cina yang pernah kujarah karena kemiskinanku, demi sorga yang kubayangkan penuh pohon durian, kini aku tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Ia perempuan jalang yang membuat ayahmu mabuk dan meninggalkan kau dan ibumu. Ia mencintai ayahmu sebesar takutnya pada kematiannya sendiri, sepenuh sayangnya pada seekor kucing belang tiga, sepanas cintanya pada seorang tukang mindring. "Dia tidak mau bunting sama lakinya," kata pemilik pondok, "tapi malah kebablasan sama si tukang mindring. Dia lantas menggugurkannya pada ibuku. "Dia merasa secantik burung mandar tetapi bernasib sesial kokokbeluk." Rimat Gonggo Aku telah berguru kepada para penguasa jurus-jurus terbaik: kepada mereka kusambungkan nasabku, dari mereka kuasalkan ilmuku. Aku telah memburu para bergajul teranjing: ke badan mereka kusarungkan golokku, dari mereka kudapatkan namaku. Tapi hanya ayahmu lawan dari segala lawan. Ia yang menguap bersama asap tabunan, lebur ke lambung malam hujan, diserap angin subuh, menjelma jadi ular beludak, kupu-kupu, pisang seribu.... Hingga kutemukan gurunya, kudapatkan hari naasnya. "Shionya kambing. Adatnya keras, gampang marah dan tersinggung, tapi hatinya baik tiada banding dan gampang tenang lagi jikalau tiada ditantang. Dia bakal mengalami ciong besar pada malam Rabu Paing Cia-Gwe Cap-Go, antara tengah malam hingga ayam turun kandang. Dia bakal menyebut tujuh kata yang tak kumengerti sebelum Malaikat Maut menyentuh ubun-ubunnya." Maka kuikuti ke mana langkahnya, kuawasi setiap geraknya, kuhafal segala perkataannya, hingga seluruh hidupnya kemudian adalah pengetahuanku. Aku kamus hidup yang butuh hanya beberapa malam lagi agar diriku sempurna. Itulah malam ketika ia mencegat si Tukang Mindring di tepi kali selepas Magrib. Tak ada yang bisa dilakukan si Tukang Mindring kecuali menangis dan mencoba mencium kedua kaki ayahmu. "Ampung Wang Lima... ampung...." "Lakonnya memang sudah begitu, Tan Seng Thee. Aku dikhianati, kau tergoda, dia menanggung dosa. Lantaran cinta aku bisa memaafkan dia. Tapi lantaran apa aku harus memaafkanmu. Kau orang paling hina, dilihat dari langit ketujuh sekalipun. Kau akan mencicil kematianmu sendiri sebagaimana orang-orang miskin mencicil utang kepadamu. Kau akan batuk darah selama sebulan. Kau akan tinggal tulang dan kulit hangus. Kau akan mampus seperti ketambus." Si Tukang Mindring seperti diamuk angin puyuh, terhuyung-huyung melintasi tepi kali dan bendungan, entah ke mana. Sedang ayahmu naik sado ke kota, ke pesta malam Cap Go Meh. Inilah malam pengobat duka-lara, malam arak dan cinta, malam untuk hidup dan mati. Orang-orang berdesakan di perempatan, menikmati rupa-rupa hiburan. Tapi ayahmu hanya terpikat pada yang ini: dua barongsai-empat penari, dengan mata yang kelewat besar dan bulu dari serpihan bintang, keluar dari persembunyian setelah dipancing oleh tetabuhan. Orang-orang bertepuk. Dua bintang itu lantas pasang aksi: meliuk-liuk, melompat, menegakkan badan, mengerdip-ngerdip, menggelosor, melompat lagi, ke kiri ke kanan, menyembah, menelan angpau. Ayahmu keluar dari kerumunan setelah dua barongsai itu menelan angpaunya. Ia menepi ke emperan toko, lantas memesan kopi dan makan beberapa potong uli panggang. Setelah itu ia mampir ke tukang jamu, sebelum akhirnya menyelinap ke dalam gang. Kini ia disambut barongsai perempuan, yang tubuhnya sesegar ketimun dan matanya sebundar gandaria. Barongsai perempuan itu lantas menjulurkan lidahnya, menggulung tubuh ayahmu, menelannya, memuntahkannya menjelang tengah malam. Aahhh. Aku menelan ludah. Benar, kulihat ia keluar gang sembari cengar-cengir kuda. Aku kembali membuntuti langkahnya. Sepanjang jalan, di atas sado, ia menyenandungkan entah lagu apa, berulang-ulang, hingga turun di pangkalan dan menyusuri tepi kali. Sesampai di bendungan ia belok kiri, menyusuri jalan berkerikil kira-kira 30 langkah, lantas belok kanan melompati selokan, menjejaki pematang. Aku tahu itu bukan jalan menuju rumahnya. Aku tahu ia menggiringku ke tengah sawah. Baru kira-kira 17 langkah ia berhenti bersenandung dan menoleh ke arahku. Aku tak mungkin lagi sembunyi. "Sejauh-jauhnya langkah pasti ada berhentinya. Sesabar-sabarnya orang pasti ada marahnya. Sediam-diamnya batu pasti ada maunya. Katakan apa maumu." "Setinggi-tingginya pohon pasti ada pucuknya. Sepanjang-panjangnya surat pasti ada tamatnya. Sejago-jagonya orang pasti ada apesnya. Kau akan mati malam ini, di sini." Kami bertarung. Rumput melesak, lumpur meninggi, angin teraduk. Kecipak air, lompatan katak, hunjaman kaki, sisik melik mati, belalang terbang. Pukul berbalas pentil, tendang berbalas sampok, gentus berbalas potong. Jurus berbilang jurus. Kami bertarung. Hingga terpakailah semua jurus kami. Tapi kami seperti dua belahan dari satu tubuh. Tak bisa mengalahkan, tak bisa dikalahkan. Hingga kami berhenti setelah seluruh tubuh kami terbungkus lumpur. Jarak kami sejauh sepetak sawah. Aku duduk di pematang, mengusap lumpur yang memenuhi parasku, mengatur napas. Ayahmu berjongkok di pematang seperti patung kodok. Kami saling tatap, saling incar. Tiba-tiba ia meraba goloknya. Kucekal gagang golokku. Terdengar bunyi sreekk dan bilah goloknya basah oleh sinar bulan purnama. Ia bangkit dan maju tiga langkah, lantas menggeser kaki kanannya ke belakang. Aku berdiri dengan golok merunduk. Kedua tangannya menyilang di atas dada dengan bilah golok menempel di pipi kiri. Dengan gerungan kerbau sekarat ia melesat ke arahku. Aku pun menyambutnya dengan lesatan jalak suren. Hiiaaaattt! Duagghh! Triiing! Crasshh! Tubuh kami berbenturan di udara. Tubuh kami terpental. Aku jatuh duduk dengan sayatan luka di dada kiri. Nyeri campur sesak. Golokku gerumpung. Ia berdiri, sedikit goyah, dengan golok tetap utuh. Setelah tujuh tarikan napas dan kuda-kudanya kokoh, ia kembali melompat ke arahku. Ya, inilah kesempatan terakhirku untuk melawan. Maka dengan sisa-sisa tenaga kuputar tangan kananku, kugulung tangan kanannya, kukunci, kutarik ke dadaku, kupukul pergelangan tangannya kiriku hingga goloknya terlepas, lantas kuberi pukulan siku kanan ke dadanya. Sekuat-kuatnya. Ia terlempar dan terjengkang tidak jauh dari pematang. Ia mengaduh sambil memegangi dadanya. Kucabut goloknya yang tertancap di lumpur, kudekati ia yang terus beringsut mundur hingga bersandar di pematang. Kini jarak kami hanya sedepa. Kulihat matanya mulai putus asa. Kuacungkan golok itu ke lehernya. Kedua biji matanya bergerak ke kiri dan ke kanan seperti mencari arwah para pendahulunya untuk memberinya penyambutan sekaligus penghiburan terakhir. Mulutnya lantas menyembur-nyemburkan darah campur lumpur, seperti ingin berkata-kata, bergetar tak terkendali, meracau: "Beerrrracott burrrrrugatok greonnnggg, beerrrratokk kkkkaalllamintut glabud. Beeerrrr...." Kendi Ingatan Begitulah. Tahun-tahun jahanam telah menghuni kendi-kendi ingatanku. Sepenuh amarah yang tak bisa kucegah, sekeras arak yang selalu merongrongku, setabah gerabah di tengah rimbun api. Kendi-kendi itu kemudian tertindih oleh kendi-kendi lain lagi, penampung segala kecemerlangan, tapi selalu bisa para jahanam itu meloloskan diri. Dengan paras yang menyala oleh girang dan dendam, mereka mendatangiku. Tubuh mereka yang menghijau lebih purba dari hutan larangan, yang membengkak sebesar tempayan, lantas berlompatan, bergesekan, bertubrukan. Aku tersungkur di antara dengung panjang dan tumpahan cahaya hijau--sebelum akhirnya semua hitam sempurna. Seekor serangga berdarah cahaya tiba-tiba menetas di lubuk tergelap mataku. Ia yang memereka tanpa tambah dan kali, terang-temerang tapi bukan lagi penunjuk jalan. Sebaliknya: dasar lubuk matakulah kampung halaman mereka. Lihatlah, sebelum dilumat raksasa yang menjinggakan seperempat ufuk, mereka memburu mataku, menyusul para pemilik kuku yang telah kukirim ke neraka. "Pulang marilah pulang, wahai kaum yang kalah terang. Para pemilik kita, biarlah berjaga-jaga," senandung mereka sambil memijarkan perut mereka seterang-seterangnya. Aku terjaga di antara para mendiang yang menyeringai sekaligus minta dikasihani. Mimpi buruk itu membuat leherku tercekik, hawa kamar membuatku kehausan. Aku minum dari kendi dan membuka jendela dan girang oleh angin yang masuk tanpa permisi. Bulan terang sekali hingga punggung batu-batu bersurat itu tampak mengilat, minta rahasia di tubuh mereka dibaca, tetapi rahasia tetap rahasia. Pohon kapuk di pojok halaman itu juga terlihat hingga pucuknya. Buah-buahnya menyerupai kepompong, jatuh ke atas batu, pecah beberapa, mengeluarkan serat-menggumpal-putih-pucat-lembut, ingin terbang. Oh, aku sungguh terharu oleh pemandangan ini. Tapi keharuanku segera sirna oleh sepotong suara dari balik batang randu--berulang-ulang, bergelombang: "Di mana kepalaku?" Aku menanti siapa yang akan keluar. Hantu ayahmu? Si penyaru? Orang gilakah? Istri muda ayahmu, ternyata. Burung mandar yang kesepian, kokokbeluk tanpa riasan. "Aku tidak akan memberi tahu di mana aku membuang kepala suamimu. Sebab, begitulah syaratnya: Kepalanya harus dipisahkan dari badannya agar dia tidak bisa hidup lagi. Kau akan sia-sia memaksaku." "Mungkin aku bisa menerimanya. Tapi satu hal lagi kuminta. Urungkan niatmu untuk memburu anak ingusan itu. Dia sudah pergi begitu kau tiba di pondok ini." "Aku sudah menandainya. Aku akan mendapatkannya." "Apa semua itu tidak cukup buatmu? Namamu telah masyhur karena nyawa-nyawa yang meregang oleh golokmu. Kau telah membunuh ayah anak ingusan itu, yang adalah suamiku. Kenapa pula kau ingin menghabisi anaknya." "Anak itu mewarisi semua kejahatan ayahnya. Demi segala kebaikan dan ketenteraman hidup kita, segala bentuk kejahatan harus habis." "Sabarlah. Anak itu memang bukan darah dagingku. Dia juga tidak menaruh hormat padaku karena aku merebut ayahnya dari ibunya. Tapi aku menaruh harapan padanya. Dia mewarisi keberanian sekaligus kebengisan ayahnya. Biarkan dia menamatkan satu-dua jurus lagi, agar kuda-kudanya makin kokoh, pukulannya lebih bertenaga, teluhnya tambah ampuh. Aku sengaja meminta dia pergi agar dini hari ini adalah malam kita berdua." "Aku hanya berurusan dengan suamimu dan anak tirimu. Kau bukan lawanku, bukan buruanku, Nyai Sirih Kuning." "Tapi kau telah membunuh suamiku, Muhammad Naim, dengan cara yang sangat keji. Seakan dia tidak punya sanak-keluarga yang menyayangi. Aku tidak mungkin memaafkanmu hingga hari kiamat sekalipun. Kau menghinaku dan sanak keluarga suamiku." Begitulah. Aku kembali bertarung. Jurus-jurus istri muda ayahmu aneh tapi cukup merepotkan. Tidak bisa kutebak ke mana maunya. Sepertinya ia belajar silat bukan pada seorang pendekar, tetapi pada seorang tukang masak. Sampai pada suatu ketika ia memutar-mutar goloknya cepat sekali seperti orang sedang mengocok telur. Ia menyebutnya jurus "Mengocok Telur di Bawah Bulan." Putaran golok mahacepat itu membuat kepalaku memberat dan penglihatanku mengabur, dan sialnya, ia berhasil mendapatkan pergelangan tangan kiriku. Sebaliknya, dengan susah payah aku mendodet perutnya. Ia sekarat dengan usus terburai. Dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha menahan usus yang mulai mengembang karena angin pagi. Suaranya putus-putus, tapi lengkapnya begini: "Aku memang bukan lawanmu. Tapi mampukah kau melawanku dalam soal racun-meracun orang? Kau telah melahap makanan terbaik di pondok ini, bukan? Makanan yang membuat kau kekenyangan dan tidur penuh mimpi buruk. Hikh... kelezatannya sedang meracunimu. Racunnya bekerja sangat pelan, hingga kau...." Perutku langsung mual. Tapi tak ada makanan yang keluar. Segera aku berlari ke dalam pondok dan kugedor pintu kamar pemiliknya. Tapi kamar itu kosong, seperti tak pernah dihuni. Kamar-kamar lain juga sama kosongnya. Aku lantas menuju dapur dan hanya kutemukan perabotan yang bergeletakan dan tungku dingin. Berdebu. Ke mana perempuan iblis itu? Siapa dia sebenarnya? Aku kembali ke tempat pertarunganku dan kudapati istri ayahmu telah sempurna matinya. Jahanam. Parasnya kini berganti-ganti dengan paras pemilik pondok. Siapa dia sebenarnya? Aku keluar dari pondok itu saat terang tanah. Bayangan kematianku memendek pelan-pelan. Kuda-kuda Setelah pertarungan itu aku masih tetap memburumu, tapi kau benar-benar sirna dari kampung itu. Pikiranku mulai dirambati keputusasaan. Sedang racun makanan mahalezat itu terus menggerogotiku. Ugghh... akhirnya aku mengasingkan diri ke peristirahatan ini. Aku yakin kau punya cukup alasan untuk mencariku. Maka aku menantimu. Akulah buruanmu kini. Buruan yang tak meminta belas kasihan. Kecuali maaf seluas langit dan bumi. Kini, pasang kuda-kudamu, Anak Kemarin Sore! Beri aku pertarungan terbaik! *** Kembangan Selatan, 2008 | |
Minggu, 26 April 2009
Bermain Aktif Itu Belajar
By: agussyafii
Bagaimana cara yang paling effektif agar anak memperoleh pengalaman yang bermanfaat? Jawabnya adalah dengan bermain aktif anak memperoleh pengalaman yang bermanfaat. Bermain aktif bukan berarti harus dengan di depan komputer atau permainan mahal. Jika kita cermati banyak sekali 'source' permainan sederhana yang bisa diekplorasi anak-anak kita untuk memperoleh sesuatu yang bermanfaat.
Di hari minggu saya pernah mengajak anak-anak Amalia berburu batu, mencari batu yang memiliki berbentuk. 'Bentuknya seperti apa kak? tanya Reka. 'Apa aja' jawab saya. 'Wah, asyik nih' kata Rizki sambil berlarian diikuti oleh teman-temannya yang lainnya. Anak-anak itu begitu bersemangat bahkan menemukan beraneka ragam batu, ada yang berbentuk daun, bintang, pohon, tombak, kuda, mata, kaki. Setelah semua anak-anak menemukan batu, mereka berkumpul. kemudian masing-masing anak menjelaskan batunya bentuk batunya.
Permainan sederhana seperti 'berburu batu' ternyata memberikan peluang bagi anak-anak untuk berekplorasi dan berimajinasi menemukan batu yang paling indah. Seolah mereka sebagai pemburu harta karun seperti dalam film 'Indiana Jones and The Kingdom of The Crystal Skull'
Anak pada dasarnya memiliki dorongan alamiah untuk mencari pemahaman dunianya dan kita sebagai orang tua juga harus terlibat berperan secara aktif untuk menciptakan lingkungan yang kaya akan permainan yang memiliki makna pembalajaran bagi anak. Itulah yang disebut dengan bermain aktif berarti belajar.
Wassalam,
agussyafii
Bermain Aktif Itu Belajar
By: agussyafii
Bagaimana cara yang paling effektif agar anak memperoleh pengalaman yang bermanfaat? Jawabnya adalah dengan bermain aktif anak memperoleh pengalaman yang bermanfaat. Bermain aktif bukan berarti harus dengan di depan komputer atau permainan mahal. Jika kita cermati banyak sekali 'source' permainan sederhana yang bisa diekplorasi anak-anak kita untuk memperoleh sesuatu yang bermanfaat.
Di hari minggu saya pernah mengajak anak-anak Amalia berburu batu, mencari batu yang memiliki berbentuk. 'Bentuknya seperti apa kak? tanya Reka. 'Apa aja' jawab saya. 'Wah, asyik nih' kata Rizki sambil berlarian diikuti oleh teman-temannya yang lainnya. Anak-anak itu begitu bersemangat bahkan menemukan beraneka ragam batu, ada yang berbentuk daun, bintang, pohon, tombak, kuda, mata, kaki. Setelah semua anak-anak menemukan batu, mereka berkumpul. kemudian masing-masing anak menjelaskan batunya bentuk batunya.
Permainan sederhana seperti 'berburu batu' ternyata memberikan peluang bagi anak-anak untuk berekplorasi dan berimajinasi menemukan batu yang paling indah. Seolah mereka sebagai pemburu harta karun seperti dalam film 'Indiana Jones and The Kingdom of The Crystal Skull'
Anak pada dasarnya memiliki dorongan alamiah untuk mencari pemahaman dunianya dan kita sebagai orang tua juga harus terlibat berperan secara aktif untuk menciptakan lingkungan yang kaya akan permainan yang memiliki makna pembalajaran bagi anak. Itulah yang disebut dengan bermain aktif berarti belajar.
Wassalam,
agussyafii
Metafisika dan Filsafat
Aristoteles adalah orang yang pertama sekali memahami sederet persoalan yang tidak ada hubungannya dengan pengetahuan yang sudah dikenal pada masa itu seperti matematika, etika, sosial, pengetahuan alam ataupun logika. Persoalan persoalan yang ditemukan ini disadarinya sebagai inti dari semua persoalan yang daripadanya kemudian diketahui hubungan dan keterpisahan persoalan suatu ilmu dengan ilmu yang lainnya.
Persoalan ilmu ini dikemudian hari semakin luas seiring dengan pengamatan yang semakin intensif terhadapnya. Sehingga Aristoteles merasa perlu untuk memisahkan ilmu ini dari ilmu-ilmu yang sudah dikenal saat itu karena ilmu ini memiliki sisi khusus disisi berbagai ilmu lainnya. Tetapi perlu diingat, bahwa saat itu Aristoteles tidak memberikan nama untuk jenis ilmu ini sampai dia meninggal.
Setelah Aristoteles meninggal barulah orang-orang mengumpulkan hasil karyanya ini dan disusun dalam sebuah ensiklopedia. Dari sisi urutannya, bahasan yang belum diberi nama tadi terletak setelah bagian ilmu fisika (ilmu alam) . Dari urutan tadi dan dikarenakan memang belum diberi nama, maka mereka saat itu memberikannya nama sesuai dengan urutannya, yaitu ‘setelah fisika’ atau ‘metafisika’ , yang terambil dari kata ‘meta’= setelah dan ‘fisika’ = fisika.
Namun apa yang terjadi kemudian sebagaimana yang kita saksikan sekarang, lambat laun orang-orang mulai lupa akan ‘cerita penamaan’ terhadap ilmu (metafisika) ini. Mereka lupa bahwa nama metafisika adalah penamaan terhadap ilmu yang di urutkan berdasarkan ensiklopedia yang berarti ‘setelah fisika’. Setelah pembahasan filsafat rendah (filsafat fisika ) dan BUKAN karena ilmu ini semata-mata membahas Akal Murni, Tuhan dan segala sesuatunya yang diluar jangkauan ilmu alam (fisika). Karena kalau alasannya adalah karena ilmu ini membahas tentang ketuhanan saja, maka seyogyanya ilmu ini dinamakan PROFISIKA atau ‘sebelum fisika’ , karena Tuhan sesungguhnya jauh sebelum adanya alam dan fisika, dan bukan sesudahnya.
Karena kekeliruan dalam pendefinisian verbal itu, maka sampai sekarang masih banyak ilmuwan barat yang mengatakan bahwa ilmu metafisika adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dan diraba secara fisik / terpisah dari alam material.
Padahal jelas Aristoteles sendiri tidak menamakan demikian terhadap fenomena keterhubungan dan keterpisahan antara satu ilmu dengan yang lainnya itu yang diketahui sebagai pusat faktor keterkaitan dan keterpisahan antara alam materi dan non materi.
Penyederhanaan kalaupun tidak mau dikatakan sebagai penyimpangan makna seperti ini terjadi juga pada kata ‘filsafat’ , bahkan lebih ngacau lagi …
Coba kita perhatikan apa yang terjadi disekitar kita sekarang ini, filsafat yang tadinya berarti semua ilmu pengetahuan yang bisa dicerna oleh rasio (selain wahyu Tuhan) kini menyempit artinya menjadi nama dari satu disiplin ilmu khusus yang membahas tentang metafisika, etika, logika, estetika atau yang lainnya.
Darimanakah ‘kekeliruan’ ini bermula? Mari kita simak apa yang terjadi di abad 16 ketika Rene Descartes dari Perancis dan Francis Bacon dari Inggris mengumandangkan sanggahan mereka terhadap metode deduktif (silogistik) , dimana mereka berpendapat bahwa apa-apa yang tidak bisa dibuktikan dengan eksperimen maka semua ke apaan itu adalah tidak masuk akal, tidak termasuk kedalam ilmu yang dikatagorikan sebagai ilmu yang mempunyai kebenaran. Dan dengan sendirinya ilmu semacam itu diangap tidak berlaku karena tidak mempunyai kaidah dasar yang jelas. Dan bukan itu saja, kelompok ini bahkan kemudian mencoret ‘kepala kodi’ ( kepala ilmu) yang paling agung itu. Menurut mereka tidak ada itu yang namanya filsafat utama, filsafat tinggi, metafisika atau apapun namanya.
Setelah kelompok yang menentang keras filsafat tinggi ini ada juga kemudian kelompok lainnya yang sedikit lebih bersahabat dengan metode silogisme. Mereka mengatakan bahwa apa apa yang BISA dibuktikan dengan eksperimen mereka sebut dengan ilmu ‘science’ dan apa apa yang harus menggunakan metode silogisme seperti metafisika, etika, estetika, logika dan akhlak mereka namakan filsafat.
Disini dan dari sinilah penyempitan definisi verbal itu mulai terjadi, dimana filsafat yang tadinya didefinisikan oleh cendikiawan kuno sebagai nama umum untuk semua ilmu pengetahuan yang bisa dicerna oleh rasio, yaitu filsafat tinggi (teologi), filsafat menengah (matematika) dan filsafat rendah (fisika), kini menyempit menjadi nama khusus untuk ilmu yang membahas etika, estetika, dan logika. Alhasil terjadilah pemisahan antara filsafat dan Ilmu pengetahuan akibat kekeliruan definisi verbal ini.
Ini sangat menggangu khasanah ke ilmu-an, karena yang dipotong bukan saja arti verbalnya tapi sudah menjadi salah kaprah. Perpisahan ini bukan hanya pada istilah tapi juga ‘isi’.
Berbeda dengan ilmu-ilmu kuno lainnya semisal Ilmu kedokteran, ilmu kedokteran kuno demikian dan ilmu kedokteran modern begini, ilmu botani kuno begini dan modern begitu. perbedaannya hanya kepada jenis alat yang dipakai dan metode aplikasinya. Tetapi tetap sama-sama ilmu kedokteran dan ilmu botani. Sedangkan filsafat BEDA JAUH, terjadi perbedaan antara filsafat kuno dan filsafat modern dalam arti yang terpisah, filsafat kuno membahas semua hal dan filsafat modern membahas hal khusus.
Orang Tua Yg Bahagia
By: agussyafii
Orang tua yang bahagia berarti menebarkan cinta pada anak-anaknya sehingga anak-anak tumbuh dewasa menjadi Insan yang penuh cinta. Orang tua yang bahagia mengasuh anaknya dengan cinta akan datang keajaiban dan anugerah hidup yang tidak bernilai harganya.
Saya teringat bagaimana saya mengendong Hana putri saya pertama kalinya ketika terlahir didunia ini. kebahagiaan itu tentunya dirasakan oleh setiap ayah disaat menggendong putra-putrinya masih bayi. Dalam keadaan letih baru pulang kerja sambil terkantuk. mencium tangan yang mungil adalah keindahan bagi seorang ayah. Dengan memeluk putri kita yang masih bayi seolah tidak ingin melepaskan. Pelukan penuh makna bagi seorang ayah terdengar bagai irama kebahagiaan dengan kedamaian bayi mungil yang penuh kepasrahan dan ketenangan jiwanya.
Peristiwa seperti inilah yang terasa indah buat saya. terasa indah bagi setiap ayah yang mencintai anak-anaknya yang juga memperkaya hati kita. Anak-anak itu hadir sebagai obat dikala kita lara dan penyejuk hati dikala kita susah. Namun juga terkadang anak-anak juga membuat kita terkejut dengan kelakuan anak-anak. Seharian maen sampe lupa waktu, mamahnya jadi ngomel-ngomel menjadi tantangan kita sebagai ayah.
Pernah suatu hari Hana minta balon, 'ayah, belon hana ya..' katanya. 'Iya tapi hana mesti makan dulu' kata saya. 'nggak jadi ah..'jawab Hana meninggalkan saya. Tiba-tiba saya menjadi sebel ama Hana, kok nggak nurut sih ama ayahnya. Kejadian itu saya bagaikan bercermin pada diri sendiri bahwa bukan hanya anak yang minta dipenuhi keinginannya namun seorang ayah juga ingin dipenuhi permintaannya oleh anaknya.
satu pelajaran yang saya dapatkan dari kejadian yaitu orang tua yang bahagia adalah orang tua yang selalu belajar dari kesalahan dan membuka diri bagi anak-anaknya.
Wassalam,
agussyafii
Indahnya Menebar Cinta Kasih
By: agussyafii
Kebahagiaan hidup menjadi terasa indah jika kita mampu menebarkan untuk orang-orang disekeliling kita sebagai tanda cinta kasih kita. Indahnya menebar cinta kasih seperti memanjatkan doa untuk orang lain yang berarti memanjatkan doa untuk diri kita sendiri.
Seperti halnya kemaren, ketika saya menulis di facebook dan di wall teman2 dengan memanjatkan doa seperti ini.
'di hari yang indah ini, izinkan saya berdoa untuk anda..Semoga sehat selalu dan dilimpahkan kebahagiaan untuk teman2 semua dan keluarga tercinta'
Begitu banyak respon dan tanggapan dengan memanjatkan doa kembali untuk saya dan keluarga. Jika kita telah membuat bahagia untuk satu orang berarti akan berapa banyak orang yang juga merasakan dampak kebahagiaan yang kita tebarkan. Efeknya sungguh luar biasa bagi diri kita dan juga orang lain.
yuk, kita tebarkan cinta kasih untuk orang-orang disekeliling kita dengan senantiasa mendoakan kebaikan.
--
Dari Abdillah bin Umar, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang memberikan cinta kasih itu diberi rahmat oleh Allah SWT, maka tebarkanlah cinta kasih kepada orang yang ada di muka bumi dan Allah SWT akan memberikan rahmat kepadamu.” (HR at-Turmudzi) .
Wassalam,
agussyafii