Selasa, 28 April 2009

cerpen negeri batu

Negeri Batu

Cerpen Indrian Koto Silakan Simak!
Dimuat di Koran Tempo Silakan Kunjungi Situsnya! 03/29/2009 Telah Disimak 298 kali

Melewati tempat ini, aku kembali dibangkitkan pada ingatan ganjil tentangmu. Aku merasa, nyaris seluruh peristiwa kita tertinggal di selingkaran candi-candi hitam nan sunyi. Barangkali, kerinduan memang memberikan tempat terbanyak untuk peristiwa dan kenangan. Seperti aku kini merasakan semuanya serupa batu hitam yang terukir di antara candi-candi retak.

Aku mengenangmu, Sri. Kembali. Di sini. Aku tak tahu, saat ini sedang menyesal atau justru sedang bahagia. Menyesal karena diburu masa lalu yang berakhir buruk, bahagia karena merasa memiliki sedikit peristiwa manis.

Rasanya semua berjalan sangat cepat. Kita pernah di sini, dua tahun yang lalu, atau mungkin lebih. Waktu itu, batu-batu masih tersusun dengan rapi membentuk gugusan candi yang tak henti kita kagumi. Dua ratus dua puluh empat Candi Perwira mengapit enam belas candi lainnya. Lima puluh enam dalam satu sudut yang terbagi dalam empat bagian, katamu, ketika itu. Dan aku merasa diriku tetaplah satu dari sekian ratus candi yang mengelilingi dirimu yang berdiri menjulang di antara semua. Kau Candi Siwa yang kokoh dan besar.

Kita tak pernah meyakini segala hal yang dihembuskan banyak orang di sini. Mereka mengatakan, siapa pun yang berkunjung ke Prambanan dengan pasangannya, niscaya hubungan mereka tak akan bertahan lama. Kita meyakini cerita itu serupa Candi Sewu yang mustahil diciptakan dalam semalam, meskipun sesungguhnya kisah kita tak kalah ganjil dengan itu semua.

Percintaan memang gila dan membuat kita lupa. Mereka, orang-orang dengan bisikan-bisikan yang tak logis itu, bersikukuh dengan kehendak mereka. Dan kita bersitegang dengan keyakinan sendiri. Kelak, mungkin kita akan disatukan sebagaimana Tarup dan Nawang Wulan, Joko Kendil dan Dewi Melati.

Aih, mengapa dalam dongeng perempuan selalu muncul dari langit?

''Tapi aku bukan perempuan langit yang cengeng, setiap habis bertengkar akan meminta selendang untuk pulang,'' bisikmu pelan. ''Kita, kalaupun kelak dianggap dongeng, tetaplah dongeng yang manis. Yang tak berakhir dengan pedih sebagaimana Kamajaya dan Kamaratih.''

''Aku bukan lelaki langit sebagaimana Kamajaya. Hampir tak ada kisah semacam itu di sini. Tak ada lelaki langit yang jatuh cinta pada perempuan bumi. Hanya perempuan yang diciptakan Sang Langit, tidak lelaki. Di bumi hanya ada lelaki tolol yang diperdaya oleh kekuatan cinta yang datang dari dirinya sendiri. Lelaki dengan upaya yang sungguh-sungguh dan kadang begitu konyol.''

''Dan, Ratu Pembayun? Apakah ia dari langit? Bukankah dia perempuan yang mengorbankan dirinya untuk cinta dan terjerat dengan apa yang dicintainya. Apakah ia tidak mengingatkan dirimu akan kisah kita?''

''Ia tetap langit, sebagaimana dirimu. Perempuan dengan darah biru. Kau tahu akhir kisah itu bukan? Aku akan dikenang sebagaimana Mangir, seorang kerabat yang dipandang sebagai penjahat. Menantu sekaligus musuh.''

''Apakah kau pikir hanya dirimu yang menjadi tumbal dari peristiwa ini?''

''Kau ingat bagaimana Joko Seger tak bisa memenuhi janjinya pada Roro Anteng? Sangkuriang dengan sampannya? Dan, di sini, Bandung Bondowoso yang digagalkan rencananya?''

''Tetapi aku tak hendak memintamu membikin candi dalam semalam dan diam-diam menggagalkannya. Apa hubungannya mereka dengan percintaan kita?''

''Dalam dongeng mereka suka menipu.''

''Kau tidak mengecualikan aku di dalamnya? Kau menganggapku seperti Jonggrang?'' Katamu setengah marah.

''Entahlah, aku ragu.''

Aku tak habis pikir. Siapa sesungguhnya di antara kita yang membutuhkan. Tidak sebagaimana dongeng, di mana aku, sebagai seorang lelaki harus menuntut cinta pada sang putri. Kau yang terlalu banyak meyakinkanku. Semakin kau yakinkan, semakin aku ragu akan kemampuanku. Di kepalaku, seribu candi mesti kusiapkan dalam semalam. Diam-diam, kubayangkan kau memiliki persekongkolan gaib di dalamnya. Memukul lesung dan alu, menyalakan obor dan membutakan pikiran seekor jago.

''Tinggalkan aku jika kau berpikir demikian,'' katamu. Aku tak pernah berniat untuk itu. Dan kita, tak bosan-bosan berada di sini, dan selalu di sini, menatap Candi Siwa yang tinggi, hingga matahari lenyap di sebaliknya. Lalu kita bergegas sebelum matahari jatuh di hamparan panggung terbuka yang tersembunyi di antara pohon-pohon dan padang hijau.

Kau selalu menyeretku ke tempat yang sama, di mana bayang matahari memantul di antara candi, sejauh mata memandang batu-batu hitam berukir diterpa lembayung petang. Kau tak bosan membawaku ke tempat yang ini-ini juga. Setelah sentuhan-sentuhan lembut, setelah tetesan keringat, kita akan kembali ke sini, pada ketinggian batu-batu candi Loro Jonggrang, mengagumi gugusan gunung yang menghampar di utara. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan Merapi dari sini, serupa garis-garis tipis di antara putih kabut.

''Kenapa kau begitu menyukai tempat ini?'' tanyaku suatu waktu.

''Di sini lebih tersembunyi. Tak banyak orang mengenali kita.''

''Kau yakin? Di tempat wisata macam ini?''

''Apakah seorang yang berselingkuh memilih tempat bercinta yang terbuka?'' Kau balik bertanya. ''Kupikir tak ada yang menyangsikan kita.''

''Entahlah. Kita berada di antara sekian mitos yang mengepung. Aku candi kecil yang berkeliling menjagamu agar tak runtuh. Meski aku tahu, goncangan kecil akan membuat diriku menjadi kepingan halus yang tak berarti. Musnah lebih dulu dari dirimu. Kalaupun masih bersisa, betapa sepi akan ziarah.''

''Aku tak mengerti arah pikirmu.''

''Dan aku tak bisa merumuskan hubungan kita.''

Kau meradang, ''Katakan, kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku.''

''Dan mengapa kita mesti melakukan hubungan sembunyi-sembunyi semacam ini?''

Kau diam. Matamu yang sengit berubah senyap. Duhai, Gusti. Percintaan macam apa gerangan yang kau titipkan pada kami, sepasang manusia yang hidup dalam kepungan dunia yang asing? Sebagaimana candi dan para pelancong ini. Bagiku percintaan ini bukanlah semacam wisata. Meski demikian awal mulanya.

''Kau tak mengerti,'' desismu parau.

''Apalagi yang tidak aku mengerti darimu? Apalagi yang tidak aku pahami dari percintaan yang sembunyi-sembunyi ini?''

''Kau... Kau tak mengerti apa yang aku rasakan.''

''Semengerti apa lagi yang kau harapkan? Menunggu pukulan pentungan sebelum subuh menjelang?''

''Sedari awal kisah kita sudah begitu rumit. Aku tak memintamu membikin seribu candi, tidak menolakmu dengan berbagai alasan yang tak masuk akal. Kita menjalaninya sebagaimana Rara Kasihan dengan Ki Ageng Mangir jatuh cinta. Aku tak ingin menyelesaikan kisah ini begitu saja. Aku tak ingin berakhir sampai di sini. Jika kau meminta lebih, kita tak ubahnya legenda Mataram itu. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak siap...'' Dan butiran hujan menggenangi lubuk matamu yang curam. Aku tak bisa melihat embun itu tersapu emosi yang ringkas ini.

''Hapus air matamu dan kita pulang.''

Tetapi waktu tak pernah pulang. Ia mengembalikan kita pada kisah yang itu-itu juga. Pertemuan-pertemuan yang tak begitu rutin, perjalanan yang diulang-ulang melewati gugusan batu yang sama, mempercakapkan hal-hal kecil dan sederhana dan berakhir dengan pertengkaran kecil yang membuat diri kita basah.

***

Bukan lantaran kutukan kita memiliki kisah yang sungsang.

Di sini berkembang perihal-perihal tak terduga. Kisah-kisah buruk dan celaka. Dunia sepertinya dipenuhi kisah-kisah murung dan sentimental, di mana sejarah mencatatnya dalam sekeping batu. Ahai, negeri batu, negeri batu, siapa yang berkehendak mengekalkan riwayat di tanah ini?

''Kita tak perlu mencatat apa-apa di sini. Biarlah riwayat kita berhamburan menjadi puing,'' kataku padamu sore itu. Petang yang manis yang harus diisi dengan tangis.

''Kau tak berniat mempertahankan kisah kita.''

''Sri, aku capek dengan kisah-kisah pedih. Terlalu banyak riwayat buruk yang aku baca di sini, di seluruh negeri ini. Aku tak ingin menambah-nambah itu semua. Kalaupun aku bisa menyunting denok ayu, tidak ada hubungannya dengan niatan awal aku ke sini.''

''Kau datang padaku dengan cerita baru dan berniat menyelesaikannya tanpa ujung?''

''Aku tak ingin melanjutkan ihwal batu. Sepertimu, aku lahir dari negeri batu. Bukan percintaan yang gagal, bukan kisah cinta yang malang, tetapi kutukan dari seorang ibu. Di sini, batu pengekal segala kisah pahit dan sungsang. Ini negeri batu. Negeri yang penuh kutuk dan pengekalan. Aku tak ingin kisah kita diselesaikan orang lain dan dikenang sebagai percintaan liar dan tak bermoral.''

''Apa ada yang salah dengan kisah kita?''

''Tak ada yang salah,'' kataku. Kita mesti bicara sepelan mungkin agar orang-orang tak terganggu dan menatap kita dengan asing.

''Tak ada yang salah aku rasa. Hanya saja, kita sedang mengulang dongeng. Kau perempuan langit yang dikungkung aturan lama. Dan, satu hal yang perlu kita sadari, ini hanyalah masalah waktu. Kenapa kita bertemu justru di saat-saat yang tidak tepat? Kau bukan lagi seorang Rara Kasihan yang bebas mengibaskan jari, menari dengan iringan gending, membiarkan semua mata memandang ayunan lekuk pinggangmu dan membiarkan Mangir masuk dalam jeratmu. Kau adalah Nyonya Tepasana, istri sah Ki Ageng Karang Lo.''

Aku pedih, kau tahu? Entah bagaimana cinta bisa tumbuh di antara hubungan liar semacam ini.

''Dan, kau manusia bumi yang berpikir cenderung modern? Manusia yang berhitung dosa dan pahala, menyadari hakikat seorang manusia. Kita pun tak sadar ada cinta yang menyela dari hubungan ganjil ini. Kau butuh makan dan aku butuh teman.''

''Bukan itu maksudku.''

Kau nyaris meratap ketika aku berkata, ''Kita mesti menyelesaikannya. Atau memulai kisah sebagaimana Arok mencuri kerajaan dan menyunting Dedes.''

''Jika memang harus demikian, mengapa tidak sejak dulu kau lakukan?''

''Aku tahu. Dan aku pun tak pernah benar-benar siap.''

''Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya? Cinta, harta atau sekadar ingin mempermalukan?''

''Jangan katakan aku tak mencintaimu. Lantaran cinta, Sri, segalanya harus diakhiri. Tersebab kau milik langit.''

''Aku selalu memberikan kesuburan untukmu.''

''Dan hanya akan sebatas itu. Mungkin kita menang pada peristiwa besar, tapi tak akan kuat menyingkirkan tikus dari sawah.''

Kau memandangku dengan tajam.

''Kita tak akan bisa beranjak dari peristiwa yang ini-ini juga.''

Dan kita berpisah. Bukankah pertemuan yang diakhiri dengan tangis akan membuat kita saling merindukan?

***

Aku tak tahu, untuk apa aku melewati tempat ini lagi. Menyaksikan candi-candi tanggal yang terpisah dari reliefnya. Candi-candi Perwira yang kecil-gagah kini tak lebih bongkahan batu tak berbentuk. Kupikir, kalaupun kelak ia berdiri lagi, masihkah ia mencatat peristiwa yang dulu juga?

Seperti candi-candi di sini yang sedang dipugar, peristiwa pun mesti berguguran. Kita dipisahkan tak hanya oleh hal-hal remeh dan sederhana, tetapi oleh takdir.

Dari tanah, kembali ke tanah.

Dan bumi merampas kau dari diriku. Menghabiskan seluruh riwayat tentang kita. Aku pulang, kembali ke tanah asal, di pulau-pulau kecil di Barat Sumatera. Pulau yang kadang dikenang orang dengan sangat menyakitkan; sebagai tempat tinggal sekelompok makhluk liar dan bar-bar.

''Orang Jawa perlu banyak belajar geografi,'' kataku padamu dulu, menyoal perihal demikian. Kau tak senang dengan leluconku yang kasar itu. Tetapi menyetujui maksud perkataanku.

Kepulangan yang kuharap penyembuh luka pun tak lagi menyediakan tempat untukku. Inikah kutukan? Apakah segala gumam yang dilontarkan benar adanya? Prambanan dan kita. Inikah makna tidak dipertemukan? Dan aku tak juga kunjung menyusulmu, meski pasang merambah kampung dan rumah kami. Peristiwa yang melanda kotamu, yang menyembunyikan dirimu ke dalam tanah, kini telah pula diciptakan di sini. Tanah kami retak dan maut mengancam setiap saat. Uh, negeri batu, akankah pulau kami berhenti pada karang dan laut luas?

Tak ada tempat yang aman untuk sembunyi. Di sini, lebih menakutkan dari maut. Akan ada gelombang besar, akan ada gelombang besar yang meratakan daratan dengan lautan. Entah dari mana dongeng itu berasal. Sodom-Gomoroh. Dan orang-orang kampung berebut keluar dari pulau dan menjual tanah mereka pada orang-orang tak dikenal.

***

Mengingatmu, Sri, adalah mengenang riwayat lampau yang memang tak pernah usang. Dan, aku merasa, sampai kini tak akan sanggup mengekalkan kisah kita dengan membangun seribu candi meski kuundang seluruh cenayang, hantu, lelembut, jin laut, dan penguasa Pantai Selatan. Sebab, candi-candi yang tanggal ini akan pasti serupa diriku, teramat susah direkatkan oleh apa pun. Kalaupun kelak candi-candi kecil itu dibangun, candi-candi besar selesai dipugar, rasanya segala peristiwa akan menjadi amat berbeda.

Mungkin kita lekat di antara batu-batu hitam tanpa ukiran. Tersembunyi di belahan yang lain riwayat Candi Prambanan yang kini terus dipugar. ***

Juni 2008

cerpen di jaring laba-laba

Di Jaring Laba-Laba

Cerpen Anggoro Gunawan Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 03/29/2009 Telah Disimak 356 kali

Ia teman yang menyenangkan. Dari pandang pertama saja aku sudah bisa tahu hal itu. Orang biasanya mudah dikenali dengan tatap matanya. Matanya penuh permainan. Aku suka permainan.

"Jika kau diberitahu bahwa kau besok akan mati bagaimana?"

SMS itu kuterima larut malam. Entah apa yang ada di pikirannya, padahal tadinya aku mengirim SMS berita kematian seorang budayawan. Lama aku berpikir mencari jawaban. Aku tidak ingin kelihatan tolol dengan jawaban konyol. Mungkin temanku itu yang akan kuberi tahu dulu kabar kematian ini, melalui SMS tentu saja. Aku akan pamitan dan berharap bisa berteman di alam kubur. Atau, aku akan mendatanginya dan bercerita apa saja. Ya, seperti perbicangan di sudut warung kopi. Sambil menyerutup espresso atau cappucino. Dan begitu ajal datang, darahku penuh kafein. Pada akhirnya, justru SMS tolol yang kukirim.

"Aku akan bilang pada si pembawa pesan, aku tak percaya. Tuhan biasanya tidak seperti ini. Kalau kamu?"

Aku tak percaya ada prosedur pemberitahuan dulu sebelum datangnya malaikat pencabut hayat, dan ini jawaban paling masuk akal. Aku tidak ingin kelihatan bodoh. Aku juga tak ingin dia tahu aku sedang memikirkan keganjilannya. Cukup lama ia menjawab.

"Aku akan bercinta dan mati di pelukan kekasihku."

Romantis. Ia mengutipnya dari film Almodovar. Perempuan ini gila film. Kadang aku menemaninya menonton, entah di gedung bioskop, entah di pusat kebudayaan, entah cuma berdua memutar DVD di kamarnya. Pertemanan ini gegap gempita dengan setumpuk skenario. Plotnya bermacam-macam. Aku suka skenario berakhir ceria, ia suka duka di ujung cerita.

Aku ingat saat kami menonton Unbearable Lightness of Being, kami tiduran di ranjang. Film yang diambil dari karya Milan Kundera ini memicu hormon lain. Tapi dia kan teman? Teman harus mampu mengendalikan hormon, pikirku. Ia memang teman yang menyenangkan, namun mungkin bisa juga kekasih yang menceriakan, sisi otakku yang lain angkat bicara.

"Kau yakin mencintaiku?"

"Yakin."

"Rumus kimianya berbeda dengan pertemanan."

"Memangnya rumusnya seperti apa? Aku lebih suka fisika. Mekanis saja."

Ia mengerling. Itu bukan kerlingan teman. Sesungguhnya ini pengkhianatan. Ia telah punya kekasih di luar kota sana. Seorang lelaki yang yang ia beri cinta pada pandang pertama. Ia tidak bisa memutuskannya. Cinta pada pandang pertama adalah tanda-tanda cinta yang sesungguhnya. Jelasnya, aku menjadi lelaki nomor dua. Pengkhianatan tidak selamanya menjadi bencana seperti di film-film itu, pikirku. Lagi pula, aku suka cerita dengan akhir bahagia.

Aku seperti lelaki yang memuja sesuatu yang hampa dan aku tidak menganggapnya sia-sia. Lagi pula dugaanku memang benar, ia kekasih yang menceriakan. Hari-hari berjalan dengan jalan cerita yang sudah salin rupa. Lebih indah dari semula. Kecuali, tentu saja, ketika kekasih luar kotanya itu sedang berkunjung.

Kadang aku terpikirkan mendatangi kekasihnya yang satu itu dan menyodorkan suatu tawaran. Aku menjadi sang kekasih dan dia yang menjadi teman. Ia yang bertugas mendengar keluh kesahnya, dan aku yang akan bercinta di ujung hidupnya. Akan tetapi nyaliku tidak seperkasa itu.

Hal ini malah mengingatkanku pada apa yang dialaminya. Lelaki itu mungkin menyimpan rindunya rapat-rapat. Dibungkusnya di bawah bantal dan memeluknya di pembaringan selagi tidur serta mimpi bercinta habis-habisan. Lalu, apakah ia masih akan bisa memeluk kencang rindu itu jika yang terjadi adalah pengkhianatan?

Di sini, rindunya itu berjejal dengan rinduku. Rindu yang juga kubungkus di bawah bantal. Kadang kupintal lembar demi lembar seperti kerinduan seorang teman. Lain waktu kulipat rapi menjadi bingkisan roman picisan dari kisah pengkhianatan. Hidupku cukup sentosa dengan batas bias kekasih dan teman ini. Pintalan dan lipatan.

Cinta memberi aku sayap untuk terbang, berwisata di anjungan awan, tertawa riang di pucuk menara, dan anjangsana keliling kota. Tapi sayap itu kadang hanya bisa kepak-kepak di bumi. Kepak-kepak ayam yang hanya bisa menerbangkan debu. Seperti juga ayam, aku mengalami rabun senja. Tidak buta seutuhnya. Rabun cuma mengaburkan.

Suatu hari, ketika rabunku kumat, aku menemukan dia sedang menangis. Ia indah saat meneteskan air mata. Keindahan rinai gerimis yang tepat berada di pelukan. Tak perlu mantel karena aku suka basahnya.

"Kau pikir mudah punya dua kekasih?"

"Aku justru selalu berpikir kau lah yang akan bermasalah. Aku tak bisa seperti kau. Dadaku tak cukup untuk menampung dua perasaan yang mendebarkan dalam satu masa sekaligus."

"Setiap bersama kau, aku ingat dia. Setiap bersama dia, aku ingat kau."

"Lalu bagaimana?"

Tak ada aturan baku yang berlaku saat berhubungan dengan perasaan. Ketika aku mengirim kabar perpisahan, itu pun mendatangkan tangis. Aku pikir perpisahan akan memudahkan, dan tidak membuatku melihat airmata lagi. H2O terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Itu rumus kimianya. Tapi aku lupa, ia pernah berkata bahwa rumus kimianya berbeda. Ini juga bukan pelajaran aritmatika atau aljabar. Dari sisi geometri, sudut berbeda menghasilkan lintasan koordinat beriring yang tak sama. Ia menangis lagi dan tak memiliki rumus yang sama dengan pembicaraan yang dulu. Ia menangis dengan bahasa geometri.

"Mencintai dan menjaga hubungan itu berbeda."

Aku diam. Aku merasa tak berhak angkat bicara. Diam yang emas. Ia tersenyum seperti mendapat sebongkah emas. Aku ingin dia bahagia dan bisa tersenyum seperti itu selamanya. Kata "selamanya" menjadi kata favorit orang yang sedang jatuh cinta, bukan? Kata ini sejajar dengan kata-kata basi lain yang sering digunakan pembuat lirik lagu populer. Kata-kata yang sejamak dengan senyum dan tidak ada seorang pun di dunia yang bisa tersenyum selamanya, bahkan orang gila sekali pun. Jadi apa gunanya selamanya jika kemudian menyadari apa yang terjadi ternyata fana?

"Bukankah kau akan lebih mudah? Kau cukup mencintai satu orang. Kau tak perlu lagi menangis."

"Andai semudah itu. Bagaimana jika kau bisa memilih, pernah merasakan yang enak lalu tidak sama sekali atau tidak pernah merasakan enak sama sekali?"

Sebenarnya aku tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Sayangnya, ia suka melontarkannya dan aku tidak memiliki keberanian menggantung pertanyaan tanpa jawaban.

"Tidak merasa enak sama sekali, karena kepahitan akan terasa manis jika belum mengenal apa rasa manis yang sesungguhnya."

"Akan tetapi kenyataan tak seperti itu."

Ini permainan logika sederhana gaya Aristoteles, sementara dia lebih suka menempuh lajur lain. Ada wilayah lain yang mengesampingkan logika dan memberi kesempatan detak jantung untuk mengambil keputusan. Ia mendekonstruksi senyumnya. Ia mungkin sedang memilah dunia menjadi dua. Yang satu absolut, yang satu maya. Kehidupan nyata dan tiruannya. Mimesis, kata Plato.

"Bagaimana jika kita sepakat untuk putus tiap hari?"

"Maksudmu?"

"Ya, kita putus tiap hari."

"Aku tak paham."

"Saat kau pulang nanti, kita putus. Tapi saat ketemu lagi, kita masih bersama."

Ide aneh tapi kuterima juga. Aku menyukai suasana ketika berdebar-debar itu dan sebenarnya masih tak rela membuangnya begitu saja. Bisa kutulis 100 lembar puisi cengeng jika itu sedang terjadi. Puisi dengan diksi yang itu-itu juga, penuh kata-kata basi. Kuulang dan kuulang. Dibaca berulang kali. Berdebar lagi. Ketika waktu dihitung dengan debar jantung, jarum jam tak berguna sama sekali. Dan aku percaya, ketika Einstein menemukan teori relativitas waktu, ia sedang jatuh cinta. Lalu ia menautkannya dengan kumpulan rumus-rumus. Pemuja fisika tidak akan sudi bertaruh emosi tanpa pembenaran logika yang pasti.

Kami masih sering bertemu. Entah bagi dia, tapi tak ada bedanya dengan semula. Saat aku pulang, tidak ada perasaan bahwa itu sebuah perpisahan. Aku bersenandung riang sepanjang jalan pulang. Hitam malam justru memperjelas otakku yang merah jambu. Malam bukan lubang hitam yang bisa menyerap segalanya. Sampai suatu malam aku bertemu kekasihnya yang dari luar kota.

Itu bukan perjumpaan dalam arti nyata. Ia datang di mimpiku. Kami berbincang tentang perempuan yang menyenangkan itu. Ia bicara dengan datar, seperti memainkan gitar dengan chord yang selalu sama. Aku sadar mengapa ia bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Ia bisa mengubah dirinya menjadi halusinasi. Hal ini mengingatkan aku pada perempuan itu saat menceritakan tentang dia. Matanya akan berbinar-binar, seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Ia akan bercerita, bercerita, dan terus bercerita.

Cerita-cerita yang menyiksa, yang membuatku kembali menjadi teman biasa. Ia memang teman yang menyenangkan, tapi tidak saat seperti ini. Saat aku tak rabun sama sekali.

Matanya penuh permainan, dan mataku seperti dipermainkan. Dari lagu bertempo adagio menjadi alegro. Ia bisa merabunkan sekaligus membelalakkan mataku. Akan tetapi semua terus sama. Tidak ada jaring laba-laba yang kasat mata oleh mangsanya. Tapi dia bukan laba-laba dan aku juga bukan nyamuk.

"Kau sadar tidak?"

Aku menatap sekelilingku. Di kafe ini tidak ada yang aneh. Kami duduk di sebelah meja pesohor sastra. Itu juga bukan hal yang aneh untuk disadari. Kafe merupakan tempat lumrah para pencari inspirasi, atau kencan seperti ini.

"Apa?" Aku menyerah mencari tahu.

"Dulu kita juga duduk di sini."

Ia tersenyum dan matanya berisi permainan. Aku tersenyum dan menyadari kami memesan menu yang sama seperti dulu. Aku juga semakin menyadari bahwa kami, aku dan dia, adalah mangsa dari jaring laba-laba. Sejauh ini, laba-laba itu belum datang menikmati santapannya. ***


cerpen peti ayah dan tiga puluh satu tahun setelah itu

Peti Ayah dan Tiga Puluh Satu Tahun Setelah Itu

Cerpen Farizal Sikumbang Silakan Simak!
Dimuat di Kompas Silakan Kunjungi Situsnya! 03/29/2009 Telah Disimak 402 kali

Tiga puluh satu tahun silam, dari tahun kutulis cerita ini, aku memang ingat, tanpa sengaja, ayah menemukan sebuah peti besi seukuran kardus mi instan. Kala itu ayah menggali tanah di belakang rumah dengan hasrat menanam sebatang pohon pisang batu. Ketika galian telah sedalam betis ayah, kami mendengar bunyi berdentang keras ketika beliau mengayunkan cangkulnya. Dengan penuh heran ayah mengurik tanah berlubang itu dengan sebelah tangannya. Ayah merasakan sebuah benda keras. Di akhir cerita, ayah berhasil mengangkat peti dari tanah yang digalinya itu. Peti besi itu telah berkarat, termasuk gemboknya. Kalau tak salah, usiaku kala itu sebelas tahun. Aku menemani ayah menanam batang pisang batu itu.

Tapi ayah tak membolehkan aku melihat di saat beliau membukanya. Hanya beberapa kata yang terlontar dari mulut ayah, yang kuingat, ”Astaga. Tak salah. Benar-benar tak punya perasaan,” demikian kata ayah dengan muka merah dan pucat.

”Jangan kau beri tahukan penemuan ini pada ibumu. Berjanjilah kau buyung? Kau maukan?” kata ayah lagi.

”Tapi apa isinya, Ayah?”

”Tak bisa Ayah jelaskan. Berjanjilah. Berjanjilah!” Ayah mengguncang-guncang bahuku.

Dengan cemas, aku mengangguk.

”Iya. Iya,” jawabku gugup.

Ayah lalu menggendong peti itu jauh ke luar pekarangan kami. Sekejap tubuhnya lalu hilang di balik rimbun pohon-pohon.

Sebelum kutuntaskan isi cerita ini, baiklah, akan aku ceritakan dulu riwayat keluarga kami. Ibu meninggal lima tahun yang lalu akibat sakit di perutnya yang tak kunjung usai selama tiga hari. Sedangkan ayah meninggal dua minggu yang lalu dengan tenang di tempat tidurnya. Aku memiliki seorang kakak laki-laki, yang kelak menjadi masalah dalam cerita ini. Namanya Samsudin. Usianya terpaut empat tahun. Tapi sebenarnya, sebelum Samsudin, sebenarnya aku punya kakak perempuan. Namun sayang, di saat usianya baru sepuluh bulan, dia meninggal karena muntah-muntah. Setelah meninggal, ayah dan ibu baru tahu bahwa dia kena palasik. Ayah dan ibu lalu menyesali kematian kakak perempuanku itu sepanjang hari. Tapi yang sangat terpukul atas kematian kakak perempuanku itu adalah ayah.

Sampai beliau meninggal, ayah masih sering menyebut nama kakak perempuanku itu.

Aku pun menyesali kematian kakak perempuanku itu. Sebab, dalam adat kami, harta pusaka sebenarnya dicurahkan buat yang perempuan. Dan ayah mewarisi kami sawah dan ladang yang berjumlah sepuluh petak. Tapi, bukan, bukan sawah ayah sebenarnya. Sawah itu milik ibu yang diperolehnya dari pembagian harta dari pihak nenek. Ayah hanya menggarapnya karena tak punya pekerjaan lain.

Sebenarnya, tak pernah terlintas di ingatanku kembali akan peristiwa tiga puluh satu tahun yang lampau itu, yakni ketika ayah menemukan sebuah peti sebesar mi instan itu. Tapi, kakakku, Samsudin, satu minggu setelah kepergian ayah, mempertanyakan soal peti itu. Mulanya aku heran, bagaimana ia tahu?

Oh ya, sebelum kulanjutkan cerita ini, ada baiknya sedikit kujelaskan dulu perihal kakak laki-lakiku itu. Dia kakakku satu-satunya. Kata ayah, dia laki-laki pendosa. Sebab, sewaktu sekolah es-em-a, kerjanya suka menyabung ayam, main domino, serta suka pulang tengah malam. Dia tidak suka dinasihati. Setelah menikah, ia bekerja menjadi calo tiket bus angkutan kota. Sekarang anaknya sudah lima. Tetapi, kata ayah, bulan-bulan belakangan sebelum beliau meninggal, ia rajin minta uang pada ayah. Kata ayah lagi, yang membuat aku kaget, dan tak pernah kusangka, ia telah menjadi anggota caleg sebuah partai.

”Semakin hari aku mengkhawatirkan keadaannya. Aku takut, jika aku meninggal, akan dijualnya harta ini,” kata ayah.

”Berdoa sajalah, Yah. Mana tahu ia benar-benar dapat kursi di anggota dewan. Itukan juga membuat kita senang, dan otomatis hidupnya akan sejahtera.”

”Tapi setiap ia kemari. Kerjanya minta uang saja. Pusing kepala ayah dibuatnya. Katanya untuk upah poster fotonya biar bisa dipajang di sepanjang jalan. Buat kalender yang ada fotonya untuk dibagikan pada orang sekampung. Stiker. Dan entah apalagi. Aku heran, kenapa partai itu mau menjadikan ia anggota caleg. Apa tak ada orang lain.”

”Entahlah Yah. Aku tak mengerti soal itu. Aku bukan orang partai. Politik pun aku tak mengerti.”

”Ya, ya. Kau memang pantas jadi guru ngaji saja. Politik itu rumit. Ayah harap kau tak mengikuti jejak kakakmu itu. Anak celaka.”

Mungkin memang benar kata ayah bahwa politik itu memang rumit, seperti kakakku itu yang tiba-tiba saja seperti orang sakit. Betapa tidak, empat hari setelah kepergian ayah, tanpa minta persetujuan dariku, ia menjual lima petak sawah peninggalan orangtua kami.

”Mengapa Uda tak pernah minta persetujuan dariku,” tanyaku marah usai ia beritahu soal itu.

”Aku rasa itu tak perlu Pak Guru Ngaji,” jawabnya tersenyum seperti mengejek. ”Yang lima petak itu bagianku. Dan lima petak yang masih tersisa itu kini milikmu. Adil bukan?”

”Bukan soal itu. Ini masalah harta pusaka yang dijual.”

”Hei buyung,” katanya meninggi. ”Pasang otakmu. Itu lebih baik dijual. Pikirkan olehmu, apa kita punya saudara perempuan, he. Kalau tidak dijual, kelak jika kita berdua telah mati, siapa yang akan mewarisinya. Anak-anak kita? Ah, itu tak mungkin. Orang sesuku kita tentu akan marah. Kalau tidak dijual tentu anak etek atau cucunya yang nanti mengambilnya. Padahal, mereka kan sudah ada pembagian dari etek. Kau mengerti maksudku?”

Mendengar penjelasan kakakku tentang itu, aku tak bisa membalasnya. Kalau dipikir, memang begitulah jadinya. Harta pusaka akan menjadi petaka bila tak punya saudara perempuan di negeri Minang ini.

Dan seperti yang telah kujelaskan tadi, satu minggu setelah kepergian ayah, kakak laki-lakiku itu mendatangiku lagi. Ia menanyakan soal peti itu.

”Jadi, di mana peti itu. Kau harus membagi dua denganku. Aku tahu ayah teramat sayang padamu hingga tentang peti itu aku tak diberitahunya.”

”Peti? Peti apa,” tanyaku heran pada mulanya.

”Jangan kau berlagak tak tahu. Kau ingin menguasai sendiri ya. Kau jangan berdusta. Kau tahu sekarang aku butuh uang untuk kampanye. Aku ini anggota caleg. Aku butuh biaya besar.”

”Uda kan baru saja menjual tanah? Apa uang itu sudah habis.”

”Hei uang lima puluh juta itu mana cukup. Aku harus memberi uang untuk tim suksesku. Biaya sumbangan buat orang sekampung. Belum ini dan itu. Kuharap kau pahamlah.”

”Tapi, aku tak tahu soal peti itu.”

”Hei, apa kujual saja rumah peninggalan pusaka itu, ha. Biar habis semuanya. Biar peti itu buatmu dan rumah itu buatku.”

”Tunggu dulu,” kataku. ”Tolong Uda jelaskan, peti apa yang Uda maksud.”

”Kau ingat tiga puluh satu tahun yang lalu? Saat kau dan ayah menemukan sebuah peti sebesar kardus mi instan di belakang rumah?”

”Tiga puluh satu tahun yang lalu?”

Aku mengerutkan kening.

”Ya, ya. Aku mulai ingat. Dari mana Uda tahu?”

”Aku melihat ayah melarikan peti itu. Ia bersamamu kan?”

”Lalu, untuk apa Uda tanyakan tentang peti itu?”

”Jangan berlagak tak tahu. Tentu peti itu banyak emasnyakan?”

”Emas?”

”Ya. Bukankah orang tua-tua dulu suka menyimpan emasnya dalam peti?”

”Tapi aku tak tahu soal peti itu,” kataku.

Hari itu Uda Samsudin memarahiku. Ia terus berulang kali menanyakan soal peti itu di rumahku. Dan hari itu juga, setelah tiga puluh satu tahun lamanya, aku harus mengingat kembali peristiwa itu.

Dengan rasa penasaran, besok paginya aku mendatangi rumah kami. Rumah pusaka peninggalan ayah dan ibu. Aku penasaran tentang peti itu. Sungguh, aku tak tahu di mana ayah menyimpannya. Apakah ayah menanamnya kembali atau disimpannya di tempat lain? Aku memang tidak tahu pasti.

Sesampai di rumah, aku memeriksa tempat-tempat penyimpanan barang ayah. Dari almari, tempat penyimpanan foto serta barang-barang kesukaan ayah. Dari semua itu, aku tidak menemukan petunjuk tentang peti itu. Aku putus asa.

Tapi sewaktu aku memeriksa di bawah tempat tidur ayah, aku menemukan buku agenda. Usianya mungkin sudah bertahun-tahun. Kertasnya sudah agak menguning. Isinya pertama aku menemukan catatan tentang uang pengeluaran ayah. Uang beli semen, pasir, belanja pupuk. Dan, entah kali ke berapanya aku membolak-balik isi agenda itu, aku akhirnya menemukan petunjuk tentang peti itu. Begini isinya:

Sampai usiaku lima puluh tahun, aku masih sering meratapi kematian anak perempuanku itu. Aku sangat menyayanginya. Mungkin karena aku tak punya saudara perempuan. Aku telah menyiapkan barang-barang permainan buatnya, juga baju yang indah. Tapi, Tuhan mengambilnya. Aku lalu mengemasi barang-barang itu dalam sebuah peti. Biar barang itu akan abadi bersamanya. Tapi, istriku memang keterlaluan. Ia membuang peti itu entah di mana. Ia tidak memberitahuku di mana dibuangnya. Tapi suatu hari aku menemukannya, ia menguburnya di belakang rumah rupanya.

Aku terus membolak-balik isi buku agenda itu. Tapi aku tak menemukan kalimat lain tentang peti itu kecuali perihal tentang surat-surat uang masuk dan uang pengeluaran ayah.

Dengan tersenyum, aku lalu melipat buku agenda ayah itu. Aku berjanji, siang nanti aku akan menemui Uda Samsudin di rumah istrinya. Ya, aku akan memberikan agenda itu padanya. Biar ia tahu tak ada emas di dalamnya. ***

Padang 2009

Keterangan

1. etek > adik ibu

2. palasik > penyakit yang biasanya menyerang anak-anak yang diakibatkan oleh orang tertentu dengan cara mengisap darah anak-anak secara tidak langsung

3. caleg > calon anggota legislatif


cerpen caleg pilihan

Caleg Pilihan

Cerpen Imam Nawawi Silakan Simak!
Dimuat di Suara Karya Silakan Kunjungi Situsnya! 04/04/2009 Telah Disimak 171 kali

Aku menyesal menghabiskan sisa umur di bangku kuliah sampai pendidikan S3. Sudah yang ke tujuh kalinya mayat di temukan dengan kepala terpenggal di aliran arus sugai. Namun tetap saja tidak bisa bantu menghentikan peristiwa kematian beruntun itu dengan bekal pengetahuan yang aku miliki. Mungkin sebagai adat istiadat, aku maklumi saja jika para lelaki di tempatku beradu kekuatan dan kejantanan lantaran istri mereka selingkuh dengan orang lain.

Wajar. Sehingga pertumpahan darah harus digelar untuk menunjukkan pada tetangga-tetangga dan keluarganya bahwa dirinya masih memiliki martabat dan pantas disebut sumai yang setia. Tapi ini persoalannya sangat berbeda. Setiap lima tahun sekali, musim kematian datang bertandang hanya demi saling merebut kekuasaan dan pendukung.

Pagi itu sehabis mengantar si kecil ke sekolah, aku menikung di pertigaan jalan di perbatasan desa. Rumah Sanhaji kira-kira lima belas meter lagi dari pinggi jalan raya. Jalan yang dibangun penjajah Belanda dulu dan sampai saat ini pemerintah belum sempat memperbaiki bagian-bagiannya yang rusak parah. Jalan raya yang menghubungkan kota dan tempatku itu tak ubahnya jalan yang aku temukan jika hendak naik gunung. Di sana sini terdapat benjolan batu dan lubang mendalam sehingga pengendara motor dan mobil angkutan umum terpaksa meluangkan waktunya berjam-jam untuk melintas. Mungkin ada janji perbaikan tapi ya sebatas janji, apalagi di musim kampanye seperti saat ini. Isu perbaikan jalan umum sangat berpotensi sebagai pemikat hati rakyat. Aku terus saja menyusuri jalan dengan menurunkan kecepatan mesin motor. Rumah Sanhaji sudah kelihatan dari jauh. "Semoga dia tidak keras kepala lagi!" Pikirku ketika itu.

Aku memasuki beranda rumahnya dan dipersilahkan duduk. Tiba-tiba tak lama kemudian, dari balik pintu keluar perempuan paruh baya membawa nampan berisi cangkir kopi hangat. Ada perasaan lain ketika itu. Hatiku bertanya-tanya melihat Sanhaji dan istrinya yang tiba-tiba saja bersikap baik menyambut keatanganku yang jelas-jelas hanya ingin mengulangi tema bincang-bincang santai seputar langkah-langkah wakil-wakil rakyat dalam mengelabui dan mempermainkan rakyat, khususnya ketika sudah memasuki waktu-waktu kampanye. Sebab kemungkinannya, apa yang dijanjikan mereka saat ini hanya merupakan pengulangan sejarah masa lalu dimana janji tidak pernah ditepati.

"Dek, ayo seduh kopinya," Sanhaji mempersilahkanku. Dia yang lebih tua dariku atau sebanding dengan umur ayahku ,memanggilku dengan sebutan adik.

"Terimakasih" balasku sambil menganggukkan kepala dan tersenyum sedikit. Selain aku menghormatinya sebagai kiai di tempatku, sejak kecil Sanhaji sudah banyak berkorban dan membantu pendidikanku. Dia sering kali memberi ayah tambahan upah sehabis menyetor uang hasil penjualan tangkapan ikan dari hasil melautnya. Ayah sebagai pekerja yang hanya menyewa kapal penangkap ikan pada Sanhaji, merasa bangga dan hidup semakin akrab dengan dia. Dengan upah tambahan itu, Sanhaji menyuruh ayah untuk membelikan buku dan keperluan lain sekolahku. Tapi ternyata tidak hanya dirasa oleh ayah. Kedermawanan Sanhaji dikenal oleh hampir semua orang di tempatku. Bantuan dana terus mengalir kepada masyarakat berwujud sesuai keperluan mereka. Itulah mengapa aku sebagai seorang anak muda dan bagian dari orang-orang di tempatku begitu hormat pada Sanhaji sebagai kiai, juragan kapal, orang dermawan, dan lainnya.

"Ada keperluan apa ya, Dek..?" Tanya Sanhaji sambil menyeruput cangkir kopinya.

"Ini, pak kiai," ucapku lalu diam sejenak. "Anak buah Matroni sudah semakin menggila," lanjutku.

Sanhaji diam menganguk-angguk. Dia lebih paham dengan apa yang terjadi daripadaku. Matroni sebagai rival terkuat dari Madun memiliki kaki tangan gelap yang tak segan-segan menumpahkan darah dengan musuhnya. Matroni yang dulunya dikenal sebagai gembong penjahat kampong, namun lulus sensor dari daftar hitam kepolisian, pada musim pemilihan kali ini direkrut oleh sebagian partai untuk diusung sebagai caleg peserta pemilu, karena dipandang banyak pendukungnya sekaligus memiliki kekuatan yang ditakuti orang banyak. Dengan ancaman kekerasan dan semacamnya, Matroni diharap mendulang suara sebanyak mungkin demi pemenangan partai.

Madun juga demikian. Sebagai sosok yang berpendidikan dan sempat mengenyam dunia pendidikan kampus, Madun tidak ingin kalah saingan dengan Matroni. Pembacaannya yang kritis terhadap persoalan politik dan strategi pemenangan, khususnya di daerahnya sendiri yang jarang sekali generasi mudanya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, Madun putra saudagar kaya Haji Nawawi menggunakan pendekatan manusia baik hati. Misalnya, ketika ada orang yang meninggal dia memberi sumbangan dana besar yang tak penah terjadi sebelumnya, pembangunan sekolah madrasah dan masjid sebulan yang lalu separuh dana adalah sumbangan dari Madun dan ayahnya, bahkan jalan raya yang rusak itu sebagian kecil yang melintang di tengah-tengah desanya telah diperbaiki oleh Madun. Tidak hanya itu. Madun telah memberikan masyarakat bibit pohon untuk ditanami bersama. Pembangunan stasiun televisi satu-satunya di pulau ini juga atas prakarsa Madun.

"Dek, sebagai tokoh masyarakat apa menurutmu yang harus aku lakukan?!" Tanya Sanhaji, memecah keheningan setelah lama diam mendengar penuturanku tentang anak buah Martroni. Aku diam saja. Aku yakin kiai Sanhaji punya pandangan lain, dia hanya ingin mengujiku.

"Persoalannya seperti ini, Mam," lanjut Sanhaji sambil menyebutkan namaku. "Ketika banyak orang-orang datang ke rumah, mereka bertanya tentang caleg yang menjadi pilihanku. Aku harus menjawab apa pada mereka?! Kalalu aku menjelaskan pada mereka begini dan begitu sebagai mana yang kamu jelaskan padaku, ya mereka tidak akan paham. Mereka hanya paham kapan gelombang harus dihindari, kapan angin laut hanya menggertak dan tak mungkin terjadi badai, dan lainnya seputar laut. Aku tidak tahu apa yang harus aku jawabkan pada pertanyaan mereka!"

Aku terdiam sejenak mendengar ungkapan perasaan Kiai Sanhaji. Aku baru sadar mengapa dia sampai detik ini selalu menyuarakan rakyat dari atas sejadah di rumahnya untuk memilih orang yang telah banyak membuat kita berhutang budi padanya. Isyarat untuk memilih Madun dan hati-hati dengan Matroni. Memang antara Madun dan Matroni adalah calon-calon paling berpengaruh di daerah pemilihan ini. Ketika Kiai Sanhaji bertanya apa yang harus dia lakukan menghadapi pertanyaan orang banyak siapa yang akan dipilih nanti, aku sendiri semakin kebingungan. Pikiranku tidak berfungsi sama sekali ketika itu. Berbagai pertimbangan memadati benakku. Masyarakat yang memang tidak tahu banyak mengenai permainan buruk politik, Madun yang telah banyak berjasa pada orang banyak walaupun menurutku itu juga termasuk politik uang. Hanya saja distribusinya melalui jalur nyata dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

"Siapa yang harus mereka pilih? Matroni? Tidak mungkin! Caleg lain yang sama sekali tidak berperan dan tidak memberi manfaat, bahkan hanya mau menyogok ketika mendekati masa-masa pemilihan? Oh, sangat tidak mungkin dipilih! Lalu siapa?!!" pikiranku bingung sendiri menjawab pertanyaan kiai Sanhaji. "Ataukah Madun, Pemuda berpredikat serjana muda, putra saudagar kaya yang berperan aktif sejak setahun yang lalu?! Ada kemungkinan!" batinku terus saja bergolak untuk mempertahankan idealisme. Aku yakin, politisi yang bermain-main dengan politik uang akan menyengsarakan rakyat di kemudian hari. Siapa pun orangnya.

"Tolong bantu aku, Dek. Aku punya kekhawatiran seperti dirimu. Semoga saja Tuhan tidak menghukumku diahkirat nanti karena mendorong orang memilih yang salah!"

"Terus apa pendapatmu tentang golput,Dek?!"

Aku semakin bisu dihantam pertanyaan kiai Sanhaji yang terakhir. Sesuatu yang aku tidak sukai. Tetapi aku sendiri tidak dapat bicara. Semua teoriku tumpul berhadapan dengan kenyataan. Yang tersisa hanya tinggal harapan semoga mereka yang berjanji baik jika terpilih nanti, dan merek yang sedah banyak berkorban demi kesejahteraan rakyat dengan dana besar dari ayahnya sejak setahun lalu, seperti yang telah digagas oleh Madun. Semoga mereka tetap berhati mulia ketika terpilih nanti.

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan dari kiai sanhaji tentang pendapatku mengenani golput, beberapa gadis santri di pesantren kiai Sanhaji masuk ke tempat kami berdua membawakan hidangan.

"O ya, Dek. Makanan sudah datang. Mari kita sarapan pagi," pinta Beliau.

"Anak kelas berapa sekarang, mam,"lanjutnya mengalihkan perbincangan politik.

"Kelas empat SD," jawabku malas.

Kami berdua berbincang-bincang mengenai persoalan lain. Sejak saat itu aku mengurungkan niat menanyakan kiai Sanhaji yang selalu mendorong masyarakat memilih Madun. Prasangkaku bahwa pak kiai telah terbujuk oleh dana bantuan Madun ke pesantren yang diasuhnya, ternyata salah. Andai saja aku di posisinya sekarang, mungkin saja aku akan menjawab pertanyaan masyarakat siapa yang menjadi pilihanku atau siapa yang harus dipilih, mungkin hanya satu kata yang terucap: Madun.

Ketika kami sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan Sanhaji sambil mengunyah kripik singkong, tiba-tiba dua orang nyelonong ke tempat kami. Pak Sobari dan Rahwini. Dengan wajah berkeringat, mereka terengah-engah mengatakan bahwa lima belas orang terbunuh di pinggir kali di belakang pasar Geppora. Pembunuhan massal yang dilakukan pendukung Madun terhadap pembunuh bayaran Matroni menghiasi pagi itu. Alasan mereka, orang-orang bayaran Matroni tertangkap basah memaksa sebagian orang di pasar itu untuk memilihi Matroni sambil menyodorkan uang suap. Sementara para pendukung Madun tidak terima perlakuan semacam itu. Pertumapahan darah tidak dapat dihindarai lagi. Demikian cerita kedua orang itu. Aku dan kiai Sanhaji hanya terdiam ngeri mendengar cerita mereka berdua.

"Tapi, pak kiai, tolong kami". Serentak ucap pak Sobari dan Rahwini. Kami yang mendengarnya menangkap rasa ketakutan yang begitu besar menyelimuti wajah mereka.

"Ketua pembunuh bayaran yang ditengarai suruhan Matroni itu sempat ada yang selamat. Dia berjanji bahwa kekalahannya bukan lagi persoalan kekalahan politik, melainkan kekalahan kelompoknya. Permusuhan bukan lagi hanya dengan pendukung Madun, tapi dengan masyarakat di sini" ***


cerpen wanita tanpa suami

Wanita tanpa Suami

Cerpen Cian Ibnu Sina Sj Silakan Simak!
Dimuat di Batam Pos Silakan Kunjungi Situsnya! 04/05/2009 Telah Disimak 70 kali

Ia baru belasan, belum sempurna. Ia masih benar-benar ganjil. Tapi dini usia dunia ini memang layak bagi kehidupan anak muda. Sekarang hampir semua anak muda menelan bulat-bulat setiap tutur para pelaku. Terbiasa menerima pasrah ucap para penikmat, pemikat. Lebih sering memakai celoteh para pemake. Beginilah sekarang dunia dikenal bukan lewat pemaknaan sebagaimana adanya. Kenyataan senantiasa dikenal lewat iklan, dunia direnungi melalui lagu, realitas dipahami berdasarkan slogan. Apa saja yang membangun citra diri, meski semu.

Waktu terus berlalu, tak pernah kembali. Minggu sekarang mutlak sekarang, bukan minggu belakang dan bukan pula minggu depan. Sekarang sebaya-sebaya itu menerima liburan panjang penutup jenuh yang lama membungkusnya. Sekarang bukan kemarin, bukan hari depan. Iklan bukan lah slogan dahulu. Lagu adalah nada yang diterima sepenuh gairah sekarang. Semuanya mengalir begini, tak perlu disinggahi lagi malaikat zaman. Tapi zaman sendiri menjadi malaikat bagi dirinya.

Sambil menikmati tumpukan buku dan lagu, bersama hening matahari. Tiba-tiba saja angin segar menghentak pelipis kiri dan kanan mata perawan muda belia itu. Sambil menahan celoteh sang Ibu dan Ayah. Yang baru saja sama-sama berguru pada tutur, mengaji pada janji-janji Ilahi. Tepat di belakang bayangan zaman. Ia tak sanggup kalau hidup sebagaimana Ibunya dahulu. Sepertinya memang sangat tak mungkin di zaman ini seseorang jika dianggap bukan sebagai dirinya sendiri be your self, hingga kapan pun ia meramu keraguan ini.

Perawan muda nan belia itu mengelus luhur ungkapan dan ucapan dari lubang di mana ia keluar dahulu darinya. Menahan makna tak mungkin, penuh terkaan cukup menuakan nalar. Menarik janji, pasti juga tak mungkin. Yang ada hanya sarat arti memiliki mimik diri. Lalu ia masuk ke kamar tempat di mana segalanya menjadi sepi sunyi sendiri. Pada belantara ruang itu, ia tak lama keluar lagi. Kembali menghirup angin dingin yang terbawa oleh gelapnya daun malam.

"Apa yang akan kulakukan sekarang adalah miliku semata bukan sebab Ibuku", Bisiknya dari dalam senyum mulut manis perawan belia itu. Yang tak pernah lama selalu ia kumandangkan kepada teman-teman lelakinya. Ia sendiri bernama Mesrani Ayu Mesra. Namun lebih sering dipanggil Mesrani atau Neng Mesra atau hanya disapa Ayu atau juga Mesra saja, sekarang banyak nama tambah terkenal. Banyak panggilan, menambah tinggi prestise diri.

Sehabis letih menangisi sunyian sepi, melepas lelah dipapah ucap sang Ayah. Ia membisik kesekian kalinya kepada teman biasanya. Bebisik itu senantiasa mengulang menerka zamannya yang telah rapuh di tubuh waktu, hanyut di kamar masa. "Aku tak kuasa menahan reruntuhan mulut Ibu yang selalu kudengar, saban zaman sedari detik sambil memaki menit, Ibuku melamun aku menjadi sepertinya". Celotehnya kepada teman biasanya itu. Sambil tertawa, Ayu minum cairan manis beralkohol bersama sejawatnya. Maklum ia pikir, tidak minum berarti tidak gaul.

Sebagai rasa yang teramat berharga bagi usia menjelang mapan, Ayu menimba terus bergaul bagai burung terbang meluapi angkasa raya. Mencari tafsir ke sana ke sini. Sekadar untuk mengerti tentang dirinya. Sekadar mengetahui bahwa dirinya benar-benar miliknya sendiri. Tak lama kemudian hangat pun hinggap bersama banyak temannya, tak juga sempat lama menunda mesranya kesempatan sesaat. Ia dibisik oleh runcingnya anyir hati sang lelaki. Ia disapa oleh keperkasaan purba teman-teman lelakinya.

Hari pun menghilir mudik, menutup uluran waktu dan membuka harapan zaman. Mesra pun menjadi berbadan dua, bertubuh gemuk. Serupa Ibu dalam waktu yang singkat. Tak mengapa, selagi ia melakukan dengan setia teman. Ini barangkali yang menjadi mutlak bagi dirinya. Dalam tatapannya, begini lah sesuatu yang dilakukan yang harus mutlak. Mesrani lupa kalau dulu Ibunya selalu berpesan bahwa umur tak pernah mundur, apalagi mengulur. Ayu telah tak ingat ungkapan sang Ayah yang senantiasa memapah makna mengantar lelap dalam tidurnya, sejak kecil dulu penawar lelap.

"Tak masalah, selagi serpihan semakin rumit melejit irisan takdirku. Aku semakin bahagia karena apa yang aku lakukan adalah sebabku yang menyuruh untuk berbuat begini dan begitu, bukan Ayah atau Ibuku". Bisik nadi si perawan muda itu sambil menikmati sentuhan di alas sang perkasa. Teman-temannya semakin menikmati permainan purba itu, hilir mudik dan bau amis birahi terpanggang oleh masa yang tak henti-hentinya bergoyang berkeringat sedingin embun surgawi.

Laksana petir memecah hujan, seperti matahari menangisi cahaya malam yang datang mengganti dirinya. Sekarang si perawan belia itu telah benar-benar bertubuh tak tunggal lagi. Neng Mesra telah memiliki empat tangan, empat kaki. Dua kepala kecil dan besar, dua badan tua dan muda. Ia tertawa menangisi nasib menit dan denyut detik kemarin ini. Sementara bidan-bidan perkasa itu kehilangan jejak untuk memapahnya, para perkasa itu lari terbius birahi yang lain. Mereka menangis menertawai kesetiaan si perawan belia itu.

Sepulang dari main. Ketika masuk rumah, Ayu tak disapa Ayah tak dipangku Ibu dalam dialog. Ia hanya bertemu suara; "Tidak Nak ! Kau sekarang telah berdua secara bersahaja dan aku tak pernah menafsir menit untuk detik seperti yang ada pada dirimu kini. Kembalilah dan cari birahi-birahi itu yang sempat menetesi mungil bayi dalam perutmu. Cari lalu kumpulkan malam bila sengatnya telah menyentuhmu dengan pasrah". Begitu kalimat pengantar sebelum Mesra duduk dikursi panasnya.

Kini dunia termangu aroma lagu lama. Bayangan makna yang asing menjauhi dirinya Sambil menagih ungkapan dan ucapan, sang Ibu dan sang Ayah hanya diam dalam bahasa. Tak berkalimat dalam makna. Tak berkata selagi komunikasi menghimpit petir rasa gundah di dada keduanya. Melihat putri kesayangannya telah berubah secepat kilat. Bagai petir mengukir nasib. Kedua orang tua Ayu hanya bisa mengobati kesakitan dirinya, bukan untuk mengobati anaknya sendiri. Mesrani pun kehilangan pengasuh. Ditinggal seorang yang biasa rela menyapa tanpa dipinta. Kini semuanya menjadi berbeda. Ia benar-benar merasakannya. Ia sungguh bebas dalam ketidakbebasannya.

"Baiklah ! akan Ku panggil birahi itu, akan Ku sapa perkasa itu. Lalu aku tagih dirinya yang ingin berbakti". Jawabnya tak sempat lama. Ayu lalu menitip nadinya yang baru. Ia bergegas mencari pasangan yang dahulu singgah di lubang kehidupannya. Secepat amanat kedua orang tuanya, Mesra bertemu banyak perkasa itu. Lalu mengajaknya ke rumah untuk sekedar didakwa sang Ayah dan hanya di tentu sang Ibu. Kapan anak yang tak diharap kelahirannya diakui ayahnya ? Kapan buah hati tak disengaja ini disapa sang ayah ? Adakah yang mengakui bayi ini ?

Semua mereka hadir. Wajah perkasa tepat di depan mata kedua orang tua dan juga di depan mata Ayu. Di hadapan kedua orang tuanya mereka tersipu tak sempat malu, berbaris menghimpit tagihan masing-masing dakwaannya. Lalu semuanya menduduki meja hitam cinta terlarang. "Di antara kalian, siapa paling energik menusuk lubang kehidupan buah hatiku ini. Apakah kalian akan mentakdirkan hidup mungilnya buah hati buah hatiku ?". Tanya seorang ibu yang baru saja menjadi nenek tersenyum murka.

Semua perkasa itu melirik kanan kiri, saling menoleh. Bagai aroma petir di siang hari, seperti bugilnya malam di tengah hari bolong. Semua bengong melotot, kayak kebo bego. Laksana aneh bin kaget. Semuanya tersenyum tak percaya. Tak satu dari mereka selamat sebagai dakwaan. Tak satu pun bisa memasuki lembah keluarga itu. Semuanya sepakat mengatakan "kami semua membeli dengan kesetiaan dan kepercayaan, bukan kecelakaan cinta terlarang. Kami senantiasa bersama menemani buah hatimu; berteman tapi mesra". Ungkap mereka senada seirama.

Apa hendak di sapa, semuanya telah begini. Di zaman ini teman tapi mesra menjadi denyut jantung pergaulan anak muda, sarat pemutlakan kebiasaan baru. Kedua orang tua Ayu meneteskan mutiara di pangkuan buah hati dan buah hatinya. Si kecil yang malang itu menjadi takdir pengganti buah hatinya. Sementara tiang nasib si perawan muda belia itu sebatas pengalaman pengantar kehidupan baru kelak. Ia menjadi takdir irisan zaman, kini Mesra berteman durja membawa malapetaka.

Kesempatan telah hilang, sirna pun tiba di sudut ucap sang Ibu dan di lembar kata sang Ayah. Si perawan muda tak sanggup kembali meramu petuah lama. Meski pepatah baru telah merenggutnya menjadi titian nasib yang tak berarti. Ia tak kembali, melaju terus menuai selaput noda dalam dirinya. Ia harus bertanggung jawab atas kata-katanya sendiri. Layaknya menumpahkan permata air kehidupan untuk dirinya. Lalu seperti di hina di cerca oleh kemauannya sendiri.

Sekarang Neng Mesra meraih dunia baru. Setelah meninggalkan buah hatinya, ia menjelma air keruh di sepanjang jalan. Dunia lepas landas berselimutkan alas dosa zamannya. Ia menitipkan takdir di pinggiran sirkuit, tak sempat mengulangi apa yang pernah diingatkan kedua orang tuanya. Tak masalah semuanya telah gugur terkubur waktu. Lalu ia menjerit seperti kesakitan saat gerombol malam menghujani dirinya. Pasrah pada kenyataan dan berkata dari mulutnya yang sempat menaruh iba pada ucap sang Ibu dahulu.

Bersama tusukan dingin malam dan rapuhnya gelap mengganti terang yang mendobrak halus kulit mungilnya, Ayu pun berkata khusus kepada dirinya sendiri. Meski tak lagi didengar oleh sebaya-sebayanya. Karena semua teman tak menghiraukannya lagi. Ia menempuh hidup benar-benar sendiri. "Aduhai terhimpit aku oleh syair. Duhai...Ibu, sejuta maaf ku luluhkan untukmu, aku peluh melepuh karena tak menakar yang keluar dari lidahmu. Oh...Ayah, seribu malu kutumpahkan untukmu, aku lesuh meletih lebih takdirku yang tak menyapa kata-katamu". Gumamnya saat setelah dihujani bangsa malam.

Begitu lah seorang perempuan cantik jelita pemuja iklan yang menjadi lalu lalang di jalanan. Yang hanya berteman bayang cahaya malam, bersua makhluk malam berdasi lagi berbisa. Jarum waktu terus menjulur. Mengubur kenangan lalu yang lugu. Membuka kenangan baru yang suram. Sering Ayu melamun memikirkan bagaimana nasib anaknya. Sudah sekian tahun lamanya tak menyapa. Melihat pun tidak. Ia kangen ingin sekali melihat buah hatinya. Sering menangis kalau ngebet ingin melihat buah hatinya. Atau kalau mimpi bercanda dengannya.

Kini Mesrani tak tahu apakah anaknya sudah kelas berapa seandainya disekolahkan oleh kakek dan neneknya. Namun ia sering mendapat kabar dari tetangganya yang masih setia menjumpainya. Maklum seorang tetangganya seprofesi meniti nasib di pinggiran jalan. Hanya berbeda, temannya bekerja di Hotel milik Haji Furkon. "Neng Ayu si Ujang teh tos kelas lima SD. Rengking kahiji wae disakolana teh, ih mani resep budak teh keur bageur teh pinter deuih". Ucap Nyi Saritem menjelaskan buah hati Neng Mesra.

Karena kabar tak putus-putus, informasi tak henti-henti. Kalau temannya pulang kampung, Ayu sering menitip uang untuk bayaran sekolah anaknya. Ia pikir nenek dan kakeknya pasti sudah serba kurang untuk membesarkannya. Begitu banyak Mesrani kalau menitip uang pada temannya. Terkadang lima ratus ribu hingga sejuta pada setiap minggunya. Sebab ia rasa nenek dan kakek buah hatinya itu, juga membutuhkan kirimannya. Usaha Ayu bulan-bulan ini semakin membaik terus. Mungkin perasaan seorang ibu terhadap anaknya begitu erat. Seperti juga anak kepada seorang ibunya yang kini menjadi nenek dari buah hatinya.

Kabar selalu datang. Kini kabar yang teramat membahagiakan diceritakan Nyi Saritem kepada Mesrani. Pesan cerita itu seakan mengajak Ayu untuk segera pulang kampung menemui ayah, ibu, dan anaknya sekali dalam hidupnya selama di kota. Apa yang diceritakan Nyi Saritem sungguh menggugah Neng Mesra. Ia menceritakan kalau suatu kali sisa uang kirimannya bukan hanya dipakai anaknya saja, melainkan digunakan membuat jembatan umum. Merenovasi mesjid, madrasah, dan juga bangunan sekolah yang terancam musnah.

Ayu pikir ini lah saatnya harus pulang. Kembali menagih janji takdir bahwa dirinya perempuan cantik jelita yang baik yang harus kembali pada kebaikan lagi. Uang yang cukup bagi penghidupan kampung halamannya telah mengantarkan Ayu kembali ke jalan yang benar. Ia begitu bulat untuk meninggalkan perdagangan malamnya di kota. "Sekarang aku mempunyai kesempatan kembali baik". Pikirnya tak lama sambil membereskan semua hubungan kota menuju kampung halamannya. Ia menjual mobil dan rumahnya di kota. Ia ingin kembali mencicipi akhir kehidupan yang baik penuh kesederhanaan. Uang dari jual mobil telah di bawa Nyi Saritem dua hari yang lalu. Sesuai kehendaknya, uang itu dipakai untuk memperbesar masjid. Karena masyarakat sangat membutuhkan keleluasaan saat melakukan shalat di masjid.

Dengan keikhlasan bertaubat dalam hati. Mesrani tiba di kampung halamannya. Aneh bin ajaib. Tak satu pun yang menyapa barang sepatah kata pun. Padahal sebelumnya ia telah menjelaskan keadaan dirinya yang kembali sebagaimana masyarakat di mana ia dilahirkan. Tak satu pun yang alpa dari memaki, meludahi, melempari perempuan baik itu. Nyi Saritem bengong tak mampu menolong. Pak Haji Furkon selaku imam masjid segera mengumpulkan warga untuk menghukumnya. "Ini wanita kotor telah kembali akan mengotori kampung kita, ia pura-pura bertaubat". Katanya sambil menyemprotkan air kotor dari comberan ke sekujur tubuh Ayu.

Pak Haji Furkon sebulan lebih dulu bertaubat dari Mesrani Ayu Mesra. Ia menjual Hotel bukan seperti Ayu yang dihibahkan untuk memperbesar masjid. Tapi dipakai naik haji dan umrah untuk kedua kalinya sebagai pertanda tobatnya. Nyi Saritem juga pernah mengaku kalau dua hari sebelum pak Haji Furkon pergi ke tanah suci, ia dicintainya hingga dua malam penuh. Mesra tahu persis cerita dari temannya itu. Tapi semuanya telah berubah. Kini semuanya menyapa Ayu tak lebih sebagai Anjing yang teramat najis. Yang harus diusir warga dari kampung halamannya.

Tubuh Mesra basah kuyup, bau busuk air dan hitam pekat karena lumpur. Semata oleh ludah dan semburan air kotor dari comberan yang dibawakan pak Haji Furkon. Ia tak sempat menginjak bangunan mesjid baru hasil keringatnya. Tak sempat shalat di dalamnya. Ia terus dihujani makian, hinaan, dan tamparan kakek dari buah hatinya. Si Ujang lagi sekolah. Ia belum melihat ibunya yang sudah sekian tahun tak bertemu.

Wajah Ayu semakin membasah. Badannya menggigil kedinginan. Padahal jam menunjukan pukul sepuluh malam. "Biarlah kini aku dianggap kotor. Tapi lebih kotor lagi yang tak menerima kehadiranku sebagai insan bertobat. Aku yakin Tuhan telah menerima tobatku. Tidak seperti kalian yang mengkhianati agama dengan sok tahu mengusirku". Katanya sambil pergi menjemput pagi. Membawa tangisan sepanjang jalan. Meninggalkan anak serta kedua orang tuanya.

"Tobatku ikhlas tidak akan kembali bekerja malam di kota. Maka Aku tak butuh kampung yang dihuni para pengkhianat agama. Akan kucari sebuah negeri yang memerdekakan perempuan tobat". Pesannya kepada seorang anak muda berseragam SD yang kebetulan berjumpa setelah pergi dari kampung halamannya, saat itu masih pagi pukul setengah tujuh. Anak muda itu tak lain adalah si Ujang yang baru berangkat ke sekolahnya. Anak SD itu tak bisa apa-apa. Ia hanya bengong tiba-tiba ada perempuan bau tak sedap berlumuran kotor lalu berpesan kepadanya, tapi ia merasakan melihatnya seperti bercermin dalam kaca. Ia melamun ragu dan menepis yakin, mungkin kah perempuan itu yang melahirkanku? ***

cerpen layang-layang bertandan ungu

Layang-layang Bertandan Ungu

Cerpen Romi Zarman Silakan Simak!
Dimuat di Koran Tempo Silakan Kunjungi Situsnya! 04/05/2009 Telah Disimak 72 kali

LELAKI itu duduk di beranda, menghadap ke langit senja. Hening. Tak ada suara. Si gadis menengadahkan wajah. Seseorang melintas, keluar dari pintu rumah. Menuju pagar. Sejenak ia perhatikan, lalu ia memulai pembicaraan dengan pura-pura bertanya, "Itu kakakmu, ya?"

"Ya."

"Kok beda?" Si lelaki tak mengerti. Si gadis cepat menyadari, "Maksudku, warna kulit kalian kok beda?"

"Oh, mungkin karena ia sering di rumah. Sedang aku terus mengembara."

"Maksudmu?"

"Ya, itu. Kulitku terpanggang matahari. Sedang dia hanya menonton televisi."

"Ah, kalimatmu. Berbelit-belit. Langsung saja!"

Lelaki itu nampak heran. Adakah benar bahwa kalimatnya terlalu berbelit-belit? Tidakkah si gadis hanya ingin sedikit manja lalu pura-pura "meronta" walau sebenarnya sudah tahu ujung-pangkal dari kalimat itu? Ia perhatikan kakaknya, membuka pagar. Keluar rumah. Entah menuju ke mana. Dan tidakkah si gadis sudah tahu bahwa orang yang dimaksudnya itu adalah kakaknya?

Ah, ia memang ingin sedikit manja, dengan pura-pura "meronta". Sudah berapa lamakah ia mengenalnya? Adakah setahun, dua tahun? Ah, ia tak ingat. Yang jelas, ia merasa sudah lama akrab dengan si gadis. Dan sudah tahu pula bagaimana cara si gadis memulai pembicaraan untuk memecahkan kebisuan, seperti saat sekarang. Dan untuk memulainya, ia pun berkata, "Oh, mungkin karena layang-layang. Dulu aku gemar memainkannya. Tak peduli siang atau terik akan memanggang, makanya kulitku jadi hitam."

"Layang-layang?"

"Ya, layang-layang. Kurentang benang. Kunaikkan. Adakah kamu pernah merasakan?"

Si gadis nampak heran. Ah, alangkah tolol itu pertanyaan. Betapa pertanyaan itu muncul tanpa pernah dipikirkannya terlebih dahulu. Bukankah anak perempuan tak pernah main layang-layang, termasuk gadis yang ada di sebelahnya sekarang?

"Eh, jangan salah. Aku pernah main layang-layang. Jadi, aku tahu bagaimana rasanya."

Si lelaki tak percaya. Ia membuang muka, melempar jauh ke langit sana.

"Aku pernah memainkannya, bersama kakakku."

Ia tahu, si gadis ingin meyakinkannya. Tapi ia tetap tak percaya, "Tapi dari warna kulitmu, tak meyakinkanku. Kalau kau memang gemar, kulitmu pasti akan terpanggang terik matahari, seperti kulitku."

"Ya, aku memang tak gemar. Tapi aku pernah mencobanya, walau hanya sesekali."

Angin lalu. Si gadis terpaku. Ah, betapa ia telah berlaku angkuh. Bukankah si gadis bicara seperti itu karena ingin memecahkan kebisuan yang sejak tadi sudah melanda keberadaan mereka? Lalu, dengan merobah sedikit sikap, ia coba mengembalikan ke suasana semula, "Baiklah. Aku percaya."

"Nah, ceritakan tentang angin."

"Angin?" Lelaki itu balik bertanya. Dari manakah gadis itu tahu tentang keberadaan angin dalam permainan layang-layang? Adakah dari teman atau dari sejumlah buku bacaan? Atau jangan-jangan si gadis benar-benar pernah main layang-layang? Ah, mungkin saja. Ia pun mulai benar-benar percaya, "Layang-layang tanpa angin memang tak mungkin. Di satu sisi, ia tak akan bisa naik ke langit tinggi. Akan tetapi, bila angin terlalu kencang, maka layang-layang bisa putus di tangan."

"Bukankah itu hanya tergantung pada benang?"

"Benar. Tapi jika angin sedang kencang, maka tak akan tergantung pada kuatnya benang. Karena untuk mempertahankan, kau butuh kepiawaian."

"Maksudmu?"

"Bila angin sedang kencang, kau harus mengulur benang. Jangan coba-coba kau tahan." Si gadis kembali heran. Ia lanjutkan, "Kaubisa saja menahan, tapi tanganmu akan terluka oleh benang. Benangnya terbuat dari nilon, amat tajam."

"Amat tajam?"

"Ya, bisa membuat tanganmu luka."

"Adakah resiko lainnya?"

"Ada."

"Apa?"

"Layang-layangmu akan putus."

"Berarti semuanya tergantung angin?"

"Ya. Juga dibutuhkan sedikit pengetahuan dan kepiawaian."

"Maksudmu?"

"Kauharus tahu kapan angin akan berhembus kencang atau pelan."

"Caranya?"

"Kaucukup menandakan. Biasanya pagi atau sore hari adalah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang. Anginnya tak terlalu kencang. Tapi jangan naikkan layang-layang ketika tengah hari datang."

"Kenapa?"

"Karena pada waktu itu biasanya angin berhembus kencang."

"Tidakkah di waktu pagi atau sore hari bisa saja angin datang dengan amat kencang? Atau tidakkah pada saat-saat seperti itu angin malah berhembus amat pelan sehingga kau tak bisa menaikkan layang-layang?"

"Memang. Tapi bagi sebagian orang yang benar-benar gemar, ia akan memeriksa keberadaan angin."

"Keberadaan angin?"

"Ya. Maksudku, angin terbagi dua. Ada yang kencang di bawah dan ada yang kencang di atas. Bila angin kencang di bawah, maka layang-layang akan susah untuk naik terlalu tinggi. Karena di atas, angin boleh dikatakan tak ada. Dan sebaliknya, bila angin kencang di atas, maka akan susah juga. Karena untuk naik awalnya saja, layang-layang membutuhkan angin. Sementara di bagian bawah, angin tak ada."

"Apa kau bisa melihatnya?"

"Tidak. Tapi aku bisa melihatnya melalui dahan yang bergoyang. Kau layangkanlah pandang ke batang pohon yang tinggi, seperti pohon kelapa, misalnya. Bila pelepahnya bergoyang, maka itu artinya angin sedang kencang di atas. Tapi bila kau lihat batang pohon atau dahan yang rendah sedang bergoyang, sedang pelepah kelapa tetap diam, maka itulah yang disebut angin kencang di bawah."

"Nah, baiknya yang mana? Angin kencang di bawah, atau di atas?"

"Kedua-keduanya. Kau tak perlu risau, karena semuanya tergantung pada kepiawaianmu."

"Bagaimana kalau hujan tiba-tiba datang?"

"Sebaiknya kau putus saja."

"Berarti harus siap untuk kehilangan?"

"Ya. Kalau kau putus sebelum hujan benar-benar tiba, maka kau bisa saja mengejarnya, lalu mendapatkannya kembali. Akan tetapi, sebaliknya, bila kau tetap bertahan, maka layang-layangmu akan turun bingkai?"

"Turun bingkai, apa itu?"

"Kertasnya akan basah, lalu layang-layangmu akan tinggal bingkai."

"Lantas apa bedanya?"

"Bila layang-layangmu turun bingkai, maka ia akan jatuh seperti sebilah buluh. Dan kau tak akan tahu dimana jatuhnya. Sebaliknya, bila kau putus layang-layang sebelum kertasnya benar-benar basah, maka layang-layangmu itu akan putus melayang-layang. Dan kau akan punya waktu untuk mengejarnya, asal kau tetap memperhatikan arah ke mana putusnya."

"Pernahkah kau mengalaminya?"

"Pernah. Waktu itu angin bertiup kencang. Mulanya hanya gerimis, lalu perlahan jadi hujan. Tahukah engkau berapa jarak dari gerimis ke hujan?" Ia menolehkan pandang. Si gadis menunggu jawaban, "Bahkan untuk menurunkan layang-layang aku tak sempat. Aku takut kertasnya basah dan hanya tinggal bingkai. Maka kulepas benang. Kukejar layang-layang. Untunglah ketika itu hari hujan. Kalau tidak, mungkin akan banyak yang mengejar dan aku akan kehilangan."

"Lalu layang-layangnya?" Si gadis bertanya tak sabar.

"Kutemukan di ujung gang, walau susah payah kukejar. Keesokan hari aku rekat lagi kertasnya. Kunaikkan lagi. Layang-layang bertandan ungu."

"Bertandan ungu, kenapa tak biru?"

"Karena aku suka warnanya. Bila layang-layang itu naik ke langit biru, maka aku gemar pada ungu tandannya. Ia berlenggak-lenggok. Kau bayangkanlah: langit biru, tandan ungu."

"Ooo, masa lalu."

"Masa lalu, maksudmu?"

"Yaaa, payah!" Si gadis meledek. Si lelaki tak mengerti, "Maksudku, layang-layang bertandan ungu itu kau buat di masa lalu. Bukankah layang-layang itu hanya ada di masa kanak-kanakmu?"

Ia merasa ada yang tak nyambung. Si gadis seperti mengelak dari jawaban. Ia hendak mengajukan pertanyaan. Tapi si gadis sudah buru-buru berkata, "Nah, apa layang-layangmu itu masih ada sampai sekarang?"

"Tidak. Waktu itu layang-layangku kembali putus."

"Kenapa?"

"Mungkin karena angin terlalu kencang."

"Tidakkah kau mengejarnya?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena aku tak akan mengejar layang-layang yang sudah putus di tangan."

"Tidakkah kau merasa kehilangan?"

"Mungkin."

"Mungkin?" Si gadis menatap heran. Pandangan lelaki itu tetap terpaku di langit kelam. Lalu si gadis melanjutkan, "Dan sekarang, adakah kau hendak memiliki layang-layang?"

"Tentu."

"Benarkah?"

"Benar."

"Kalau begitu, jadikan aku layang-layangmu."

Si lelaki mengalihkan pandang. Menatap tajam ke gaun ungu gadis itu. ***

Padang, 22 Maret 2009

cerpen situ gintung

Situ Gintung

Cerpen Putu Wijaya Silakan Simak!
Dimuat di Suara Merdeka Silakan Kunjungi Situsnya! 04/05/2009 Telah Disimak 282 kali

”Ami harus ke Jakarta, melihat tragedi Situ Gintung,” kata Ami di meja makan.

Pak Amat dan Bu Amat lirik-lirikan. Tapi Ami tidak peduli.

”Ami mau melihat apakah bencana itu betul musibah akibat alam semakin buas atau keteledoran pemerintah yang sudah tidak peduli lagi pada tugasnya untuk mengayomi rakyat. Atau keteledoran, kealpaan dan kebandelan penduduk yang membangun rumah di wilayah yang semestinya untuk resapan air? Atau gabungan dari semua itu? Di samping itu kita harus nyumbang dong!”

Bu Amat menarik napas panjang.

”Ongkosnya dari siapa?”

”Ya dari Bapak dan Ibu, masak dari langit!”

Bu Amat mengangguk. Ini mengulang kejadian ketika Ami mau ke Yogya pada masa gempa. Hanya Amat yang bisa menyelesaikan persoalan itu.

”Bagaimana Pak?”

Amat batuk-batuk.

”Bagaimana Pak? Ada duit nggak. Paling juga lima juta.”

Amat seperti kelenger mendengar jumlah itu. Ia perlu menenggak air putih sebelum menjawab sambil mengendalikan perasaan.

”Baik. Kamu mau berangkat kapan?”

Bu Amat terkejut.

”Tunggu! Jangan iya, iya saja. Uangnya dari mana?”

”Tenang, Bu, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Amat berdiri sambil mengulurkan tangan pada Ami.

”Bapak boleh pinjam motor kamu?”

”Bapak mau ke mana?”

”Boleh tidak?!”

Ami terpaksa mengulurkan kunci motor.

”Bapak jangan aksi-aksian naik motor nanti kalau vertigonya kumat bagaimana?”

Tapi Amat tak peduli. Tak lama kemudian terdengar suara motor dihidupkan. Bu Amat bergegas hendak mencegah. Tapi Amat sudah meluncur. Hampir saja dia menabrak anjing yang melintas di depan pagar. Motor dibelokkan tajam, hampir masuk ke selokan.

”Pakkkk!”

Amat beruntung dapat mengendalikan. Sambil membunyikan klakson, dia meluncur ke jalan besar. Bu Amat mengurut dada.

”Bapakmu kalau sudah merasa terhina, begitu kelakuannya.”

”Terhina?”

”Habis kamu kan minta disediakan lima juta. Jangankan lima juta, untuk beras minggu depan saja kita belum tahu dari mana. Sebagai kepala rumah tangga bapakmu merasa bertanggung jawab mencukupi kebutuhan kita, jangan-jangan...”

”Motor Ami mau digadaikan!”

”Mendingan. Kalau dijual?”

Tapi kedua tebakan itu salah.

Satu hari Amat tidak pulang. Bu Amat dan Ami menunggu dengan cemas. Hampir pukul 07.00 baru Amat muncul. Mukanya lusuh. Lutut celananya robek.

”Dari mana Pak? Bikin degdegan saja!”

Amat tidak menjawab. Dia menenggak air putih dua gelas, lalu duduk di kursi seperti ambruk. Bu Amat mengambil handuk dan baju bersih.

”Jangan keluyuran seperti anak muda. Kamu sudah tua, Pak! Cepat mandi biar bersih, kubikinkan air panas sekarang.”

Amat nyengir.

”Aku tadi ngojek.”

”Apa?”

”Aku coba ngojek tadi, tapi hasilnya nol. Nggak ada yang percaya. Aku malah diketawain. Akhirnya aku ngantar siapa saja yang mau numpang, tanpa dibayar. Hitung-hitung untuk promosi. Kalau aku yang ngantar pasti selamat. Besok kalau aku ngojek lagi, mereka pasti rebutan. Tapi hampir pulang tadi, aku nabrak anjing dan jatuh ke selokan. Untung motornya tidak hancur. Badanku saja yang remuk.”

Bu Amat kaget. Ami cepat ke depan melihat motornya.

”Jatuh ke selokan? Patah tidak?”

”Entahlah di dalam sana. Kata pemuda-pemuda yang nolongin, baiknya besok di-rontgen siapa tahu di dalam ada yang salah.”

Bu Amat mendekat lalu mengurut badan suaminya.

”Sakit?”

”Nggak. Enak.”

Bu Amat terus mengurut sekujur tubuh Amat.

Ami muncul dengan muka cemberut...

”Bapak tadi pulang bagaimana?”

”Ya jalan.”

”Jalan?”

”Habis motornya tidak bisa di-starter, terpaksa dituntun. Untung ada anak-anak yang bantuin dorong. Pelek depannya bengkok.”

”Makanya... Jangan bilang motornya tidak apa-apa. Besok mesti dimasukin ke bengkel. Seminggu kali tidak akan bisa dipakai lagi.”

”Ya sudah, habis mau diapain. Untung Bapakmu tidak apa-apa Ami. Makanya jangan sok mau ke Situ Gintung dan minta lima juta. Bapakmu kan jadi bingung.”

Ami mendekati Amat.

”Ya Pak? Bapak bingung karena Ami mau ke Situ Gintung dan minta lima juta?”

Amat nyengir.

”Tidak.”

”Kalau tidak kenapa kalap pinjam motor sama anak mau jadi tukang ojek? Itu kan namanya goblok. Tukang ojek beneran juga tidak akan bisa ngumpulin lima juta sehari, apalagi Bapak yang punya vertigo.”

”Namanya pengalaman, hikmahnya pembelajaran”

”Ah! Pengalaman lagi, pengalaman apa? Bom Bali, tsunami, gempa Yogya, Lumpur Sidoarjo kan cukup! Kapan belajarnya kok nggak tamat-tamat?”

”Belajar itu seumur hidup, Bu, tak pernah tamat.”

”Sudah ah! Mandi pakai air dingin saja sana! Capek aku ngurus orang bandel! Kalau menjawab paling pinter!”

Bu Amat ngeloyor ke dapur. Tinggal Amat dan Ami. Amat meraih sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop.

”Ada orang yang ngasih ini ketika tahu kenapa aku ngojek, Ami.”

Ami menyambut amplop itu. Ketika dibuka ia tercengang. Isinya lima juta.

”Tabungan Bapak ya?”

Amat mengangguk.

”Bapak terharu melihat semangatmu mau membongkar tragedi Situ Gintung itu, Ami. Bapak jadi malu menyembunyikan simpenan sementara ada saudara-saudara di Situ Gintung membutuhkan pertolongan. Api pengorbanan kita sudah hilang, karena semua orang mengejar kemapanan. Yang berkobar sekarang semangat dagang, semangat cari untung. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari pemimpin pedagang! Kamu berangkat ke Jakarta besok!”

Semalaman Ami memandangi amplop yang berisi lima juta itu di kamarnya. Terus-terang ia tidak pernah sungguh-sungguh ingin pergi ke Jakarta menyaksikan tragedi Situ Gintung dari dekat. Apalagi mau membongkar siapa yang bersalah atas kematian 97 korban dan 126 penduduk setempat yang hilang.

Menyumbang juga hanya karena tuntutan rasa bersalah.

”Itu hanya gertak sambal, omongan gagah anak ingusan yang aku harapkan langsung akan dibantai oleh Bapak dan Ibuku,” kata Ami kepada Chita, ”eh nggak tahunya bapakku malah menanggapi serius. Bukan dia yang terharu dan malu, malah aku sekarang yang terharu dan malu, karena patriotisme bapakku itu ternyata masih tebal. Semangat kemanusiaannya masih hebat. Masak dia rela nyomot duit simpenan yang diam-diam ditabung, hanya karena aku ingin ke Situ Gintung? Aku kan hanya sok-sokan, galak di mulut. Paling banter kalau ke Situ Gintung, Jakarta, aku hanya akan jadi turis yang merepotkan para relawan.”

Chita ketawa.

”Kamu jangan ketawa jelek begitu!”

”Aku tidak ketawa meskipun kelihatan ketawa. Aku yakin kamu akan ke Jakarta.”

”Stop! Jangan main paranormal-paranormalan lagi. Aku muak. Aku mau kamu jadi Chita manusia biasa saja!”

”Ya. Tapi kamu akan ke Jakarta.”

Ami melotot.

”Nantang taruhan ini?”

”Boleh!”

”Kalau aku tidak ke Jakarta, kamu berhenti main sok paranormal. Kalau dilanggar, semua tikus di rumahmu mati!”

Chita ketawa.

”Bagus kalau rumahku berhenti jadi sarang tikus! Tapi kamu pasti ke Situ Gintung Jakarta, minimal pikiranmu sudah di situ!”

Ami mengeluarkan amplop dari tasnya.

”Nih lihat. Duit ini akan aku kembalikan sama bapakku. Ngapaian mesti ke Jakarta, di koran juga jelas. Tragedi Situ Gintung terjadi karena waduk air itu kurang diurus. Yang bertanggung jawab lebih sibuk ngurus kepentingannya sendiri. Apalagi zaman pemilu seperti sekarang. Semua berjuang mempertahankan kursi, negara ditinggal, rakyat dilupakan. Tapi masyarakat juga bandel. Merdeka diartikan boleh nekat mendirikan rumah di radius yang mestinya diamankan untuk menjaga kelestarian tanggul. Jelas semua salah!. Kalau mau tahu lebih jauh, tinggal buka internet. Tragedi Situ Gintung itu sama dengan semua tragedi yang lain, sinergi dari kealpaan, pelanggaran dan ketidakpedulian!”

Malam hari Ami langsung mengembalikan lima juta itu pada bapaknya. Amat manggut-manggut saja mendengar keputusan Ami.

”Kalau begitu Ami, kalau kamu tidak mau berangkat ke Situ Gintung, bagaimana lima juta ini disumbangkan saja lewat posko kepada para korban tragedi Situ Gintung?”

”Untuk apa?”

”Ya sebagai tanda solidaritas!”

”Masak Bapak yang hanya punya simpenen lima juta yang harus bersolidaritas? Bagaimana yang punya lima milyar atau lima triliun?”

Amat berpikir.

”Ya mereka tak usah menyumbang, mereka sudah terlalu repot ngurus duit yang begitu banyak.”

”Jadi rakyat negeri ini akan dirawat oleh orang-orang miskin seperti kita?”

”Siapa bilang kita miskin Ami? Bapak punya lima juta dan Bapak rela menyumbang. Kita tidak miskin. Kita bahkan sangat kaya. Yang punya lima miliar juga tak berani menyumbang. Ya tidak?”

Ami mulai panas.

”Bapak tidak usah menyindir di telinga Ami. Berteriak di dasar hati mereka orang-orang kaya itu juga tak akan mereka pedulikan. Mereka itu pedagang, memang tugas sucinya adalah menggandakan duit. Untung banyak saja bagi mereka tidak cukup, kalau masih ada orang lain yang untungnya lebih banyak. Kita sekarang hidup di dalam pasar yang membuat kita semua jadi kambing perahan, Pak. Kita mesti berontak!”

”Jangan begitu Ami. Tidak semua orang kaya itu busuk!”

”Busuk semua!”

”Kamu salah!”

”Coba Bapak sebut satu saja, mana orang kaya yang tidak busuk? Kalau mereka baik bagaimana bisa ngumpulin duit!”

”Kamu tidak tahu?”

”Nggak!”

”Kamu nggak sadar?”

”Nggak!”

Amat menatap Ami, lalu menyentuh kepala anaknya.

”Kita orang kaya Ami. Kita tidak ikut digerus oleh bencana itu. Itu kekayaan yang tidak ternilai. Situ Gintung itu sebuah kemalangan yang mengingatkan bahwa kamu orang kaya. Orang yang masih mau memikirkan orang lain yang kesusahan, padahal kamu juga kekurangan!”

Ami tertawa.

”Itu filsafat Pak! Jangan dicampur aduk! Bapak jangan pikir Bapak akan masuk surga hanya karena menyumbang lima juta yang sudah Bapak tabung selama 3 tahun untuk bisa membelikan Ibu hadiah pernikahan perak! Biar Ami serahkan uang ini pada Ibu saja!”

Ami lalu merebut amplop itu kembali. Amat tak sempat mencegah. Ami langsung mencari ibunya yang sedang ngobrol di tetangga. Amat juga tak berusaha untuk menyusul. Ia masih terkejut sendiri oleh apa yang barusan dikatakan.

”Jadi aku ini diam-diam orang kaya juga,” bisik Amat menikmati dirinya.

Tak lama muncul Bu Amat dan Ami.

”Jadi ini tabungan Bapak?” tanya Bu Amat mendamprat sengit.

Amat tak menjawab.

”Bapak sekarang kok sukanya ngumpet-ngumpet begini sih?! Pakai nyumbang orang lima juta lagi. Keenakan yang mestinya tanggung jawab dong! Lha dulu waktu adik ipar sendiri kesulitan sampai jual mobil segala, kenapa hanya nyumbang doa? Ini terlalu, Pak!”

Tiba-tiba Bu Amat menyodorkan amplop uang itu ke tangan Amat. Lalu masuk ke kamar sambil menghapus air mata yang bercucuran. Entah teringat pada penderitaan adik yang rumahnya hampir disita karena tak mampu mengembalikan kredit dari bank. Atau karena merasa dibohongi oleh suami yang selalu mengaku tak punya uang, padahal di situ ada lima juta.

Ami baru sadar, ia sudah membawa persoalan. Ia mengerling Amat dengan perasaan menyesal.

”Sori, Pak. Kirain Ibu akan senang. Malah jadi masalah!”

Amat mengangguk.

”Sudah kamu ke kampus saja. Nanti semua beres.”

Ami mendekati Amat.

”Sudah Ami, kamu berangkat saja.”

Ami menunjuk ke amplop uang di tangan Amat.

”Terus itu mau diapain?”

Amat berpikir.

”Kalau Bapak mau menyumbangkan ke Situ Gintung, Ami akan bantu pertangungjawabannya ke Ibu. Tapi kalau Bapak kembali menyimpannya sebab itu ditabung untuk Ibu, Ami juga mendukung. Niat menyumbang itu saja sudah cukup. Bantuan untuk Situ Gintung tak mungkin berkurang hanya karena Bapak menarik lima juta, karena niat Bapak untuk berbuat baik itu jauh lebih besar. Itu yang sebenarnya lebih diperlukan. Orang yang menyumbang uang, habis menyumbang uang sudah selesai, padahal persoalannya masih panjang. Orang yang memberikan simpati akan terus mengikuti tragedi itu sampai tuntas.”

Amat mengangguk.

”Betul. Bagus Ami. Pikiranmu luhur. Nanti akan Bapak sampaikan itu.”

Ami tercengang.

”Apa?”

”Ya. Akan Bapak sampaikan pada orang kaya yang tidak mau disebut namanya itu, nanti waktu mengembalikannya.” ***

Jakarta 2 April 09

Catatan:

Honor cerpen ini disumbangkan untuk korban tragedi Situ Gintung