| |
| Beberapa jam sebelum kematiannya. Lelaki itu terseok menyusuri pelataran memanjang yang terpapar di sisi gedung tua itu. Pendar matahari mencakar, teriknya di sore hari selalu menggelisahkan. Udara menggantung, menguar panas yang diserap sesiangan. Udara tidak mampu dan tidak mau bergerak. Udara yang diam dibencinya. Udara yang bergeming menyekap alun angin, rasanya menyusutkan kulit tuanya jadi kian kisut dan kusut. Udara yang terpaku memaksa hidungnya mencium berbagai bau, busuk ataupun wangi merasuk. Udara yang diam memerangkap yang baik dan yang buruk jadi satu, menghasilkan sesuatu yang lebih buruk dari yang buruk itu. Hal baik yang terperangkap, dan dipaksa menyatu dengan yang buruk, selalu menyerah kalah dan melahirkan lebih banyak keburukan. Lelaki itu menghela napas. Meski ia tidak tahu ia akan mati, ia merasa segala hal di sekelilingnya seperti mati. Gedung tua ini tadinya cukup ramai pada jam-jam tertentu. Tepatnya pada jam-jam pemutaran film bioskop di dalamnya. Bioskop itu memutar film-film yang tidak terlalu baru, mengundang penonton yang cuma lumayan muda dan cuma sedikit tahu mode. Tidak seperti bioskop-bioskop mutakhir yang memutar film-film terakhir. Yang belakangan ini selalu dikunjungi kaum muda kelas atas, yang ibarat air laut riuh bergulung mengombak di tengah laut. Sementara, bioskop gedung tua itu dikunjungi kaum menengah bawah dan kaum dewasa menjelang tua, yang ibarat air laut perlahan merangkak berbuih menggapai pesisir. Kaum yang ada, atau pernah ada, tapi kemudian merepih dan tersisih. Selain bioskop kelas menengah ini, di ujung lain gedung berbentuk segi empat itu ada satu ruang yang digunakan oleh suatu sanggar kesenian. Pada jam-jam tertentu, guru dan murid sanggar kesenian tersebut saling mengajar dan belajar tarian daerah dan gamelan. Gerak gemulai penari, lantun dengung gamelan, turut meniupkan napas pada gedung tuanya itu. Ya, gedung tuanya. Miliknya. Ia merasa memiliki gedung tua itu karena cinta, bukan karena kerakusan, atau kerasukan. Ia merasa gedung itu bagian hidupnya, dirinya, yang dirawatnya selama berpuluh tahun, yang kini menua bersama dirinya. Belum lama ini, ada pemberitahuan bahwa gedung tua itu beralih kepemilikannya. Pemilik yang baru menghendaki hal-hal yang baru terjadi di gedung itu. Bioskop kelas menengah, sanggar tari, dan gamelan, dianggap bukan hal yang baru. Pusat perbelanjaan, restoran, dan segala yang waralaba jadi incaran. Satu bulan lalu pasukan pekerja bangunan merangsek ke dalam. Mencabuti, melucuti, menanggalkan, meniadakan, apa-apa yang pernah menjadi nadi kehidupan gedung tua itu. Namun kerja mereka tidak lama. Dalam dua minggu riuh rendah pembongkaran lalu seperti membeku. Pekerja bangunan tidak lagi ada yang datang. Kata petugas keamanan dan pengurus sanggar kesenian, pemilik baru melarikan pinjaman dana usaha. Pembangunan terpaksa henti seketika. Lelaki itu merindukan denyut lembut gedung tuanya. Kehidupan gedung tua yang tadinya mendayu perlahan, lalu dipaksa memacu terengah menjadi bukan dirinya, hanya untuk dibekap napasnya, dicerabut hak hidupnya. Wahai, miripnya dengan diriku, pikir lelaki itu. Kenangan masa lalu yang sekelebat hinggap, buru-buru ditepisnya. Andai ia tahu, bahwa ia sebentar lagi mati, tentu diizinkan dirinya untuk bermain sebentar di kubangan kenangan yang tergenang. Tapi ia tidak tahu ia akan mati. Dada yang sering sakit, tekanan di ulu hati yang menghimpit, pandangan yang menggelap tanpa pertanda, kepala yang sering terasa hampa. Tidak ada yang dikeluhkan, meski satu per satu rasa sakit datang bergilir, dan belakangan kian kerap hadir. Setiap hari baginya sama saja. Puluhan tahun, rasanya sama. Meski belakangan, semakin sering ia kelaparan. Gaji bulanan tidak diterimanya lagi. Puluhan tahun setiap subuh ia tinggalkan dingin pembaringannya, untuk menyambut hangat sinar matahari pertama yang berhasil menyeruak dari langit yang seperti retak, di gedung tua itu. Puluhan tahun ia lewati siang yang memanggang, petang yang mengelam, di pelatarannya, untuk kemudian pergi ke rumah dimana pembaringannya terjerang. Pergi hampir selalu dengan perasaan merindu. Ingin segera bertemu dengan gedung tuanya kembali, di keesokan hari. Puluhan tahun ia tekun menyapu dan mengepel setiap jengkal lantai berkeramik warna merah tanah gedung tua itu. Membersihkan kaca yang memanjang di sisi muka, memisahkan pelataran gedung dengan ruang tunggu penonton, kasir karcis, dan penjaja cemilan seadanya dalam bioskop. Membersihkan kedua kamar mandi yang tersuruk bersembunyi di salah satu sisi gedung. Ia menyayangi gedung tuanya, menyayangi setiap sisi gelap dan terang gedung dengan merawatnya begitu teliti. Ia mungkin hanya petugas kebersihan bagi pengelola gedung, namun baginya ia adalah gedung tua itu sendiri. Sore itu ia menyambangi gedung tuanya. Ia ingin mengucapkan selamat berpisah sementara. Tidak lagi sering ia bisa mengunjunginya. Ia baru saja mendapat pekerjaan baru - ketua sanggar kesenian yang sudah lama dikenalnya mengajak turut bantu merawat sanggar dan peralatan gamelan di tempat baru mereka. Mereka pindah ke pinggiran kota, menemukan satu-satunya tempat yang bisa disewa dengan harga murah sesuai keuangan sanggar. Keuangan yang selalu tipis karena kekeraskepalaan ketua sanggar untuk tidak mengambil keuntungan dari keanggotaan, tetapi kepuasan menularkan rasa berkesenian. Menyisir pelataran gedung, ia terkesiap. Andai ia tahu ia akan mati, pasti disangkanya perempuan yang berdiri sendiri di kejauhan itu bidadari. Cantik sekali, katanya dalam hati. Dan dadanya yang pipih ringkih seperti terasa dihantam gada, saat perempuan muda itu menoleh padanya dan berjalan perlahan menghampirinya. Mirip Sariti. Bahkan saat ia belum mati, ia merasa didatangi bidadari. Sariti menjelma jadi bidadari. "Maaf, Pak, mau numpang tanya." Lembutnya suaranya. Udara seperti tergugah untuk menari, mendengar lantun lembut suaranya. Lelaki itu merasa udara akhirnya beranjak dari duduknya, mengitari tubuh tuanya, meniupkan angin lembut pada tengkuknya. Sore tidak lagi terasa mati. Gedung tua tidak lagi seperti mau mati. "Saya tidak tahu kalau bioskop itu," jari telunjuk perempuan itu gemulai menunjuk bak penari pada kaca memanjang yang banyak pecah, "Sedang direnovasi. Sanggar kesenian yang di sini," ia memutar tubuh sedikit ke arah ruang sanggar dan menunjuk lagi dengan telunjuknya, "Sudah pindah, atau tutup, Pak?" Lelaki itu tadinya kesulitan berkata. Tapi dipaksakannya juga, "Neng mau nonton atau ke sanggar?" "Ke sanggar," cepat terjawab. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya. Sariti, apa ini kau kembali?" "Mau ikut nari?" tanyanya lagi setengah berharap. Kali ini perempuan itu tidak menjawab cepat. Ia tertawa kecil, jemari tangan kanan melengkung menutupi bibirnya. Ia hampir pasti, ini Sariti yang kembali! Gerak geriknya begitu mirip Sariti. "Kok, Bapak tahu? Malu, sebenarnya. Sudah tua begini masih baru mau belajar nari. Tapi, ya, saya yang mau belajar nari. Saya baru tahu sanggar ini setelah diliput di koran, beberapa saat yang lalu. Lama saya mencari sanggar kesenian yang mengusung kesenian asli daerah, bukan modifikasi." Lelaki tua itu seperti mendengar gending gamelan dari kejauhan. Sinar matahari meredup, daun-daun di pepohonan kersen di depan gedung gemerisik, seperti berbisik, "Sariti kembali." "Belum tua, masih muda begitu, kok. Belum tiga puluh, kan." Perempuan itu tidak menjawab, hanya tertawa renyah. "Umur berapa pun, kalau sudah minat dan bakat, tidak apa memulai sesuatu yang baru. Bahkan menari pun. Pernah menari, sebelumnya? Atau...punya turunan darah penari?" Ia menahan diri untuk tidak gemetar saat akhirnya memberanikan bertanya. Perempuan itu termangu. Matanya seperti berpendar saat menjawab perlahan, hampir seperti mengkhidmati ucapannya sendiri, "Ibu saya memang penari. Zaman dahulu saat mudanya. Tapi sejak lama, beliau tidak pernah lagi mau menari." Perempuan itu merenungi kata-katanya sendiri, hingga lengah mendapati genang air di mata lelaki tua di hadapannya. Seperti beberapa orang yang akan mati, lelaki itu merasa seakan hidupnya baru akan dimulai kembali, bukan hendak diakhiri. Ia merasa mendengar tabuh lelaguan yang makin semarak dalam hati. "Mau, saya antar besok ke tempat sanggar yang baru?" Perempuan itu mengangguk bersemangat dalam kepolosan seorang anak kecil. "Besok, kita ketemu lagi di sini. Saya antar Neng ke sanggar itu." Dan mereka berpisah di sana. Setelah mengukuhkan janji untuk bertemu lagi, esok sore hari. Ia setengah berlari, terseok karena satu kaki tetap sulit berfungsi setelah dihajar siksa penjara puluhan tahun lalu. Pulang, menuju rumah dengan kamar kecil indekos yang telah disewanya puluhan tahun. Tak dihiraukannya napasnya yang semakin berat dan dada kirinya yang mendadak seperti ditekan ujung tumpul gelondong kayu. Ia hanya ingin segera sampai ke kamar sempitnya, mencari satu-satunya foto yang dibawa dari masa lalunya. Foto Sariti dan dirinya, di malam pengantin mereka. Ia hampir merasa pasti. Perempuan tadi begitu mirip Sariti, perempuan yang dinikahinya satu tahun sebelum saat orang banyak membunuhi orang banyak lainnya di negeri ini. Perempuan yang dipisahkan begitu saja darinya, saat keduanya terpenjara dan dianiaya. Hanya karena terpikat untuk belajar berbudaya dan berkesenian, di suatu lembaga kesenian yang lalu didakwa jadi bagian organisasi sangat terlarang di negara ini. Tahunan dipenjara, ia tidak pernah mendengar tentang Sariti lagi. Entah benar atau tidak, anak itu dari rahim Sariti. Tapi tidak masalah. Mungkin benar, mungkin tidak. Itu bisa ditanyakan, saat mereka bertemu lagi esok hari. Dan akan ditanyakannya, Apakah Sariti, ibumu? Dan lalu, Apakah Sariti, ibumu, berbahagia? Dan itu yang penting baginya. Bahwa Sariti akhirnya berbahagia. Sayang, tidak mungkin baginya bertanya. Sebentar lagi ia akan mati. *** | |
Selasa, 28 April 2009
cerpen tabuh bunyi sebelum mati
cerpen senyuman kampanye
| |
| Pada pemilu tahun ini, Ning Ayu menjadi caleg dari sebuah partai baru.Sebagai seorang perawan yang sudah berkepala empat, kampanye dirinya sebagai caleg akan dimanfaatkan pula untuk mendapatkan belahan jiwa. Maka, kampanye baginya harus serius dibanding kampanye yang dilakukan caleg-caleg lain. Agar sukses, Ning Ayu merasa perlu meminta bantuan paranormal meskipun ia sarjana ekonomi. Kebetulan, di daerahnya ada seorang paranormal, Eyang Bowo, yang dikenal luas memiliki kemampuan supernatural seperti ilmu pelet massal. Ning Ayu teringat cerita mistik tentang riwayat asal-usul ilmu pelet massal yang kini dimiliki Eyang Bowo. Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, ilmu pelet massal sangat hebat karena bisa digunakan untuk menebar pesona sehingga banyak rakyat akan jatuh cinta dan bahkan tergila-gila. Konon, menurut cerita dari mulut ke mulut, raja-raja di Jawa dan kerabatnya mewarisi ilmu pelet massal dari Ken Arok. Siapa saja yang memiliki ilmu pelet massal pasti akan menjadi penguasa. Banyak orang Jawa percaya bahwa ilmu pelet massal memang selalu hebat sepanjang zaman karena dibuat oleh Ratu Laut Selatan yang dipercaya menguasai alam gaib. Ilmu pelet massal pertama kali diberikan oleh Ratu Laut Selatan kepada Ken Arok untuk membangun kerajaan besar di Jawa. Eyang Bowo dipercaya memiliki ilmu pelet massal. Tapi, karena Eyang Bowo tidak berminat menjadi penguasa, lantas ia menjadi paranormal. Kemudian, setiap menjelang pilkades, pilkada, pemilu, dan pilpres, banyak orang mendatangi Eyang Bowo untuk meminta berkah ilmu pelet massal. *** Siang itu, Ning Ayu mendatangi rumah Eyang Bowo yang berada di sebuah kampung di lereng gunung. Ning Ayu sengaja datang sendirian agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Baginya, meminta bantuan paranormal harus dirahasiakan karena menyangkut urusan politik dan urusan jodoh. Setibanya di rumah Eyang Bowo, hati Ning Ayu sangat lega. Di sana tidak ada tamu lain yang datang dengan tujuan yang sama seperti dirinya. Ning Ayu menduga, banyak caleg yang datang ke rumah Eyang Bowo pada malam hari agar tidak tepergok lawan politiknya. ”Saya sowan kemari mau minta tolong kepada Eyang Bowo.Tolong beri saya restu dan jimat ilmu pelet massal agar semua rakyat memilih saya dan ada salah satu pria baikbaik yang bersedia menikahi saya,” tutur Ning Ayu setelah memperkenalkan dirinya sebagai caleg dan masih lajang. Eyang Bowo duduk bersila di atas karpet hitam di ruang tamu rumahnya yang berlantai tanah dan berdinding kayu kuno.Eyang Bowo berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala hitam. Ia tampak sangat berwibawa sebagaimana umumnya penampilan paranormal. Eyang Bowo menatap wajah Ning Ayu seksama.Laki-laki tua itu sekilas tampak terpesona. Ning Ayu menundukkan wajah ketika mata Eyang Bowo menatapnya tajam-tajam. Rasanya takut bertatapan dengan laki-laki tua yang sakti berilmu pelet massal yang sudah terkenal itu. ”Kamu hanya butuh satu modal untuk menarik dukungan banyak rakyat dan menarik hati seorang pria,” ujar Eyang sambil tetap menatap tajam-tajam wajah sang tamu. Entah pikiran dan perasaan apa yang sedang berlintasan di dalam kepala dan dada laki-laki tua itu. Sesekali napas laki-laki tua itu ditarik panjang-panjang,seperti ada perasaan tertentu yang mengganjal di dalam rongga dadanya. ”Modal apa yang harus saya sediakan untuk bisa menang dan mendapatkan jodoh, Eyang?” tanya Ning Ayu tak sabar. ”Tersenyum lebar, itulah modalmu. Jadi,mulai sekarang kamu harus selalu tersenyum lebar kepada semua orang.” Ning Ayu tiba-tiba seperti mendapatkan teguran keras sebab selama ini dirinya memang cenderung pendiam dan pemalu dan tak suka memperlihatkan senyuman lebar. Sikap pendiam dan pemalu yang sejak kecil dimiliki Ning Ayu bisa jadi karena dua gigi besar yang agak menonjol. Jika Ning Ayu tersenyum,dua buah gigi besar itu akan terlihat makin menonjol sehingga di mata siapapun yang memandangnya akan mendapatkan kesan sama: Ning Ayu memang bergigi tonggos. Sebagaimana umumnya perempuan bergigi tonggos memang selalu bersikap pendiam dan pemalu, jarang tersenyum kepada siapapun. ”Percayalah, kalau kamu tersenyum lebar kepada semua orang, akan membuat mereka terpesona dan kemudian bersedia memilihmu. Di antara mereka pasti akan ada seorang pria yang jatuh cinta kepadamu lalu mengajak menikah. ”Tiba-tiba Ning Ayu mengangkat wajahnya sambil tersenyum lebar kepada Eyang Bowo. Sesaat keduanya berpandangan dan sama-sama tersenyum lebar. ”Ya, tersenyumlah yang lebar seperti ini kepada semua orang. Pasti kamu akan berhasil meraih suara terbanyak dan mendapatkan jodoh yang baik. Sekarang silakan pulang. Aku mau istirahat sebentar. Biasanya mulai sore hingga menjelang fajar banyak tamu berdatangan.” Ning Ayu segera meletakkan sebuah amplop berisi selembar uang seratus ribu rupiah di hadapan Eyang Bowo. Kemudian menjabat tangan laki-laki tua yang masih tampak perkasa itu. *** Sepanjang perjalanan dari rumah Eyang, Ning Ayu selalu tersenyum. Ingin dirinya mematuhi perintah Eyang Bowo, meski hatinya masih saja menyimpan rasa malu gara-gara bergigi tonggos. Betapa dirinya menyadari pasti akan terlihat lebih jelas tonggosnya kalau sedang tersenyum lebarlebar. Tapi, demi cita-citanya meraih suara terbanyak dan mendapatkan jodoh yang baik, Ning Ayu akan selalu tersenyum lebar kepada siapapun. Setibanya di rumah, karena terus menerus tersenyum lebarlebar, Ning Ayu mendapat teguran ibunya. ”Kamu jangan terlalu mengumbar senyuman seperti itu.” Teguran ibunya itu ditanggapi Ning Ayu dengan tersenyum lebar. ”Modal saya satu-satunya untuk menarik hati rakyat adalah senyuman, Bu.Terus terang,tadi saya barusan bertemu Eyang Bowo. Beliau menyarankan agar saya selalu tersenyum kepada semua orang kalau ingin memperoleh suara terbanyak dan mendapatkan jodoh yang baik,” tuturnya jujur. Ning Ayu memang ingin selalu bersikap jujur kepada ibunya. Ibunya juga selalu berkata jujur kepadanya. ”Ya, senyuman memang bisa menjadi modal kampanye yang paling hebat.Tapi, rasanya kamu tidak perlu terlalu mengumbar senyuman kepada semua orang.” Ning Ayu tersipu. ”Ibu pasti ingin mengatakan bahwa saya adalah gadis tonggos,bukan?” Ibunya mengangguk. ”Ya, kenyataannya kamu memang bergigi tonggos, dan karena itu jangan mengumbar senyuman kepada semua orang.Kalau memang kamu harus tersenyum,tersenyumlah sekilas saja agar lebih menarik. Jangan biarkan banyak orang bebas memperhatikan gigimu yang tonggos itu,”tutur ibunya. Sebagai orangtua, ibunya sedikit kecewa memiliki anak gadis bergigi tonggos.Kalau boleh memilih, tentu akan jauh lebih senang punya anak gadis bergigi apik sehingga jika tersenyum akan terlihat sangat manis. Ibunya paling tidak suka melihatnya tersenyum lebar-lebar seolah-olah sengaja mau memamerkan giginya yang tonggos itu. ”Demi meraih kemenangan pemilu,saya akan selalu tersenyum lebar kepada semua orang, sebagaimana yang telah disarankan oleh Eyang Bowo.” Ning Ayu bersikeras untuk mengabaikan nasihat ibunya.Lalu, ibunya bersikap masa bodoh.Terserah Ning Ayu untuk selalu tersenyum lebar kepada semua orang, kalau memang itu dianggap sebagai strategi jitu untuk menarik simpati banyak rakyat dan mencari jodoh. Ning Ayu kemudian mendatangi percetakan terdekat untuk mencetak gambarnya berukuran besar-besar yang akan dipasang sebagai spanduk dan baliho di sejumlah ruang publik dalam rangka kampanye pemilu. Ning Ayu sengaja memilih salah satu fotonya yang paling tampak ceria dengan ekspresi tersenyum lebar-lebar. Untuk mencetak gambarnya yang besar-besar itu,Ning Ayu rela berutang kepada bank dengan agunan sertifikat rumah yang masih atas nama ibunya. Ibunya terpaksa mendukungnya agar tidak terus-menerus menjadi pengangguran dan perawan tua. Biasanya, seorang ibu akan rela berkorban demi kesuksesan anaknya. Ning Ayu adalah putri tunggal sehingga ibunya sudah lama ingin punya anak mantu dan punya cucu. Sepekan kemudian, gambargambar Ning Ayu yang tersenyum lebar-lebar itu sudah terpampang sebagai spanduk dan baliho di banyak tempat terbuka.Setiap ada warga yang memandang gambar Ning Ayu pasti akan tersenyum geli, seperti melihat badut yang lucu. Lalu, beberapa hari kemudian, gambar caleg-caleg lain bermunculan, bersaing dengan gambar Ning Ayu.Anehnya,semua gambar caleg lain juga lucu-lucu karena memperlihatkan senyuman lebarlebar seperti sengaja berlombalomba unjuk gigi. Setiap sore, Ning Ayu sengaja berkeliling kota dengan mengendarai sepeda motor dan memakai helm berkaca gelap. Ning Ayu ingin mengetahui reaksi warga terhadap gambarnya dan gambar-gambar caleg lain yang terpajang di sejumlah ruang publik. Di dekat perempatan jalan, ketika lampu merah menyala, Ning Ayu menghentikan sepeda motornya. Di sudut perempatan itu ada sekelompok pemuda sedang berdiskusi tentang gambargambar caleg yang dipajang sebagai baliho dan spanduk. Ada yang berkata keras memuji-muji gambar Ning Ayu yang dianggap sebagai caleg bergigi paling tonggos. ”Pokoknya, Ning Ayu yang paling lucu. Setiap melihat gambarnya, aku pasti selalu geli. Pernah aku tertawa sendirian di rumah gara-gara teringat gambar Ning Ayu. Lalu orangtua dan saudaraku kaget dan mengira aku mulai gila. Lucu sekali.” ”Kabarnya Ning Ayu masih lajang,” kata salah seorang pemuda. ”Ya, Ning Ayu memang masih lajang. Memangnya kamu mau menjadi suaminya?” timpal pemuda yang lain. ”Ya, kalau Ning Ayu berhasil meraih suara terbanyak, aku mau menikah dengannya!” ”Ya, rasanya pasti menyenangkan jika bisa menikah dengan anggota wakil rakyat yang bergaji besar dan mendapat banyak sekali tunjangan dan berbagai fasilitas dari negara. ”Ning Ayu menahan tawa mendengar kata-kata pemuda-pemuda yang sedang membincangkan tentang dirinya. Andai saja Ning Ayu tidak memakai helm berkaca gelap, mereka pasti melihatnya dan bisa jadi akan tertawa bersama karena orang yang sedang diperbincangkan ternyata ikut mendengarkannya. *** Sehabis pemilu, Ning Ayu dirundung kecewa karena gagal meraih suara terbanyak. Meski demikian, Ning Ayu tetap selalu tersenyum kepada semua orang.Baginya, senyuman harus selalu diumbar untuk berkampanye bagi dirinya agar segera dipilih oleh seorang pria untuk menjadi istri. Bertahun-tahun Ning Ayu selalu tersenyum lebar kepada semua orang. Ketika ibunya sakit, Ning Ayu tetap tersenyum lebar kepada semua tetangga yang membesuk. Ketika ibunya wafat, Ning Ayu bahkan tetap saja tersenyum lebar-lebar kepada semua pelayat. ”Rasanya ada yang tak beres dengan Ning Ayu,deh.Ibunya wafat kok malah tersenyum-senyum saja,” bisik seorang tetangga kepada tetangga yang lain, sepulang melayat. ”Ya, betul. Ning Ayu memang tampak aneh. Jangan-jangan Ning Ayu sudah gila sehingga selalu tersenyum lebar pada saat sedang berduka cita.” ”Kasihan sekali Ning Ayu, kalau terus menerus tersenyum lebar...” *** Griya Pena Kudus,2009 | |
cerpen lelaki terpuji itu
Lelaki Terpuji Itu
Cerpen Nelson Alwi
Dimuat di Jurnal Nasional 04/05/2009 Telah Disimak 278 kali
Dia bukan modin. Tapi sepengetahuan orang-orang, kepeduliannya pada musala di kompleks perumahan di mana kami bermukim, melebihi loyalitas seorang modin atau penjaga rumah ibadah mana pun.
Biasanya, antara pukul sembilan dan sepuluh pagi, dengan handuk kecil tersampir di pundak, dia sampai di musala. Tenang-tenang dia singkapkan pintu dan jendela rumah ibadah itu. Tenang-tenang pula dia buka gudang perkakas. Kemudian, ada-ada saja yang dia kerjakan—tergantung cuaca dan, mungkin juga, merupakan kebijakan atau kemauannya belaka.
Adakalanya dia memanjat ke atap musala, membersihkan berumbung yang dipenuhi dedaunan kering atau bebatuan kecil yang dilemparkan anak-anak, sekaligus memeriksa kalau-kalau ada genting yang bocor. Lain waktu orang-orang mungkin melihat dia meretas rerumputan yang menyemak di halaman depan, atau asyik menyiangi aneka tanaman yang memadati parak di sebelah kiri musala. Dan di lain kesempatan orang mungkin pula mendapati dia tengah menomboki lantai serta dinding tembok rumah ibadah itu, yang mengelupas, dengan adukan air-semen dan pasir.
Dan bagai punya pertalian batin dengan waktu, kurang lebih 15 atau 20 menit menjelang lohor, otomatis dia menghentikan aktivitasnya. Tenang-tenang dia berjalan ke bagian belakang musala dan, hanya kata sebagian orang, sebelum mandi atau cukup melap badan dengan handuk kecil yang dibasahi air dan berwudu, dia kuras jamban serta bak mandi terlebih dulu. “Kapan perlu saja,” katanya pada suatu kali, menanggapi seorang jemaah yang mencoba mengorek kebenaran cerita itu langsung dari dia. “Tidak enak perasaanku sembahyang andai segala sesuatu fasilitas musala belum rapi seperti sediakala.”
Baginya memang tidak ada waktu salat di musala yang terlewatkan. Saat hujan lebat sekalipun, dengan memakai payung dia tiba di musala. Membuka pintu dengan kunci duplikat yang diamanahkan pengurus kepadanya. Mengambil air sembahyang, lalu ke mihrab mengumandangkan azan.
Lepas salat lohor dia pulang. Mungkin cuma makan dan beristirahat barang beberapa jenak. Sebab tidak lama kemudian dia kembali muncul di musala. Dan sebelum atau seusai salat asar ada-ada pula yang dia kerjakan. Mengemocengi bendul jendela, mimbar serta perabotan lain, sekaligus merapikannya. Mengencangkan sakelar yang longgar sekrupnya dengan obeng. Memungut kemasan bekas makanan anak-anak serta sampah yang bertaburan di sekitar musala, menyatukan dengan rerumputan kering di halaman, lalu membakarnya.
Atau seperti pernah dipercakapkan Bimo dan kawan-kawannya, dia juga mencabuti paku dari papan bekas coran yang dia onggok di piring-piring emperan yang terlindung atap musala dengan tang atau kuku-kambing, meluruskan paku-paku itu dengan martil kecil, menyortirnya: panjang dua inci dia masukkan ke wadah berlabel 2”, panjang dua-setengah ditaruh di wadah dengan label 2,5” dan, begitu seterusnya. “Tak elok menyia-nyiakan barang yang masih bisa dimanfaatkan,” keceknya kepada anak-anak yang sesekali suka menggerombolinya.
Kira-kira pukul lima petang dia akan pulang pula ke rumahnya. Mungkin hanya mandi, bercengkrama dengan istri serta anak, atau boleh jadi turun tangan melaksanakan pekerjaan rumah-tangga. Tak tahulah. Pokoknya, menyongsong magrib dia kerap mengiringkan istrinya, dan kadang-kadang dia juga membawa serta putrinya, ke musala.
Selesai salat magrib berjemaah dia mendengarkan ceramah agama, sekiranya ada, dengan takzim. Atau, sembari merokok dia terlibat omong-omong dengan kaum bapak, menunggu waktu salat isya tiba. Dan, dia tidak akan beranjak dari musala sebelum jemaah terakhir meninggalkan rumah ibadah itu. Ya, selalu dia yang mematikan lampu musala di malam hari, menghidupkannya di subuh buta. Menyetel kaset pembacaan ayat suci, menyapu serta membenahi sajadah atau tempat sembahyang yang centang-perenang.
Pendek kata, dengan sendirinya orang-orang angkat tangan alias menaruh respek sangat besar kepadanya. Orang yang akan menjadi muazin, banyak. Orang yang mau diseraya membersihkan jamban atau tempat berwudu, ada. Orang yang akan digaji menjadi pegawai musala apalagi, bejibun. Tapi orang yang lillahitaala lagi habis-habisan mengorbankan waktu serta tenaga demi rumah ibadah dan lingkungan tempat tinggalnya, kemana akan dicari. Dan satu di antara orang yang susah dicari itu, adalah dia: Joumar.
***
Di samping kiri musala, dulu, ada tanah kosong 8x14 meter, yang dicadangkan untuk perluasan bangunan rumah ibadah itu. (Berhubung pengurus belum juga berhasil menghimpun dana pembangunan kendati sudah menyodorkan sekian banyak proposal kesana-kemari, maka lahan yang masih terlantar itu dia berdayakan dengan sebaik-baiknya). Dengan telaten dia garap tanah tak produktif itu, menjadikannya sebagai apotek hidup. Kesudahannya, selain jahe, kunyit, serai, lengkuas, setawar, sedingin, temu lawak, inai, bunga raya putih dan lain sebagainya, di lahan tergolong sempit itu juga ditemui bermacam-ragam tanaman seperti ruku-ruku, tapak liman, pepaya, nanas, pisang, tebu, labu siam, japan, pare, kacang panjang, ubi jalar, singkong, terong, tomat, kemumu dan cabe rawit.
Masuk akal jika kemudian ibu-ibu yang tinggal di kompleks perumahan di mana kami bermukim merasa seolah-olah menemukan dunia baru lagi tersendiri di musala itu. Mereka, secara langsung turut menikmati hasil jerih payah lelaki 54 tahun itu. Tanpa minta izin kepadanya atau pada pengurus musala, orang-orang leluasa saja mengambil apa yang diperlukan dari parak yang dia upayakan. Bahkan, ketika berserobok dengan dia yang sedang menyiangi tanaman atau meretas rerumputan di halaman depan, seorang ibu cukup berujar: “Minta kemumunya, ya, Pak.” Dan belum lagi dia menjawab atau menganggukkan kepala, ibu-ibu itu langsung menebas batang kemumu dengan pisau dapur—dan setelah itu, ibu-ibu tadi malah mengerat juga beberapa helai daun kunyit serta mencungkil sebingkah umbinya dari dalam tanah.
Biasanya, dia cuma tersenyum saja, sedikit. Atau kadang-kadang bertutur ramah: “Akan menggulai ayam tampaknya Ibu ini. Akan makan besar rupanya Bapak dan anak-anak hari ini….”
Ibu-ibu yang barangkali pemalu dan pendiam boleh jadi hanya tersipu atau mengulum senyum. Tetapi ibu-ibu yang curiahan dan agak lancung, terkadang, dengan spontan mengajaknya berandai-andai, atau mewawancarai lelaki separuh baya itu sepuas hati.
Konon dia melayani setiap lawan bicaranya dengan setulus hati, menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan polos. Dengan demikian, orang-orang pun jadi sangat mengenalnya, luar-dalam, nyaris seutuhnya.
Dua tahun lalu dia terkena program rasionalisasi di perusahaan tempatnya bekerja, yang berbuntut pemutusan hubungan kerja. Pada mulanya, lantaran merasa belum terlalu tua alias masih punya tenaga dan ingin tetap berusaha, dia mencoba mencari pekerjaan pengganti kesana-kemari, tetapi faktor usia selalu mengandaskan impiannya. Lantas terniat olehnya untuk pulang ke kampung-halaman, di mana sawah dan ladang terbentang luas, menanti jamahan tangan-tangan yang rajin. Namun istri dan anaknya keberatan. “Apa kata orang kalau Bapak di kampung sementara kami masih di sini,” ujar mereka meyakinkan. Maka, dia pun mengalah.
Tetapi di rumah dia sering pula merasa kurang kerasan, lebih-lebih di siang hari. Istrinya mengajar di sebuah SD swasta. Sedangkan putrinya, Yuliza, juga jarang di rumah. Alumni institut keguruan itu begitu sibuk, jadi guru honorer pada beberapa sekolah menengah sambil mencari lowongan pekerjaan yang bersifat tetap.
Putra sulungnya, Suardi, sudah berbilang tahun merantau. Sarjana teknik industri lulusan ITB itu, yang katanya telah berhasil memperoleh lisensi bertaraf internasional di bidang keahliannya, kini menjabat sebagai manejer produksi di perusahaan milik orang Jerman di Batam. Suardi memilih gadis Solo sebagai pendamping hidupnya. Dan menurut orang-orang, dalam setiap kesempatan dia cenderung bersemangat mengarahkan pembicaraan kepada kenakalan dan kelucuan dua anak Suardi.
***
Dalam benak orang-orang memang telah terpatri, kepedulian maupun sumbangsihnya terhadap musala serta lingkungan tempat tinggalnya, melebihi komitmen seorang modin atau pekerja sosial mana pun. Orang-orang merasa sangat kehilangan sewaktu tidak menampak batang hidungnya. Dan seolah mengarifi keprihatinan semua orang, dengan nada menghibur, mubalig tetap pengajian di musala kami berpetuah, terpancar lewat pengeras suara yang dipasang di kubah musala: “Menurut ajaran agama, orang kayak Pak Joumar itulah manusia yang paling mulia. Ada yang kurang rasanya kalau dia tidak hadir di antara kita. Dari itu seyogianya kita sama mendoakan, semoga beliau lekas sembuh jika sakit, dan cepat kembali bila bepergian….”
Tiada heran, tidak hanya pengurus dan jemaah setia, orang-orang yang kecipratan hasil jerih payahnya dan, mereka yang cuma sekali dua mengikuti wirid dan sembahyang di musala, berduyun pergi menengok dia yang lagi diserang demam.
“Pak Joumar sakit, ya, Bu,” kata Bimo.
“Iya. Sudah tiga hari….”
“Ibu mau besuk?”
“Tentu. Memang kenapa?”
Astaga! Ketika main sembunyi-sembunyian dekat musala, Bimo dan beberapa kawannya pernah memergoki dia sedang mengintip ibu-ibu. “Sambil membersihkan tempat berwudu kaum bapak, Pak Joumar menempelkan sebelah matanya ke dinding triplek bolong,” demikian Bimo mengakhiri ceritanya.
“Boleh itu, Bu?”
“Jelas tidak,” jawabku, setenang mungkin. Aku berpikir, jangan-jangan Bimo, anakku semata wayang, cuma berfantasi.
“Dedet bilang itu dosa, Bu.”
“Betul itu,” kataku. “Agama melarang kita melihat aurat orang lain,” tukukku seraya terus menandani diri di muka cermin.
“Tapi Pak Joumar bukan modin, kan, Bu?”
“Iya. Bukan….”
“Bu…,” Bimo tertegun. Gelisah, dia hindari pandanganku. Darahku berdesir.
“Ada apa, Bim?” aku bertanya hati-hati.
“Ibu tidak marah, kan?”
“Kenapa musti marah?”
“Aku….”
“Kamu kenapa, Bim?” hasrat ingin tahuku menggebu karena kalimat Bimo yang menggantung itu. Dadaku berdebar, tak enak.
“Ibu janji tidak marah, ya?!”
Aku mengangguk dalam-dalam, berulang kali, untuk meyakinkan Bimo.
“Minggu lalu… aku melihat… melihat, ya, Minggu lalu aku melihat… Pak Joumar memagut Bi Kembang di balik pohon pisang di pekarangan musala.”
Aku bagaikan tersengat arus listrik mendengarnya. Jantungku seperti mau copot. Dadaku berdebar lebih kencang dari tadi. Pakaian yang baru kukenakan untuk besuk bersama beberapa ibu tetangga jadi berlobang-lobang rasanya. Lama aku terdiam. Perasaanku benar-benar porak-poranda, tak karuan dan… geram bukan alang-kepalang.
“Bu!” imbau Bimo memecah kebekuan. “Ibu marah, ya?!”
“Ndak, Bim….”
“Wajah dan mata Ibu merah! Ibu janji lho tak akan memarahi Bimo….”
“Ibu cuma marah kalau cerita itu kamu beritahukan pada orang-orang,” ujarku pula. Ya, apa lagi yang musti kukatakan kepada Bimo. Siapapun, kupikir akan pusing tujuh keliling menghadapi realitas yang bertolak-belakang dengan keyakinan yang sudah lama bercokol dalam kepala orang-orang.***
Padang, 17 Februari 2008
cerpen gerimis senja di jendela
Gerimis Senja di Jendela
Cerpen Abdullah Khusairi
Dimuat di Jawa Pos 04/05/2009 Telah Disimak 352 kali
Kau tandai malam itu di dadaku. Hingga membekas dan terasa sampai kini. Maka rindu ini kian rindang saja. Rindang tak berbuah. Pun seorang, tak ada yang tahu tentang itu selain aku. Dan malam-malam aku mengisahkan sendiri bagaimana getar-getar jiwa menyatu malam itu.
Aku menulis sisa-sisa dari hidup yang pernah terbingkai bersamamu. Bingkai yang kecil. Kecil sekali. Tak patut disebut sejarah bagi siapa saja, apalagi bagi negeri ini.
''Kau pintar sekali merayuku.''
''Buah dari rindu,'' begitu jawabmu menancapkan kenangan.
Kita bertukar cerita. Merajut rasa dalam gejolak remaja yang malu-malu. Berjalan berdua pulang dan pergi, sekolah dan mengaji. Belajar bersama. Sesekali makan bakso, juga berduaan.
Inilah yang menumbuhkan daun-daun itu jadi mekar. Menguak cakrawala. Lama-lama kita jadi terbiasa. Berani. Dan kau memulainya dengan selera yang jantan mendekatiku. Aku diam menunggu dengan gigil. Mau berangkul malu.
Kau laki-laki tampan. Pintar pula. Teman-teman sekelas harus berjuang keras untuk dekat denganmu. Tapi pilihanmu jatuh kepadaku. Aku senang bercampur takut. Maklum masih remaja. Masih putik menjelang buah.
''Itulah yang membuatku jadi tertantang menaklukanmu,'' betapa percaya dirimu amat tinggi dari dulu. Dan apa yang kau katakan benar adanya.
''Aku tak sanggup seperti teman-teman. Tahu diri siapaku? Mana ada keberanian untuk menggodamu,'' jawabanku sekenanya saja.
Aku perempuan pendiam di kelas. Tak terlalu berani menonjolkan diri. Sungguh pun begitu, aku punya wajah cantik dan otak yang pintar. Setidaknya, itulah pengakuan yang pernah kau katakan kepadaku.
''Mungkin saja itu benar. Tapi kau pintar dan cantik. Pilihanku tidak keliru.''
Kau benar-benar membuatku menggelinjang. Serupa layang-layang di awang-awang. Mengigal batin yang tengah takut ketinggian.
Pada malam itu aku bersemu merah. Malam minggu yang indah. Di mana kau mulai berani menyentuh tanganku dengan gemetar, di bangku bawah pohon rambutan depan rumahku. Bohlam yang malas menyala, teras depan rumah yang sepi, taman kecil yang mulai diselimuti embun, saksi dari peristiwa ranum itu.
***
Sungguh, jujur aku katakan, itulah malam pertama aku disentuh seorang pemuda. Sehingga aku tak mampu melupakannya sampai dua puluh tahun lebih berlalu. Semuanya masih jelas. Tidak terhapus. Pun sedikit.
Seperti sebelumnya, suratmu datang dengan deras. Bahasamu indah dan enak dibaca. Merayuku setinggi langit. Membawaku terbang ke negeri di awan. Merona semua harapan menjadi merah delima.
Setiap menerima suratmu aku selalu bergegas pulang. Lalu masuk kamar dan tak lupa menguncinya. Maka setelah itu, sangat tenang aku membukanya. Hati-hati sekali. Membacanya dengan pelan-pelan dalam hati. Sekali lagi, aku melayang karenanya. Setelah itu aku lipat kembali dengan rapi. Aku masukkan ke dalam laci. Aduhai surat cintamu indah sekali wahai laki-laki tampan.
***
Hingga suatu masa yang retak. Ayah ibu menemukan surat-suratmu, mereka membakarnya ketika aku jatuh sakit. Itulah tragedi pertama dalam hidupku. Semuanya habis menjadi abu. Hanya tersisa dalam kepala.
Kau mengayun langkah menggapai cita-cita. Begitu jauh, begitu lama. Kau tinggalkan kota kecil ini bersamaku dengan setumpuk kenangan yang tak bisa dibiarkan terkubur di tanah mati. Aku jatuh sakit karenanya. Betapa sepi hari-hariku setelah kau pergi dari kota kecil ini. Seperti tak ada lagi semangat untuk menapak hari penuh dengan kesepian. Aku hanya mampu menyusun rindu demi rindu di laci. Aku menghitungnya setiap waktu.
Harapan pada Lebaran, hari libur, masih aku tuangkan. Berharap kau datang seperti dulu. Tetapi itu sia-sia. Kau ternyata lupa. Duniamu telah beralih. Pulangmu hanya sebentar saja. Tak datang lagi seperti biasa. Perih sekali rasanya. Aku ingin datang kepadamu namun lagi-lagi aku tahu diri. Tak mungkin. Aku takut disebut perempuan mencari pejantan. Tak tersurat dalam adat, perempuan datang kepada laki-laki.
Hingga sampai paksaan dari kedua orang tua agar aku menerima lamaran pemuda selain dirimu, aku masih tetap berharap sampai detik-detik akad nikah itu terjadi. Ternyata kau memang sudah melupakanku. Hatiku remuk ditikam dendam. Menumbuh benci. Kau laki-laki laknat juga kiranya.
***
Luka pada jiwa bertambah parah. Berdarah dan bernanah menjadi danau dendam tak sudah. Tenang di permukaan menyimpan pusar arus yang deras di dalamnya.
Aku maklum kau anak orang berada. Ayahmu kepala sekolah dasar tempat kita pernah satu kelas dulu. Pun begitu ibumu, seorang guru pula. Patut memang kau harus meneruskan pikiran mereka.
Sedangkan aku, seorang anak petani yang harus berjuang untuk menamatkan sekolah tingkat atas. Terlalu jauh punya mimpi tentang kuliah. Apalagi aku seorang perempuan. Aku mau dan merasa mampu, tapi apa yang harus aku lakukan untuk bisa kuliah sepertimu? Maka impian yang pernah datang aku usir saja secepatnya.
Aku telah bangga kau bisa pergi kuliah. Walau dengan berat menyatakan, betapa perih ketika kita tak lagi bersama. Berjarak waktu, bersekat adat pula.
***
Demikianlah kini. Bertahun-tahun lipatan kenangan itu telah usang tapi tidak pernah luntur. Ia mutiara dalam lumpur. Bersinar terang di hatiku.
Aku hanya seorang guru mengaji. Suami pegawai negeri rendahan. Kami tak punya keturunan sampai hari ini. Rumah tangga kami kesepian. Pun rumah tangga ini terbangun karena pusaka pula. Aku tak bisa apa-apa. Cuma bisa berharap pada angin lalu, kau masih ingat kepadaku. Gadis kecil yang pernah bersamamu ketika remaja merambah kita. Ingatkah kini kau denganku? Navisah binti Nurdin ini, teman sekelas sejak sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas? Ingatkah semua puisi yang kau tulis untukku? Semua keindahan yang kita ciptakan dengan rasa malu dan takut mendera?
Masih ingatkah kau tentang buku Kahlil Gibran berjudul Sayap-Sayap Patah yang kau pinjamkan? Buku pelajaran tentang Abu Yazid al-Mansyur al-Bustami yang membuat kita memahami syatahat, fana, baqa' dan ittihad? Lalu kita mengenal puisi-puisi Hamzah Fansuri. Pertikaian di Kesultanan Aceh.
Sederetan tokoh penting tertanam dalam kepala kita. Abdul Rauf Singkel, Syamsudin al-Sumatrani, Nurruddin ar-Raniri, dan Muhammad Arsyad al-Banjari. Kita menghafalnya dalam pengajian dan pelajaran agama di sekolah. Belum lagi ditambah dengan sebatang demi sebatang puisi yang kau berikan.
Sungguh, aku tak berharap begitu besar agar kau bisa mengingatnya. Apalagi hanya akan membuat nama dan pekerjaan besarmu bisa terganggu. Aku tak mau itu terjadi.
Kini aku sering tersenyum mengingat pikiran kecilku. Pikiran yang terlalu indah menyelip ketololan. Di mana menjelang tidur aku berangan-angan tentang dirimu yang menjemputku. Lalu pergi ke kota. Ke tempat tugasmu. Di mana kau sudah menjadi orang besar. Aku berharap untuk mendampingi hidupmu. Menjadi permaisuri di rumah dinasmu.
Aku telah menduga kau jadi orang besar. Jadi pejabat penting. Punya kesibukan seperti yang aku lihat di televisi. Orang-orang berdasi, senyum sumringah, mobil mewah, dan segala macamnya. Semua itu memang aku lihat dari awal. Saat remaja kita dayung.
Tapi punya istri cantik dan itu bukan aku, adalah perih yang menyalak di dada. Siapakah perempuan yang beruntung itu? Maukah kau memperkenalkan dirinya pada diriku? Walau aku hanya akan memungut sepi bersama iri dan risih yang merajuk.
Jika kini aku menguraskan semua tenaga dan pikiran menuliskan semua sisa-sisa kenangan ini, tiada lebih karena sesuatu sering hadir di hadapanku untuk mengingat semua kenangan.
Kejantananmu masih aku lihat di foto-foto yang tersebar itu. Pada rahang yang kuat dan mata yang menyalang menatap garang tapi teduh itu. Aku hanya sedikit melihat raut menua di wajahmu. Wajah yang pernah aku usap dulu.
''Ini panggilan hati untuk kembali membangun rakyat,'' begitu pidatomu pernah aku dengar. Masih setegas dulu, sewaktu kau marah kepadaku karena terlambat memenuhi janji bertemu di sebuah taman kantor yang tak ditempati lagi. Tak punya penghuni. Tamannya tak terurus lagi. Di sana, kita duduk berdua dengan gigil yang sering datang menakutkan.
''Sebagai orang yang peduli untuk negeri,'' kau sepertinya sudah sangat mahir memainkan kata-kata. Lancar dalam menyebutkan istilah-istilah terkini. Senyum mengembang. Sisa-sisa ketampanan itu membuat aku sesekali makin membenci nasib.
''Potensi negeri ini akan membuat kesejahteraan. Selama ini dikuras pemimpin korup.''
Aku tak mengerti politik. Cuma tahu dari sobekan koran-koran bekas pembungkus bawang. Apalah yang bisa diharapkan pengetahuan dari sobekan koran? Sungguh ini pilu yang sempurna dari sembilu hidup.
Kini pembicaraanmu sudah berbeda, namun tetap merayu. Jika dulu rayuan mautmu kau gunakan untuk menundukkan logikaku, kini semua itu kau gunakan untuk merayu orang-orang agar mau memilih dirimu jadi wakil dari mereka.
Kau memakai bahasa yang amat tinggi. Acap tak cepat aku mengerti. Seperti aku tak mengerti dengan pikiran dan sikap orang-orang hebat.
Pulang maklum itu, sebab tak ada buku yang bisa aku baca seperti dulu. Aku hanya seorang guru mengaji di taman pengajian anak-anak tempat kita dulu pernah bersama menuntut ilmu agama dengan Pak Haji Muchtar Ahmad. Pagi hari ke sawah, sore hari mengajar. Pada malamnya sudah harus melayani suami. Setelah itu, lelah membawa lelap. Sudah jarang menuai mimpi.
Memang tak terasa hingga dua puluh tahun lebih berlalu. Kini kau hadir menggali kenangan menjadi gerimis di senja hari yang buta ini, hinggap di jendela. Aku pikun untuk mengungkapkan betapa sederhana cintaku kepadamu. Sepasrah ilalang didera badai. Seperti puisi yang kau perkenalkan dari Sapardi Djoko Damono itu.
***
Kadang-kadang memang ingin aku memberontak, kenapa aku begitu lemah untuk bangkit seperti perempuan-perempuan lain. Tapi setelah pikiranku tak kalut lagi, aku mengerti pada posisi mana aku berada. Tahu diri.
''Aku akan kuliah ke kota. Jangan tunggu aku jika kau harus hidup berdua. Kau mungkin akan cepat menikah. Kuburkan saja setumpuk kenangan kita.''
Hari itu gerimis sejak pagi. Dingin. Tapi aku membungkus diriku dengan jaket jeans hadiah ulang tahun darimu. Sementara, kau tidak. Kau memakai seragam Pramuka yang gagah itu. Banyak lambang-lambangnya. Aku kagum dengan penampilanmu. Waktu itu, kita makan bakso di pasar.
Ada ngilu di hatiku. Mataku menatap kekosongan ke sungai deras di depan kita. Pasar yang ramai hari itu sepertinya sepi sekali. Tak sepatah kata yang dapat aku ucapkan sampai kau mengantarkan aku di depan pagar rumah.
''Bukan aku tak menyayangimu. Namun aku tak sanggup melihatmu menderita terlalu lama. Pun jika kau siap, aku tak rela,'' begitu serius engkau membangun kalimat berucap wahai lelaki tampan. Aku bergetar mendengar kalimat-kalimat itu dengan pasti. Menyangkut kebenaran yang ada di dalamnya, aku memang menerima pasrah. Benar apa yang kau katakan itu.
Tapi rasa sakit di dadaku siapa yang tahu. Apa kau juga merasakannya? Kita memang masih begitu muda untuk mengambil sikap berani waktu itu. Kita baru kelas satu sekolah lanjutan tingkat atas. Terlalu cepat untuk memikirkan hal yang cukup serius. Kita masih hanyut dengan segala pesona yang datang melanda, sorak sorai masa remaja. Di mana denting gitar, lagu cinta, dan segala macam polah zaman itu kita berhanyut bersamanya.
***
Kini, nama dan wajahmu ada di mana-mana. Baliho, spanduk, stiker dengan senyuman yang sama, nama yang sama. Nama yang lengkap dengan segala titel yang kau gapai. Kau membuat gerimis setiap senja berlabuh di sini.
Aku hanya mengenalmu dengan nama, Arie Wibowo. Nama yang mengingatkanku pada penyanyi Madu dan Racun, Singkong dan Keju, yang sudah lama pergi ke alam orang mati.
Dan bila lagu itu terngiang di telinga, sumbu sejarah dalam kepalaku akan menyala api sebentuk rindu yang hangat. Kadang juga mengugah pipi dengan tetes sepi yang menetas dari mataku. Kini pun rindu itu basah dalam gerimis senja yang membuncah. Selembar demi selembar aku susun lagi. Serupa gerimis yang hingga di jendela. Gemersiknya kadang terdengar oleh suamiku yang kini sepuh dilalap nasib.
Hari pemilihan memang tak lama lagi. Aku salah seorang pemilih dari jutaan pemilih di negeri ini. Akan aku gunakan hak pilihku, untuk memilihmu. Memilih dengan rasa dendam dan benci yang tak pernah punah.
Ini pilihan yang basi. Pilihan yang tak patut. Namun aku tak ingin kau gila, karena tak terpilih nanti. Pernahkah kau dengar ada orang bunuh diri karena tak dipilih? Pernahkau kau dengar, ada yang gila karena kekalahan? Kalah memang sesuatu yang pahit. Nah, aku tak sanggup melihatmu menelan nasib pahit itu. Biarlah aku, biarlah.
Pada sisi hati yang lain, ada setetes kebanggaan menetas dalam sisa-sisa umur di tubuh yang makin keriput ini. Aku ingin, orang yang terpilih menjadi wakil dari daerah kami adalah seorang yang pernah memberi tanda di dadaku. Tanda yang menyala merah.
Satu yang aku inginkan lagi, ingatkah kau dengan masa remaja kita? Jika kau masih ingat, datanglah kepadaku walau sekejap saja. Aku akan mengatakan kepadamu, aku memilihmu karena dendam yang tak sudah.
Bila kau sempat membaca cerita ini, temui aku di tempat yang dulu. Semoga kau bisa. Dan tak merasa malu untuk mengungkap maaf. Sebab, aku tahu kau sebenarnya tak begitu jujur pada diri sendiri. Kau juga seorang penipu tentunya. ***
Balaibaru, Desember 2008
cerpen rumah amangboru
Rumah Amangboru
Cerpen Hasan Al Banna
Dimuat di Kompas 04/05/2009 Telah Disimak 280 kali
Bermula dari desakan anak-menantunya, Haji Sudung akhirnya luluh. Hasil mufakat jarak jauh Marsan dengan kedua kakaknya—Lisna dan Suti yang hidup mapan di Jakarta—sulit dibendung. Meski tinggal di rumah anak baginya serupa dengan menumpang, kesepakatan sudah telanjur masak. Begitulah, dulu anak-anaknya tunduk kepada aturan-aturan yang ia maklumatkan. Tetapi, kini ia harus paham bahwa tiba juga giliran untuk menurutkan kemauan anak.
Lisna dan Suti memberi titah agar Ayah tinggal bersama Marsan. Seluruh harta bumi dijual! Untuk apalagi itu, kata mereka. Toh, Ayah kewalahan mengurusnya. Para kerabat, baik dari pihak Ayah maupun Ibu, tak bisa dipercaya, hanya lihai mengintai harta. Maka lebih baik diuangkan, ditabung, dan digunakan Marsan untuk biaya perobatan Ayah. Uang harta yang setara dengan ongkos sepuluh kali naik haji mustahil dibawa mati. Ayah mau naik haji lagi? Ah, empat kali ke Tanah Suci sudah cukup. Lagian, kondisi Ayah semakin mengkhawatirkan. Jalan pun sudah terseok, menanggungkan rematik, paru-paru basah, dan mag akut.
Memang, Haji Sudung sudah kehabisan amunisi alasan untuk tidak meninggalkan kampung. Limpahan kekayaan pun tak bisa membeli hasratnya untuk tetap bertahan. Lengan-lengan waktu teramat leluasa menyita kepunyaannya satu per satu. Anak-anak pergi menaklukkan hidupnya masing-masing. Istri pamit ke alam lain. Terus, rimbun ladang kopi, sawah berbidang-bidang, kolam ikan yang luas harus pindah ke tangan orang lain. Tinggal rumah panggung kebanggaannya yang masih dipertahankan. Itu pun sekadar penanda, bahwa Haji Sudung pernah lahir dan menempuh hidup di situ.
Ia pernah mengapungkan keinginan untuk menikah. Tentu, keinginan yang jauh dari tunggangan hasrat duniawi. Iyalah, usia Haji Sudung hampir menyentuh angka 78. Manalah ia merisaukan hal yang demikian lagi. Ia ingin menyunting istri hanya untuk menghadapi kenyataan bahwa harus ada yang merawatnya, menemaninya menunggu jemputan maut. Lain tidak. Lagi pula, Haji Sudung menggiring telunjuk keinginan pada Maisa, adik mendiang istrinya. Ganti tikar namanya itu. Namun, belum lagi keinginan ditiup ke pihak perempuan, anak-anaknya langsung menghadang. Terlebih-lebih Risda, istri Marsan.
Memang, Risda termasuk paling ngotot melarang Haji Sudung menikah. Juga tak bosan-bosan melunakkan hati Amangboru—sang mertua—untuk tinggal bersamanya. Haji Sudung angkat topi dengan keuletan menantunya itu. Maka Risda adalah salah satu alasan Haji Sudung menganggukkan kepala atas keinginan anak-anaknya.
”Untuk apalah Amangboru menikah lagi. Kalau soal merawat, aku pun bisa. Lagi pula, apa Amangboru yakin akan dirawat setelah nikah? Bukan aku menjelek-jelekkan, cuma khawatir saja, bukannya mengurus Amangboru, eh malah menguras kekayaan. Tengoklah, entah bagaimana caranya, beberapa bulan setelah bou meninggal, sawah sebidang dijual keluarga bou. Pikirkan Amangboru-lah itu.” Beber Risda suatu kali, ketika ia, Marsan, dan kedua anaknya rela menempuh waktu semalam menuju kampung, menyampaikan titah kesepakatan.
Haji Sudung tak menyangkal. Apa yang dikatakan menantunya itu kenyataan. Sepeninggal istrinya, bou Risda, sebidang sawah miliknya raib dijual keluarga sang istri. Konon, Maisa ikut andil. Lantas, rasa segan bakal diurus menantu pun tak lagi menjadi pertimbangan bagi Haji Sudung untuk segera menghuni rumah Marsan.
”Apalagi yang dipikirkan. Itu, cucu Amangboru, Andika dan Veri bakal senang kalau opungnya tinggal bersama mereka...,” bujuk Risda pada kunjungan yang lain. Haji Sudung terkekeh mengamati keheranan Veri melihat belut hasil tangkapan Marsan di sawah belakang rumah. Ia bahagia setiap kali dikunjungi cucu-cucunya. Veri, tiga tahun, lagi bijak-bijaknya. Andika yang terpaut dua tahun di atas Veri juga sering membuatnya terhibur. Apalagi, lima cucunya dari Lisna dan Suti baru sekali bersua dengannya. Itu pun ketika istrinya meninggal.
Maka, meski berat, Veri dan Andika menjadi alasan lain Haji Sudung meninggalkan kampung halaman....
”Ini bukan dosa, Pa,” ujar Risda sambil menyetrika di ruang tamu. Marsan asyik menonton tivi. ”Kita pakai saja tabungan Amangboru. Mana tahu-tahu Amangboru itu.” Marsan diam saja mendengar Risda yang berencana membuka usaha salon sekaligus bidan pengantin.
”Coba Papa pikirkan. Meski golongan tiga A, berapalah gaji Papa. Itu pun dua pertiga habis menutupi kredit rumah. Sebentar lagi si Andika sekolah. Pengeluaran lagi, kan?” Marsan masih diam. Tetapi, kini matanya tertumbuk pada foto perkawinan yang tegak di samping tivi.
”Lagi pula, lama-lama tabungan Amangboru habis untuk biaya berobat dan tetek bengek lainnya. Nah, kalau sudah habis, kitalah yang menalanginya. Papa tahu kan, Kak Lisna dan Kak Suti hampir tak pernah mengirim biaya tambahan. Maka itu, kita putar saja uang Amangboru. Ujung-ujungnya untuk mengurus Amangboru juga. Cocok, Pa?” Risda terengah, berbicara sambil menyetrika. Sedang Marsan tetap diam. Kemeja Haji Sudung yang tengah disetrika Risda menyita perhatiannya.
”Aku tinggal kursus tata rias. Menjahit aku sudah mahir. Jangan khawatir, Pa, Amangboru tetap aku urus. Ini kan usaha rumahan. Paling aku keluar kalau lagi merias pengantin.” Marsan menghela napas. Lantas menggeser pandangan ke pintu.
”Ayah mana, ya?”
”Pa, Pa, paling di masjid belakang kompleks. Masjid kompleks kita kan enggak ada sembahyang berjemaahnya....”
Ya, kebisaan Haji Sudung sembahyang jemaah di kampung tak bisa ia tanggalkan. Ia semula senang mendapati masjid kompleks yang jauh lebih mewah dari masjid di kampung. Namun ia kecewa karena masjid tersebut hampir-hampir tak pernah dimanfaatkan penghuni kompleks. ”Masjid apa itu?” Adunya kepada Marsan.
Maka tidak heran, jika ia rela berjalan jauh—untuk ukuran Haji Sudung—demi menempuh masjid di tengah perkampungan warga di belakang kompleks. Ia bahkan betah berada di masjid itu dari zuhur sampai isya. Marsan dan Risda pernah panik mencari Haji Sudung karena dianggap tersesat lagi. Rupanya, Haji Sudung ikut merayakan acara Maulid Nabi bersama warga di sekitar masjid tersebut. Sebelumnya, Haji Sudung pernah diantar penarik becak. Ia tersesat, bukan berjalan ke arah kompleks, malah membelakangi tujuan yang semestinya.
Maklumlah, menjalani hari-hari pertama tinggal di kompleks saja, Haji Sudung sudah linglung. Ia pernah mengetuk pintu rumah penghuni lain di kompleks itu. Sulit baginya membedakan rumah Marsan kalau hanya berdasarkan bentuk. ”Sama semua pula aku tengok,” kata Haji Sudung seakan membela diri. Saat itu, Risda tertawa geli.
Namun, seiring waktu, tawa geli Risda berubah kecemasan. Lama-lama ia merasa repot mengurus Haji Sudung. Tambah pikun ia, sudah sering buang hajat di celana. Warga di belakang kompleks pernah memulangkan Haji Sudung karena berak tatkala sembahyang magrib. Sementara itu, salonnya mulai ramai. Panggilan ke acara pesta perkawinan makin banyak. Belum lagi kesibukannya menambah perangkat salon atau merancang pakaian pengantin model baru menyandera banyak waktu. Maka suatu kesempatan usai makan malam, Risda menyarankan Marsan agar menitipkan Haji Sudung ke panti jompo.
”Di panti, makan dan obat Amangboru terjaga, Pa. Ibadahnya pun lebih khusyuk. Orang setua Amangboru tinggal beribadah banyak-banyak. Mau apalagi, coba?” Marsan menjawab dengan diam.
”Terpikir juga memang untuk menyewa pengasuh. Tapi kan sama saja, karena Amangboru tetap di rumah ini. Kalau di panti banyak yang mengurus, ya makannya, ya obatnya, ya ibadahnya.” Risda kembali menguatkan pendapatnya. Sedang Marsan, lagi-lagi diam.
”Soal panti yang biaya bulanannya tak terlalu mahal, aku punya alamatnya. Nanti kita cek.” Marsan seperti hendak berbicara. Tapi kepulangan Haji Sudung selepas isya membuat pembicaraan mereka terhenti. Marsan bergegas menyambut tatih langkah Ayahnya.
”Makan dulu, Ayah. Biar makan obat.”
”Mmh...,” balas Haji Sudung pelan. Tetapi, langkahnya berbelok ke kamar. Ia tak selera makan. Air mukanya kusut. Beberapa hari ini, keinginan untuk balik ke kampung acap menggedor dadanya. Ia tak betah di rumah Marsan. Ia merasa sebagai beban, atau karena tak cocok dengan lingkungan kompleks? Tetapi, di sisi lain, ia tak enak hati pula kepada Marsan dan menantunya. Ia harus menimbang harga diri mereka. Apa nanti cemoohan orang-orang di kampung. ”Tak pandai si Marsan dan si Risda itu menyenangkan orangtua, ya?”
Maka hari-hari terakhir ini, Haji Sudung lebih banyak mengurung diri di kamar. Tidur-tiduran. Ya, seperti malam ini. Tadi ia tak pergi ke masjid. Napasnya sesak lagi. Sejak magrib tadi ia hanya berbaring. Tidur-tidur ayam. Dalam persimpangan antara tidur atau tidak, Haji Sudung pun tiba-tiba berada di persimpangan antara mimpi buruk atau tidak. Ia duduk di sofa, berhadap-hadap dengan Marsan dan Risda. Tetapi, Haji Sudung tak berdaya ketika mengetahui rencana Risda terhadapnya.
”Sudahlah, Pa. Kirim saja Amangboru ke panti. Ini demi kebaikan kita dan Amangboru juga,” desak Risda. Marsan diam. Secangkir kopi yang baru disuguhkan istrinya masih terlalu panas untuk diseruput. Haji Sudung tak mempermasalahkan mengapa Risda tak menghidangkan kopi untuknya. Ia memang dilarang dokter minum kopi. Tetapi, ia gusar mendengar deretan kata-kata susulan yang meluncur lancar dari mulut Risda.
”Amangboru sudah uzur, Pa. Dan semua orang bakal mati. Kini kita harus memikirkan yang ada di depan. Masa depan keluarga kita, anak-anak kita.” Ingin rasanya Haji Sudung menempeleng Risda, juga menendang Marsan yang cuma bisa diam. Ia tahu, diam bukan karakter Marsan yang sesungguhnya. Paling tidak, sebelum ia menikah. Tapi bagaimana Haji Sudung hendak menempeleng atau menendang. Bukankah ia sedang berada di lalu lalang mimpi? Entahlah!
”Besok kita antar Amangboru ke panti jompo!” tegas Risda. Darah Haji Sudung mendidih. Ia berharap Marsan membenamkan cangkir kopi ke mulut Risda. Tetapi, mulut Risda malah memberi perintah kepada kedua anaknya.
”Andika, Veri, suruh Opung berkemas-kemas. Bilang, besok kita jalan-jalan ke kampung!”
”Kita pulang kampung, Ma?” Risda menggangguk. ”Hore, hore,” Andika dan Veri melonjak kegirangan. Haji Sudung menyaksikan cucu-cucunya berlari ke arah kamarnya.
”Opung, Opung, besok kita pulang kampung kata Mama. Boleh mandi ke sungai, kan, Pung,” teriak Andika.
”Nangkap belut saja, Pung,” rengek Veri.
Haji Sudung tersentak. Ia mendapati kedua cucunya menggoncang-goncang tubuhnya. Ia berusaha bangkit dari tempat tidur. Belum sepenuhnya sadar, berulang-ulang ia mendengar Andika dan Veri berteriak sahut-sahutan.
”Kata Mama besok kita pulang kampung. Ayo, Pung, susun baju,” teriak Andika.
”Iya, Pung. Susun baju,” Veri membeo.
Haji Sudung terkesima mendengar kabar itu. Ah, aku tadi cuma mimpi buruk, batinnya. Dengan gerakan gontai, ia mendekap erat kedua cucunya.
Malam itu, sambil mendekap buntalan tasnya, Haji Sudung tak sabar untuk segera tertidur. Ia ingin berlari memburu pagi. Atau, mana tahu wangi tanah kelahiran lebih dulu hinggap ke dahan mimpi. Bukan mimpi buruk tentunya. Namun, siapa yang bisa mengetahui isi mimpinya? Sebab, dalam kegelisahan tidur, mulut Haji Sudung hanya lumat oleh igau yang berantakan.
”Ini bukan kampungku! Ini bukan rumahku!”***cerepn kamar 409
| |
| “Keadilan di sini memang bejat, seperti radio rusak!” Teriak Pak Mistar setelah hakim memutuskan ia tidak bersalah dan secara resmi pihak pengadilan memohon maaf atas kesalahan-kesalahan prosedural di persidangan sebelumnya. “Pakai minta maaf segala, semua orang mengetahui bahwa kalian semua ceroboh, kalian semua bajingan!” Berdiri sambil menunjuk-nunjuk para hakim, “apakah kalian dan bahkan negeri ini dapat menggantikan masa lalu saya yang hancur itu.” Semua orang yang berada di ruangan itu diam. Suasana ruangan menjadi lengang, seakan-akan sedang berada di jalanan antara Surabaya-Banyuwangi pada jam dua belas malam, “Coba jawab pertanyaan saya. Hayo jawab. Jangan hanya saling berpandangan begitu.” Pak Mistar berdiri sambil mengangkat kedua tangannya, lantas berbalik menghadap peserta sidang. “Maaf pak, sekali lagi maaf, kami hanya....” “Lagi-lagi maaf, semakin banyak kata maaf yang kalian ucapkan semakin kelihatan bahwa kalian tampak seperti badut bodoh, memalukan!” Pak Mistar meludah ke lantai, “ Coba kalian pikirkan bagaimana rasanya dicemooh seluruh warga kota. Apakah kalian dapat menggantikannya dengan mengucapkan kata maaf dan memutuskan bahwa saya tidak bersalah? Ketahuilah kalian semua, bahwa saya berhak untuk meledakkan gedung pengadilan ini untuk menebus hukuman dan kesalahan kalian.” Hakim memukulkan palu keras-keras, “ Sidang ditutup!” Lantas para hakim saling menoleh dan berdiri hendak pergi. Pak Mistar berteriak, “sebentar bajingan. Sebentar!” Para hakim tidak memedulikan teriakan pak Mistar. “Tutuplah semua, tutup seperti hati kalian agar kebusukan-kebusukan kalian tetap terjaga. Pengecut!. Terkutuk!” Ruang sidang menjadi gaduh. Para hakim dan jaksa meninggalkan ruangan sidang. Beberapa orang mendatangi pak Mistar untuk membantu menenangkan emosinya. Pak Mistar membenahi bajunya yang sedikit kusut, menyeka keringatnya dengan tisu yang baru saja diberikan oleh rekannya. Lalu Pak Mistar beserta beberapa rekannya beranjak keluar ruang sidang, akan tetapi beberapa wartawan mencegatnya di pintu. “ Bagaimana perasaan Bapak setelah mendengar putusan ini?” “Apa? Tidak salah kamu menanyakan perasaan saya? Seharusnya kamu menanyakan perasaan hakim, sipir, polisi dan warga kota atas tuduhannya itu. Bukannya perasaan saya yang semenjak sepuluh tahun lalu saya buang jauh-jauh. Hei anak muda, perlu kamu ketahui bahwa perasaan saya telah musnah, jika saya menggunakan perasaan bukannya pikiran barangkali saya telah membenturkan kepala saya ke tembok penjara hingga pecah setelah mendengar putusan pengadilan beberapa tahun yang lalu.” “Apa saja yang Bapak lakukan selama lima tahun enam bulan dalam penjara?” “Lima tahun tiga bulan,” pak Mistar diam sejenak mengamati langit-langit ruangan,“ selama itu ternyata lebih berarti daripada seperempat hidup saya untuk tahu kehidupan.” “Maksud bapak?” ujar salah seorang sambil menyodorkan handphone ke dekat mulut pak Mistar. Pak mistar tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya yang kurus seakan-akan melayang. “Kamu wartawan apa, dan berapa umurmu sekarang?” “Dua puluh sembilan tahun,” menjawab seakan-akan ia tak sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. “Hidupmu begitu lurus dan polos. Seperti tiang listrik. Kamu lihat itu,” menunjuk pada bunga dalam pot depan pintu ruang sidang, “Itulah saya.” Pak Mistar lantas berjalan keluar hendak menghampiri mobil yang akan membawanya pulang, tapi wartawan-wartawan itu mencoba menghalangi-halangi dengan mengajukan beberapa pertanyaan. “Apakah Bapak tidak akan menuntut balik pengadilan ini? bagaimana cara Bapak mengembalikan nama baik? Apakah Bapak punya keinginan untuk menikah lagi?” “Pertanyaan Anda tidak layak saya jawab. Pertanyaan-pertanyaan Anda menyangkut strategi yang telah saya susun selama dalam penjara”. “Strategi apa itu Pak?” ujar salah seorang reporter TV nasional. “Dasar kalian para pembuat berita, mana ada strategi diumumkan kepada semua orang, itu sama halnya dengan saya menjebak diri saya sendiri, betul kan?” Lantas Pak Mistar berjalan memasuki mobil diiringi beberapa rekannya, melambaikan tangan sejenak lalu mobil itu meluncur keluar. Mobil itu tidak menuju ke rumah Pak Mistar, tapi menuju ke rumah makan kesukaan Pak Mistar di perbataasn kota. Rumah makan yang disetting bernuansa Jawa dengan aneka menu masakan tradisional. “Rujak cingur pedas dan bir dikasih es sedikit,” ujar Pak Mistar kepada pelayan. “Saya merasa aneh, saya tidak merasa bebas sedikit pun. Malahan nalar pikir saya tidak sejernih ketika saya masih berada dalam penjara,” ujar Pak Mistar sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. “Kamu memang aneh Mistar, semua orang menghendaki keluar dari penjara.” “Betul, tapi saya membutuhkan kebebasan. Akhir-akhir ini rasa kebebasan itu bersembunyi dan kebebasan itu saya rasa berada pada ruang yang tak pernah tersentuh dan dirasakan oleh kita.” “Apalagi kamu ini Mistar, kamu sekarang bebas. Ayo nikmati kebebasanmu dan buang jauh-jauh pikiran anehmu itu,” ujar pak Nomo, lelaki bertubuh besar dengan kumis serupa sapu, sahabat karib Pak Mistar semenjak sekolah SMP di kampung halamannya. “Dari dulu kamu selalu begitu, kita sebetulnya berbeda pandangan tentang banyak hal, tetapi selalu sepakat terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti,” Pak Mistar tersenyum. Pelayan restoran datang membawakan pesanannya. “Nomo, kamu masih ingatkan pada Santi, gadis kecil yang sama-sama kita sukai dan kita sepakat untuk tidak berbuat apa-apa terhadapnya?” “Aku sangat kagum pada kulit dan hidungnya.” “Aku menyukainya sebab ia cerdas dan sederhana,” Pak Mistar tertawa, “Masa lalu yang menyedihkan.” Beberapa saat hidangan telah habis. Pak Nomo mendatangi kasir. Lalu masuk mobil kembali. “Kita keluar kota saja, saya ingin sendirian di sana.” “Ke mana?” “Malang.” Mobil itu melesat menuju arah jalan tol. Langit mulai sedikit gelap, awan bergulung-gulung, angin berhembus kencang, dari jendela mobil tampak beberapa burung terbang tak dapat mengendalikan diri yang melawan embusan angin. Mobil semakin cepat dipacu. Beberapa saat kemudian gerimis menerpa, kaca mobil dirapatkan. “Kami masih belum menemukan laki-laki bajingan itu, Pak,” kata salah seorang memecah keheningan, “ kami telah mencari kebeberapa kota bahkan beberapa hari kami menyelidiki pelabuhan, terminal dan stasiun, ternyata laki-laki itu memang selicin belut.” “Tapi saya kira laki-laki itu masih berada dalam kota, Pak,” kata seorang lagi menimpali. “Bagaimana ceritanya sampai warga kota tidak menerima pemakaman adik saya,” ujar Pak Mistar berbicara sambil mengusapkan tangannya ke kaca untuk menerangkan pandangannya ke luar jendela dari gerimis yang menguap di balik kaca mobil. Pak Mistar dengan saksama memperhatikan percikan-percikan air di jalan yang dihempas ban-ban mobil. “Kami telah mencoba memberi pengertian pada mereka bahwa adik Bapak berbeda dengan kakaknya, yang waktu itu mereka sangat muak kepada Bapak, Bapak diibaratkan lebih buruk dari mimpi-mimpi yang paling menakutkan mereka,” kata salah seorang yang duduk di jok tengah, kemudian menyalakan rokok dan menawarkan pada Pak Mistar. Pak Mistar menyalakan rokok itu dan menekan asapnya dalam-dalam ke dadanya, “Bahkan sebagian dari mereka mengatakan bahwa arwah sanak familinya tidak akan dicampur-baurkan dengan mayat yang terkutuk itu, kami tidak dapat berbuat apa-apa lagi Pak, mereka sangat ngotot menolaknya, jadi kami terpaksa mengubur mayat adik bapak itu di daerah rawa-rawa dekat kota kelahiran Bapak.” “Bagaimana dengan orang di kampung halaman saya?” “Pendapatnya tidak jauh berbeda, bahkan hampir seluruh warga di kota ini berpendapat serupa.” “Orang-orang bodoh! Mudah diperdayai. Bagaimana mereka harus mempertanggung-jawabkan sikapnya terhadap saya dan arwah adik saya. Mereka punya utang melebihi seluruh harta dan kehidupannya. Bangsat!” Pak Mistar meludah. Hujan telah reda dan mobil telah memasuki Kota Malang. Mobil terus menelusuri jalan-jalan kota yang dingin itu, “ke Batu,” ujar Pak Mistar. Mobil itu melaju menuju arah yang ditunjuk Pak Mistar. Beberapa lama kemudian mobil itu berbelok ke sebuah hotel. “Kalian tinggalkan saja saya di sini, saya ingin sendirian, tiga hari lagi jemput saya.” “Tapi Mistar....” ujar Pak Nomo yang tidak paham dengan kelakuan Pak Mistar. “Sudahlah Nomo, saya memang betul-betul ingin sendirian.” Pak Nomo hanya diam. Pengusaha real estate itu lantas memberi segenggam uang, “ini buat berjaga-jaga.” “Terima kasih.” Pak Nomo beserta beberapa rekannya kembali memasuki mobil. Melambaikan tangannya. Lalu mobil itu melesat meninggalkan Pak Mistar. Pak Mistar memasuki lobi hotel, “kamar VIP”. “Kamar 409 lantai empat.” Pak Mistar berjalan menaiki tangga lalu memasuki kamarnya. Pak Mistar membuka jendela menatap kemerlip lampu-lampu di bawah hotel. Beberapa saat kemudian pintu diketuk seseorang. “ Masuk,” jawab Pak Mistar. Lelaki itu memperkenalkan diri bahwa ia pelayan hotel, sambil tersenyum ia berkata, “Apakah Bapak butuh teman malam ini, minggu ini ada empat gadis baru.” “Apa? Gadis baru? Apakah kamu pikir saya butuh perempuan-perempuan tolol itu. Dengar ya, jangan coba-coba perlakukan saya sama dengan tamu-tamu saudara. Camkan itu!” “Maaf pak,” “Lagi-lagi kata maaf, sudah beratus-ratus kali saya mendengar kata itu dalam sehari. He, apakah kata maaf itu cukup ampuh untuk menebus suatu kesalahan? Ayo jawab. Jangan diam!” “Tidak, Pak.” Pelayan itu menundukkan kepalanya sambil menatap lantai. “Bawakan saya kopi, bir, dan rokok.” “Baik, Pak.” Pelayan itu bergegas meninggalkan Pak Mistar. Beberapa saat kemudian ia telah kembali dengan membawa pesanan Pak Mistar. Pak Mistar memberikan uang seratus ribu, “Buat kamu.” Malam semakin larut, cuaca semakin dingin. Pak Mistar masih saja memperhatikan secara detail seisi ruangan: lampu-lampu, kasur, korden, almari, kulkas, lukisan kuda, lukisan penari Bali, dan keramik-keramik. Lalu Pak mistar menyalakan TV, mengganti-ganti program, beberapa saat kemudian mematikannya kembali. Menyalakan rokok, mengambil sebotol bir lalu berjalan ke arah jendela. Keesokan harinya pintu diketuk seseorang, “Apakah kamarnya akan dibersihkan?” Pintu diketuk lagi, orang itu mengucapkan kata-katanya kembali dengan suara lebih keras. Pak Mistar membuka pintu, “Tidak usah, tolong belikan saja dua koran yang berbeda,” sambil menyodorkan uang dua puluh ribu. “Baik, Pak,” kata salah seorang yang bertubuh lebih kecil, lalu membalikkan tubuhnya, berjalan bergegas meninggalkan Pak Mistar dan rekannya yang sedang memegang seperangkat alat pembersih. Pak Mistar menutup pintu dan lelaki itu menunggunya di luar. Pintu diketuk lagi, “Korannya, Pak,” lelaki bertubuh kurus itu menyerahkan koran pada Pak Mistar. “Ambil kembaliannya.” Pak Mistar duduk di dekat jendela mengamati koran lokal. Di halaman utama tertulis: “Pengadilan Harus Menebus Dosa”. Pak Mistar membaca dengan saksama seluruh berita tersebut. Koran itu dilipat kembali, lantas Pak Mistar berjalan ke arah meja, meneggak bir, dan menyalakan rokok. Pak Mistar berputar-putar di dalam ruangan itu, lalu menelepon pelayan hotel, “dari kamar 409, bawakan saya bir dan makanan kecil.” Pak Mistar kembali ke tempat koran yang berserakan, Pak mistar membaca berita utama koran harian nasional: “Publik Harus Instropeksi dan Bersikap Kritis”. Pak Mistar membaca sambil mengerutkan dahinya, lalu membanting koran itu. Pintu diketuk, “Silakan masuk.” Pelayan hotel itu lalu meletakkan beberapa botol bir di meja. “Bawakan satu kemari.” Pelayan itu membuka penutup botol dan menyerahkan pada Pak Mistar. “Ini buat kamu,” Pak Mistar memberikan dua puluh ribu pada pelayan tersebut. Beberapa saat kemudian botol di tangan Pak Mistar telah habis ditenggaknya. Pak Mistar menyalakan TV, menekan tombol-tombol remot, dan hampir serentak stasiun TV itu menayangkan berita tentang kasus dan persidangannya kemarin. Pak Mistar membiarkan layar TV itu diam pada acara wawancara antara pengusaha yang menjadi sahabatnya, yakni pak Nomo dengan pakar hukum dan tata negara yang sangat disegani. “Bagaimana pendapat Bapak mengenai kesalahan prosedural terhadap kasus Bapak Mistar yang telah lima tahun setengah dipenjara dalam kasus tuduhan mencampuri racun pada perusahan air minum yang menewaskan tujuh ratus lebih warga Kota Surabaya, tetapi pada akhirnya dinyatakan tidak bersalah. Apakah ini suatu bukti bahwa kelalaian dan kecerobohan masih kental di negeri ini?” ujar presenter TV. Pak Mistar yang agak sempoyongan itu berjalan ke arah meja membawa sebotol lagi ke depan TV. Pak Mistar langsung menenggaknya di saat pakar hukum dan tata negara itu sedang berbicara. “Perjuangan gigih untuk sahabat Bapak rupanya membuahkan hasil, sebetulnya apa yang memotivasi Bapak? ujar presenter TV itu pada Pak Nomo. “Yang memotivasi saya cuma sekadar sahabat. Dia memang keras kepala dan pikirannya sedikit radikal, hati nurani saya terpanggil untuk membelanya. Ketika semua orang membencinya, bahkan istrinya sendiri pun meninggalkannya ketika ia masih di dalam penjara. Apa lagi adik kesayangannya dibunuh seseorang yang tidak dikenal pascakejadian yang mengenaskan itu. Adiknya itu seorang guru teladan, entah mengapa orang-orang itu begitu keji terhadapnya. Pada mulanya saya juga memercayai berita-berita dan gunjingan orang, tapi setelah mencermati penderitaan sahabat saya itu, saya mencoba mengumpulkan beberapa orang yang kompeten untuk menyelidiki sendiri. Ya, beginilah hasilnya,” ujar Pak Nomo merasa puas. Pak Mistar kembali menenggak minuman itu. Pak Mistar menekan remot, memindah-mindah program. Pak Mistar tertegun begitu lama ketika di layar TV, tampak istrinya sedang diwawancarai, “Saya masih sangat mencintainya,” ujarnya sambil menangis sesenggukan, “Tapi saya tidak kuat dengan omongan orang-orang, saya dituduh telah menikahi seorang iblis....” Seketika Pak Mistar mematikan TV. Berjalan ke meja dan menenggak sebotol lagi. Lalu Pak Mistar menelpon pelayan hotel dan memesan beberapa botol lagi untuk segera dikirim ke kamarnya. Dengan cepat pelayan itu telah sampai ke kamar 409. “Jangan letakkan di situ, saya sulit menjamahnya. Taruh di atas kasur itu saja.” Pelayan hotel membersihkan botol-botol yang berserakan, lalu berkata, “Bapak sudah mabuk, terlalu banyak yang Bapak minum, sudahlah, Pak, diminum besok saja.” Seketika itu Pak Mistar menoleh ke arah pelayan itu, lalu melempar botol ke arahnya, “Tahu apa kamu tentang kemabukan! Menyuruh saya untuk istirahat. Cepat keluar! Keluar, bajingan!.” Seketika pelayan itu terbirit-birit ke luar. Pak Mistar menenggak beberapa botol lagi. Semakin cepat ia tenggak minuman-minuman itu. Dengan rasa mabuk yang berat, Pak Mistar berusaha berjalan ke kamar mandi, tapi baru saja beberapa langkah, tubuhnya telah roboh ke lantai. Pak Mistar tidak kuat mengangkat tubuhnya, hanya tangannya yang menggapai-gapai sesuatu. Dengan mengumpulkan seluruh tenaga ia berusaha bangkit dan bertumpu pada TV. TV miring, lalu menimpa kepala Pak Mistar. Layar TV pecah, ada darah mengucur dari keningnya, tubuh Pak Mistar kejang-kejang, pelahan-lahan tubuhnya membiru, darahnya mengering.*** | |
cerpen boundary
Boundary
Cerpen Ida Ahdiah
Dimuat di Suara Karya 04/11/2009 Telah Disimak 122 kali
Perempuan itu tiba sebelum boundary buka. Di muka pintu penyewaan mesin cuci itu, ia mengibas-ibaskan telapak tangannya. Lalu meniup-niupnya. Ia mencoba menghangatkan tangannya yang beku.. Diambilnya secarik kertas dari tas yang disandangnya di bahu. Matanya mencocokan nomor di atas pintu dengan nomor di kertas.
Ia bergumam, "Sebentar lagi aku akan bertemu suamiku." Ia menarik nafas, menghembuskannya lega. Perempuan dengan mata kurang tidur itu, mengenakan sweater musim gugur yang tipis. Mungkin ia lupa melihat ramalan cuaca yang menyatakan pagi ini udara mendekati nol, memasuki musim dingin. Ia ketatkan hood di kepala yang menyatu dengan sweaternya. Lalu ia melapisinya dengan syal hitam yang kumal. Tentu saja itu belum cukup, maka pantaslah jika ia menggigil. Ia membawa sebuah tas besar. Berisi apa lagi kalau bukan cucian?
Dengan tubuh menggigil ia lekatkan wajahnya di kaca. Di dalam ruangan boundary dua puluh mesin cuci belum menyala Pintu-pintunya terbuka. Empat mesin pengering besar menganga. Matanya segera menangkap seseorang sedang mengangkat kaki, menikmati kopi, dan menonton televisi di ruangan setengah terbuka, tempat penjaga. Perempuan itu gembira itu bukan main, berharap lelaki itu adalah Sadek atau temannya Sadek. Ia coba membayangkan wajah Sadek. Lalu muncul seraut wajah pria tampan berkulit gelap, hidung tinggi, namun jarang tersenyum.
"Hi, halo, Sadek kah .." Perempuan itu meninggikan suara, mengetuk-ngetuk kaca, melambai-lambaikan tangan.
Entah berapa lama dia melakukannya, tanpa putus asa sampai si penjaga berdiri, bukan karena panggilannya, tapi saatnya membersihkan mesin cuci. Ia kecewa ketika mengetahui lelaki itu bukan Sadek seperti harapannya. Lelaki itu mulai membersihkan mesin cuci dari yang paling ujung. Ditelitinya bagian dalam mesin cuci, barangkali ada cucian tertinggal atau benang menyangkut. Lalu memeriksa lubang sabun, pewangi, dan pemutih, jangan sampai tersumbat. Tiba di mesin nomor 10 ia mendengar suara.
Lelaki penjaga melihat perempuan sedang mengetuk-ngetuk kaca. Ia mendekat, meneliti perempuan bermata, hidung, dan bibir yang tertata baik, berparas India. Dia bukan salah satu pelanggannya. Pelanggan pertamanya di hari Sabtu, selalu tiga keluarga dari Peru, yang tiba saat boundary buka. Mereka akan menggunakan 7 mesin cuci. Pelanggan perempuannya datang pukul 10. Dandanannya punk, rambut dicat warna-warni, dengan tato di lengan, dan telinga penuh anting. Selanjutnya sepasang nenek dan kakek yang tak henti beradu pendapat.
"Jika hendak mencuci boundary ini belum buka," kata Lelaki itu seraya membuka sedikit pintu.
"Aku akan menemui Sadek," kata perempuan itu sambil mendorong pintu agar terbuka lebar.
Si penjaga menduga, Sadek adalah pelanggannya yang lain, Ia melirik arloji. Boundary buka 10 menit lagi. Ia buka pintu. "Aku masih harus membersihkan mesin cuci. Kalau hendak mencuci, kau bisa ggunakan mesin nomor satu dan lima."
Perempuan itu masuk tergesa-tergesa. Ia tidak memasukkan cucian ke mesin cuci, melainkankan menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian ia keluar mengenakan sari merah marun. Wajahnya segar dengan make up tipis. Rambutnya yang panjang diikat longgar.
Si penjaga terpana. Ditelitinya perempuan yang tampak anggun itu dengan seksama.
"Aku Salma," ia mengulurkan tangan, "Aku datang untuk menemui suamiku, Sadek." Ia menunjukkan foto pria dalam pakain pengantin tradisional. "Jam berapa dia datang? Aku sudah tidak sabar."
Lelaki itu terdiam sebentar, mencoba mencerna ucapan-ucapan perempuan di depannya. Lalu katanya, "Tak ada pekerja bernama Sadek."
"Di sini dia mungkin dipanggil Sad, Dek..." Dari dompetnya perempuan itu mengeluarkan kertas. Di situ tertulis nama Sadek lengkap dengan alamat boundary.
"Akan kutelepon bos. Aku baru bekerja di sini enam bulan." Lelaki itu memutar telepon. Setelah telepon ditutup ia berkata, "Bos bilang Sadek bekerja di boundary miliknya di tempat lain. Bos akan menyuruhnya datang menemuimu."
"Terima kasih untuk mencarikan Sadek untukku," kata perempuannya itu dengan senyum mengembang di wajahnya.
Orang-orang di kampungnya selalu mengira Sadek akan pergi begitu saja seperti lelaki lain meninggalkan istrinya tanpa kabar berita. Sementara istri menunggu hingga ajalnya tiba. Kini Salma yakin Sadek bukan lelaki seperti itu. Jika ia tak ada kabar berita, itu karena ia sibuk mencari uang, dan mempersiapkan kedatangannya.
Salma membayangkan, Sadek akan terkejut melihat kehadirannya. Lalu...Salma mengira-ngira akan ada bulan madu kedua. Setelah itu, ia akan mengatakan pada Sadek jika ia siap membantu suaminya bekerja apa saja. Menanggung hidup bersama, beranak pinak, layaknya sepasang suami istri.
Setahun lalu Salma dijodohkan dengan Sadek, lelaki perantau dari kota lain. Salma menerima perjodohan itu seperti perempuan-perempuan lain di desanya menerima. Keluarganya mengeluarkan uang besar untuk mas kawin yang diminta oleh keluarga Sadek. Perhelatan besar pun berlangsung meriah.
Secara tradisi di negerinya mas kawin adalah pemberian yang diberikan oleh keluarga pengantin perempuan untuk bekal putrinya berumah tangga. Siapa tahu kelak ia butuh uang untuk sekolah anak atau tiba-tiba suaminya tidak bekerja. Tapi kini fungsinya ada yang menyalahgunakan. Seorang lelaki mau menikah, meski tidak cinta, jika diberi mas kawin tinggi. Akibatnya tak sedidik pria memperlakukan istri seenaknya. Menyiksanya dengan alasan tidak cinta dan meninggalkannya. Karena tradisi tak banyak yang berani melapor ke polisi.
Sebulan menikah, Sadek mohon diri kembali merantau. Ia kembali meminta uang kepada keluarga Salma untuk ongkos dan menyewa tempat. Ia berjanji akan mengajak Salma setelah segalanya siap. Salma melepas dengan suka cita dan doa.
Setahun berlalu tak ada kabar berita. Keluarga Sadek mengaku (mungkin juga pura-pura) tidak tahu keberadaan Sadek. Seorang perantau yang pulang, mengaku pernah bertemu Sadek. Ia memberi Salma alamat Sadek. Berbekal itu Salma menemui suaminya di negeri yang belum pernah disinggahinya.
Pukul delapan pelanggan boundary berdatangan. Pertama tiga keluarga dari Peru, lalu sepasang kakek dan nenek, seorang mahasiswa yang selalu membaca buku, gadis punk, diikuti nenek Ong dari Kamboja, yang gemar mengajak ngobrol.
Lelaki penjaga sibuk mengatur lalu lintas cucian. Kadang mesin berhenti, selesai mencuci, pemiliknya sedang belanja. Tugas lelaki itu mengeluarkan cucian ke dalam keranjang. Sebab pelanggan lain sudah menunggu. Sabtu dan Minggu, antrian di boundry selalu panjang, sampai menjelang tutup pukul 9 malam.
"Sambil menunggu mari kubantu," kata Salma, mengambil sapu dari tangan si penjaga. Lalu mengepel lantai yang basah. Juga turut mengatur lalu lintas mesin cuci dan pengering yang semakin siang kian padat, karena pengunjung semakin banyak. Ia lakukan itu semua dengan senyum, dengan harapan berbunga akan bertemu Sadek.
Gadis berambut punk mengira, perempuan gesit itu istri si penjaga.
"Dia istri Sadek. Kenal? Katanya pernah bekerja di sini," kata lelaki penjaga pada gadis itu.
Gadis itu mempermainkan anting di hidungnya, mencoba mengingat-ingat. "Kalau lihat wajahnya mungkin aku ingat. Tapi nama...Aku juga tidak tahu nama kamu."
"Jamil." lelaki itu menyebut namanya.
Semakin siang boundary semakin bising oleh suara mesin cuci, pengering, teriakan, obrolan, dering telepon. Salma tampak tidak lelah hilir mudik membantu Jamil, yang diam-diam membayangkan betapa beruntung jika ia punya istri seperti Salma cantik, cekatan, dan kelihatannya mau diajak hidup sengsara. Ia penasaran ingin melihat Sadek, yang tak tahu diuntung itu.
"Kamu punya anak?" Tanya Jamil saat keduanya duduk makan siang. Jamil membagi bekal makan siangnya berupa nasi biryani untuk Salma.
Salma menggeleng. "Kamu bagaimana?"
"Aku masih lajang. Kau kenal keluarga gadis yang mau memberiku mas kawin besar," canda Jamil.
"Berapa yang kau mau?" Salma menanggapi serius.
"Wow, wow, itu bukan tradisiku. Justru aku yang harus memberi mas kawin pada calon istriku."
"Berapa banyak kau harus memberi?"
"Tidak ada aturan yang pasti. Kalau aku punya uang, apa sih yang tak kuberikan untuk istriku tercinta."
"Kamu baik sekali."
"Kamu juga baik sekali."
"Sesungguhnya aku tidak suka tradisi ini. Memberi peluang pria untuk memeras dan melecehkan perempuan. Semoga Sadek tak seperti itu."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kau yang bilang dia akan datang menemuiku."
"Eh, kok dia belum datang ya. Mungkin sedang potong rambut dulu agar kelihatan tampan."
"Hm. Aku suka rambut dia yang ikal agak panjang, melewati telinga. Dia tampan seperti bintang film India, lho."
Seorang lelaki berjalan ke arah Jamil dan Salma.
"Katanya ada perempuan yang mencari Sadek?"
Jamil menunjuk Salma, yang menatap lelaki itu penuh harap.
"Aku Sadek Ibrahim. Kamu?"
Salma meneliti lelaki di depannya, berkumis dan berjambang tebal, berusia 50 tahunan dengan perut buncit. Wajah Salma pucat pasi. Lalu ia benturkan kepalanya ke tembok dan meraung-raung. ***
* VPM, Januari 2009